IKHLAS MELEPASMU

IKHLAS MELEPASMU
35.Kelepasan


__ADS_3

Semua nampak senang ketika berada di pantai,anak-anak masih berlarian mencari kerang dan batu karang yang terapung di air.


"Kak Chila,ayo cari kerang lagi yang banyak."kata Celine pada Chila.


"Ini udah banyak, Celine. Buat apa banyak-banyak?"tanya Chila.


"Nanti kita bikin rumah dari kerang kak."


"Ya udah cari yang gede aja kerangnya."


"Iya kak."


"Kak Chila, Iko dapat bintang laut." kata Chiko menunjukkan bintang laut pada Chila dan Celine.


Waah, Iko hebat dapat bintang laut. Sini masukin ke dalam ember." kata Chila.


"Iko mau kasih lihat mama dulu." kata Chiko,dia berlari menuju Anita yang sedang duduk di pinggiran pantai di bawah pohon kelapa bersama Arga.


"Mama, Iko dapat bintang laut besar." kata Chiko mengacungkan bintang laut ke atas.


Anita tersenyum, begitupun Arga. Mereka senang dengan tingkah lucu anak-anaknya.


Chiko mendekat, dia memberikan bintang laut pada Anita.


"Besar ya bintang lautnya. Iko dapat di mana?"


"Di laut yang dalam ma, Iko lihat ada bintang laut."


"Eh, Iko jangan jauh-jauh dari kakak Chila ya." kata Anita memperingatkan anaknya.


"Iya ma, Iko mau ke sana lagi ya ma." kata Chiko lagi.


"Iya sayang."


Matahari mulai tinggi tepat berada di atas kepala. Mereka kini sedang makan di warung makanan yang terdapat di pantai tersebut.


Kali ini Anita ingin membayar semua makanan yang di pesan.


"Anita, lho kok kamu yang bayar?" tanya Arga, dia merasa tidak enak jika Anita yang membayar makanannya.


"Ngga apa-apa, sekali-kali aku yang bayar. Hitung-hitung aku yang traktir." ucap Anita,dia tahu Arga merasa tidak enak.


"Aku jadi ngga enak lho. Masa kamu yang bayar." kata Arga lagi.


"Emm nanti kapan-kapan kamu gantian yang bayar kalau pergi makan bersama lagi." kata Anita,dia tersenyum menatap Arga.


Arga pun ikut tersenyum, dia lalu mengangguk.


Setelah acara makan-makan, Arga mengajak mereka ke kebun buah. Tentu saja mereka senang. Tapi yang mengeluh adalah para orang tua. Namun begitu,mereka tidak menunjukkan pada anak-anak.


"Eyang putri duduk aja ya di pos satpam,ngga ikut masuk ke dalam." kata ibu Yuni.


"Iya oma juga duduk sama eyang putri,oma capek." kata ibu Ema.


"Iya ma, mama di sini aja sama ibu Yuni. Nanti Arga belikan buah yang ada di sana." kata Arga lagi.


Setelah semua siap masuk, ibu Yuni dan ibu Ema duduk saja di pos satpam. Mengikuti anak- anak akan kelelahan, biar orang tua mereka saja yang mengikuti. Pikir ibu Yuni dan ibu Ema.


_


Sore hari mereka pulang ke vila,semua merasa kelelahan. Sampai di vila ketiga anak itu langsung masuk ke kamar dan tertidur, meski waktu masih sore. Anita mengambil barang-barang bawaan dari bagasi mobil untuk di bawa masuk ke dalam vila.

__ADS_1


Arga sendiri masuk juga ke kamarnya, membersihkan tubuhnya yang lengket dan beristirahat sejenak.


Sedangkan Anita masih beres-beres di dapur juga siap-siap untuk.memasak untuk makan malam untuk penghuni vila. Dia sendiri merasa lelah,namun jika bukan dia yang mengerjakan siapa lagi.


Anita memasak hanya yang simpel saja,tidak yang banyak bumbu. Mungkin hanya ayam goreng dan sayur lodeh, karena di kulkas sayuran hanya ada itu. Tak lupa jug dia buat sambalnya juga.


Jam setengah tujuh malam, Anita selesai memasak. Lalu dia masuk ke dalam kamarnya untuk membersihkan diri dan istirahat sejenak.


Biarlah dia makan malamnya terlambat, karena lelah yang melandanya.


Di meja makan,


"Anita ngga ikut makan malam" tanya Arga pada ibu Yuni.


"Biarkan saja dia istirahat, mungkin nanti agak malam makannya. Dari pulang dia langsung menyiapkan masak dan makan malam buat kita. Nanti juga kalau merasa lapar dia akan keluar. Kasihan dia capek." kata ibu Yuni.


Arga sebenarnya kecewa,namun dia juga merasa kasihan. Jika sampai malam Anita belum juga keluar untuk makan, nanti dia akan memanggilnya untuk keluar.


Semua tampak lahap makan, termasuk anak-anak. Namun rasa lelah masih mereka rasakan. Jadi setelah makan malam Chila, Chiko dan Celine masuk lagi ke kamar untuk meneruskan tidur.


Ibu Yuni sendiri setelah merapikan dan membersihkan peralatan makan dia langsung masuk lagi ke kamarnya. Tapi tidak dengan ibu Ema, dia sedang mengobrol dengan Arga di ruang tamu.


"Ga, kamu sudah bilang sama Anita?"tanya ibu Ema.


"Belum ma,rencananya malam ini mau bicara sama Anita. Tapi Anita rupanya kelelahan." jawab Arga.


"Iya juga, kasihan dia. Tapi dia belum makan lho, Ga. Coba kamu bangunkan Anita,kasihan belum makan malam." kata ibu Ema.


"Iya bu."


Lalu Arga hendak pergi ke kamar Anita,namun dia melihat Anita keluar dari kamarnya. Sekarang waktu menunjukkan pukul sembilan tiga pulah,berarti sudah malam sekali.


"Ga,mama masuk ke kamar dulu. Mama ngantuk,jangan lupa kamu bicara sama Anita." pesan ibu Ema.


"Mama tahu, ya udah mama tinggal dulu."


Ibu Ema masuk ke dalam kamarnya,dia melihat Anita sedang membuat mie instan. Arga mendekat ke dapur. Dia melihat Anita membuat mie instan.


"Kamu lapar?" tanya Arga memperhatikan Anita.


"Iya, aku tidur terlalu lama ternyata. Perutku tiba-tiba berbunyi minta di isi." kata Anita.


Setelah selesai membuat mie instan, Anita duduk di kursi makan.


"Aku mau bicara sama kamu , Anita." kata Arga.


"Ya,boleh. Tapi aku makan dulu ya." kata Anita.


"Aku tunggu di luar aja ya,rasanya cuacanya sedang bagus malam ini."


"Nanti aku kesana,kubuat kopi untukmu."


Arga mengangguk, dia lalu keluar dari vila. Duduk di kursi panjang di depan vila dan menatap langit gelap. Malam ini suasana hatinya sedang gelisah,ingin menyatakan cinta pada Anita namun dia gugup sendiri.


Tak berapa lama, Anita keluar dengan membawa dua cangkir kopi. Dia letakkan di tengah antara dirinya dan Arga.


"Malam ini sangat cerah ya,pas buat pacaran." kata Arga memandang langit.


Anita tersenyum,dia tahu maksud dari ucapan Arga namum dia hanya diam saja.


"Anita, kamu belum menjawab pertanyaanku yang dulu. Apa kamu masih mengharapkan mantan suamimu, maksudku apa kamu masih mencintai mantan suamimu?" tanya Arga langsung aaja.

__ADS_1


Anita menatap Arga,lalu dia kembali menatap ke depan. Menghela nafas panjang namun belum mau menjawab pertanyaan Arga.


" Aku tidak tahu, tapi aku tidak pernah berharap kembali padanya. Dia sudah bahagia dengan istrinya sekarang." jawab Anita.


Dia melangkah ke depan, menatap pohon-pohon yang meliuk di terpa angin malam. Arga mendekat, dia berdiri di samping Anita mengikuti kemana mata Anita memandang.


"Jadi, aku punya kesempatan untuk mengharapkanmu?"


"Apa kamu yakin tidak mau kembali juga dengan mantan istrimu?" Anita balik bertanya.


"Dia juga sudah bahagia mungkin."


"Masih mungkin, Ga. Ada kesempatan buatmu untuk kembali padanya."


"Anita, satu hal yang belum kamu tahu. Aku mencintaimu sejak SMA dulu, sampai sekarang Anita. Kamu tahu, ketika aku tahu kamu sudah menikah hatiku hancur dan kecewa. Aku menyesal kenapa sebelum aku kuliah tidak menyatakan cinta padamu. Sungguh, Anita aku mencintaimu. Sejak dulu, aku mencnitaimu." kata Arga, dia membalikkan wajah Anita untuk menghadap padanya.


Menatap Anita dalam, dan memang Anita melihat di mata Arga ada sinar cinta yang memancar untuknya. Tatapan itu berbeda ketika dia dengan Rendi dulu. Tatapan penuh cinta dan kerinduan.


Anita menunduk, menetralkan hatinya yang sedang berkecamuk melawan apa yang dia rasakan. Benarkah Arga yang akan memiliki hatinya selanjutnya? Tapi dia masih ragu,akan seperti apa nanti rumah tangganya dengan Arga?


" Anita, aku sungguh mencintaimu. Aku ingin menikah denganmu, hidup denganmu dan membesarkan Chila,Chiko dan Celine bersama. Maukah kamu jadi istriku?" tanya Arga lagi.


Anita masih diam, dia menatap Arga sekali lagi mencari kepastian dan keyakinan.


"Ga, aku" ucap Anita tertahan.


Wajah Arga mendekat, tangannya menempel di pipi Anita. Matanya menatap bibir Anita.


"Ga." nafas Anita tertahan,matanya terpejam seolah menunggu apa yang akan di lakukan Arga padanya.


Arga semakin mendekat,dia menyentuhkan bibirnya ke bibir Anita. Ya,Arga mencium bibir Anita. Tak ada penolakan dari Anita, kemudian Arga mencium bibir Anita lebih lama,menelusupkan lidahnya pelan mencoba membuka mulut Anita.


Anita seakan terlena dengan ciuman Arga, tanpa sadar mulut Anita terbuka. Kemudian keduanya terbuai dengan ciuman yang lembut itu. Semakin lama keduanya semakin menikmatinya. Hingga nafas mereka memburu.


Mungkin mereka sudah lama sekali tidak melakukan ciuman mesra seperti itu dengan pasangan. Ada getar harapan lebih pada hati masing-masing.


Arga melepas ciumannya,tangannya mengusap lembut pipi Anita. Tak ingin melepas kegiatan tadi, Arga mencoba mencium bibir Anita lagi. Namun Anita menahan dada Arga.


"Ga,ku mohon hentikan." kata Anita.


Arga berhenti,agak kecewa dia. Namun dia mengerti perasaan Anita, Anita juga belum menjawab lamarannya.


"Ga."


"Ya." meraih tangan Anita dan menggenggamnya.


"Aku butuh waktu,aku minta waktu untuk memikirkan ini. Kamu tidak apa kan?" tanya Anita merasa tidak enak hati.


Namun dia masih perlu memikirkannya lebih matang. Sejujurnya dia merasakan berbeda dengan Arga,namun dia perlu membicarakannya dengan kedua anaknya juga ibunya.


"Ya, aku mengerti. Aku akan menunggu jawabanmu." kata Arga,dia tersenyum lalu mengecup kening Anita.


"Terima kasih Ga."


Keduanya pun duduk kembali di kursi dan menikmati secangkir kopi dan bercerita tentang masa lalu di SMA dulu.


_


_


_

__ADS_1


❤❤❤❤❤❤


__ADS_2