IKHLAS MELEPASMU

IKHLAS MELEPASMU
129. Chila Protes


__ADS_3

Anita sudah pulang ke rumahnya sebelum suaminya pulang. Arga pulang biasanya jam tujuh malam atau delapan malam.


Dan sekarang Anita menyiapkan makan malam di meja makan, di sana sudah berkumpul kelima anaknya untuk makan malam.


"Ma, sekarang mama kerja sampai sore ya?" tanya Chila.


"Iya kak, hanya untuk satu bulan aja kok. Kata papa harus bekerja agar pabriknya ada yang jaga." kata Anita.


"Kan ada pekerja pabrik yang jaga ma, kenapa mama harus ikut jaga pabrik juga?" tanya Chila lagi.


Anita menghela nafas panjang, dia tahu anak-anaknya lebih suka dirinya ada di rumah. Sudah satu minggu ini memang Anita sedang sibuk di pabrik untuk memeriksa keuangan juga karyawan tidak seenaknya bekerja.


Jika tidak di awasi, maka bagian produksi akan malas karena pemimpinnya saja tidak ada, meski ada saja alasan untuk tidak masuk kerja.


Di pabrik Anita juga mempelajari aturan di sana, dia juga banyak keluhan dari beberapa karyawan. Bahwa mandor yang mengawasi bagian produksi suka seenaknya saja. Dan dia harus bekerja ekstra untuk saat ini.


Dia juga akan memperbaiki peraturan di pabrik. Mungkin karena sibuk sekali Arga sampai tidak memperhatikan karyawan di sana dan juga peraturan yang di buat.


"Ma, kok diam sih di tanya sama kakak." kata Chiko pada Anita.


"Oh, maaf sayang. Kakak tanya apa? Mama lupa." kata Anita.


Chila cemberut, jadi sejak tadi dia bicara Anita tidak mendengarkan.


"Ngga jadi ma." jawab Chila.


Anita manarik nafas panjang, dia tahu anak sulungnya itu sedang kesal padanya karena ucapannya tidak di tanggapi.


"Kak, kalian itu sudah besar. Kakak juga udah mau kelas lima, sama dengan abang Iko. Kakak Celine kelas tiga dan mau kelas empat. Kalian udah besar, makanya mama mau bekerja di pabrik papa." kata Anita menjelaskan pada kelima anaknya.


Meski dua anaknya mungkin tidak mengerti.


"Tapi adek Kevin sama Angga masih kecil, ma." Celine menimpali.


"Kan ada kakak-kakak sama abangnya yang jaga adek-adeknya. Masa kakak-kakak sama abang ngga bisa jaga adeknya." ucap Anita.


Mereka diam, Chila masih belum terima Anita bekerja. Berangkat pagi pulang sore hari. Itu artinya bertemu dengan Anita hanya malam hari, itu pun harus di potong dengan belajar. Dia tahu anak sulungnya tidak suka di beri tanggung jawab terlalu banyak, harus menjaga adik-adiknya empat orang.


Jika ada kejadian di luar dugaan pada adiknya, pasti Chila yang di tanya lebih dulu. Anita merasa kasihan sebenarnya, namun anak sulung itu harus di beri pengertian lebih lama dan berkelanjutan. Agar bisa masuk ke dalam pikirannya.


Untuk saat ini mungkin masih kesal, tapi nanti dia akan bicara berdua saja dengan Chila.


" Selamat malam semuanya kesayangan papa. Maaf ya, papa pulang terlambat." kata Arga memghampiri istrinya dan mencium kepalanya serta kepala kelima anaknya.


"Papa mandi dulu sana, nanti menyusul makannya." kata Anita.


"Iya sayang, aku ke kamar dulu."


Arga berlari naik tangga agar bisa cepat bergabung dengan istri dan anaknya untuk makan malam.


Setengaj jam Arga mandi dan bersih-bersih dia langsung turun lagi ke bawah untuk makan malam dengan keluarganya.


"Lho, kok sudah selesai? Kenapa aku di tinggalin makannya?" tanya Arga.


"Mereka harus belajar, Ga. Jadi harus cepat makannya. Kenapa kamu terlambat pulang?" tanya Anita menyendokkan nasi ke piringnya dan mengambilkan lauknya juga.


"Aku tadi di ajak ketemu klien yang akan di tangani olehku. Dia ternyata perempuan yang sudah lama memgalami KDRT oleh suami dan mertuanya. Sejak dua tahun menikah, dia mengalami penganiayaan dari suami dan mertuanya. Dia di sekap di dalam rumah selama lima tahun Bisa di bayangkan setiap hari penyiksaan pada perempuan itu." kata Arga menjelaskan dirinya pulang terlambat.

__ADS_1


"Kasihan ya, terus bagaimana selanjutnya? Kenapa bisa ketahuan dia kena KDRT oleh suami dan mertuanya? Kan di sekap di dalam rumah mertuanya kan?" tanya Anita.


"Nah, itu kebetulan dia sedang membuang sampah di luar. Suaminya berangkat kerja, mertuanya sedang di kamar mandi. Pada kesempatan itu dia kabur dengan membawa uang di sakunya hanya seratus ribu.


Dia pulang ke rumah orang tuanya dan menceritakan pada kedua orang tuanya, dan orang tuanya meminta bantuan hukum pada firmaku, sayang. Jadi tadi itu bertemu di rumahnya karena dia sedang sakit." jelas Arga.


Sambil makan sambil bercerita tentang perkembangan di pabrik. Keduanya seakan asyik bercengkarama di meja makan berdua.


"Jadi, kamu menemukan kejanggalan di pabrik?" tanya Arga menyuap nasi terakhir di sendoknya.


"Iya, nanti aku tunjukkan berkas laporannya di kamar." kata Anita.


"Oke. Aku udah selesai makannya, aku juga mau membuat laporan BAP mengenai pengaduan klien." kata Arga juga.


"Iya."


Arga naik tangga dan meninggalkan Anita di meja makan yang sedang merapikan sisa makanan dan piring-piring bekas makan suaminya.


_


Kini Anita sedang berada di kamar anak sulungnya, dia memang tadi berencana berbicara empat mata dengan Chila mengenai protesnya kenapa Anita bekerja.


"Kak, mama masuk ya?" tanya Anita sambil mengetuk pintu.


"Iya ma, ngga di kunci kok." jawab Chila.


Anita mendorong daun pintu lebih lebar, dia masuk ke dalam dan menghampiri anaknya yang sedang belajar.


"Kakak giat belajarnya?" tanya Anita.


"Kak, mama mau tanya kenapa tadi kakak protes mama bekerja? Apa alasannya?" tanya Anita


Chila menghentikan menulisnya dan menghadap ke arah Anita.


"Kakak tuh suka pusing kalau adek Kevin rewel, ma. Bibi juga kadang sibuk di dapur, jadi harus kakak yang bantu adek Kevin. Coba kalau mama ngga kerja, kan adek Kevin ngga rewel dan pasti ada mama yang menenangkan adek Kevin." ucap Chila berkeluh kesah.


Anita menghela nafas panjang, benar saja dugaannya. Pasti masalah adiknya, apa lagi Kevin yang kalau menangis suka susah di tenangkan. Harus Anita yang menenangkan anak bungsunya itu, Arga saja suka kewalahan menghadapi Kevin jika sedang rewel.


"Kakak yang sabar ya, mama hanya sampai bulan depan aja kok. Setelahnya mama akan berangkat ke pabriknya cuma empat hari. Jadi adek Kevin bisa mama yang jaga." kata Anita memberi tahu pada Chila.


"Satu bulan lagi itu lama, ma. Nanti kalau setiap hari adek nangis, kan kakak jadi susah belajar ma." kata Chila dengan mimik sedih.


"Iya, mama tahu. Makanya kakak harus sabar kalau menenangkan adek Kevin. Coba kakak kasih apa yang adek ingin, pasti mau diam dan tenang nangisnya." kata Anita memberi solusi.


Chila diam, dia masih tidak terima dengan usul Anita. Namun sedikit demi sedikit memahami apa yang di ucapkan ibunya itu.


Setelah selesai memberi pengertian pada Chila, Anita pun keluar dari kamar Chila dan masuk ke dalam kamarnya.


"Kok lama sih sayang, kan tadi hanya sebentar merapikan bekas makan tadi di meja makan." kata Arga.


Anita mendekat, dia mengambil berkas yang tadi sore dia bawa untuk di periksa masalah uang.


"Iya, aku ke kamar Chila dulu bicara panjang lebar." jawab Anita.


"Bicara apa?" tanya Arga.


"Dia protes aku kerja di pabrik, waktu denganku jadi berkurang. Dia juga merasa berat dengan tanggung jawab sebagai kakak yang menjaga adik-adiknya selama aku kerja. Dia protes masalah aku yang kerja di pabrik dan pulang sore." Kata Anita.

__ADS_1


"Oh, dia belum terima kamu bekerja di pabrik ya?"


"Iya, makanya aku kasih pengertian mengenai pekerjaanku di pabrik. Aku harus terus memberinya pengertian padanya, walau bagaimana pun dulu aku jarang meninggalkannya pergi sampai lama setiap harinya."


"Tapi kan waktu kamu ke bude Rima sampai sore, bertemu ayah juga lama kan?"


"Tapi ngga setiap hari, makanya dia biasa saja."


"Emm, benar juga sih. Kamu harus memberinya pengertian dan semangat sayang, kasihan memang. Masih kecil harus di beri tanggung jawab menjaga adik-adiknya meski ada bibi juga."


"Iya, nanti jika dia bisa mengerti keadaanku. Aku ingin memberinya hadiah."


"Bagus itu sayang, kamu memang mama yang hebat."


"Tapi sebenarnya yang protes bukan hanya Chila aja, Celine dan Chiko juga protes. Aku belum kasih pengertian pada mereka berdua." kata Anita.


"Ya, nanti gantian aja kasih tahunya.


"Iya."


Lalu Anita duduk di samping suaminya dan memperlihatkan beberapa berkas yang tadi dia bawa dari kantor. Di saja dia juga memperlihatkan hasil penemuannya itu.


"Oh, jadi dari bagian pengiriman produk ya. Lalu apa yang akan kamu lakukan?" tanya Arga.


"Ya memanggil kedua orang tersebut dan menanyakannya langsung. Kenapa mereka berbuat seperti itu." jawab Anita.


Arga kembali mencium pipi Anita, dia rasanya rindy sekali dengan istrinya itu. Entahlah, dia terlalu menjadi budak cinta pada Anita. Jadi selalu ingin memakananya di ranjang.


Anita sendiri sedang memeriksa kembali dan menghitung jumlah uang yang hilang dan tidak masuk ke kas pabrik.


Arga mulai beraksi, pertama dia mencium pipi istrinya. Kemudian lari ke leher bagian samping dengan pelan.


Mau tidak mau bulu kuduk Anita meremang, tapi dia masih bertahan memeriksa berkas- berkas itu.


Karena istrinya belum juga sadar akan perbuatannya, tangan Arga kini lari ke bagian dada Anita, dia memegang dan meremasnya pelan.


"Ga, sabar dong. Aku lagi fokus dengan berkas ini." kata Anita, meski dia juga sudah mulai terangsang.


Tapi Arga tidak peduli protes istrinya. Dia terus meremasnya sejenak, lalu tangannya turun kebawah ke bagian sensitifnya. Tangan nakal Arga bermain-main di sana.


Anita memejamkan matanya, dia sebenarnya ingin menyelesaikan pekerjaannya dulu. Baru dia meladeni keinginan suaminya, agar setelah selesai bisa langsung tidur.


Tapi tangan Arga tidak bisa di kondisikan, dia terus memainkan bagian bawah di sana. Anita melenguh, dan memejamkan matanya.


Arga senang dengan istrinya yang sudah tergoda dengan perlakuannya.


Kemudian dia membaringkan Anita, dan langsung menyerobot bibirnya yang sejak tadi belum dia sentuh.


Kini pergulatan panas pun terjadi, malam ini semakin larut. Kedua insan yang saling jatuh cinta dan selalu di mabuk akan cintanya masing-masing terus mengeksplor tubuh masing-masing, mencurahkan rasa cinta dan kasih sayang pada percintaannya yang panas itu.


_


_


_


❤❤❤❤❤❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2