
Arga menghampiri anaknya yang sedang merajuk karena tidak boleh ikut ke rumah Anita karena ada Marisa. Memang sudah lama sekali Celine tidak bertemu dengan Chila dan Chiko, jadi wajar jika Celine ingin pergi ke rumah Anita.
Dia hanya tidak enak dengan Marisa jika di tinggal olehnya dan Celine, sementara dia sedang pendekatan dengan anaknya. Nanti malah di salahkan oleh Marisa. Lebih baik dia yang mengalah dan memberi nasehat anaknya.
Setidaknya dia sudah berusaha untuk mendekatkan Celine pada Marisa.
"Sayang, papa ngga jadi ke rumah tante Anitanya. Nanti kita kesana kalau mama Marisa sudah pulang." kata Arga membujuk Celine.
"Beneran pa?" tanya Celine berbalik dan senang.
Arga tersenyum, dia juga sebenarnya ingin Celine lebih dekat dengan Anita dan kedua anaknya, dan itu tidak sulit. Namun dia juga harus adil untuk mendekatkan Celine pada Marisa.
"Iya, tapi Celine main dulu sama mama Marisa dulu ya." kata Arga.
"Iya pa."
Lalu Celine beranjak dari duduknya dan kembali ke depan menghampiri Marisa yang masih ada di depan.
Marisa senang Celine kembali mau bermain dengannya. Sedangkan Arga hanya melihat tingkah Celine yang menurutnya tidak seperti anak kebanyakan.
"Celine kenapa tadi ngambek dan mama di tinggalin?" tanya Marisa pada anaknya itu.
"Ngga apa-apa ma, Celine kan sudah lama ngga main sama kakak Chila dan abang Iko." jawab Celine sambil mewarnai gambar yang di buat oleh Marisa.
"Memang Celine sering main ke rumah tante Anita ya sama papa?" tanya Marisa mengorek pada anaknya.
"Ngga, kan papa kerja. Main ke rumah tante Anitanya kalau papa ngga kerja aja." jawab Celine.
Susah juga mengorek dari Celine, pikir Marisa.
"Biasanya pergi ke mana kalau jalan-jalan sama tante Anita?" tanya Marisa lagi.
"Kadang ke kebun binatang, suka juga ke pantai." ujar Celine lagi.
Marisa diam, dia seperti cemburu dengan Anita. Arga lebih dekat dengan Anita, begitu pun Celine. Lalu jika keduanya dekat dengan Anita, apakah ada kesempatan untuk kembali pada mas Arga? Setidaknya jika mas Arga tidak bisa kembali, dia berpikir Celine jangan dekat dengan Anita.
Apa yang harus aku lakukan? pikir Marisa. Apa sebaiknya aku...?
Baiklah, aku akan tunggu waktu saja, dan memikirkan bagaimana baiknya nanti.
"Celine sudah selesai mewarnainya?" tanya Marisa.
"Iya ma." jawab Celine.
"Kalau begitu mama pulang dulu ya, nanti mama akan ke sini lagi dan mengajak Celine jalan-jalan." kata Marisa.
Lalu Marisa pamit pada Celine dan Arga untuk pulang, tapi sebenarnya dia tidak pulang. Hanya menunggu Arga dan Celine keluar, karena dia yakin Arga dan Celine pergi ke rumah Anita.
Marisa menunggu di tempat penjual es kelapa muda. Dia duduk sedikit memojok agar mobil Arga lewat tidak melihatnya.
Setengah jam menunggu akhirnya mobil Arga keluar dari gerbang rumahnya. Marisa melihat kemana Arga pergi. Dam seperti dugaannya, Arga pergi ke arah rumah Anita.
Marisa mengikuti mobil Arga dengan ojek yang dia stop tadi di jalan. Ojek itu berjalan dengan pelan agar Arga tidak tahu dia mengikutinya.
Dua puluh menit Arga sampai di rumah Anita, dia menghentikan mobilnya di depan rumah Anita. Celine langsung keluar dari mobil papanya dan dengan cepat masuk ke dalam rumah Anita.
Arga melihat anaknya yang begitu senang bisa berkunjung lagi di rumah Anita hanya menggelengkan kepalanya saja. Arga pun ikut masuk ke dalam. Dia mendengar di dalam rumah sangat ribut sekali dengan suara ketiga bocah itu. Senyumnya mengembang mendengar ketiga anak itu berteriak dan tertawa.
Arga duduk di kursi di teras depan, menunggu Anita selesai melayani pembeli.
__ADS_1
Setelah selesai, Anita menghampiri Arga dan duduk di kursi di sebelahnya. Mereka mengobrol apa yang di lakukan Arga pada Marisa, Arga pikir semuanya selesai dengan mudah. Anita pun merasa lega dengan cerita Arga itu.
Dan dari jauh Marisa memperhatikan apa yang di lakukan oleh Arga dan Anita di teras rumah. Mereka berbicara seperti ada ada hubungan yang sangat spesial.
Desir cemburu di hati Marisa, dia mendengus kesal melihat ke akraban Anita dan Arga. Dia lalu mau pulang ke kontrakannya, tapi terlintas di pikirannya untuk mendatangi rumah Anita.
Senyum Marisa mengembang, dia ingin tahu jika dia datang ke rumah Anita dengan Arga ada di sana.
Lalu dia melangkah ke arah rumah Anita, senyumnya mengembang di bibirnya. Marisa melangkah dengan percaya diri akan mengagetkan Arga dan Anita.
"Hai mbak Anita." sapa Marisa dari jauh.
Dia tersenyum penuh semangat, ingin melihaf betapa terkejutnya kedua orang yang sedang mengobrol itu.
Dan misi Marisa tercapai, dia sukses mbuat Arha dan Anita terdiam kaku dengan kedatangan Marisa. Marisa melangkah terus ke dalam dan berdiri di depa Anita yang tadi berdiri ketika Marisa menyapanya dari pagar rumahnya.
Marisa melirik Arga dan tersenyum padanya.
"Mas Arga juga ada di sini?" tanya Marisa dengan santainya.
Tapi Arga diam saja, dia bukannya takut Marisa datang ke rumah Anita. Tapi mungkin Anita yang terkejut dan merasa tidak enak padanya.
Anita menunduk, dia lalu mempersilakan Marisa duduk di mana dia tadi duduk.
"Silakan duduk mbak Marisa." kata Anita kaku.
"Iya mbak, terima kasih." ucap Marisa.
Marisa duduk, tapi Arga malah bangun dari duduknya. Dia malah berdiri dan menjauh dari Marisa yang duduk santai.
Anita masuk ke dalam toko karena ada pembeli datang. Marisa melihat Anita masuk, lalu beralih menatap Arga sinis.
"Memang kenapa? Aku bebas mau kemana saja, bukan urusanmu." ucap Arga kesal denga sikap Marisa yang seperti itu.
"Ternyata sengaja membiarkan Celine bermain sebentar denganku dan kamu mengajak ke sini?" kata Marisa dengan nada irinya.
Arga mendengus kesal, dia tidak habis pikir dengan Marisa. Dia diam saja, tidak mau meladeni ocehan Marisa yang tidak ada manfaatnya.
Anita mendengar ucapan Arga yang sengit pada Marisa. Dia merasa tidak enak dengan Marisa. Rasanya seperti ke pergok selingkuh dengan suami orang. Tapi kenyataannya Arga bebas, dia bukan suami orang lain atau pun Marisa.
Jadi buat apa Anita tidak enak dengan Marisa? Dia hanya tidak enak pada Marisa untuk membantunya bicara dengan Arga dan Celine mengakuinya. Bukankah itu sudah dia dapatkan.
Lalu, apa masalahnya sampai dia masih cemburu dengannya dekat dengan Arga. Anita keluar dengan membawa minuman untuk Marisa, dia berusaha untuk tenang.
"Silakan mbak di minum teh botolnya." kata Antia.
Marisa hanya melirik saja,dia mengambil teh botol itu dan menyedotnya. Setelah habis setengahnya, dia memanggil Celine di dalam rumah Anita.
"Celine, kesini sayang." teriak Marisa seperti sudah akrab dengan dirinya.
Celine belum keluar dari dalam. Arga dan Anita hanya diam dengan tingkah Marisa yang kesal itu.
"Celine, kemari nak." teriak Marisa lagi.
Tak lama Celine keluar dari dalam rumah Anita dan terkejut kenapa Marisa ada di rumah Anita juga.
"Mama ada di sini?" tanya Celine kaget melihat Marisa ada di rumah Anita.
"Iya, tadinya mau main ke rumah tante Anita, mama juga temannya tante Anita. Memang Celine dan papa aja yang harus main ke sini." kata Marisa.
__ADS_1
"Ya udah, kalau orang gede mainnya sama yang gede lagi. Celine mau main sama kakak Chila dan abang Iko." ucap Celine membuat Marisa terdiam.
Celine masuk lagi ke dalam rumah Anita tanpa mempedulikan Marisa yang kesal dengan sikap cuek putrinya.
Arga sendiri ingin tertawa melihat sikap Celine pada Marisa, sedangkan Anita merasa tidak enak dengan Marisa yang masih kesal dan keki pada perlakuan anaknya itu
Tapi Anita dan Arga hanya diam, dia menjaga rasa malu Marisa di depan mereka di perlakukan acuh oleh anaknya sendiri.
Arga lalu masuk ke dalam rumah Anita, dja membaringkan tubuhnya di sofa. Membiarkan Anita bicara dengan Marisa di luar.
Marisa masih diam, Anita duduk di mana tadu Arga duduk di kursi itu.
"Bagaimana mbak Marisa hubungannya dengan Celine?" tanya Anita.
Karena hanya itu yang bisa dia tanyakan, dari sikap Arga sendiri dia tahu Arga menolak Marisa. Namun dia tidak etis bertanya hubungannya dengan Arga.
"Kami mulai dekat. Celine sudah bisa menerimaku dengan baik. Tinggal papanya saja yang belum dekat denganku." kata Marisa ketus.
"Syukurlah kalau begitu, berarti tujuan mbak Marisa sudah tercapai kan?" tanya Anita lagi.
"Masih ada satu lagi, yaitu membuat papanya mau menerimaku lagi." kata Marisa dengan sombongnya.
Dia sengaja membuat Anita cemburu. Tapi buka Anita yang seperti menerima pengakuan yang menyakitkan. Dari pertama dia berjanji membantu Marisa sudah dia siapkan seandainya Arga lebih memilih Marisa. Tapi pada kenyataannya Arga sangat acuh pada Marisa.
Obrolan yang tadinya tegang, kini berubah santai lagi. Marisa lupa dengan rasa kesal dan marahnya pada Arga dan Anita. Sampai dia pamit pulang lebih dulu karena sudah sore.
Arga keluar setelah Marisa pamit pada Anita dan menghampiri Anita yang masih menatap kepergian Marisa.
"Bagaimana, apakah dia masih marah sama kamu?" tanya Arga pada Anita.
"Awalnya dia marah, tapi tadi kami ngobrol dengan santai. Aku pikir marahnya hanya sesaat saja." jawab Anita.
Arga menatap Anita, dia juga harus pulang karena sudah sore.
"Aku juga harus pulang, sudah sore." kata Arga.
"Ya, pulanglah." ujar Anita.
Arga diam menatap Anita, apa Anita marah dia pulang?
"Kamu mengusirku?
"Ck, sensitif banget sih." ucap Anita sambil tersenyum.
Dia menepuk lengan Arga, Arga malah menarik tangan Anita dan menciumnya.
"Lain kali aku datang lagi, malam hari. Biar tidak ada gangguan lagi." kata Arga.
Anita hanya tersenyum, dan mengangguk.
Lalu Arga memanggil Celine untuk pulang karena sudah sore.
_
_
_
❤❤❤❤❤
__ADS_1