IKHLAS MELEPASMU

IKHLAS MELEPASMU
147. Dakwaan Mourin


__ADS_3

Pagi ini di pengadilan, Arga telah siap menyaksikan Mourin mendapatkan dakwaan atas perbuatannya. Sidang akan berlangsung pukul sepluh pagi.


Arga dan tim pengacaranya menunggu dan berunding agar tidak ada ampun untuk Mourin.


Dan di kursi tunggu, ada Sandra dan suaminya. Mendampingi sahabatnya yang terjerat kasus kriminal. Dia tidak menyangka Mourin bertindak sejauh itu, malakukan penculikan pada anaknya Anita.


Yang jelas-jelas suaminya itu seorang pengacara handal dan senior.


Kini Sandra diam, memikirkan bagaimana nasib Elana dan pembantunya itu. Apakah dia akan menampungnya? Dia bingung, keluarga dan kerabat Mourin angkat tangan menampung keponakannya, lalu bagaimana nasib Elana selanjutnya.


Suami Sandra tahu kalau istrinya sedang dilema mengenai anak sahabatnya itu.


"Ma, kamu memikirkan apa?" tanya suami Sandra.


"Ngga pa, aku bingung saja dengan keadaan Elana bagaimana nantinya." jawab Sandra.


"Kamu kasihan pada Elana?" tanya suaminya.


"Iya pa, aku kasihan sama dia. Apakah dia harus di serahkan ke panti asuhan?"


"Sebaiknya jangan, dia sedang dalam pengobatan. Emm, bagaimana kalau mama ambil saja Elana sementara waktu dalam pengobatan?" tanya suaminya bernama Jhosua.


Sandra menoleh ke arah suaminya, dia tidak percaya justru suaminya yang menawarkan diri untuk mengambil Elana.


"Benar pa?" tanya Sandra tidak percaya.


"Iya, nanti setelah Elana sudah lebih baik kita pikirkan lagi saja selanjutnya bagaiman." ucap Jhosua.


"Ah, terima kasih pa. Kamu sangat baik sekali, beruntung aku punya suami yang pengertian seperti kamu." kata Sandra.


"Aku hanya kasihan dengan Elana, dia di terlantarkan sejak kecil dari ibunya. Kita yang sudah dua tahun menikah belum juga di berikan momongan. Menurutku, jika kita ambil Elana. Bisa sebagai pancingan untuk mendapatkan anak, ma." kata Jhosua lagi.


Sandra tersenyum, bijak sekali suaminya itu. Lalu dia mencium pipi suaminya di depan umum. Dia tidak peduli orang-orang melihat ke arahnya.


"Terima kasih ya pa, semoga dengan mengambil Elana kita di berikan keturuna oleh Tuhan." kata Sandra.


"Amiin."


Ketika suami istri itu sedang berbicara serius, Arga mendekat pada mereka. Dia ingin berbicara dengan Sandra sebagai sahabat Mourin.


"Nyonya Sandra, bisa saya bicara dengan anda?" tanya Arga.


Sandra menoleh, dia memandang suaminya untuk meminta persetujuannya. Dan Jhosua mengangguk pelan.


Lalu Arga meminta mereka bicara berdua di sebuah ruangan. Bukan apa-apa, dia takut ada wartawan melihat aksinya. Padahal hanya sebagai kompensasi saja.

__ADS_1


Setelah di dalam ruangan, mereka duduk saling brhadapan. Arga tidak mau basa basi dengan Sandra, dia mengeluarkan sebuah cek berisi uang dengan nominal yang cukup besar.


Cek itu di berikan pada Sandra, Sandra sendiri hera. Kenapa Arga memberikannya sebuah cek?


"Apa ini pak Arga?" tanya Sandra masih bingung dengan cek itu sebagai apa.


"Anda tahu permasalahan perebutan surat rumah itu, anda juga tahu bahwa rumah itu ada sebagian uang sahabat anda dalam pembayaran rumah tersebut. Jadi saya mengganti uang tersebut untuk sahabat anda, istriku bilang dia merasa kasihan. Katanya anak sahabat anda itu sedang sakit serius dan membutuhkan biaya banyak. Jadi kami berinisiatif memberikan uang pengganti sisa pembelian rumah itu. Agar nanti tidak di ungkit lagi oleh sahabat anda atau nanti oleh anaknya." kata Arga.


Sandra mengerti kini, dia bukannya menolak. Itu memang hak Mourin, tapi apakah terlalu besar nominal di cek itu?


Sedangkan dia tahu, Mourin hanya menambahkan beberapa persen saja dari harga rumah itu. Yang lebih besar membayar adalah Rendi, jadi wajar jika Rendi menyerahkan rumah itu pada anaknya.


"Bu Sandra, bagaimana? Ini harus di terima, sayang soalnya kemungkinan anak sahabat anda itu butuh biaya besar untuk pengobatan. Anda bisa membawa anaknya berobat ke Singapura, karena di sana sangat canggih peralatan medisnya." kata Arga lagi.


Benar juga, kini Sandra menimbang cek itu. Di lihat lagi, memang cukup besar. Mungkin itu uang bentuk bantuan dan rasa simpati Anita pada anaknya Mourin


Luar biasa istri dari pengacara ini, gumam Sandra.


"Baiklah pak pengacara, saya terima cek ini sebagai kompensasi harga rumah yang di bauar oleh sahabatku. Namun ini menurutku terlalu besar, apakah anda tidak keberatan memberikan cek sebesar ini pada anak sahabat saya? Atau istri anda kebeatan?" tanya Sandra memastikan bahwa cek itu benar-benar di berikan secara cuma-cuma.


"Ya, saya dan istri saya yakin. Itu bisa di katakan sebagai sumbangan kepada orang yang membutuhkan. Tapi jangan menolak, karena sekali anda menolak maka cek itu akan saya bawa pulang lagi. Dan jangan harap anda memintanya lagi pada saya." kata Arga tegas.


Dan tentu saja Sandra merasa sayang, dia pun akhirnya menyetujuinya. Dan surat kesepakatan kompensasi rumah sudah di tanda tangani. Arga tidak membutuhkan tanda tangan Mourin, karena dia sudah tanda tangan lebih dulu.


_


Dan pembela membacakan tuduhan pada Mourin atas kejahatannya. Tuntutan dari pengacara Arga adalah lima belas tahun penjara.


Namun hakim memberikan keputusan bahwa Mourin di jatuhi hukuman delapan tahun penjara, itu adalah tuntutan penculikan dan rencana mencelakakan Anita dan memang sudah melukainya hukumannya delapan tahun penjara, sementara penyerangan ketika di rumah itu di jatuhi hukuman satu tahun penjara.


Jadi total hukuman yang akan di jalankan Mourin adalah sembilan tahun penjara mendekam di balik jeruji nan panas dan gelap.


Mourin awalnya menolak, tapi hakim memutuskan jika Mourin terus saja menolak dan protes bisa saja hukumannya di tambah jadi dua belas tahun penjara.


Arga merasa lega, dia kini memberikan berkas laporan dan BAP tentang tuntutan dan bukti pada hakim.


Setelah masa persidangan dan pendakwaan selesai, kini Mourin di bawa kembali ke kantor polisi untuk di tempatkan di lapas perempuan.


Sebelum Mourin di bawa ke lapas, Sandra meminta waktu untuk bicara pada Mourin. Dia mendekat, lalu menatap kasihan pada sahabatnya itu.


Mourin sendiri merasa tidak enak pada Sandra, tapi dia hanya diam saja.


"Mourin, kamu harus baik-baik saja di lapas nanti. Gue akan sering menjengukmu bersama anakmu. Dan mengenai Elana, kamu jangan khawatir, dia akan aku asuh dengan mas Jhosua. Seharusnya kamu itu berpikir lebih dulu untuk bertindak, jangan karena keserakahanmu menjadi menelantarkan anakmu." kata Sandra.


"Lo jika ngga ikhlas nolong anak gue, biarkan saja dia mati!" ucap Mourin kesal.

__ADS_1


"Mourin! Gue sahabat lo dan simpati sama lo, tapi ucapan kamu itu seperti sebuah dendam yang tidak akan pernah selesai. Sadarlah, lo begini jadi pesakitan di lapas sedangkan Evan enak-enakan dengan istri barunya, seharusnya lo berubah lebih baik. Agar lo ngga malu jika bertemu dengan Evan nanti. Biar dia yang merasa menyesal telah membuang lo, tapi pikiran lo pendek sekali." ucap Sandra.


Mourin diam, dia memang masih punya dendam sama Evan, namun demikian dia kini juga ada rasa kasihan dengan Elana.


Kini Mourin menatap Sandra, tidak seperti tadi tayapannya. Ada rasa bersalah di matanya.


"Terima kasih lo mau mengasuh Elana, maaf gue ngga bisa jadi ibu yang baik bagi Elana. Hik hik." ucap Mourin dengan isakan kecil.


Sandra tertegun, dia menarik pundak Mourin dan memeluknya erat. Lama mereka berpelukan, hingga air mata keduanya mengalir pelan.


"Gue akan jaga anak lo, mas Jhosua yang memintanya. Kalau mas Jhosua tidak memintanya, gue akan kirim anak lo ke panti asuhan Rin." ucap Sandra masih di sela tangisnya.


Dan tangisan Mourin semakin kencang, dia memeluk Sandra dengan erat. Dia bersyukur punya sahabat sebaik Sandra, ketika teman-teman lainnya menjauhi. Sandra terus saja mengingatkannya, dan malah menampungnya bekerja di butiknya.


Kini Sandra melepas pelukannya pada Mourin, dia mengelus pipi Mourin yang sekarang berubah tirus karena selalu hidup tidak karuan.


"Pengacara Arga memberikan sebuah cek pada gue, dia bilang itu penggganti uang yang lo bayar ketika beli rumah itu. Daj tahu berapa uang yang dia kasih?" tanya Sandra.


Mourin menggeleng, dia masih menunduk dan sudah tidak tertarik lagi.


"Cukup besar, Rin. Satu setengah miliar, itu kata istrinya Anita yang memberikannya untukmu." kata Sandra.


Mourin mendongak, dia tidak percaya apa yang di katakan sahabatnya itu. Sandra mengambil cek di tasnya dan menunjukkannya pada Mourin.


"Lihatlah, ini besar sekali dari uang yang lo keluarkan waktu itu untuk menambahi kekurangannya kan?" kata Sandra.


Mourin tersenyum, kemudian mengangguk pelan. Memang seseorang yang baik tidak akan mengenal siapa yang akan memusuhi dan berbuat tidak baik padanya. Dia tetap berbuat baik.


"Simpan saja uang itu, lo nanti akan membutuhkan uang itu untuk pembiayaan pengobatan Elana, San." kata Mourin.


"Ya, rencananya gue akan gunakan untuk pengobatan Elana ke Singapura Rin. Lo jangan khawatir, Elana akan baik-baik saja." kata Sandra sekali lagi.


Mourin mengangguk, dia percaya pada sahabatnya itu akan merawat anaknya dengan baik.


Dan polisi yang akan membawa Mourin memberikan peringatan pada Sandra agar segera sekesai berbicara dengan Mourin.


"Lo jaga diri baik-baik ya, gue usahakan setiap tiga hari sekali menjengukmu di lapas. Kalau ngga, berarti gue ada di Singapura." kata Sandra kembali memeluk Mourin


Setelah selesai, kini Mourin di bawa ke mobil dan akan di tempatkan di lapas wanita di pinggir kota.


_


_


_

__ADS_1


❤❤❤❤❤❤❤❤


__ADS_2