
Arga langsung pulang setelah dari rumah sakit, dia benar-benar syok melihat Rendi yang begitu parah keadaannya. Namun detak jantungnya masih berjalan di mesin pengukur jantung itu.
Dokter mengatakan kalau pasien hanya menunggu waktu saja. Entah apa yang di tunggu pasien, seperti menunggu seseorang mengunjunginya dan berbicara padanya.
Jika keajaiban dari Tuhan berlangsung, maka bisa jadi Rendi bangun dari komanya setelah dia bertemu dengan seseorang yang pernah dekat dengannya. Mungkin mantan istrinya atau anaknya, begitu kata dokter.
Arga melajukan mobilnya dengan kencang agar cepat sampai di rumah Anita. Dia tidak pulang dulu ke rumahnya meskipun Celine memintanya untuk pulang ke rumah karena sudah hampir satu minggu Arga meninggalkan anaknya itu.
Pikirannya kacau mengingat ucapan dokter kemarin. Dokter juga mengatakan jika seandainya keajaiban datang maka Rendi bisa sadar, namun kakinya bisa jadi lumpuh karena tabrakan yang sangat keras benturan di kakinya.
Apakah dia akan rela jika Anita harus merawat Rendi hingga sembuh dan bisa jalan kembali? Mengingat jauh sebelum dia kembali bertemu Anita, Rendilah yang bersama Anita lebih dulu.
Dilema di hati Arga kini kian menguasainya, ada rasa tidak rela jika Anita harus kembali ke sisi Rendi. Tapi dia juga kasihan dengan Rendi jika Anita dia larang untuk merawat Rendi.
Sampai di rumah Anita sudah sangat malam, Arga berhenti di depan rumah Anita. Ingin memberitahu Anita, namun sudah pasti Anita akan syok dan sedih.
Arga menghela nafas panjang, dia masih duduk di balik kemudi mobilnya. Masih ragu untuk turun dan bertemu Anita.
Namun dia akhirnya turun juga, berita kecelakaan Rendi harus segera dia beritahu Anita. Dia melangkah, berdiri di depan pintu rumah Anita dan mengetuk pintunya.
Tok tok tok
Arga mengetuk pintu, belum ada jawaban. Sekali lagi dia mengetuk pintu dua kali. Beberapa menit pintu di buka Anita.
Anita senang Arga datang, dia tidak sabar dengan kabar yang di bawa Arga.
"Ga, kamu sudah datang?" tanya Anita dengan wajah senang.
Arga mengangguk, dia melihat mata Anita berbinar. Mungkin dia menunggu kabar tentang Rendi. Namun sayangnya yang dia bawa kabar duka.
"Masuk Ga, aku ambilkan teh hangat ya buat kamu." kata Anita.
Dia langsung masuk lagi menuju dapur membuat teh hangat untuk Arga. Tak berapa lama, Anita kembali lagi dengan nampan berisi cangkir. Dia letakkan di depan Arga yang terlihat bingung dan sedih.
Anita melihat Arga merasa aneh, apakah kabar yang dia tunggu sangat mengejutkan?
"Ga, kamu tidak apa-apa?" tanya Anita heran dengan Arga yang beda dari biasanya ketika datang berkunjung.
"Aku tidak apa-apa, Anita." jawab Arga.
Dia menatap Anita sendu dan kasihan. Apakah harus dia katakan sekarang?
"Ga, kabar apa yang kamu dapat dari mas Rendi?" kini Anita yang tidak sabar mengetahui kabar Rendi.
Sekali lagi Arga menatap Anita dengan intens.
"Ga, jangan membuatku bingung. Apa yang kamu tahi tentang mas Rendi?" tanya Anita lagi.
__ADS_1
"Anita, apa kamu siap jika aku memberi kabar mengejutkan?" tanya Arga, dia tidak mau Anita tidak siap mendengar kabar darinya.
"Apa pun Ga, aku punya alasan kuat. Maaf kalau aku mendesakmu untuk bercerita tentang mas Rendi, tapi sejak aku bermimpi aneh dan juga Chila dan Chiko juga mimpi ketemu papanya, saat itu aku tidak bisa tenang, Ga. Ku mohon apapun kabar yang kamu bawa itu kamu ceritakan. Aku siap mendengarnya." kata Anita dengan tidak sabar.
"Baiklah, tapi aku minta kamu yang kuat ya."
"Ya."
Lalu Arga bercerita tentang kejadian dari awal dia di kantor polisi dan sampai ke rumah sakit Permata Kasih di mana Rendi di rawat. Dari sini Anita sudah mulai terisak, dia benar-benar syok mendengar kabar mengejutkan dan menyedihkan itu dari Arga. Dia menangis, Arga pun ikut sedih.
Arga merangkul Anita dan memeluknya erat, memberikan kekuatan pada kekasihnya itu. Dan Apakah Arga cemburu? Anita menangisi mantan suaminya yang terkena kecelakaan.
Entahlah, dia bingung untuk cemburu. Saat ini mantan suami Anita dalam keadaan koma di rumah sakit dan itu juga membuat anak-anaknya jadi ikut sedih.
"Ga, antarkan aku ke rumah sakit Permata Kasih, aku ingin tahu keadaan mas Rendi." kata Anita.
"Malam ini? Tidak. Besok pagi aku akan antar kamu ke rumah sakit itu." kata Arga mencegah Anita untuk pergi kesana.
"Ga, aku tidak tenang dengan keadaannya, sementara aku tidak tahu kondisi mas Rendi." kata Anita lagi.
Arga menghela nafas panjang, dia lelah. Dari rumah sakit langsung pulang dengan perjalanan panjang dan menyetir sendiri.
"Maaf Anita, aku belum istirahat sejak pagi. Aku dari pengadilan dan ke kantor polisi kemudian ke rumah sakit.Dan aku langsung pulang menemuimu, memberitahu kabar tentang Rendi." kata Arga.
Anita diam, dia menunduk, merasa tidak enak dengan Arga. Lalu dia mengangguk.
Kembali Anita mengangguk, kemudian dia menghapus sisa air mata yang mengalir itu.
"Anita, kamu bilang tentang mimpi itu, maksud kamu di telepon tentang firasat. Apakah kamu bermimpi tentang Rendi?"
"Aku bermimpi bertemu seseorang tapi tidak tahu siapa orangnya. Dia hanya memanggilku dan meminta maaf. Terakhir dia minta tolong. Tapi kemudian dia pergi entah kemana. Dan Chiko juga bermimpi tentang papanya. Apa mungkin itu firasat, pertanda kalau mas Rendi mendapat musibah?" kata Anita.
"Bisa jadi begitu. Lalu, apakah kamu akan mengajak Chila dan Chiko menemui Rendi?" tanya Arga.
"Nanti saja, aku sendiri dulu. Baru nanti mereka menyusul menemui papanya." kata Anita.
"Baiklah, besok jam delapan aku kesini lagi. Maaf, bukan berarti aku menolakmu mengantarmu ke rumah sakit, tapi aku lelah sekali." kata Arga menyesal.
"Ya, aku mengerti. Maaf tadi aku memaksamu untuk mengantarku malam ini. Terima kasih kamu mau mencari tahu tentang mas Rendi." kata Anita.
"Kamu yang tenang ya, aku pulang dulu." kata Arga.
Lalu Anita mengantar Arga sampai depan pintu, dia masuk lagi ketika mobil Arga sudah pergi dari rumahnya.
_
Dan pagi-pagi Anita bersiap untuk pergi ke kota menjenguk Rendi di rumah sakit Permata Kasih. Dia sudah menunggu Arga sejak tadi, namun Arga belum datang.
__ADS_1
Chila dan Chiko merasa heran, mau kemana mamanya pergi.
"Mama mau kemana?" tanya Chila.
"Mama mau pergi ke kota dulu kak, nanti kakak sama adek menyusul ke sana dua hari lagi." kata Anita sama Chila.
"Memang mau liburan lagi sama papa, ma?" tanya Chiko.
"Nggak dek, emm mama mau nengok papa dulu. Nanti kalau mama sudah ketemu papa, mama kasih tahu kakak sama adek." kata Anita.
"Ya ma." kata Chila.
"Kakak sama adek baik-baik ya sama eyang putri." pesan Anita lagi.
Keduanya mengangguk, lalu mereka berangkat ke sekolah dengan temannya yang menghampiri. Karena sekolahnya tidak jauh.
Anita memandang kedua anaknya dengan pilu, dia menghela nafas panjang.
Ibu Yuni menghampiri Anita yang sudah rapi, dia heran Anita mau kemana pagi-pagi sudah rapi.
"Anita, kamu mau kemana?" tanya ibu Yuni.
"Aku mau menjenguk mas Rendi bu." jawab Anita.
"Apa? Kamu mau menemui dia lagi?" kaget ibu Yuni.
"Iya, sekarang mas Rendi ada di rumah sakit di kota. Ada di ruang ICU." jawab Anita lagi.
"Ya Tuhan, kenapa dia?" kata ibu Yuni terkejut, mulutnya dia tutup dengan kedua tangannya.
" Mas Rendi kecelakaan bu, mobilnya rusak parah. Dan dia ada di rumah sakit, koma."
Ibu Yuni selalu menyebut nama Tuhan, tetap saja walaupun dia kesal pada mantan menantunya itu. Dia merasa kasihan jika keadaannya sampai parah dan koma.
Tak berapa lama, mobil Arga datang. Dia langsung turun dan mengambil tas yang di pegang Anita.
"Bu, aku pamit dulu. Mungkin aku menginap di sana beberapa hari." kata Anita,.
Dia menyalami ibunya dan mengikuti Arga dari belakang. Ibu Yuni memandang punggung Anita, dia merasa kasihan dengan anaknya itu. Beberapa kali di sakiti oleh Rendi, tapi tetap saja dia peduli pada laki-laki itu.
Meskipun pernah trauma oleh mantan suaminya, entahlah. Hati Anita terbuat dari apa, dalam sekejap dia lupa akan sakit hati dan rasa traumanya pada Rendi.
_
_
_
__ADS_1
❤❤❤❤❤❤