
Pagi hari, seperti biasa Anita merapikan dasi pada suaminya. Tidak ada raut wajah ceria di sana, tidak juga membicarakan apa yang di pikirkan Anita.
Arga memperhatikan istrinya tampak serius atau melamun. Hingga memakaikan dasinya tidak selesai-selesai. Dan salah pula.
Dia lalu memegang tangan istrinya itu yang masih berusaha membetulkan dasinya. Anita menatap suaminya dengan tatapan kosong.
Lalu dia menunduk dan menghela nafas panjang. Dia duduk di sisi ranjang, ada kegelisahan di hatinya.
Arga mendekat, mengikuti istrinya yang terlihat gelisah. Memegang tangannya dan mengecupnya.
"Sayang, coba ceritakan apa yang membuatmu jadi gelisah begini? Sejak semalam kamu seperti hilang gairah dan jadi pendiam. Ada apa?" tanya Arga pelan.
Dia tahu pasti itu masalah rumah yang di berikan Rendi untuk Chiko. Masalah perebutan hak rumah tersebut, namun dia mencoba sabar dengan bertanya agar istrinya mau bercerita.
"Kemarin pengacara Mourin datang meminta hak rumah itu, Ga. Aku berusaha mempertahankan milik Chiko, tapi aku takut akan kena juga." jawab Anita dengan nada berat lalu menunduk lagi.
"Sayang, dengarkan aku. Kamu buat laporan tentang kepemilikan surat rumah itu benar adanya milik Chiko, nanti aku bantu untuk mengurus semuanya. Jangan takut, aku siap di belakangmu. Meski dia mengancammu. Aku akan berusaha mempertahankan milik Chiko. Itu memang hak anakmu kan?" kata Arga.
Dia memegang dagu Anita, mengangkatnya agar wajahnya menghadap dengan wajahnya dan menatap dalam istrinya. Agar tenang dan percaya dia ada di belakangnya. Dia tidak mau istrinya terintimidasi oleh mantan Rendi itu.
Anita menghela nafas panjang, dia balik menatao suaminya lalu tersenyum tipis.
"Tapi pengacara itu bilang akan mensomasiku, Ga. Jika aku ngga meluluskan permintaannya. Dia juga bilang punya surat rumah itu juga." kata Anita lagi.
"Sayang, dengarkan aku. Aku sudah memeriksa surat rumah itu asli. Aku juga kan waktu itu yang mengurusnya, jadi aku tidak membohongimu kalau surat itu asli. Pengacara itu hanya menggertak sayang, jadi jangan takut." kata Arga lagi.
"Dia bilang akan kesini lagi hari ini, Ga." kata Anita.
"Kamu hubungi aku jika mereka datang menemuimu. Aku akan pulang dan menghadaoi pengacara itu." kata Arga lagi menegaskan.
Anita diam lagi, dia menatap kembali suaminya. Kemudian dia menghela nafas panjang. Meski lega, namun tetap saja dia khawatir.
Tapi dia kembali tersenyum dan mengambil lagi dasi yang masih belum selesai di rapikan.
"Terima kasih ya Ga, aku jadi sedikit tenang dengan adanya kamu di belakangku. Aku hanya takut saja mereka berbuat di luar kendali." kata Anita.
"Jangan takut sayang, aku akan menyiapkan segala kemungkinan jika dia mengancammu. Aku tidak akan membiarkan istriku di ancam apa lagi di lukai oleh orang lain." kata Arga.
"Jadi hanya kamu yang boleh melukaiku?" tanya Anita menyindir suaminya.
"Ya ngga begutu dong sayang, aku melukaimu kalau kamu melahirkan bayi saja. Itu sakit kan rasanya?" jawaban nyeleneh Arga membuat Anita mencibir.
"Ya, sakit sekali. Bahkan tulang-tulang di punggungku seakan retak jika sudah merasakan kontraksi dan melahirkan." kata Anita menanggapi ucapan suaminya.
"Nah, itu juga sebenarnya aku ngga tega sama kamu. Tapi aku maunya proses pembuatan bayi saja lancar." Arga semakin nyeleneh ucapannya.
"Ish, apa sih. Kok jadi melebar kemana-mana. Pembicaraannya melukai kok jadi proses membuat bayi sih." kata Anita kesal pada suaminya.
"Karena aku suka sayang." bisik Arga sambil tersenyum.
__ADS_1
"Sudah ah, kamu bisa aja mengalihkan pembicaraan." ucap istrinya itu.
"Biar kamu ngga sedih dan gelisah lagi. Aku jadi ikut sedih melihat kamu gelisah dan sedih seperti itu. Semalam aku lihat kamu menangis di kamar Chiko, hatiku sakit sayang. Kamu ngga mau ngomong sama aku tentang ini, jadi buat apa aku jadi suamimu kalau untuk berkeluh kesah saja kamu ragu padaku." ucap Arga.
"Ga, bukan begitu. Aku hanya bingung harus bagaimana, aku yakin surat itu asli. Tapi aku takut mereka lebih nekat lagi. Pengacara itu bilang akan bertemu di pengadilan jika somasi di layangkan tidak di tanggapi olehku. Aku bingung." kata Anita sambil menunduk.
Arga meraih pundak istrinya dan memeluknya dari samping, memberikan ketenangan pada istrinya agar kuat menghadapi mereka.
"Jangan takut, aku akan datang jika pengacara itu datang mengancam kamu lagi. Kamu hubungi aku ya sayang?" kata Arga.
"Iya, aku akan menghubungimu nanti jika pengacara itu datang lagi. Tapi memang sepertinya dia pasti datang, karena kata bibi hampir setiap hari datang menungguku pulang."
"Lalu, kamu selalu menemuinya setiap dia datang?"
"Tidak, baru kemarin aku ketemu pengacara itu. Kan aku ke pabrik, jadi kemarin Jum'at aku ada di rumah. Dan sekarang pun pasti aku ketemu dia lagi." jawab Anita.
"Pengacaranya namanya siapa?"
"Ramos Pradipta, SH. dari firma badan hukum. Katanya firma itu terkenal di kota. Kamu tahu firma itu?" tanya Anita.
"Ooh, firma hukum itu. Ya aku tahu, tapi sepertinya Ramos baru bergabung di sana. Karena menurutku, advokat di sana sangat profesional dan tahu batasannya apa pada klien yang akan di hadapinya. Ramos itu mungkin baru beberapa bulan bergabung di sana, jadi dia datang hanya membawa nama firma bada hukum saja. Kamu jangan takut sayang, Mourin itu tidak berani menyewa pengacara handal di sana. Dari cerita kamu saja aku tahu dia pengacara baru, masa hampir setiap hari datang ke rumah kita. Aku sendiri tidak pernah menekan dengan cara seperti itu, itu sudah masuk ke wilayah intimidasi secara tidak langsung." kata Arga panjang lebar.
Anita senang, ternyata memang Mourin tidak bisa menyewa pengacara handal di firma itu.
"Sudah, jangan khawatir lagi ya. Ingat jika mereka datang kamu hubungi aku. Jika memang mereka datang secara sama-sama dan memgancam kamu, itu bisa di perkarakan lho." kata Arga lagi.
"Terima kasih ya Ga, aku lega jadinya." jawab Anita.
Tapi Anita malah memeluknya, dia seperti ingin bermanja di pagi hari ini. Arga merasa aneh, kenapa istrinya memeluknya erat.
Tapi biarlah, dia mungkin sedang senang. Lama Arga menunggu Anita melepas pelukannya.
"Sayang, udah kan peluknya?"
"Aku pengen peluk kamu."
"Kan udah dari tadi, aku harus berangkat kerja."
Dengan berat hati Anita melepas pelukannya, lalu menatap suaminya.
"Hati-hati ya."
Arga tersenyum dan membelai pipinya sembari mengecup lagi.
"Iya sayang, kamu jaga diri di rumah ya."
Pesan Arga, dia mengambil tasnya. Anita emgantar suaminya turun ke bawah sampai di depan rumah. Arga masuk ke dalam mobil, serangkan anak-anak sejak tadi sudah berangkat sekolah dan berpamitan padanya sebelum suaminya turun.
"Hati-hati di jalan, Ga." kata Anita melamvaikan tangannya.
__ADS_1
"Iya sayang, jaga diri di rumah."
Setelah saling memeberi pesan, Arga langsung melajukan mobilnya. Anita pun masuk ke dalam rumah untuk bersiap membangunkan anaknya Kevin yang belum bangun pagi ini.
_
Ini hari Sabtu, Anita jelas ada di rumahnya. Seperti biasa dia pasti menggantikan pembantunya beres-beres di dapur dan memasak juga.
Memang Anita meminta hari Jum'at Sabtu dia yang memasak di siang hari untuk anak-anak. Anak-anak merasa senang jika Anita yang memasak makanan untuk makan siang.
"Ma, kok ini robotnya rusak?" tanya Kevin memghampiri Anita di dapur.
"Yang mana sayang?" tanya Anita melihat mainan robotnya.
"Ini, kakinya lepas. Abang Angga mainannya suka di banting ma." jawab Kevin menunjukkan mainan robot yang sudah putus kakinya.
"Ya sudah, nanti papa belikan lagi ya. Besok kita jalan-jalan di mall cari mainan robot lagi." ucap Anita.
Kevin pun diam, dia lalu pergi ke ruang keluarga lagi untuk bermain sendirian.
Anita menoleh ke arah Kevin yang berlari, tiba-tiba dia merasa pusing kepalanya. Dia pegangi kepalanya dan duduk di kursi. Menenangkannya sebentar, agar pusingnya hilang.
Pukul sembilan lewat tiga puluh menit, karena Anita merasa kurang enak badan dia hanya memasak simpel saja. Hanya tumis brokoli udang dan sosis goreng. Serta ayam di goreng saja.
Setelah selesai memasak, menuju ruang keluarga menemani anaknya yang sedang bermain sendiri. Duduk di sofa sambil di sandarkan kepalanya.
Baru beberapa menit dia menyandarkan kepala, agar rasa pusing itu hilang. Suara keras bel pintu di pencet dari luar.
Anita membiarkan sejenak, tidak mempedulikan suara bel berbunyi.
Kevin menoleh pada Anita, menatapnya heran kenapa diam saja.
"Ma, itu ada bel pintu berbunyi." kata Kevin.
"Iya sayang, mama dengar kok. Nanti mama buka, kepala mama pusing." kata Anita.
Bel itu terus berbunyi beberapa kali. Bukannya menenangkan malah tambah tidak karuan karena suara bel itu sangat mengganggunya.
Mau tidak mau Anita bangun dan menuju pintu rumah. Membukanya, siapa yang menekan bel sampai beberapa kali.
Dan terlihat di sana, tiga orang berdiri dengan angkuh. Dua orang dia kenal, dan satu lagi tidak dia kenal.
Anita menghela nafas panjang, rasa pusing entah kenapa tiba-tiba hilang. Apa karena keterkejutannya melihat siapa yang bertamu?
"Kalian datang lagi?"
_
_
__ADS_1
_
❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤