
Setelah pulang dari rumah Anita, Mourin semakin kesal dan marah, dia marah kenapa suami Anita tahu banyak tentangnya.
"Siapa sebenarnya suami Anita itu? Kenapa dia tahu tentang gue?" gumam Mourin.
Dia berada di kamarnya, berbaring di atas ranjangnya.
Tok tok tok
Pintu kamar Mourin di ketuk dari luar, Mourin menggeram kesal. Namun dia bangun juga dari tidurannya.
"Ada apa bi?" tanya Mourin dengan ketus.
"Itu nyonya, Elana menangis kesakitan." kata pembantunya.
"Ya nanti sebentar aku kesana." ucap Mourin.
Dia lalu menutup pintu lagi setelah pembantunya pergi. Kemudian dia berbaring lagi di ranjangnya, sambil memikirkan bagaimana dia bisa mendapatkan rumah itu.
Kriiiing
Suara ponsel Mourin, dia melihat siapa yang menelepon. Sandra.
"Halo, ada apa lo nelepon gue?" tanya Mourin.
"Lo, besok berangkat kerja kan?" tanya Sandra dari seberang sana.
" Gue males, besok gue libur. Elana sakit lagi." ucap Mourin sekenanya.
"Ck, lo anak di jaga dong. Lama-lama gue kesal sama lo. Hidup lo berubah drastis tapi sikap lo jangan seperti itu. Urus anak lo itu yang sedang sakit, apa lo sebagai ibu ngga merasa kasihan sama sekali pada Elana?" tanya Sandra mulai kesal dengan sikap Mourin.
Bertahun-tahun bersahabat dengan Mourin baru kali ini dia merasa seperti berbeda dengan yang dulu. Memang Mourin perempuan bebas sejak dulu, dia pintar dan selalu bisa memenangkan tender ketika masih jadi direktur.
Tapi entah kenapa, semenjak cerai dari Evan berubah seratus delapan derajat lebih memprihatinkan.
Sandra sudah berkali-kali mengingatkan agar memperhatikan anaknya, dia juga sudah membantu pendanaan operasi jantung Elana, namun tidak juga terus menerus. Mourin tambah tidak jelas hidupnya.
"Lo jangan ngingatin gue terus, gue tahu apa yang harus gue lakukan sama anak gue!"
"Lo keras kepala banget sih, jika seperti itu terus kelakuan lo. Jangan harap lo minta bantuan sama gue atau lo datang lagi ke gue. Besok dan selamanya lo ngga usah datang lagi ke butik gue.!" kata Sandra dengan geramnya.
Klik.
Meski pun dia dulu sama-sama bebas dengan kehidupannya. Tapi sekarang berbeda, Sandra telah berubah semenjak dia menikah lagi dengan laki-laki yang baik dan mau menerima apa adanya ketika Martin sang pacar dulu hanya bermain-main saja dengannya.
Namun Mourin tidak, dia tetap angkuh dan sikapnya sama tidak pernah berubah.
Dan Mourin membanting ponselnya, dua benar-benar di tinggalkan oleh sahabat satu-satunya.
"Brengsek Sandra! Gue ngga butuh lo lagi, aaaah!!!" teriak Mourin.
Dia lalu keliar dari kamarnya menghampiri anaknya yang sedang kesakitan. Mourin membenci Elana karena Evan meninggalkannya, menurutnya Elana sakit gara-gara Evan telah meninggalkannya dan menikah lagi dengan perempuan Rusia itu.
Rasa sakit hati dia luapkan pada anaknya dan Evan dengan hasil hubungan gelap. Rasa benci kian bertambah ketika Evan tidak mau tahu tentang sakit Elana.
__ADS_1
Jadi dia merasa Elana adalah beban hidupnya yang selama ini sudah kesusahan. Evan sebagai ayahnya saja menelantarkannya, lalu Mourin?
Apakah dia juga akan menelantarkan anaknya juga?
_
Kini Mourin selalu datang di kediaman Anita secara diam-diam. Dia ingin melihat kehidupan Anita yang sangat jauh dari yang dulu.
Dia terus memperhatikan rumah Anita dari jauh, tidak ada bedanya sekarang dengan nanti. Toh dia tetap akan di gugat oleh suami Anita, jadi dia ingin berbuat nekat.
Ya, Mourin ingin membalas Anita. Namun dia belum tahu akan melakukan apa. Dia hanya berpikir melihat rumah Anita dan mencari kelalaian Anita dan suaminya.
Dia juga sudah mendapatkan surat peringatan dari Arga, bahwa minggu depan akan di periksa tentang pendorongan dan pemaksaan pada Anita.
Pikiran Mourin sudah buntu, yang ada di pikirannya harus mendapatkan surat itu entah bagaimana caranya.
Karena dua hari lalu, penawar rumah itu menghubunginya lagi dan akan menambah dua kali lipat jika Mourin bisa menunjukkan surat rumah dan tanahnya juga.
Karena letak rumah itu strategis jadi, banyak sekali sebenarnya yang menawar rumah itu. Banyak juga yang bertanya, ada rumahnya tapi selalu kosong.
Anita sendiri memang sudah menyuruh Noni datang sebulan sekali untuk membersihkan rumahnya di tengah kota itu. Sedangkan rumah yang dulu di tempatinya itu bersama Rendi di kontrakkan orang lain.
Sama dengan rumah mertuanya yang sekarang sudah jadi milik Chila.
Mourin terus berpikir, bagaimana caranya untuk mendapatkan surat rumah itu. Jika dia bisa menjualnya, maka dia akan menyusul Evan ke Rusia, dia akan membawa Elana dan menyerahkannya pada Evan untuk di urus olehnya.
Tidak peduli dia nanti akan masuk penjara, namun tujuannya itu hanya satu. Menemui Evan di Rusia dan itu membutuhkan uang banyak.
Tanah yang dia punya pun sudah dia sewakan pada petani untuk lima tahun ke depan, karena dia membutuhkan uang banyak.
Ada rasa penyesalan di hatinya ketika dia mencampakkan Rendi demi hidup dengan Evan dulu. Jika cnitanya yang tidak buta, maka dia akan bahagia dengan Rendi dulu.
Namun penyesalan tidaklah berguna, karena Rendi sudah tiada.
Satu mobil grand livina berwarna hitam keluar dari dalam rumah Anita, Mourin memperhatikan di dalam mobil itu siapa saja.
Dia melihat ada empat orang anak dan satu pembantu yang pergi mengantarkan ke sekolah.
"Aah, mungkin anak laki-laki besar di depan itu anaknya Rendi dan Anita. Ya, dia pemilik rumah di kota itu. Sialan! Anak sekecil itu sudah sangat kaya, tapi aku tidak akan membiarkan rumah itu jatuh di tangannya. Enak saja, aku juga membayarnya meski cuma menambahkan saja." gumam Mourin.
Otaknya terus berpikir, dan satu ide di kepalanya muncul. Dia terus membayangkan jika rencananya berhasil, uang berhamburan di atas kepalanya.
"Hahah, gue akan kayak lagi. Mourin yang anggun akan jadi orang kaya lagi. Hahaha..!"
Entah apa yang ada di pikiran Mourin, dia lalu akan mencari tahu nomor telepon Anita. Setelah dia mendapatkannya nanti, rencanaya akan dia jalankan secepatnya.
Kini Mourin pergi dari tempatnya semula, dia melajukan mobilnya menjauh dari rumah Anita yang sudah dua hari ini dia intai dari luar.
_
Mourin duduk di kursi sofa, di ruang butik Sandra sahabatnya, meaki Sandra kesal, namun dia tetap menerima Mourin datang ke butiknya.
"Jadi, lo mau apa datang ke butik gue? Bukankah gue sudah bilang jangan datang lagi ke butik gue." kata Sandra dengan nada meninggi.
__ADS_1
Mourin masih diam, dia hanya menatap Sandra yang masih kesal padanya.
"Lo kenapa marah sama gue?" tanya Mourin.
"Lo tahu kenapa gue marah. Gue kasihan sama Elana, lo telantarkan sedangkan dia sedang sakit parah. Lo harus move on dari Evan, dia sudah bahagia dan lo juga harus bahagia, Mourin." kata Sandra mulai melemah nada suaranya.
Dia tahu akan sia-sia saja berbicara seperti itu, namun dia ingat pepatah batu saja bisa bolong jika di tetesi air terus menerus, apa lagi manusia yang masih punya hati meski keras kepala dan keras hatinya.
"Gue ngga bisa, San. Gue harus ke Rusia menyusul Evan." ucap Mourin.
"Mourin, sadarlah. Lo hanya buang-buang waktu dan tenaga saja. Pikiran lo lelah jika terus menerus memikirkan orang yang sama sekali ngga peduli sama lo dan anak lo." kata Sandra lagi.
"Ck, lo ngga ngerti perasaan gue."
"Gue ngerti, Rin. Tapi untuk apa? Bahkan Evan saja ngga memikirkan anaknya, apa lagi lo."
"Justru itu, gue mau ke sana untuk menyerahkan Elana agar dia tahu betapa susahnya mengurus anak yang berpenyakit terus menerus." ucap Mourin lagi.
Sandra menghela nafas panjang, dia menatap sahabatnya itu heran. Namu demikian dia memilib diam tanpa menanggapi ucapan Mourin lagi.
Tapi mulutnya rasanya gatal untuk terus diam, dia tahu Mourin ada di posisi sulit. Jika dia orang yang tega, bisa saja dia menghindari Mourin sejak dia bangkrut dengan usahanya.
Tapi Sandra tidak tega meninggalkan sahabatnya, lagi pula suaminya juga menyarankan agar membantunya secara moral dan terus mengingatkan Mourin.
"Terus, setelah lo sudah ada di Rusia dan bertemu dengan Evan, apa yang akan lo lakukan? Dan bagaimana dengan Elana?"
"Ya gue kasih Elana lah pada papanya, enak aja dia hidup damai gue yang susah."
"Lo ngga kasihan sama Elana?" tanya Sandra lagi.
"Ngga."
"Mourin!"
"Lo diam deh, jangan banyak bacot! Gue tahu apa yang harus gue lakukan sekarang." kata Mourin kesal.
"Lo mau melakukan apa?"
"Gue sedang menyusun rencana bagaimana surat rumah itu ada di tangan gue." kata Mourin.
"Lo sudah gila ya?"
"Gue emang gila, gila dengan uang. Puas lo?!"
Setelah berbicara seperti itu, Mourin pergi dari ruangan Sandra. Dia menutup pintu dengan kasar, membuat Sandra kaget dengan suara keras pintu di banting.
"Astaga, Mourin!"
_
_
_
__ADS_1
❤❤❤❤❤❤❤❤