IKHLAS MELEPASMU

IKHLAS MELEPASMU
148. Kunjungan Pak Sugara


__ADS_3

Sebelum persidangan..


Mendengar anaknya masuk rumah sakit, pak Sugara meminta pada istrinya untuk menjenguk anaknya di rumah sakit. Atau sudah pulang ke rumahnya.


"Rika, aku pengen menjenguk anakku." kata pak Sugara pada istrinya.


"Kamu kan belum sehat benar mas, masa harus jalan-jalan lagi." kata ibu Rika pada suaminya.


"Aku sudah lebih baik, aku ingin tahu keadaan anakku." kata pak Sugara lagi.


"Ya sudah, kita hubungi dulu anakmu. Barangkali sudah pulang ke rumah." kata ibu Rika.


Ibu Rika mengambil ponsel suaminya untuk menghubungi Anita.


Tuuut


Tersambung, namun belum di angkat. Dan sekali lagi di hubungi.


Tuuut


"Halo, ayah?"


""Halo Anita, ayahmu ingin menjengukmu. Dia memaksa ingin menemuimu. Apa kamu masih di rumah sakit atau sudah pulang ke rumah?" tanya ibu Rika.


"Sore ini saya pulang, bu. Mungkin besok saja ayah menjengukku di rumah." kata Anita.


"Ayah tidak sabar ingin menemuimu, Anita. Kenapa kamu bisa masuk rumah sakit lagi?" tanya pak Sugara yang dia ambil ponselnya dari tangan istrinya.


"Besok saja, yah. Sekalian ayah bisa main dengan cucu-cucu ayah nantinya." kata Anita.


Dia tidak mau ayahnya harus repot datang ke rumah sakit. Dan memang benar sore ini dia akan pulang setelah administrasinya selesai semua.


"Ya sudah, besok ayah sama ibu mengunjungimu di rumah. Bude Rima juga di ajak."


"Besok pak Diman akan menjemput ayah dan ibu."


"Ya sudah, ayah tutup dulu teleponnya."


"Iya ya."


Klik


Kini ponsel itu di serahkan lagi pada istrinya, pak Sugara masih duduk di kursinya.


Jika saja dia bisa jalan sendiri, dia akan langsung menemui anaknya yang sedang di rawat di rumah sakit. Sudah dua kali Anita masuk rumah sakit, dan dia di beritahu ketika akan pulang ke rumah.


Dia tahu, anaknya itu tidak mau dirinya terlalu mengkhawatirkannya. Karena dia sendiri sedang berjuang untuk sembuh dari sakit strokenya yang sudah dua tahun berjalan.


_


Anita masih menunggu suaminya selesai mengurus administrasi. Setelah dia menelepon dari ayahnya yang ingin menjenguknya, dia kini hanya bisa diam.


Hampir dua belas hari Anita di rawat di rumah sakit. Suaminya sibuk sekali mengurus tuntutan pada Mourin.


Anita kasihan sekali sama Mourin, meski pun dulu dia di sakiti olehnya. Namun Mourin kasihan, lebib kasihan pada anaknya.

__ADS_1


Dia mendengar dari suaminya kalau anaknya Sandra sakit serius. Ya, sakit kebocoran jantung Perlu operasi beberapa kali untuk menyembuhkan dan kembali semula.


Maka dari itu, dia akan memberikan uang sebagai pengganti sisa bayar rumah tersebut. Agar nanti tidak di ungkit lagi oleh keluarganya yang lain.


Lagi pula uang itu sebagai rasa simpati dan sumbangan pada orang yang benar-benar membutuhkan.


Dulu ayahnya juga ingin dia bawa terapi ke rumah sakit yang lengkap peralatan medisnya, namun sang ayah menolak.


Dia hanya mau di terapi oleh terapis saja, katanya dia percaya pada terapis dari pada dokter.


Jika dokter, menurut ayahnya akan banyak sekali pantangan. Sedangkan terapis bisa di usahakan agar bisa makanan apa yang dia suka meski porsinya sedikit.


Dan Anita tidak bisa mencegah ayahnya, lagi pula di obati oleh terapis juga ada kemajuan yang signifikan. Bisa berjalan sedikit demi sedikit, dan juga sesekali periksa ke dokter.


"Sayang, kamu sedang melamun?" tanya Arga setelah dia menyelesaikan administrasi rumah sakit.


"Tadi ayah menelepon, ingin menjengukku. Kataku lebih baik besok, karena sekarang aku akan pulang." kata Anita.


Dia menggeser duduknya agar lebih tegak lagi.


"Oh, begitu ya. Sengaja ayah aku kasih tahu keadaanmu setelah kamu membaik sayang, aku takut ayah jadi kepikiran jika mendengar kamu tidak baik-baik saja. Maaf ya, aku telat memberitahu ayah tentang keadaanmu." kata Arga.


"Ngga apa-apa, aku malah setuju kamu kasih tahu ayah setelah aku lebih baik. Takut ayah kepikiran tentang kesehatanku." ucap Anita.


Setelah beres-beres untuk pulang, Anita dan Arga pulang hanya berdua saja. Anak-anaknya yang menyambut ibunya pulang ke rumah.


"Anak-anak ngga ikut Ga?" tanya Anita.


"Ngga sayang, mereka akan menyambutmu di rumah Lihat nanti apa yang akan mereka tunjukkan sama kamu." jawab Arga.


_


Esok hari, seperti apa katanya. Pak Sugara dan istrinya menjenguk anaknya yang baru pulang dari rumah sakit.


Pagi-pagi pak Diman di suruh untuk menjemput ayahnya dan istrinya serta ibu Rima. Budenya itu juga ingin menjenguk keponakannya yang sudah dua kali di rawat di rumah sakit, tapi selalu saja tahunya sudah ada di rumah.


"Sayang, maaf ya. Aku ngga bisa ketemu dengan ayah. Aku harus mengurus berkas BAP tuntutan pada perempuan itu." kata Arga merapikan dasinya sendiri.


Karena Anita belum bisa membantunya merapikan dasinya, jadi dia sendiri yang memakainya meski pun agak lama.


"Berapa tuntutan yang kamu berikan padanya?" tanya Anita.


Dia mencoba membantu suaminya memasang dasi, karena sejak tadi tidak selesai-selesai merapikan dasi.


"Aku menuntutnya lima belas tahun penjara, tapi nanti juga akan di potong oleh hakim di persidangan nanti." kata Arga, dia semakin mendekat pada istrinya dan mulai mengenduskan kepalanya di leher istrinya lalu mencium dan menggigit-gigit kecil.


"Apa itu tidak terlalu lama?" tanya Anita memiringkan kepalanya agar suaminya berhenti menyerangnya.


"Itu pantas dia dapatkan sayang, dia telah melukaimu hingga hampir saja kamu tidak bisa terselamatkan. Dan juga penculikan Chiko berapa hari tanpa di beri makan. Chiko bilang dia hanya di kasih makan satu kali ketika di sekap di sana. Aku sangat sedih mendengarnya, dia tega sekali Chiko kelaparan di sana." kata Arga menghela nafas panjang.


Mengingat cerita Chiko dulu, dia kelaparan dan makan banyak ketika di kantin rumah sakit.


Dan Anita tentu saja jadi marah dan kasihan mendengar cerita suaminya tentang anaknya itu.


"Kasihan sekali dia." ucap Anita tiba-tiba jadi sedih.

__ADS_1


"Ya makanya aku menuntut dia lima belas tahun penjara dan tuntutan penyerangan di rumah juga ada lagi. Kemumgkinan akan bertambah hukumannya."


Setelah selesai, kini Arga berpamitan. Anita tidak bisa mengantar suaminya berangkat kerja.


Jam sembilan pagi, rombongan pak Sugara datang ke rumah Anita. Dia di sambut oleh pembantunya, sedangkan Anita masih ada di kamarnya.


Anita keluar dari kamarnya dan turun ke bawah untuk menemui ayahnya di ruang tamu.


Meski dia masih lemah karena memang sedang hamil muda, jadi dia lebih hati-hati dengan kehamilannya itu sebelum tri semester pertama berlalu.


Bi Ina membantu Anita untuk menemui ayahnya di ruang tamu. Sedangkan pak Diman kembali lagi ke sekolah Angga, karena jam sebelas anak itu sudah mulai bubar dari sekolah dan di lanjut ke sekolah Chila dan Chiko.


"Ayah, apa kabar?" tanya Anita mendekat pada ayahnya yang duduk di kursi roda.


"Ayah baik-baik saja, kamu tidak apa-apa?" tanya pak Sugara.


Ibu Rika mendekat untuk menuntun anak sambungnya duduk di sofa.


"Kamu kelihatannya lemah sekali." kata ibu Rima.


"Iya bude, sekarang aku sedang isi lagi." jawab Anita seikit malu.


"Waaah, ternyata suamimu memang ingin punya anak banyak ya." ucap ibu Rika sambil tertawa kecil.


"Mungkin karena aku dan suamiku itu anak tunggal, bu. Jadi dia ingin punya anak banyak." kata Anita memberi alasan.


Dan memang itu benar, alasan utamanya memang Arga tidak mau kesepian nanti di tinggal anaknya satu persatu.


Setidaknya jika nanti Chila, Chiko pergi kuliah di luar negeri atau di kota lain, maka ada anak terakhir yang akan menemaninya. Meski pun nantinya juga akan sama, setidaknya dia lebih lama bersama anak-anaknya nanti secara bergantian.


Perbincangan terus berlanjut sampai siang hari, anak-anak Anita berdatangan dari sekolahnya.


Pak Sugara sendiri sedang bermain dengan Kevin, ibu Rika dan ibu Rima ada di dapur membantu bi Ina memasak.


Karena hari ini semua akan makan bersama di rumah Anita.


"Suamimu kerja?" tanya pak Sugara ketika keduanya sedang berdua di ruang tamu.


"Iya yah, dia sibuk dengan kerjaannya. Saat ini dia sedang mengurus tuntutan orang yang menculik Chiko dulu." jawab Anita.


"Kok bisa Chiko di culik, nak? Dan kamu sampai masuk rumah sakit. Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya pak Sugara.


Lalu Anita menceritakan awal mula dari penculikan Chiko dan dirinya masuk rumah sakit, pak Sugara merasa geram sekali mendengar cerita anaknya itu.


"Dia memang pantas di penjara yang cukup lama, nak. Ayah jadi marah mendengar kamu sampai masuk rumah sakit." kata pak Sugara.


"Sudahlah yah, Arga sedang mengurusnya. Jadi buat apa di pikirkan lagi, lagi pula dia sudah di penjara tinggal menunggu persidangan tuntutan saja. Ayah jangan memikirkan apa yang sudah aku alami, yang penting sekarang aku baik-baik saja. Apa lagi ayah akan dapat cucu lagi." kata Anita menenangkan ayahnya.


Pak Sugara tersenyum, dia pun mengangguk. Terus terang saja dia senang mendengar anaknya akan mempunyai anak lagi. Benar apa yang di katakan tentang alasan suaminya bahwa lebih baik punya banyak anak karena bisa mengusir kesepian di hari tuanya nanti. Setidaknya dalam waktu lama.


_


_


_

__ADS_1


❤❤❤❤❤❤❤❤


__ADS_2