
Lima hari Arga dan Anita serta ketiga anak dan kedua ibunya berlibur di Jogja. Mereka banyak jalan-jalan ke pantai, sesuai permintaan ketiga anaknya. Juga jalan-jalan ke Malioboro dan keraton Jogja, candi Prambanan dan juga kebun binatang Gembira Loka Zoo.
Anak-anak senang sekali dengan wisata ke Jogjakarta, mereka banyak mengunjungi tempat wisata.
Hingga hari terakhir, mereka hanya jalan-jalan ke Malioboro untuk kedua kalinya. Mereka membeli pernak pernik oleh-oleh untuk hiasan atau di berikan pada guru Chila dan Chiko. di sekolah.
Sejak kemarin perut Anita merasa tidak enak, tapi dia tidak mengatakan apapun pada suaminya. Dia tidak tega merusak kebahagiaan anak-anak dan suaminya yang setiap kali ke tempat wisata selalu bersemangat.
Dia hanya meringis kecil sesekali ketika perutnya serasa nyeri. Namun kembali diam jika perutnya tidak kram. Ya, dia mungkin kelelahan karena seringnya jalan-jalan.
Padahal hamilnya baru menginjak tujuh bulan, tapi memang mungkin faktor lelah. Anita terus menahan rasa nyeri dan kram di perutnya.
Namun begitu, Arga selalu menanyakan kondisinya setiap waktu jika tiba di tempat wisata. Tapi kali ini Anita tidak bisa menahannya lagi.
"Ga, kita kapan pulang?" tanya Anita setenang mungkin.
"Hari ini sayang, kenapa? Kamu sudah ingin pulang?" tanya Arga melihat wajah Anita yang tenang tapi agak tegang.
"Iya, aku pengen pulang Ga." kata Anita.
"Ya udah, kita percepat pulangnya." ucap Arga.
Dia melihat Anita gelisah dan sedikit-sedikit meringis.
"Kamu kenapa sayang? Perutnya sakit?" tanya Arga cemas.
Dia memegang perut Anita, terasa kencang. Dan kembali melihat wajah Anita yang kembali meringis.
"Aku ngga apa-apa Ga, sebaiknya sekarang aja pulangnya." ucap Anita.
"Ya udah, kita pulang sekarang. Aku ke kamar anak-anak dulu ya. Kamu ngga apa-apa kan aku tinggal sebentar?" tanya Arga merasa khawatir.
"Ya, ngga apa-apa." jawab Anita yang kembali tenang.
Lalu Arga keluar dari kamarnya menuju kamar kedua ibu dan anak-anaknya. Sampai di sana semua sedang bersiap untuk pulang. Mereka merapikan bawaannya dan oleh-olehnya.
"Kalian sedang beres-beres? Kita langsung pulang sekarang." ucap Arga.
Ibu Ema dan ibu Yuni heran, kenapa Arga minta secepatnya pulang? Bukankah nanti siang cek out dari hotelnya.
"Ga, ada apa. Kok buru-buru?" tanya ibu Ema.
"Sepertinya Anita sedang kesakitan perutnya ma, mungkin mau melahirkan." jawan Arga.
"Lho, kan baru tujuh bulan Ga. Apakah dia kelelahan sepanjang jalan-jalan kemarin?" tanya ibu Yuni.
"Mungkin juga bu, aku juga tidak menanyakan itu. Tapi, bukankah melahirkan itu waktunya sembilan bulan?" tanya Arga heran.
"Iya, tapi ada beberapa yang melahirkan di usia tujuh bulan. Ya sudah ayo kita pulang, semoga Anita tidak melahirkan di jalan." ucap ibu Yuni.
__ADS_1
"Dulu juga waktu mengandung kamu melahirkannya tujuh bulan, Ga." ucap ibu Ema.
"Oh ya? Berarti bisa jadi Anita mau melahirkan ya ma?" tanya Arga.
"Bagaimana kalau kita ke rumah sakit aja, periksa keadaan Anita dulu. Atau ke dokter praktek."
"Kalau ke dokter, kita carinya susah. Mending ke rumah sakit aja. Tapi apakah akan melahirkan di Jogja?" tanya ibu Yuni.
"Ya sudah, jangan bingung. Kita temua Anita aja sekalian. Kita lihat keadaannya dan di tanyakan padanya." ucap ibu Ema.
Lalu ketiganya bergegas ke kamar Anita, di ikuti oleh ketiga anaknya. Rasa panik melanda hati Arga, dia inginnya Anita melahirkan di kotanya. Bukan di Jogja. Salahnya kenapa tidak memikirkan kondisi Anita ketiak jalan-jalan kemarin.
Hampir setiap hari Anita ikut jalan-jalan, karena dia tidak mau jauh dari istrinya. Arga menyesal, dia hampir memamgis ketika sampai di kamarnya Anita kembali terlihat tenang.
"Sayang, kamu masih sakit perutnya?" tanya Arga memegang perut Anita.
"Ngga lagi, sekarang sudah tidak kram. Untuk di bawa perjalanan pulang masih kuat kok, kamu jangan khawatir." ucap Anita menenangkan suaminya yang terlihat tegang dan hampir menangis.
"Apa yang kamu rasakan Anita?" tanya ibu Yuni.
"Kemarin-kemarin sih kram bu, tapi mungkin aku kurang istirahat jadi sering kram." ucap Anita.
"Benar kamu tidak apa-apa?" tanya ibu Yuni lagi.
Anita mengangguk, lalu bangkit dari duduknya dan mengambil tasnya. Semua mata memandang Anita yang jalan seperti biasanya. Arga sendiri heran campur cemas, entah apa namanya.
"Ayo kita pulang, katanya sekarang langsung pulang." kata Anita.
Tapi ibu Yuni kembali melihat Anita yang terlihat santai dan seperti tidak terjadi apa-apa. Dia lalu menghampiri Anita dan memegang perutnya, terasa kenyal.
Memang biasanya jika mau melahirkan akan tegang dan kram perutnya. Mungkinkah itu kontraksi palsu?
"Kamu merasakan apa Anita?" tanya ibu Yuni.
"Sudah tidak sakit lagi kok bu." ucap Anita.
Mereka kini sudah naik mobil menuju bandara, Arga sengaja naik pesawat penerbangan lokal karena lebih cepat sampai di kotanya. Hanya beberapa jam saja, apa lagi sampai di wilayah Kuningan.
_
Sampai di rumah, Anita langsung masuk kamarnya dan beristirahat. Tapi dia merasakan lagi kontraksi, dia heran. Apakah akan melahirkan?
Bukankah usia kandungannya baru tujuh bulan, kenapa kontraksi lagi. Arga masuk ke kamar, menyimpan koper di tempat ganti baju. Lalu dia keluar, menghampiri istrinya yang sedang meringis kesakitan memegangi perutnya.
"Sayang, kamu kenapa? Sakit lagi?" tanya Arga kembali panik, dia memegangi perut Anita.
"Ngga tahu nih Ga, seperti mau melahirkan. Ssshht..." ucap Anita menahan rasa mulas di perutnya.
"Ayo kita ke rumah sakit, aku takut kamu kenapa-kenapa." ucap Arga.
__ADS_1
Ibu Ema kebetulan masuk ke dalam kamar Arga, niatnya ingin melihat keadaan Anita setelah perjalanan sepulang dari Jogja. Tapi dia melihat Anita yang sedang meringis.
"Ga,Anita kontraksi lagi?" tanya ibu Ema.
"Iya ma, sepertinya Anita mau melahirkan." ucap Arga cemas.
"Ya sudah, kamu bawa Anita ke rumah sakit. Jangan sampai telat." kata ibu Ema.
Arga mengangguk, lalu dia menggendong Anita. Rasanya berat, namun dia tidak mau menyesal nanti jika Anita sampai melahirkan di jalan dan anaknya kenapa-kenapa.
Meski susah payah menggendong Anita turun tangga, dia tetap melangkah dan akhirnya sampai ke bawah. Arga langsung membawa Anita masuk ke dalam mobilnya dan dia masuk ke dalam kemudi.
"Duh, kunci mobilnya ketinggalan lagi." ucap Arga kesal.
Dia kemudian keluar lagi dari dalam mobil dan berlari masuk ke dalam rumah langsung menuju kamarnya. Ibu Ema dan ibu Yuni heran dengan Arga berlari naik tangga menuju kamarnya.
"Apa lagi yang ketinggalan, besan?" tanya ibu Yuni.
"Kurang tahu, mungkin kunci mobilnya yang ketinggalan." jawab ibu Ema.
Dan tak lama Arga keluar lagi dengan berlari, dia tidak mempedulikan kedua orang tuanya yang sejak tadi memperhatikan tingkahnya.
Dia masuk lagi ke dalam mobilnya dan langsung menjalankan kemudinya. Dia tidak memperhatikan Anita yang lagi-lagi tenang.
Arga langsung tancap gas ketika mobilnya keluar dari dalam gerbang rumahnya.
Dia menuju rumah sakit di mana Celine pernah di rawat dulu. Satu jam mereka sampai di rumah sakit tersebut. Arga langsung mengambil kursi roda untuk Anita, dia akan membawa Anita langsung ke ruang bersalin.
Arga tidak tahu, Anita begitu tenang. Dia juga memanggil Arga, namun Arga terus mendorong kursi roda itu. Dia berpikir Anita sudah tidak tahan untuk melahirkan.
"Dokter, tolong cepat tangani istri saya mau melahirkan." ucap Arga pada dokter yang kebetulan baru keluar dari ruang operasi.
"Istri anda mau melahirkan?"
"Iya dokter, tolong di tangani secepatnya."
"Ga, tenang dulu. Aku mau bicara dengan dokter." ucap Anita.
"Mari ke ruangan saya dulu, ibu masih bisa tahan kan?" tanya dokter pada Anita.
"Iya dokter, saya bisa tahan kok. Dan lagi sekarang sudah tidak sakit lagi. Tapi saya juga pengen cek kandungan, dokter." ucap Anita.
Dokter pun tersenyum, dia menatap Arga maklum. Mungkin baru pertama mau punya anak. Kemudian Arga mendorong kursi roda Anita menuju ruangan dokter kandungan tersebut.
_
_
_
__ADS_1
❤❤❤❤❤❤