
Anita menatap Kevin dan Angga secara bergantian. Dia lalu mendekat ke arah ranjang Kevin, dia akan tidur di samping anak bungsunya itu. Mengecup kening Kevin lalu membaringkan tubuhnya yang benar-benar terasa lelah.
Hatinya lelah begitu juga tubuhnya dan pikirannya, dia ingin mengistirahatkan malam ini semuanya. Tidak mau memikirkan tentang tadi dengan Arga.
Namun sayangnya, dia tidak bisa memejamkan matanya. Pikirannya melayang ke suaminya, apakah memang dia bersalah? Membiarkan suaminya itu terpuruk sendiri dengan meninggalnya mama mertuanya.
Anita menghela nafas panjang, beban berat yang selama ini dia rasakan nyatanya belum juga hilang sepenuhnya. Entahlah, air matanya terasa enggan untuk keluar lagi saat ini.
Suara handel pintu di putar dari luar, dia melihat ke arah pintu lalu kembali memejamkan matanya. Tidak peduli Arga memanggilnya berkali-kali.
Dia ingin tenang, dan beriatirahat. Jika pun Arga ingin bicara dengannya, lebih baik besok saja. Dia takut akan ada pertengkaran antara dirinya dan suaminya nanti.
Sedangkan Arga yang tadi ikut keluar setelah dia sadar akan kesalahannya, mengejar Anita dan meminta maaf pada istrinya itu. Dia memang salah, Anita sudah berusaha untuk bertanya padanya tapi dia yang menghindarinya.
Ya, Anita tidak salah. Dia berusaha tegar karena anak-anaknya, sedangkan dirinya? tanpa mempedulikan anaknya yang selalu menanyakan kehadirannya di setiap malam menemani belajar dan bermain. Kegiatan itu sudah tidak lagi dia rasakan semenjak dirinya menjauh dari Anita dan anak-anak.
Arga kembali menangis di depan kamar Kevin, dia ingin mengetuk pintu namun dia takut kedua anaknya bangun. Kini dia pasrah, lalu dia masuk ke dalam kamar Celine. Pintu tidak terkunci, melihat Celine tidur dengan gelisah.
Dia mendekat pada putrinya itu dan terbukalah mata Celine. Gadis kecil itu bangun dari tidurnya dan menatap papanya heran.
"Pa, papa belum tidur?" tanya Celine sembari duduk.
"Belum sayang, papa pengen lihat Celine sebentar kok." jawab Arga.
"Pa, tadi Celine mau cerita tapi papa tidak keluar kamar juga. Kata mama papa capek dan perlu istirahat, jadi ceritanya besok aja sama papa." ucap Celine.
Kembali hati Arga meringis, Anita benar-benar menyembunyikan sisi kelemahannya di hadapan anak-anaknya. Dia ingin menangis di hadapan Anita dan meminta maaf.
"Tadi Celine mau cerita apa?" tanya Arga, dia duduk di samping Celine.
"Tadi siang kami kesasar pa, mama juga kekurangan uang untuk beli minum. Mama pinjam uang Celine sama kakak Chila dan abang Iko. Kita patungan buat beli minum dan cemilan, karena kakak lapar. Adek juga lapar, tapi mama hanya minum air aja ngga makan. Kata mama ngga lapar."
Celine berhenti bercerita, hati Arga berdenyut kencang. Dia benar-benar sakit mendengar cerita anaknya itu.
"Lalu, kalian bisa pulang bagaimana?" tanya Arga yang kalimatnya terasa tercekat di tenggorokan.
"Ya kita jalan kaki, pa. Jalan kaki dari turun mobil sampai dapat tempat ATM, baru bisa naik angkot." jawab Celine.
"Mama gimana?" tanya Arga.
"Mama kuat gendong Kevin sampai di angkot. Tapi Celine kasihan sama mama, masa dari turun mobil sampai ketemu angkot mama gendong Kevin terus, udah gitu mama ngga makan di warung. Celine mau bantu gendong adek tapi ngga bisa. Kakak Chila aja sama abang Iko, kasihan deh pa. Papa sih di telepon mama ngga di angkat." ucap Celine lagi.
Lengkap sudah kesalahan Arga pada istrinya itu, dia harus meminta maaf pada Anita.
"Sayang, kamu cepat tidur lagi ya. Papa mau tidur juga, udah ngantuk." kata Arga.
__ADS_1
"Iya pa."
Arga mencium kening anaknya dan keluar dari kamar Celine. Dia menutup pelan kamarnya lalu pergi menuju kamar Kevin lagi.
Dia memegang handel pintu dan memutarnya pelan, berharap pintu itu terbuka. Dan tanpa di duga, pintu terbuka sedikit.
Arga melebarkan pintu kamar itu dan melihat Anita sedang tertidur memeluk Kevin. Dia mendekat pada Anita, menatapnya dalam. Ingin dia memeluk istrinya itu dan meminta maaf sedalam-dalamnya.
Duduk di samping Anita dan menatap istrinya, dia rindu sekali dekapan Anita dan memeluknya. Hampir dua bulan tidak merasakan memeluk istrinya itu.
Dan tiba-tiba, tanpa pikir panjang. Arga bangkit dari duduknya dan mengangkat pelan tubuh Anita. Dia akan membawa istrinya itu ke kamar mereka.
Dengan pelan, dia keluar dan menutup pintu dengan kakinya. Lalu pergi dari kamar Kevin, mendorong pelan juga pintu kamarnya dan langsung masuk ke dalam. Dia baringkan Anita di ranjangnya, lalu dia menutup rapat pintunya. Dengan berlari dia kembali ke ranjangnya dan membaringkan tubuhnya di sisi Anita.
Tangannya mulai memeluk Anita dengan hati-hati dan posesif. Di tariknya tubuh Anita sampai pada dada bidangnya menempel di kepala Anita.
Anita sendiri tidur dengan pulas karena kelelahan tadi diang berjalan kaki sejauh dua kilo meter. Sudut mata Arga basah, dia menangis dalam diam. Menyesali apa yang selama ini dia lakukan pada istrinya, berulangkali bibirnya berucap maaf dan mencium kening Anita.
Hingga malam terus merangkak, Arga belum melepaskan dekapannya pada Anita. Hingga Anita tersadar karena posisi dan tempatnya terasa sesak dan hangat.
Mata Anita membuka sedikit, di tatapnya samar dada Arga. Dia mencium bau aroma wangi ciri khas suaminya itu. Bau yang sangat dia rindukan selama ini. Anita mendongak, menatap wajah suaminya yang terpejam. Dia kaget, kenapa Arga bisa memeluknya?
Anita berusaha bangun dengan hati-hati agar suaminya tidak terganggu. Tangannya melepas lengan kekar Arga dari punggungnya, mencoba keluar dari kungkungan suaminya.
Namun rupanya dekapan Arga sangat kuat,Anita tidak bisa melepaskan diri dari pelukan suaminya. Dia menghela nafas panjang, tepat di dagu Arga.
"Bisa lepas pelukannya Ga" tanya Anita.
"Tidak." ucap Arga tegas.
"Kamu kenapa membawaku kemari?"
"Karena ini kamar kita."
"Tapi aku pengen tidur dengan Kevin."
"Aku ingin tidur denganmu, memelukmu seperti ini dan..."
Arga tidak meneruskan ucapannya, dia menatap istrinya. Kemudian tangannya membelai pipi Anita lembut, tiba-tiba dia menarik kembali tubuh Anita sambil menangis dan berkata.
"Maafkan aku sayang, aku bodoh tidak menyadari kesalahanku. Aku terlena dengan kesedihan yang berkepanjangan sampai melupakanmu. Aku hanya memikirkan kekecewaanku saja tanpa memikirkan bagaimana juga dirimu dan anak-anak. Maafkan aku sayang, maaf. Hik hik hik.."
"Ga.."
"Aku laki-laki egois dan tidak berguna, maafkan aku sayang, maafkan suamimu ini."
__ADS_1
"Arga.."
"Aku rela di hukum dengan apa pun darimu, aku rela kamu memukulku sayang, aku rela. Hik hik hik. Tapi jangan tinggalkan aku, tetaplah bersamaku meski aku banyak melakukan kesalahan padamu, sayang."
"Arga, berhentilah menangis. Aku juga salah karena membiarkanmu menyendiri dan menghidariku. Seharusnya aku memperhatikanmu, mengerti kondisimu yang sedang merasa kehilangan mama. Aku juga minta maaf, Ga. Aku salah, hik hik hik."
"Tidak sayang, kamu tidak salah. Seharusnya aku yang lebih tegar dari dirimu, aku laki-laki tapi malah terjebak dalam kesedihan yang tidak berguna hingga menelantarkan istri dan anak-anakku. Maafkan aku sayang, maaf."
Keduanya menangis menyesali apa yang telah terjadi, kini pelukan mereka semakin erat. Melampiaskan semua unek-unek yang ada di hati masing-masing. Hingga akhirnya mereka menerima maaf satu sama lain, kini terdiam namun pelukannya semakin mengerat. Seolah tidak mau kehilangan dari keduanya.
Satu jam setengah mereka saling meminta maaf dan tenggelam dalam kehangatan cinta kembali. Arga sangat bahagia dengan kembalinya kehangatan istrinya begitupun Anita. Dia menemukan kembali suaminya, Anita pun membalas pelukan Arga. Mereka masih terjaga meski jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari.
"Sayang.."
"Emm, kenapa Ga?"
"Aku kangen sama kamu." ucap Arga menatap wajah istrinya dengan sendu.
"Aku juga kangen dirimu yang lembut, Ga. Sejujurnya aku takut kamu ada yang lain setelah kesedihanmu itu. Aku takut akan di hianati lagi dan di campakkan lagi, aku takut akan lebih rapuh dari sebelumnya." ucap Anita lirih.
Kembali Arga memeluk Anita erat, bukan itu yang di inginkan Arga. Namun dia juga tahu kalau Anita sangat mencintainya meski bentuk cintanya tidak selalu dia ungkapkan.
"Aku terlalu mencintaimu sayang, meskipun aku berpikir aku kecewa sama kamu, tapi tidak terpikir olehku untuk berpaling darimu. Aku sudah berjanji tidak akan menyakitimu, meski aku sedang kecewa padamu. Aku terlalu mencintaimu, Anita. Istriku tercinta, cup."
Anita tersenyum, dia membalas kecupan Arga di bibir suaminya itu. Lalu kembali mengeratkan pelukannya.
Tapi Arga malah mengangkat wajah Anita dan mencium bibir Anita yang sudah lama sekali dia tidak merasakannya. Dia ******* dan mengulum bibir Anita dengan lembut, dan akhirnya menuntut.
Tangannya mulai bergerak kesana kemari, membuat bulu kuduk Anita meremang.
"Arga, euh."
Satu lenguhan Anita lolos ketika tangan Arga mengelus bagian sensitif istrinya itu.
"Aku kangen bercinta denganmu, sayang." bisik Arga di telinga Anita.
Dan kembali Arga mengeksplor tangannya di bagian dalam inti Anita, hingga Anita semakin terbuai dan akhirnya malam ini pengakuan maaf dari keduanya di ekspresikan dengan gairah yang sudah lama terpendam selama dua bulan tidak di rasakan
"Sayang, aaah."
Ternyata Anita yang semakin nakal di bagian inti suaminya.
_
_
__ADS_1
_
❤❤❤❤❤❤❤