IKHLAS MELEPASMU

IKHLAS MELEPASMU
70. Surat Dari Rendi


__ADS_3

Anita merasa kamarnya begitu sumpek karena barang-barangnya masih belum di beresi dan berantakan.


Dia lalu merapikan barang-barang dan tasnya di letakkan di tempat semestinya. Dia merapikan satu tas yang biasanya dia bawa kemana pun dia pergi selain ke pasar. Di membuka isi tas tersebut.


Di dalamnya, ada sebuah amplop warna putih yang belum dia buka sama sekali. Dia lupa surat apa itu. Dia kemudian duduk di tepi ranjang dan membuka dengan pelan surat itu.


Dia keluarkan isi surat dari amplopnya, matanya di picingkan. Surat itu sangat tebal, apakah ini surat dari Rendi dulu waktu di persidangan? tanya Anita dalam hati.


Dia kemudian membukanya perlahan dan membacanya dalam hati.


*Salam sejahtera Anita,


Bagaimana kabarmu sekarang? Apakah kamu baik-baik saja? Aku minta maaf dengan semua kesalahan yang aku buat selama menikah denganmu dan juga setelahnya. Membuatmu repot denga si kembar sendirian mengasuhnya. Aku benar-benar minta maaf.


Dan untuk malam itu juga, aku khilaf. Aku cemburu melihatmu bermesraan dengan temanmu itu, ingin sekali aku kembali dan merebutmu lagi. Tapi kenyataannya aku membuat kesalahan lagi, dan kesalahan itu sangat fatal. Kamu sampai trauma dan tidak mau bertemu denganku.


Maaf, sekali lagi aku minta maaf padamu. Aku memang tidak berguna buatmu, hanya menyusahkanmu dan selalu menyakitimu. Mungkin lautan maaf tidak akan bisa menghapus rasa sakit hatimu padaku.


Maka dari itu, aku membuat surat permohonan maaf yang terdalam padamu, karena aku yakin kamu tidak mau aku dekati bahkan bicara padaku.


Aku tidak akan mengganggumu lagi, aku akan pergi jauh darimu. Hanya satu yang aku minta, ceritakan aku pada Chila dan Chiko bahwa papanya sangat menyayanginya dan mencintainya sampai kapanpun. Jangan membenciku, jangan membeci papanya anak-anak meskipun sulit kamu lakukan. Aku akan pergi jauh dan tidak akan mengganggumu lagi.


Aku sudah membagi rumah dan milikku untuk anak-anak dan untukmu. Semua nanti menyusul surat-surat pengesahan atas nama kalian.


Itu bentuk maafku sama kamu dan juga rasa sayangku pada kalian


Untuk Anita, mantanku yang paling baik dan sabar. Kamu memang luar biasa, berjuang sendiri mengurus anak-anak kita.


Aku...., minta maaf padamu dengan tulus Anita.


Sekian dariku, semoga kamu bahagia dengan pilihan hatimu. Semoga dia selalu mencintaimu dan menyayangi anak-anak kita dengan tulus.


Selamat tinggal dan selamat jalan. Semoga di kemdian hari bertemu denganmu, kamu sudah tersenyum padaku dan memaafkanku.


Tertanda :


Rendi, papanya Chila dan Chiko*.


Sampai kalimat terakhir, Anita masih menangis membaca surat dari Rendi, dia menyesal kenapa surat itu tidak dia buka lebih dulu waktu itu.


Anita menangis sesunggukkan, hingga ibu Yuni mendengar isakan tangis Anita. Dia masuk ke dalam kamar Anita dan melihat Anita menangis, di tangannya memegang sebuah surat. Entah surat apa itu sehingga membuat Anita menangis.

__ADS_1


Ibu Yuni mendekat, dia duduk di samping Anita dan menarik tubuh Anita yang masih menangis pilu Ibu Yuni mengelus punggung Anita, menenangkannya.


"Kamu kenapa Anita?" tanya ibu Yuni.


Anita masih belum menjawab, dia menangis keras dan memeluk ibunya. Kembali ibu Yuni mengekus punggung Anita, dia tidak bertanya lagi kenapa Anita menangis.


Setelah merasa lebih baik, Anita berhenti menangis dan menghapus sisa air matanya. Dia menyodorkan surat Rendi pada ibu Yuni.


Ibu Yuni menerima surat itu dan membacanya dalam hati, sangat pilu dia merasa pilu membaca surat Rendi untuk Anita.


"Surat itu di berikan mas Rendi waktu persidangan terakhir dulu bu. Aku baru membacanya setelah merapikan barang-barangku di kamar. Aku lupa saat itu, baru aku buka dan baca sekarang. Ternyata mas Rendi sudah memberikan semua harta untuk anak-anak waktu itu, tinggal merubah namanya saja.


Dan waktu di rumah itu juga aku menemukan berkas surat-surat rumah milik mas Rendi, dia berniat mengalihkan semuanya tapi malah terjadi kecelakaan parah. Mungkin dia sudah punya firasat lebih dulu mau meninggalkan anak-anaknya." kata Anita.


"Mungkin, itu memang firasatnya. Jadi dia membuatkan surat pengalihan nama rumahnya." kata ibu Yuni.


"Rumah milik ayah mertua juga sudah di alih nama atas nama Chila dan Chiko. Mas Rendi juga punya rumah lagi di tengah kota, itu juga buat si kembar. Dan rumah dulu aku tempati itu untukku. Mas Rendi juga memberikan cek buat anak-anak dan aku juga. Aku bingung uang itu untuk apa." kata Anita lagi.


"Simpanlah, suatu saat kamu akan membutuhkan uang itu. Dan milik anak-anak biarkan itu untuk peninggalan papanya sebagai kenang-kenangan." kata ibu Yuni.


"Iya bu, aku juga pikir begitu." kata Anita.


"Apa kamu sudah merasa lega Anita?"


Lalu ibu Yuni keluar dari kamar Anita, meninggalkan Anita yang masih merenung. Kemudian Anita mengambil amplop dan suratnya, dia menuju dapur dan akan membakar surat Rendi itu.


Anita menyalakan kompor dan menyulutkan surat itu beserta amplopnya, buka berarti dia masih benci dan kesal pada Rendi, tapi sebagai bentuk maafnya untuk Rendi dan menghilangkan semua kenangan burur bersama Rendi.


"Aku sudah memaafkanmu mas, biar anak-anak saja yang jadi kenangan manis untukku darimu. Karena anak-anak tidak akan pernah bisa melupakan papanya meski sudah tidak ada cinta untukmu." gumam Anita.


Dia terus membakar surat itu sampai habis tak tersisa. Dan kini dia benar-benar lega, hilang semua tanpa beban. Hanya ada senyuman di bibirnya.


Dia akan menyongsong hidup baru yang bahagia dengan Arga. Arga yang selalu menemaninya dan membantunya di setiap dalam kesusahannya.


"Aku akan hidup bahagia denga Arga, dia satu-satunya orang yang ada dalam hatiku saat ini." gumam Anita.


Lalu dia masuk lagi ke dalam kamarnya, mengistirahatkan tubuhnya yang sejak bangun tidur dan mau tidur belum dia istirahatkan karena tadi harus membaca surat dari Rendi.


_


Pagi harinya, Anita seperti biasa dia menyiapkan bekal untuk kedua anaknya di sekolah. Dia akan membuat sosis balut telur dadar, lalu dia masukkan ke dalam kotak bekal makannya. Dan dia masukkan ke dalam tas masing-masing.

__ADS_1


Setelah persiapan untuk anaknya, baru dia pergi ke pasar seperti biasa.


"Ma, minggu depan di sekolah mau mengadakan jalan-jalan ke kebun binatang." kata Chila.


"Oh, lalu kakak sama adek ikut juga?"


"Iya ma, kata ibu guru harus bayar buat naik mobil sama masuk tiketnya." ucap Chila lagi.


"Berapa kak, bayarnya?"


"Kakak sendiri bayarnya seratus ribu ma."


"Kalau sama adek berapa?"


"Jadi seratus ribu tambah seratus ribu, jadi dua ratus ribu ma." jawab Chila.


Anita mengacungkan jempolnya, lalu dia mengeluarkan uang lembar warna merah untuk di berikan pada Chila.


"Ini kak, kasih ke ibu guru ya. Bilang sama adek Iko juga bayarnya." ucap Anita.


"Kamu saja yang bayar Anita, nanti kalau hilang bagaimana?" ucap ibu Yuni yang keluar dari dapur.


Benar juga, baiklah dia akan ke sekolah Chila setelah pulang dari pasar.


"Ya sudah kak, nanti sepulang dari pasar mama ke sekolah kakak untuk bayar touring ke kebun binatang." kata Anita.


"Namanya touring ya ma?"


"Iya, kalau jalan-jalan sambil wisata namanya touring kak. Bisa belajar juga, kan kakak mau belajar mengenal binatang."


"Iya ma, kata ibu guru belajar mengenal binatang yang belum pernah di lihat di kampung."


"Ya udah, mama ke pasar dulu ya. Bekal kakak dan adek udah mama masukkan ke dalam tas. Ingat, di sekolah harus menurut sama ibu guru." pesan Anita pada anak-anaknya.


Setelah memberi petuah seperti itu, Anita menaiki motornya dan melajukannya menuju pasar.


_


_


_

__ADS_1


❤❤❤❤💖


__ADS_2