IKHLAS MELEPASMU

IKHLAS MELEPASMU
144. Penggerebekan


__ADS_3

Anita bergegas ke depan pintu gerbang, dia menoleh ke belakang memastikan suaminya tidak mengikutinya. Dia menghentikan mobil taksi dan mengambil ponselnya, lalu mengetik pesan dan di kirim pada nomor Mourin.


'"Saya sudah naik taksi, berikan alamatnya sekarang." tulis Anita di pesan itu.


'Kamu lurus ke arah kanan, nanti belok kiri dan lurus terus.'


Pesan itu masih menggantung, tapi Anita memberitahu pada supirnya.


"Pak, jalan saja ya sesuai petunjukku." kata Anita pada supir taksi itu.


"Baik bu." jawab supir taksi itu.


Mobil melaju sesuai petunjuk Anita, di belakang tanpa curiga ada mobil putih mengikuti mobil taksi yang Anita tumpangi.


Mereka mengikuti dengan jarak sepuluh meter, Arga sendiri mengikuti dengan mengendarai motor tepat di belakang mobil taksi yang Anita tumpangi.


Dia mengenakan jaket dengan helm, dengan tertutup rapat. Dia juga sudah menyusun rencana agar Anita, Chiko dan surat rumah itu tidak jatuh ke tangan Mourin.


Makanya dia tidak menggunakan mobil, dan mobil taksi berbelok lagi ke arah kanan. Dan tak berapa lama, mobil taksi berhenti di sebuah rumah kosong.


Rumah yang di kira orang memang kosong, tapi di dalamnya ada Mourin dan tiga preman bayarannya yang menjaga Chiko agar tidak kabur.


Anita membayar ongkos taksi sesuai tarif, kemudian dia berhenti sejenak. Memperhatikan rumah yang terlihat kosong dan sekitar rumah itu sepi.


Jadi wajar saja Mourin bersembunyi di tempat kosong itu.


Anita melangkah dengan ragu, apakah benar Mourin ada di rumah itu. Dia melangkah menuju pintu, berhenti sejenak lalu mengetuk pintu.


Suara langkah kaki mendekat pada pintu rumah, dan terbuka pelan. Memgintai sedikit untuk mengetahui siapa yang datang.


Lalu pintu terbuka lebar, seseorang di depan itu menengok ke kanan ke kiri. Mastikan tidak ada yang mengikuti Anita.


Dia lalu menarik tangan Anita dengan cepat, dan membawamya masuk lebih ke dalam.


"Nona, apakah ini orangnya yang akan bertukar dengan anaknya?" tanya orang yang membawa Anita masuk.


Mourin sendiri tersenyum dengan datangnya Anita ke perangkapnya. Dia lalu mendekat untuk lebih waspada, dia takut ada yang mengikuti Anita dari belakang.


"Kamu benar datang sendiri? Atau mereka ikut di belakangmu?" tanya Mourin pada Anita.


"Saya datang sendiri, suamiku tidak tahu saya datang kemari." jawab Anita.


"Bagus, tapi ada baiknya di periksa terlebih dahulu. Apakah kamu membawa penyadap?"


Mourin memeriksa tas dan semua anggota tubub Anita. Anita sendiri merasa tidak sabar ingin menemui anaknya Chiko.


"Di mana anakku?" tanya Anita dengan tajam.


"Tenang saja, saya akan berikan anakmu. Tapi sebelumnya, saya ingin lihat surat itu asli atau palsu." kata Mourin.


"Di mana dulu anakku?!" teriak Anita.


Dia tidak akan memberikan surat rumah itu sebelum dia melihat anaknya Chiko.


Mourin mendengus kesal, lalu dia menyuruh preman itu untuk memanggil anak Anita.


Preman yang di perintahkan Mourin segera menurutinya mengambil anak Anita untuk di pertemukan.


Tak berapa lama, Chiko datang dengan dua preman itu dengan tangan di ikat dan mulut di sumpal. Dia menangis ketika melihat Anita berdiri.


Anita pun sama menangis, dia mendekat. Namun Mourin mencegah Anita lebih dekat lagi dengan anaknya.


"Mamaa.." teriak Chiko setelah di buka sumpal di mulutnya.

__ADS_1


"Adek, sabar ya. Mama akan bawa adek pulang." kata Anita menenangkan anaknya yang masih menangis.


"Iya ma." jawab Chiko.


Anita menatap Mourin, dia kemudian mendengar ada suara berisik di luar.


"Apa kamu membawa orang lain?" tanya Mourin.


Anita mengerutkan dahinya, lalu menatap anaknya.


"Tidak, saya datang sendiri." jawab Anita.


"Bohong!" teriak Mourin.


Dia mendekat pada Anita dan ingin menarik tasnya. Tapi Anita mundur selangkah dan memegangi tasnya dengan erat.


"Lepaskan dulu anak saya, Mourin!" teriak Anita setelah Mourin ingin mengambil tas Anita.


"Jangan gegabah Anita, gue ingin ambil milik gue!" teriak Mourin lagi.


Tapi Anita selangkah lagi mundur ke belakang. Dia mengambil map berisi surat rumah yang dia lipat dan di masukkan ke dalam tas kecilnya.


"Lepaskan anakku dulu, atau surat ini aku sobek-sobek!" Anita masih bertahan.


Dia menatap Chiko yang kesakitan karena di tarik tangannya oleh dua preman tersebut.


Sementara itu di luar, Arga dan dua detektif yang tadi mengikutinya juga polisi sedang mengepung tempat di mana persembunyian Mourin.


"Bagaimana pak Arga, apakah sudah siap untuk menggerebek mereka?" tanya sang detektif.


"Tunggu dulu pak, anak dan istriku belum berkumpul. Mereka masih menahan anakku dan istriku masih bernegosiasi dengan perempuan itu. Saya mohon jangan gegabah pak." kata Arga.


Dia masih mengintai dari balik pintu melihat kejadian yang terjadi di dalam.


"Apa yang kamu tunggu, cepat lepaskan anankk. Jika tidak, aku akan merobek surat rumah ini!" kata Anita masih bernegoaiasi.


Mourin mendengus kesal, dia melirik pada kedua preman yang masih memegangi Chiko.


"Lepaskan anak itu, biarkan dia bertemu dengan anaknya." kata Mourin.


Lalu Chiko di lepaskan agar Anita bisa bersama dengan Chiko.


Chiko melangkah mendekat pada Anita setelah di lepas oleh ke dua preman itu. Dia melihat ke arah preman dan Mourin secara bergantian.


Dia melangkah pelan mendekat pada Anita.


"Sayang, kemarilah dek." kata Anita melambai tangannya.


Chiko berjalan cepat, entah apa yang ada di kepala Chiko. Dia masih berjalan cepat, semakin dekat pada Anita dan Mourin Chiko makin melambat.


Hingga Anita merasa tidak sabar dan mendekat pada anaknya, namun Mourin menarik tangannya dan merebut map yang ada di tangannya Anita.


Anita sempat mempertahankan map itu, mereka saling berebut. Chiko mempercepat langkahnya mendekat pada Anita, dan hap.


Chiko memeluk Anita dengan erat, setelah Chiko sudah dia peluk, Anita melepas map berisi surat rumah itu.


"Dek, ayo kita pulang." kata Anita oada Chiko sambil berbisik.


Chiko mengangguk, lalu mereka melangkah pergi dengan perlahan agar Mourin tidak menyadarinya.


Dan di luar, Arga memberi aba-aba agar segera menggerebek Mourin dan dua preman di dalam.


Polisi dan detektif segera masuk dan mendobrak pintunya, dan berteriak.

__ADS_1


"Jangan bergerak!" teriak polisi pada ketiga orang tersebut.


Karena Mourin masih di dekat Anita, dia mendekat dan menarik tangan Anita. Pisau yang dia sembunyikan di balik bajunya di tariknay dan di sabetkan pada tangan Anita.


"Kamu membohongiku, Anita!" teriak Mourin dengan cepat menyabetkan pisaunya.


Hingga Anita kaget dan berteriak karena rasa sakit akibat sabetan pisau di tangannya yang cepat.


Darah mengalir cepat, dia memegangi tanagnnya yang kesakitan.


"Mamaa!!!" teriak Chiko mendekat.


Tapi Arga menarik Chiko jangan sampaiendekat pada Anita. Dia alihkan Chiko pada detektif yang berada di belakang Arga tadi.


Sedangkan Arga mendekat pada Anita, dia khawatir dengan darah yang cepat sekali mengucur dari lengannya.


"Sayang, tenanglah."


"Polisi langsung meringkus dua preman dan satu preman audah di ringkus tadi di luar. Dan Mourin masih berusaha menyelamatkan diri dengan menodongkan pisaunya ke arah polisi yang menodongkan senjatanya.


Mourin sebenarnya takut, namun dia nekat menodongkan pisaunya ke arah polisi.


"Jangan mendekat! Atau saya akan melempar pisau ini pada anak itu!" teriak Mourin.


Gertakan aneh menurut polisi, namun itu pembelaan Mourin. Dan setelah melihat sesuatu, polisi satunya maju selangkah, namun Mourin mundur.


Tanpa di duga, detektif yang berada di belakang Arga maju mendekat dan menendang tengkuk Mourin dari belakang.


Seketika Mourin terhuyung ke depan dan pisau yang dia pegang terlepas. Tanpa membuang waktu polisi langsung menangkap Mourin dengan menjatuhkan perempuan nekat itu. Dan menindihnya dengan tangannya.


Tangan Mourin di lipat ke belakang untuk di pasangkan borgol di tangannya.


"Anda sudah tidak berdaya nona, jadi jangan bergerak terus. Karena kami akan membawa anda ke kantor polisi." kata polisi itu.


"Lepaskan saya! Saya mau bertemu dengan Evan, saya harus menemuinya. Lepaskan saya!!" teriak Mourin dengan tanpa sadar.


Dia terus memberontak dan bergerak ke sana kemari agar bisa lepas dari borgol dan pegangan tanga polisi.


Karena terkalu kuat borgolnya, polisi menyeret Mourin dan dua preman tadi untuk di bawa ke kantor polisi


Sementara Anita segera di larikan ke rumah sakit oleh suaminya karena banyak kehilangan darah. Mourin menyabetkan pisaunya terkena nadi di tangan Anita, hingga darah mengalir deras tidak berhenti.


Arga cemas, begitu pun Chiko. Anita di larikan ke rumah sakit, dia terus memantau Anita agar tidak kehilangan kesadaranannya.


"Sayang, bertahanlah. Jangan pingsan dulu." kata Arga memegang pipi istrinya.


"Ga, akhirnya Chiko selamat." ucap Anita.


Nadanya semakin melemah, Arga menepuk pipi Anita beberapa kali. Dia cemas dan hatinya sakit sekali melihat istrinya mulai kehilangan kesadarannya.


Dan tak berapa lama, mereka sampai di rumah sakit. Dengan cepat Arga membopong istrinya memindahkannya ke bangsal.


"Suster cepat selamatkan istri saya, dia kehilangan banyak darah." kata Arga.


"Iya pak, bapak tenang saja. Istri anda akan kami tangani dengan cepat."


Setelah di tangani suster, Arga akhirnya sedikit lega.


_


_


_

__ADS_1


❤❤❤❤❤❤❤❤


__ADS_2