IKHLAS MELEPASMU

IKHLAS MELEPASMU
18.Pulang Kampung


__ADS_3

Sudah satu tahun Anita bercerai dengan Rendi,dia kini belum bisa bekerja karena Chiko sering sakit-sakitan.Jika dia tinggal oleh Anita,malah sakit.Entah apa yang harus di lakukan oleh Anita.


Transferan dari Rendi tidak sebesar dulu dia awal bercerai dengannya.Sekarang berkurang dari setengahnya.Kebutuhan Anita semakin bertambah menginjak anaknya yang semakim besar.


Tiba-tiba ponsel Anita berbunyi,tertera nama di sana ibu.Anita mendesah,sudah dua kali ibunya menelepon menyuruhnya pulang.Namun Anita memilih bertahan,tapi apa yang di pertahankan Anita di kota ini?


Rumahnyakah? Entahlah,rasanya dia sayang sekali harus meninggalkan rumahnya.Walaupun itu masih bentuk cicilan,namun dia masih betah tinggal di rumah itu.


Ibu Anita tidak tahu kalau anaknya sudah bercerai dengan Rendi.Dan seharusnya Rendi memberikan pada ibunya Anita,tapi karena memang terlalu sibuk hingga dia mengabaikan begitu saja aturan dalam menceraikan istri.


Harusnya di kembalikan pada ibunya jika masih ada keluarganya,tapi Rendi tidak melakukan itu.Makanya Anita sangat malu untuk pulang ke kampung ibunya,takut ibunya sedih dengan keadaannya sekarang yang sudah bercerai dengan Rendi.


"Halo bu,ada apa?"tanya Anita.


"Apa kamu tidak mau pulang?"


"Belum bu,nanti Chiko sedang sakit.Jadi mungkin tunggu beberapa minggu lagi untuk pulang."


"Chiko sakit apa?"


"Chiko ngga bisa di tinggal jauh,makanya saya mau cari kerja bingung untuk ninggalin Chiko."kata Anita.


"Kamu mau kerja?Apa Rendi kurang memberimu uang?""


Anita bingung,dia diam.Berpikir bagaimana harus menjawab pertanyaan ibunya.


"Ngga bu,cuma saya pengen bekerja untuk tambahan aja.Lagi pula kebutuhan semakin banyak,kalau di bebankan pada mas Rendi aja kan jadi berat bu."ucap Anita berbohong.


"Tapi setidaknya Rendi mencukupi semua kebutuhanmu dan anak-anakmu.Dia kan wakil direktur,harusnya uang gajinya lebih besar.Cukup untuk semua kebutuhanmu dan anak-anakmu.Ibu tidak pernah di kirim lagi juga tidak apa-apa,yang penting kebutuhanmu dan anakmu tercukupi."


Deg!


Jadi sekarang Rendi sudah tidak mengiriminya uang pada ibunya? Oh ya,sekarang dia bukan lagi istrinya.Otomatis Rendi menyetop pengiriman uang untuk ibunya.Tapi apakah ibunya tahu kalau dia dan Rendi sudah bercerai?


"Anita,pulanglah ke kampung.Kamu di sana mau apa kalau tidak bekarja?"


Seolqh tahu akan keadaan anaknya,ibunya Anita terus mendesak Anita pulang.Anita mendesah,dia akan memikirkan lagi niat untuk pulang ke kampung ibunya.


"Iya bu,Anita akan pulang minggu depan."kata Anita ingin memutus kebohongannya pada ibunya.


Dia tidak ingin berbohong lagi,dia harus bercerita sama ibunya kalau dia dan Rendi sudah lama bercerai.


"Ya sudah,ibu tutup dulu teleponnya.Ibu tunggu kamu pulang Anita."begitu pesan terakhir di telepon ibunya.


Anita meletakkan ponselnya di meja,dia menghela nafas panjang.Semakin di tutupi pada ibunya,semakin dia terasa sesak,semakin dia merasa bersalah.Dia tidak tahu harus melakukan apa.

__ADS_1


"Ma,Iko haus mau minum."kata Chiko dengan suara lemahnya karena sakit.


"Iya sayang,mama ambilkan."sahut Anita.


Lalu Anita beranjak dari duduknya,dia pergi ke dapur mengambil air untuk anaknya.Chila menghampiri Anita yang sedang ada di dapur.


"Ma,adek lama ya sakitnya.Kakak pengen main sama adek Iko."rengek Chila.


"Sabar ya sayang,doakan semoga adek cepat sembuh.Supaya bisa main lagi sama kakak."kata Anita menghibur anak sulungnya itu.


"Iya ma."kata Chila.


"Emm,kak kalau kita tinggal di rumah eyang putri mau tidak? Di sana banyak teman main seusian kakak.Kakak nanti sekolah di rumah eyang putri,mau ngga?"tanya Anita.


"Mau ma,kakak mau tinggal di rumah eyang putri.Biar banyak teman,kalau di sini temannya cuma adek Iko aja."kata Chila dengan senangnya.


"Tapi nanti jarang ketemu papa,kak.Ngga apa-apa?"tanya Anita lagi memastikan kemungkinan dia akan jarang ketemu Rendi.


"Ngga apa-apa.Papa juga jarang pulang ke rumah,lupa kali ma."ucap Chila.


Anita hanya tersenyum,dia tahu Chila sekarang mengerti jika papanya suka lupa.Entah lupanya karena apa,namun anak usia tiga tahun lebih itu sudah mengerti keadaan Anita.


"Papa karena sibuk aja,kak Jadi suka ngga bisa datang ke rumah."kata Anita memberi alasan,dia tidak mau anaknya menganggap Rendi jelek.


"Iya sayang,kadang papa hari minggu sibuk.Jadi ngga bisa main sama kakak Chila dan adek Chiko."


Hati Anita miris,dia selalu menahan sesak di dadanya ketika obrolan Chila dan dirinya mengenai Rendi.Secara batin mungkin Chiko sakit juga mungkin kangen sama Rendi.


Entahlah,Anita ingin menepis itu,tapi ada yang bilang jika anak sering sakit karena dia kangen sama orang tuanya.Namun Anita tidak bisa berbuat banyak,Rendi tidak bisa di hubungi.


Mungkin nanti setelah dia pulang kampung,rasa kangen Chiko pada papanya berkurang.Bukan berarti dia membuang rasa itu,tapi dia tidak mau anaknya sakit gara-gara memikirkan papanya yang mengabaikannya.


_


Setelah lama berpikir,memang lebih baik Anita pulang ke kampung.Dia juga sudah berpikir akan berjualan sembako di rumah ibunya untuk menyambung hidupnya.


Dia tidak mau lagi bergantung dari kiriman transfer dari Rendi.Entah mengapa Anita berpikir mungkin Rendi akan melupakan anaknya juga.


Bagaimana kabarnya sekarang Anita tidak mau tahu,apakah sudah menikah dengan direkturnya itu atau belum.


Kini Anita menyiapkan semua barang yang akan di bawa pulang.Dia tidak akan kembali lagi di rumah ini.Baginya hanya kesedihan saja yang dia rasakan ketika tinggal di rumah ini.


Anita membereskan barang-barangnya,dia akan naik taksi online menuju stasiun kereta api.Dia juga menitipkan kunci rumah pada Noni jika nanti Rendi ingin datang ke rumah.


"Ma,besok ke rumah eyang putri ya?"tanya Chiko yang kini sudah sehat lagi.

__ADS_1


"Iya sayang,nanti di sana banyak teman bermain kok."jawab Anita.


"Papa ikut ngga ma?"tanya Chiko lagi.


Anita menatap anak bungsunya itu,ada rasa kasihan di hatinya juga rasa sedih.Lalu dia menghelan nafas panjang,kemudian menarik anak laki-lakinya itu ke dalam pelukannya.


"Papa ngga ikut sayang,mama sama kakak aja dan adek Iko yang ikut."kata Anita menjelaskan.


Chiko menarik nafas panjang,dia menunduk dan melepaskan diri dari pelukan Anita.


"Nanti papa nyusul kok."kata Anita terpaksa berbohong.


Senyum Chiko mengembang,Anita pun ikut tersenyum.Dia lalu kembali memeluk anak laki-lakinya itu,hampir air matanya menetes karena sedih.


Setelah cukup Chiko lepas dari pelukan Anita dan meluncur kembali bermain dengan kakaknya Chila.


_


Pukul sepuluh taksi online datang menjemput,Anita memasukkan barang-barang bawaannya ke dalam bagasi mobil di bantu oleh supirnya.


Setelah semua masuk,Anita menyuruh kedua anaknya masuk ke dalam mobil.Dia berbalik memandang rumahnya yang akan dia tinggal selamanya.Ada rasa sedih di hatinya,namun biarlah rumah itu jadi kenangan di hatinya.


Setelah di rasa cukup,Anita masuk ke dalam mobil.Mobilpun melaju dengan kecepatan sedang.


Hati Anita tiba-tiba saja lega,entah apa yang dia pikirkan namun,dia merasa lega.Dia tersenyum,mungkin di rumah itu yang jadi beban pikiran Anita.


Ya,dia kini bersemangat menghadapi hidup.Menjalankan kehidupannya dengan kedua anak kembarnya di kampung.Dia akan memulai lagi dari awal.


Satu jam perjalanan,mobil pun sampai di stasiun.Masih ada waktu setengah jam,karena jarak jalan raya sampai di dalam stasiun sangat jauh jika di tempuh dengan jalan kaki.


Kini Anita membawa kedua anaknya masuk ke dalam stasiun,menukar tiket dengan menunjukkan aplikasi di ponsel.Kemudian dia masuk menuju peron setelah mendapatkan tiket tiga buah.


Anita masuk ke dalam gerbong kereta yang sudah menunggu penumpang naik,dengan hati-hati dia naikkan kedua anaknya dan mencari tempat duduk sesuai nomor tiket.


Lima menit akhirnya gerbong kereta berjalan perlahan,sampai di tengah jalan kereta mulai melajukan kecepatan tinggi.


Selamat tinggal kota yang penuh kenangan,selamat tinggal penderitaan dan selamat tinggal semua kenangan pahit di kota ini.Begitu ucap Anita dalam hati,senyumnya mengembang penuh.


_


_


_


❤❤❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2