IKHLAS MELEPASMU

IKHLAS MELEPASMU
66. Wasiat


__ADS_3

Setelah dua hari, Anita bersiap besoknya dia harus pulang ke kampung. Meneruskan hidupnya tanpa ada beban lagi. Dia merapikan semua miliknya, dan juga milik Rendi.


Ketika Anita masuk ke dalam ruang kerja Rendi, dia ingat waktu di rumah sakit tas Rendi tergeletak di meja selama Rendi di rawat. Mungkin tas penting.


Lalu Anita buru-buru membuka tas hitam milik Rendi itu. Di bukanya perlahan karena tas itu hampir robek bagian belakangnya, tapi masih terlihat utuh meski lusuh.


Dia membuka isinya, di sana terdapat map besar tiga lembar. Dan masing-masing map itu ada isinya. Tiga lembar map berwarna merah, biru dan kuning.


Anita mengambil map warna biru terlebih dahulu, dia membuka isinya dan membaca surat lembaran pertama sampai lembar kedua. Dia membaca dengaj seksama, dahinya mengerut ada nama kedua anaknya di sana. Dia baca kembali dari awal sampai akhir.


Dan ternyata itu surat wasiat Rendi untuk Chila dan Chiko, mengenai rumah yang pernah dia tinggali bersama Mourin. Rumah yang ada di tengah kota itu di peruntukkan Chila dan Chiko.


Anita menghela nafas panjang, ternyata Rendi mempersiapkan semuanya untuk kedua anaknya. Pikir Anita.


Lalu, Anita mengambil map warna kuning. Map itu juga sama surat rumah, tapi sepertinya surat rumah yang kini di tempati oleh Anita sekarang ini. Surat rumah itu atas nama dirinya. Rumah yang sekarang di tempati ini miliknya.


Ya Tuhan, mas Rendi mempersiapkan semuanya sebelum dia meninggal. Pikir Anita.


Lalu map yang terakhir warna merah, dia juga membaca isinya. Ternyata sama, surat rumah. Namun rumah yang di tempati ayah mertuanya dulu. Rumah itu besar sekali, dan di surat itu tertulis dengan nama Chila dan Chiko lagi.


Kembali Anita merenung, apakah Rendi sempat berpikir akan meninggal ketika dia membuat surat itu?


Dalam pikirannya, kemungkinan Rendi punya furasat jika umurnya tidak akan lama. Jadi dia membuat selengkap itu.


Sedang berpikir dan merapikan map-map itu, pintu rumah di ketuk oleh seseorang. Mungkin itu Arga, karena dia janji jika Anita pulang dia akan menjemputnya.


Anita bergegas keluar dari ruang kerja Rendi, dia melangkah ke ruang tamu dan membuka pintu rumah.


Arga muncul dengan wajah lelah di depan pintu, namun dia msih sempat tersenyum pada Anita.


"Kamu lelah, Ga?" tanya Anita.


"Ya, aku dari kantor langsung kemari." kata Arga, dia duduk di sofa dan menyenderkan kepalanya.


"Kamu sudah makan?" tanya Anita, karena dia yakin Arga belum makan malam.


"Belum, tapi aku juga lapar." ucap Arga, memberi kode kalau dia ingin di buatkan makanan dari Anita.


Anita tersenyum, dia lalu masuk ke dapur untuk membuat teh hangat dan juga menghangatkan makanan yang tadi masih ada untuk makan Arga.


Setelah selesai, dia kembali lagimke ruang tamu, memberitahu kalau makanan dan minuman sudah siap.


"Ga, makan malam sudah siap. Ayo ke meja makan. Aku sudah siapkan di sana." kata Anita.


"Iya." jawab Arga.


Dia kemudian mengikuti Anita dari belakang menuju meja makan. Di sana sudah ada teh hangat juga makanan yang sudah siap di makan. Arga mencium aroma wangi ayam mentega dan sambal terasi.


"Enak banget ini sepertinya." ucap Arga senang.


Anita tersenyum, lalu dia ikut duduk berhadapan dengan Arga. Memperhatikan Arga yang makan dengan lahap.

__ADS_1


"Ga, apa kamu mengerti tentang surat wasiat?" tanya Anita.


Tapi pertanyaan Anita serasa bodoh baginya bertanya pada Arga. Tentu saja Arga tahu pasti.


"Kenapa?" tanya Arga mengunyah makanannya.


"Waktu tas yang kamu bawa itu ternyata isinya surat wasiat dari mas Rendi sebelum dia berpulang. Sepertinya dia memang sudah punya firasat kalau dia tidak akan lama lagi pergi." kata Anita.


Arga berhenti mengunyah makanannya, dia menatap Anita heran.


"Apa isinya tas itu?" tanya Arga.


"Isinya tiga map yang berbeda warna. Dan setiap warna isinya berbeda. Tapi itu mengenai surat rumah untuk anak-anak dan juga aku." kata Anita.


"Bisa kamu ambil, aku ingin lihat isinya." pinta Arga.


Lalu Anita bangkit dari duduknya dan melangkah menuju ruang kerja Rendi dulu. Dia mengambil semua isi tas dan juga berikut tasnya.


Kemudian setelah dia bawa, Anita menghampiri Arga lagi. Dan Arga selesai makan, dia mencuci tangannya dan menghampiri Anita yang ada di ruang tivi.


Dia melihat Anita sedang merapikan map-map tersebut. Arga mengambil satu map warna kuning dan membaca isinya. Memang tertera di sana nama Anita sebagai pemilik rumah yang sekarang di tempati


"Rumah ini milikmu, Anita."? kata Arga.


"Ya, memang dulu juga mas Rendi memberikannya untukku. Tapi aku tidak mau tinggal di rumah ini." kata Anita.


Kemudian Arga mengambi map warna merah, dia juga membaca isiinya. Dan di sana nama Chila dan Chiko atas nama rumah yang ada di pinggir kota.


"Itu dulu rumah ayah mertua. Karena tidak punya anak lagi jadi rumah itu milik mas Rendi ketika ayah mertua meninggal." jawab Anita.


Dan satu lagi, Arga mengambil map warna kunig. Dan itu juga isinya sama, rumah untuk Chiko daj Chila yang ada di tengah kota.


"Rendi mempersiapkan semuanya sebelum dia meninggal." kata Arga.


" Iya, aku tidak tahu jika tidak membuka tas itu." kata Anita.


Arga pun melihat tas itu, dia melihat ada amplop cokelat terselip. Dia mengambilnya dan membukanya. Dan betapa terkejutnya Anita dan Arga, semua isinya cek lima lembar dengan satuan ceknya bertuliskan satu miliar. Ada satu lembar cek isinya lima miliar.


Anita dan Arga saling pandang. Sebanyak itukah harta peninggalan Rendi?


"Ini banyak sekali, Ga. Mas Rendi meninggalkan harta banyak sekali." ucap Anita.


Arga merogoh lagi dalam tas, dan ada satu amplop putih bertuliskan untuk Anita. Arga memberikan amplop itu pada Anita.


Anita menerimanya, menatap Arga. Ragu membukanya.


"Bukalah mungkin itu penting." kata Arga.


Lalu Anita membuka amplop tersebut, dan membacanya dalam hati. Tapi rupanya bukan surat cinta ataupun apa, hanya sebuah pemberitahuan tentang semua hartanya saja.


"Ini keterangan mengenai wasiat rumah dan cek ini saja, Ga." kata Anita.

__ADS_1


"Apa isinya?"


"Baca saja."


Arga membacanya, namun memang itu surat keterangan tentang wasiat hartanya.


"Kamu lihat ada satu cek berisi lima miliar?"


"Ya, kenapa memangnya?"


"Itu khusus untuk kamu dari Rendi. Sepertinya ada surat lagi. Coba cari lagi di tas itu." kata Arga.


Lalu Anita merogoh isi tas lagi, namun tidak apa-apa di dalamnya.


"Tidak ada surat lagi, Ga." kata Anita.


Tapi dia tampak berpikir, mungkinkah waktu persidangan Rendi memberikan surat padanya. Mungkinkah itu?


"Ga, waktu persidangan itu sebelumnya mas Rendi memberikan surat padaku. Tapi aku belum pernah membukanya, kata mas Rendi waktu itu nanti saja di bukanya ketika di rumah. Sampai rumah aku lupa." kata Anita lagi.


"Jadi surat itu ada di rumah?" tanya Arga.


"Ya."


"Ya sudah, nanti di rumah tinggal di baca saja. Mungkin itu surat penyesalan Rendi pada kamu." kata Arga.


Anita diam, dia lalu mengambil cek enam lembar itu. Memperhatikan dan menimang, buat apa uang sebanyak itu. Pikir Anita.


"Lalu, bagaimana ini semua. Apa bisa di jual saja rumahnya?" tanya Anita.


"Bisa, tapi kamu harus meminta notaris untuk mengesahkan surat-surat itu. Kemungkinan ketika Rendi mau mengesahkan surat-surat itu, dia keburu kecelakaan." kata Arga.


Anita diam, semenjak persidangan terakhir rupanya Rendi langsung mengurusnya. Namun keburu meninggal.


"Tapi, bagaimana dengan tanda tangan mas Rendi, bukankah butuh tanda tangan untuk mengesahkannya?"


"Di sini sudah lengkap, hanya butuh tanda tangan kamu saja. Coba nanti tanyakan pada notaris yang menangani pemgalihan aset Rendi. Dia pasti sudah tahu." kata Arga.


"Jadi harus bagaimana, apa besok jadi pulang kampung atau mengurus kw notaris dulu?" tanya Anita pada Arga.


Arga tampak berpikir, dia melihat jadwal besok apakah ada waktu senggang. Tapi tidak ada.


"Pulang saja dulu. Nanti sekalian aku cari di mana alamat pengesah surat-surat rumah itu. Baru kita pergi ke sana." kata Arga.


Malam semakin larut, obrolan mereka terputus karena rupanya Arga sudah sangat mengantuk. Anita masuk ke dalam kamarnya, sedangka Arga tidur di sofa ruang keluarga.


_


_


_

__ADS_1


❤❤❤❤❤❤


__ADS_2