
Lima tahun kemudian,
Kini Arga dan Anita hidup bahagia, mereka mempunyai anak lagi dua tahun lalu dengan jenis kelamin laki-laki lagi. Jadi lengkap sudah, anak mereka sudah lima dan setiap hari selalu saja ada keriuhan dan perebutan mainan antara adik dan kakaknya.
"Sayang, gantian mainannya sama adek Kevin dong abang Angga." ucap Anita yang merayu anaknya.
Kevin adalah anak kedua Anita dengan Arga, setelah umur tiga tahun Angga Anita hamil lagi dan melahirkan anak laki-laki bernama Kevin.
Kini kelima anak Arga dan Anita sedang berkumpul di ruang keluarga. Mereka bermain bersama, saling membantu. Mungkin karena Kevin dan Angga masih kecil, jadi mereka sering berebut mainan.
"Sayang, apa perlu kita liburan lagi?" tanya Arga.
"Kemana?" tanya Anita, dia merangkul pinggang suaminya itu.
"Kamu maunya kemana?" tanya Arga mencium pelipis Anita.
"Aku ngga tahu, selama dengan mereka semua dan kamu aku ikut aja." jawab Anita lagi.
Kepalanya di sandarkan di dada suaminya. Dia melihat kelima anaknya dengan penuh kebahagiaan.
Arga tersenyum, dia sangat senang jika Anita sudah berkata seperti itu. Bukan apa-apa, mengatakan hal romantis itu bukan hanya di awal pernikahan saja, tapi harus di lakukan setiap saat. Ucapan romantis dan sikap serta perbuatan yang sederhana tapi membuat pasangan bahagia itu kunci dari keharmonisan keluarga dan rumah tangga.
Ada kalanya ketika sudah lima tahun ke atas menjalankan pernikahan, di sana banyak sekali godaan dari luar atau dari pasangan itu sendiri. Hanya keyakinan dan kepercayaan untuk mengokohkan sebuah kehidupan rumah tangga meski sudah lama menjalaninya.
Bukan alasan bosan pada pasangan, tapi memupuk rasa cinta di setiap waktu dan tempat akan langgeng adanya. Bukan berarti kehidupan rumah tangga yang kelihatannya adem ayem tidak ada masalah.
Tapi mereka bisa menyembunyikannya dari khalayak ramai atau keduanya bisa mengatasinya secara damai dan tanpa orang tahu.
"Ma, kita liburan yuk ke pantai?" rengek Chila.
"Iya ma, udah lama ngga pergi ke pantai." ujar Chiko menimpali.
"Tuh, tanya papa." ucap Anita melirik suaminya.
"Pa, ayo kita ke pantai!" teriak Celine dari sofa.
"Pin mo antai uga, pa." ucap Kevin dengan logat cedalnya.
Anita tertawa mendengar pengucapan anak bungsunya. Arga menarik Kevin duduk di pangkuannya. Cup.
"Iya, kita akan ke pantai Minggu depan." ucap Arga.
"Asyiiik!!"
Teriak semua anaknya, termasuk Angga juga.
"Aciiik." jerit Kevin.
Semua tertawa dengan tingkah Kevin yang lucu, dia turun dari pangkuan Arga dan berputar-putar berkeliling.
__ADS_1
_
"Sayang, apa semua sudah di siapkan untuk besok liburan?" tanya Arga mendekat pada istrinya.
"Sudah pa, tinggal makanan ringan aja kok." jawab Anita yang sedang menggantikan seprei kasurnya.
Ingin Arga mengajak Anita bergelung di ranjang, menikmati waktu berdua di kamar malam ini. Karena setiap hari waktu Anita habis bersama anak-anak sampai jam delapan malam.
Arga semakin mendekat, dia mencium tengkuk Anita dan memengangi perut Anita dengan kedua tangannya.
"Sayang, aku pengen." ucap Arga dengan bibirnya masih menempel di leher bagian belakang Anita.
"Aku belum selesai, pa. Ini belum di beresi kasurnya." ucap Anita lirih, karena Arga terus saja mencium dan menggigit tengkuknya.
"Jangan di kasur, di sofa aja." ucap Arga semakin lirih suaranya.
Anita menghela nafas panjang. Dulu memang setiap hari Arga meminta jatah padanya. Tapi setelah melahirlan dua anak darinya, dia mengurangi kegiatan suami istri di kasur, hanya sedang ingin saja. Tapi itu pun dua hari sekali, bagi Anita tidak masalah. Asal jangan di waktu anak-anak sudah bangun, karena sudah pasti meski ada kamar masing-masing tapi ketika bangun tidur Kevin lari ke kamarnya.
Anita pun pasrah, dia kini sudah terbuai oleh perlakuan lembut suaminya pada tubuhnya.
Malam ini sepertinya akan sangat melelahkan bagi Anita, karena harus meladeni suaminya juga merapikan ranjangnya meski Arga pasti membantunya merapikan ranjang mereka.
Pagi hari, semua sepertinya sudah siap sejak tadi. Baik itu ibu Yuni dan kelima cucunya. Semua sibuk merapikan bawaan mereka di masukkan ke dalam tas masing-masing.
Ada yang terlupakan oleh mereka, ibu Ema. Ya, ibu Ema sejak pagi tidak keluar dari kamarnya. Kamarnya juga masih tertutup, tadi malam ibu Ema mengatakan pada ibu Yuni kalau dirinya sedang tidak enak badan.
Jadi ibu Yuni membiarkan ibu Ema beristirahat di kamarnya. Sedangkan Anita sibuk mengurus kelima anaknya, walaupun di bantu oleh Chila yang sudah besar. Usianya sudah sepuluh tahun, dia sudah bisa di ajak kerja sama atau membantu Anita untuk menjaga adik-adiknya.
"Sayang, mama kemana?" tanya Arga pada Anita.
"Tadi sih kata ibu mama masih di kamarnya, beliau tidak enak badan katanya. Aku belum sempat ke kamar mama, kasihan ibu repot merapikan bekal untuk ke pantai." jawab Anita.
"Oh, ya udah biar aku aja yang ke kamar mama. Cup." ucap Arga kembali mencium pipi istrinya.
Arga melangkah meninggalkan Anita di dapur menyiapkan bekal, dia langsung menuju kamar ibu Ema.
Tok tok tok
Pintu kamar di ketuk Arga, tak ada jawaban dari dalam kamar.
"Ma, apa mama sudah sehat?" tanya Arga, dia belum berani masuk ke dalam kamar mamanya.
Tok tok tok
Masih belum ada jawaban atau suara kaki mendekat. Arga tidak sabar, dia menarik handel pintu dan mendorongnya ke dalam. Dia masuk lebih dalam menuju ranjang ibu Ema.
Arga melihat ibu Ema sedang tertidur terlentang, semakin mendekat Arga duduk di sisi ranjang dan memegang tangan ibu Ema. Terasa kaku dan dingin, Arga kaget, hatinya cemas.
"Ma, bangun ma sudah pagi." kata Arga.
__ADS_1
Tidak ada pergerakan dari ibu Ema, Arga semakin cemas. Dia memegang denyut nadi di pergelangan tangan ibu Ema, tapi tidak merasakan denyutnya. Tangan Arga beralih ke leher ibu Ema, tetap tidak ada denyut nadinya.
Arga semakin cemas, dia menempelkan telinganya di dada bagian kiri Berharap dia bisa mendengar detakn jantung ibunya. Wajah pucat dan bibir sedikit membiru membuat Arga semakin tidak karuan pikirannya.
"Maa!" teriak Arga.
Anita masuk ke dalam kamar mertianya, hendak memberi tahu sarapan sudah siap dan ingin melihat kondisi mertuanya itu.
"Ga, sarapan sudah siap. Bagaimana dengan mama?" tanya Anita.
Anita memegang pundak suaminya, dan melihat ke arah mertuanya.
"Sayang, coba kamu pegang tangan mama. Dia masih berdenyut kan nadinya? Ayo sayang pegang tangan mama." ucap Arga menarik tangan istrinya.
Anita bingung, dia tidak mengerti maksud suaminya itu.
"Ga, ada apa? Kenapa dengan mama?" tanya Anita heran.
"Ya makanya, kamu pegang tangan mama. Masih ada denyut nadinya kan?" tanya Arga agak keras nada bicaranya.
Membuat Anita kaget, tapi dia menuruti kata suaminya. Memeriksa denyut nadi mertuanya, tapi selama satu menit Anita tidak merasakan ada denyut nadi mertuanya.
Tangannya beralih ke leher mertuanya, tetap sama. Anita menatap suaminya dengan sedih.
"Sayang, kamu merasakan denyut nadi mama?" tanya Arga tidak sabar.
Anita diam sebentar, lalu menggeleng pelan.
"Sayang, kamu jangan bohong. Mama pasti masih hidup. Denyut nadinya masih ada kan?" teriak Arga.
" Ga, yang sabar. Aku tidak merasakan denyut nadi mama. Hik." kata Anita, dia memeluk suaminya.
"Tidak sayang, mama baik-baik saja. Beliau tidur." ucap Arga lagi.
"Anita, ada apa?" tanya ibu Yuni yang ikut masuk.
Niatnya dia juga mau melihat keadaan besannya yang sejak tadi malam mengeluh dadanya sakit.
"Mama sudah tiada, bu." jawab Anita sambil menangis.
Dia masih memeluk suaminya, sedangkan ibu Yuni terpaku. Berdiri mematung, dia tidak percaya besannya mendahuluinya. Kini ibu Yuni pun memangis terisak.
Arga tersungkur di lantai, dia menangis tersedu. Sedangkan Anita masih memeluk suaminya dan memberi kekuatan bagi suaminya yang kehilangan orang yang di cintainya.
_
_
_
__ADS_1
❤❤❤❤❤❤❤