
Setelah pengintrogasian pada pak Maman dan pak Salim, kini Anita lebih ketat dalam mengawasi semua barang yang keluar dan uang yang masuk sebagai setoran.
Kini dia lebih menjaga agar produksi seperti biasa. Dia juga selalu mengawasi kedua orang tersebut. Dia masih punya hati untuk membiarkan kedua orang itu bekerja di pabrik.
Dalam satu minggu mereka bisa berubah, namun di minggu kedua setelah pemanggilan itu. Kedua orang itu masih melakukannya, hanya saja dengan skala kecil.
Penjaga bagian gudang juga melakukan pengawasan agar setiap barang yang keluar harus di perketat. Dan bagian keuangan juga selalu meminta nota dari kedua orang tersebut.
Yang namanya orang jahat, selalu mencari akal bagaimana kejahatannya terus berlanjut dan tidak di ketahui yang punya pabrik.
Anita sangat geram dengan kelakuan kedua orang tersebut. Dia akhirnya melakukan pemecatan pada kedua orangnya itu.
Dan karyawan lain juga merasa senang, memang kedua orang tersebut adalah orang yang sangat seenaknya saja.
"Bu, apakah tidak ada keringanan untuk kami?" tanya pak Maman.
"Tidak, kerugian sangat banyak. Dan bapak berdua tidak mau berubah. Saya sudah memberi toleransi pada pak Maman dan Pak Salim, membiarkan tetap bekerja karena saya mempertimbangkan keluarga bapak sekalian. Tapi sekarang saya tidak mau pabrik ini rugi lagi karena ulah kalian." ucap Anita tegas.
Pak Maman dan pak Salim mau tidak mau harus menerima pemecatan itu. Mereka menerima kompensasi satu gaji dari pemecatan itu.
Itu karena Anita merasa kasihan, mereka punya keluarga. Tapi jika di pertahankan keduanyan, akan banyak lagi kerugian yang di alami pabrik milik suaminya itu.
Keduanya lalu pergi dengan pasrah, membawa uang yanh dia terima sebagai pesangon. Beberapa orang melihat ke arah mereka ketika melewatinya.
Bagian gudang, pak Salman merasa senang dengan pemecatan kedua orang tersebut. Karena di bagian gudang juga dia sering sekali di paksa menambahkan barang produk untuk kepentingan mereka.
Usut punya usut ternyata mereka berdua suka sekali berjudi online melalui ponsel. Ternyata mereka terjerat utang sangat besar juga di judi online itu.
Anita merasa lega, dia telah menyelamatkan aset milik suaminya itu dari kerugian.
Satu dering telepon berbunyi, terlihat di sana nama suaminya. Arga.
Anita tersenyum, dia mengambil ponselnya dan memencet tombol warna hijau.
"Halo, Ga?"
"Bagaimana sayang, apakah kamu tega melakukan pemecatan pada mereka berdua?" tanya Arga di sambungan teleponnya.
"Ya, aku sudah melakukannya. Aku kasihan Ga pada keluarga mereka, aku jadi tidak enak pada istri dan anak mereka Ga."
"Aku yakin dia melakukan itu bukan untuk keluarganya. Makanya aku kasih saran sama kamu untuk menutupi rasa bersalah karena memecat mereka ya kasih pesangon satu bulan gaji. Itu sebenarnya tidak boleh, bahkan mereka juga harus di pidanakan. Tapi kamu tidak boleh, padahal aku siap untuk menangani mereka." kata Arga lagi.
"Aku kan sudah bilang, aku kasihan pada keluarganya. Bagaimana jika mereka punya anak kecil, ayahnya di penjara. Kan kasihan juga, bisa di bayangkan istrinya banting tulang sendiri. Aku seperti merasa dejavu jika itu terjadi pada mereka. Karena aku merasakan sendiri berjuang membuak toko untuk kehidupan Chila dan Chiko yang masih kecil." ucap Anita makin lirih.
Dia mengingat masa itu, setelah perceraian dan harus tinggal di kampung membuka toko kecil-kecilan hingga besar.
"Ya, sayang. Jangan mengingat itu lagi, aku jadi ikut sedih."
"Iya maaf kan aku, Ga."
"Sudah makan siang belum?"
"Aku sedang memesan makanan di luar sama bu Imah."
Obrolan demi obrolan terus mengalir, hingga cerita lucu suaminya dan Anita tertawa lepas.
"Aku tutup teleponnya ya sayang, aku harus ke pengadilan mendampingi klien yang di tuduh memukul suaminya."
"Iya, jangan lupa makan siang juga suamiku."
"Iya tentu, malam hari tentunya aku makan lezat di kamar."
"Hadeeh, itu lagi. Ya sudah, daah."
Klik
Jika di ladeni maka akan urusannya tidak bakal selesai-selesai, pikir Anita.
_
Sore hari Anita segera pulang, dia merasa lega. Satu masalah di pabrik selesai, dan setelah selesai ini dia akan mengurangi jam kerjanya. Dia akan datang ke pabrik hanya sampai hari Jum'at saja.
"Bu, sebentar. Roda mobilnya agak kempes ini." kata pak Diman.
"Lho, memang tadi tidak di periksa roda mobilnya pak Diman?" tanya Anita.
"Tadi pagi waktu mengantar ibu sih masih bener, dan sewaktu menjemput anak-anak juga tidak ada masalah. Saya tidak tahu kenapa sekarang jadi kempes rodanya." jawab pak Diman.
__ADS_1
Anita menghela nafas panjang, dia melirik jam di tangannya. Sudah menunjukkan pukul lima lebih.
"Terus mobilnya di mana?" tanya Anita.
"Saya bawa ke bengkel di sebelah sana bu. Makanya saya kemari memberi tahu ibu dulu untuk menunggu mobil selesai di beresi." kata pak Diman.
"Ya sudah, ini uangnya untuk memberesi mobil. Saya tunggu di ruangannya. Dia melangkah masuk lagi ke dalam pabrik.
"Lho, bu Anita belum pulang?" tanya satpam penjaga.
"Iya, mobilnya masuk bengkel jadi harus menunggu dulu." jawab Anita.
"Oh, saya keliling dulu ya bu."
"Ya, pak satpam jaga malam ya?" tanya Anita.
"Iya ibu."
Anita mengeluarkan satu lembar uang untuk di berikan pada satpam tersebut.
"Nih, untuk beli kopi dan cemilan di waktu jaga malam." kata Anita menyerahkan uang tersebut.
"Waaah, terima kasih bu." jawab satpam itu sambil tertawa kecil karena senang.
Anita hanya mengangguk dan tersenyum saja, dia lalu melanjutkan masuk ke dalam ruangannya.
Rasanya lelah sekali dan ingin pulang, dia duduk lagi di kursi kebesarannya. Dan telepon dari rumah berbunyi.
"Ya bi, ada apa?"
"Den Kevin menanyakan terus nyonya belum pulang." kata pembantu Anita.
"Iya, sebentar lagi ya. Mobilnya masih di bengkel, jadi agak lama pulangnya."
"Oh, begitu ya. Ya sudah, saya tutup dulu teleponnya."
Klik
Anita bersandar di kursinya, dia juga kangen anak-anaknya di rumah.
Tok tok tok
Anita keluar dan tampak memang pak Diman sedang berdiri.
"Sudah selesai pak Diman?"
"Sudah bu."
"Ayo kita pulang.".
"Baik bu."
Anita berjalan di depan, sedangkan pak Diman di belakang.
_
Di perjalanan menuju pulang, tiba-tiba mobil Anita seperti jalannya tidak teratur. Pak Diman sendiri merasa aneh, kenapa mobil jalannya seperti itu.
Dia berusaha mengerem mobilnya hendak berhenti, tapi malah tidak bisa.
"Pak Diman, kenapa mobilnya?" tanya Anita.
"Ini bu, kok remnya blong ya." jawab pak Diman ragu dan takut.
"Lho, tadi kan habis dari bengkel. Kenapa bisa blong?" tanya Anita heran.
"Iya bu, saya pikir juga sudah beres dari bemgkel itu." jawab pak Diman.
"Terus bagaimana?" tanya Anita panik.
"Tenang dulu bu, saya kemudikan pelan-pelan supaya bisa berhenti sendiri." kata pak Diman.
Dia sendiri bingung, kenapa bisa selesai dari bengkel blong. Dia ingat setelah keluar dari mobil masuk ke dalam pabrik memanggil Anita, ada dua orang dengan memakai baju hitam sekitar mobil majikannya.
"Bu, apa kedua orang yang tadinya pegawai itu sudah tidak di pabrik lagi?"
"Siapa?"
__ADS_1
"Saya tidak tahu, tapi dua orang yang katanya di pecat oleh ibu."
"Pak Maman dan pak Salim?"
"Iya, tadi sewaktu dari bengkel mereka ada di sekitar pabrik."
"Jadi menurut pak Diman mereka merusak rem mobil ini?"
"Saya tidak tahu, bu. Tapi apakah mereka merasa kesal dengan di pemecatan itu."
"Ck, dia sudah merugikan pabrik oak Diman, memang seharusnya di pecat. Dan juga di oenjara juga karena kerugian sudah mencapai puluhan juta. pak Diman, awaaas!!!"
Anita berteriak, ternyata di depan ada motor melintas. Dan pak Diman tidak fokus menetir.
Pak Diman membanting setir ke kiri dengan cepat, tapi mobilnya malah menabrak sebuah tiang listrik. Dan tiang listrik itu jatuh di mobil Anita.
Anita pun pingsan, pak Diman juga membentur kemudi mobil. Keduanya tidak sadarkan diri.
Di kantor Arga.
"Halo, siapa ini?" tanya Arga setelah dia bersiap untuk pulang.
"Ini dengan pak Arga Pramudya Yosef?" tanya seseorang di seberang sana.
"Iya, saya sendiri. Ini dari mana?" tanya Arga lagi.
"Saya dari kepolisian. Begini pak, terjadi kecelakaan dengan nomor mobil xxxxx, dua orang tidak sadarkan diri. Sudah di rumah sakit." kata orang itu di telepon.
"Oh, itu mobil istri saya. Kenapa bisa kecelakaan? Di mana istri saya?" tanya Arga dengan panik.
"Kami sudah membawa istri anda ke rumah sakit Z, anda bisa datang ke rumah sakit tersebut. Dan mengenai mobil nanti saya beritahu lagi."
"Oh ya, terima kasih."
Klik
Arga langsung mengambil tasnya, dia panik bukan main istrinya kecelakaan. Tanpa berpamitan pada yang lain, Arga menuju parkiran dan masuk ke dalam mobil.
Mobil dia lajukan dengan kencang, karena dia takut istrinya kenapa-kenapa.
Sepanjang jalan dia berdoa meminta agar Anita selamat dan tidak terluka serius.
"Ya Tuhan, kenapa dengan istriku." gumam Arga
Dia terus melajukan mobilnya dengan kencang di jalanan yang ramai. Tidak peduli beberapa mobil mengklakson agar tidak terburu-buru.
Setengah jam Arga tiba di rumah sakit yang di tunjuk polisi. Dia turun dari mobil dan di sana dia di hampiri oleh polisi untuk di mintai keterangan seadanya.
"Saya belum tahu ceritanya pak polisi, nanti saya kabari jika ada info penting. Saya harus menemui istriku dulu." kata Arga.
"Baiklah, terima kasih atas keterangannya pak Arga. Semoga istri anda cepat sembuh."
Arga mengangguk, dia langsung ke ruang di mana istrinya di tangani. Tapi ternyata masih di ruang UGD.
Arga di suruh menunggu, dia takut dan khawatir. Dan keluarlah dokter dari ruang UGD.
"Dokter, pasien kecelakaan tadi bagaimana keadaannya?" tanya Arga.
"Hanya lukan kecil, tapi yang serius itu yang laki-laki."
"Itu supir istri saya, bagaimana dia?"
"Supir anda harus di operasi ringan, jadi memang tidak terlalu berat lukanyan. Hanya di wajahnya beling kaca menancap, jadi harus di operasi untuk pengambilan beling kaca tersebut."
"Lakukan dokter, selamatkan supir istri saya juga. Tapi benar kan istri saya tidak apa-apa?"
"Tidak, hanya ada goresan di lengan kirinya dan sedikit patah karena benturan tiang listrik mengenai tangannya."
Arga menarik nafas panjang, dia benar-benar takut.
Kemudian dokter menuju ruang di mana pak Diman akan di operasi. Sedangkan Arga menunggu di depan UGD.
_
_
_
__ADS_1
❤❤❤❤❤❤❤