IKHLAS MELEPASMU

IKHLAS MELEPASMU
83. Pengorbanan Anita


__ADS_3

Anita gelisah karena dokter belum juga selesai memeriksa sampel darah Celine.


"Tante, apa sebaiknya Marisa di beri tahu?" tanya Anita pada ibu Ema.


"Tante tidak tahu nak Anita." ucap ibu Ema.


Anita diam, dia mencoba menghubungi Arga siapa tahu bisa di hubungi.


Dokter keluar dari ruang lab, dan mendekat pada ibu Ema. Anita menyelesaikan sambungan teleponnya karena memang tidak tersambung pada Arga. Dia mendekat pada dokter yabg sedang bicara dengan ibu Ema.


"Jadi, anak ibu ini membutuhkan darah. Di sini stok darahnya menipis dengan golongan darah O. Apakah ibu bisa mengusahakan atau barangkali bisa mendonorkan darahnya pada anak ibu?" tanya dokter pada ibu Ema dan Anita.


"Apa golongan darahnya dokter?" tanya Anita.


"Golongan darahnya O, sebenarnya yang berdarah O itu bisa jadi pendonor bagi golongan darah A dan B, atau AB. Tapi kalau golongan darah O itu tidak bisa menerima pendonor dari golongan darah tersebut, hanya bisa golongan darah itu sendiri. Sedangkan di stok rumah sakit tidak ada golongan darah O. Ibu bisa mendonorkan darahnya, atau siapa yang bisa mendonorkan darah untuk anak anda." kata dokter.


Anita diam, dia golongan darahnya B, ibunya juga.


"Arga golongan darahnya apa tante?" tanya Anita.


"Arga AB." jawab ibu Ema.


Berarti Celine golongan darahnya kemungkinan sama dengan Marisa.


"Tante, saya coba minta ke mamanya Celine. Kemungkinan Marisa golongan darahnya sama dengan Celine." ucap Anita.


"Apa harus dia?" tanya ibu Ema.


" Oh, jadi ibu ini bukan orang tua dari anak itu?" tanya dokter.


"Saya bukan ibunya dokter. Tapi apakah bisa dengan darah ibunya?"


"Kalau darah dari ayahanya tidak cocok dengan anaknya, kemungkinan besar golongan darahnya sama dengan ibunya. Karena satu gen, pasti ada yang sama di antara ibunya atau ayahnya." jawab dokter.


"Kalau begitu, saya akan bawa Marisa kemari tante." kata Anita.


"Tunggu, apakah tidak bisa mencari dari pengunjung di sini, bisa ambil dari mereka."


"Jika di ambil secara acak seperti itu, akan memakan waktu banyak karena harus bertanya dan mau di ambil darahnya. Tidak setiap orang mau darahnya di ambil. Jadi lebih baik ibunya saja yang sudah pasti sama golongan darahnya."


"Baik dokter, saya akan membawa ibunya kemari."


"Kalau bisa secepatnya ya bu, soalnya tromborsit anaknya semakin turun. Cara cepatnya harus menambah darah biar cepat tertolong." kata dokter lagi.


"Kapan batas waktunya dokter?" tanya Anita.


"Sampai nanti malam, semoga ibunya cepat datang ya bu. Kasihan anaknya, lemah sekali keadaannya." kata dokter.


Anita mengangguk, sebelumnya dia mau menghubungi Marisa. Siapa tahu dia masih ada di kontrakannya.


"Halo, mbak Marisa."


"Untuk apa kamu meneleponku?" tanya Marisa di seberang sana dengan ketus dan tidak sopan.


Anita kaget, namun dia tidak mau mengurusi masalah itu.


"Mbak Marisa masih di kampung kan? Belum pulang ke kota?" tanya Anita.


"Itu bukan urusanmu."


"Celine masuk rumah sakit mbak Marisa."


"*Aku tidak peduli, mas Arga melarangku untuk bertemu dengan Celine. Jadi buat apa aku peduli."

__ADS_1


Klik*


Sambungan terputus. Anita diam, dia menduga Marisa masih di kontrakannya.


Lalu dia pamit pada ibu Ema untuk menemui Marisa. Semoga dia beruntung Marisa belum pulang ke kota.


Anita langsung keluar dari rumah sakit dan berlari untuk segara menunggu ojek lewat di depan rumah sakit. Mungkin ini keberuntungan Anita, dia langsung mendapatkan tukang ojek lewat di depan rumah sakit.


Dia menyetop dan meminta pada tukang ojek untuk melaju ke pasar induk.


"Bang, cepat ya. Saya lagi buru-buru bang."


"Siap bu."


Motor ojek langsung meluncur dengan cepat menuju pasar induk di mana Marisa mengontrak dekat pasar induk. Sepuluh menit Anita sampai di depan rumah kontrakan Marisa.


Dia melihat Marisa membawa kopernya hendak keluar dari halaman rumah itu. Anita buru-buru membayar ongkos ojek dan menghampiri Marisa yang melihat Anita dengan sengit.


Dia tidak peduli dengan tatapan tidak suka padanya, Anita mendekat dan melihat koper Marisa dan menatapnya.


"Mbak mau kemana?" tanya Anita.


"Bukan urusanmu!" jawan Marisa ketus.


Dia terus saja melangkah membiarkan Anita yang diam. Tapi Anita mencegah Marisa untuk menghentikan langkahnya dengan menarik tangannya.


"Mbak Marisa tunggu, Celine sedang di rawat di rumah sakit. Dia membutuhkan transfusi darah dari mbak Marisa." kata Anita dengan kencang.


Membuat Marisa diam, dia berbalik dan menatap Anita.


"Kamu saja yang berikan darahnya. Bukankah kamu dekat dengan anakku?"


"Kalau saya bisa, akan saya lakukan mbak. Celine menunggu pertolongan mamanya." ucap Anita lagi.


"Apa sih mau kamu hah?!" bentak Marisa.


Anita mendesah kesal, dia juga ingin mengumpat Marisa. Ibu macam apa dia, tidak peduli keadaan anaknya yang membutuhkan pertolongannya.


"Mbak Marisa tolong mbak, Celine sedang menunggu pertolongan mbak Marisa sebagai ibunya. Mbak Marisa kan punya kesempatan menjadi ibu yang baik untuk Celine, sekarang waktunya untuk membuktikan kalau mbak itu mamanya Celine yang baik, mbak Marisa." ucap Anita.


Marisa diam, dia menatap Anita dengan sinis.


"Mas Arga tidak pernah peduli padaku. Jadi buat apa aku peduli anaknya." ucap Marisa lagi.


"Mbak Marisa seorang ibu, tidakkah ada terbersit di hati mbak Marisa untuk menolong anak sendiri?"


"Sudah aku bilang, aku tidak peduli!" teriak Marisa.


Lalu Marisa menyetop angkot yang lewat, dia akan pulang ke kota. Sedangkan Anita terdiam dengan sikap acuh Marisa. Dia berusaha mengejar angkot yang di tumpangi Marisa, tapi angkot itu terus melaju karena Marisa mengatakan tidak baik tentang Anita.


Anita bingung mencari pendonor di mana, dia mengusap wajahnya dan menghela nafas panjang.


"Apa yang harus ku lakukan.?" gumam Anita.


Matanya berkeliling melihat banyak orang lalu lalang. Apakah dia akan mencari pendonor dari orang-orang itu? pikir Anita.


Dia melihat jam di tangannya, masih jam lima sore. Namun pasar masih saja ramai oleh lalu lalang orang-orang yang berkepenitangan.


Lalu dia menghampiri satu persatu orang yang lalu lalang itu menanyakan apakah golongan darah mereka. Dia tidak peduli meski lelah dan membuat orang aneh melihatnya.


"Mbak, golongan darah mbak apa?" tanya Anita pada perempuan yang duduk di kursi.


"Saya tidak tahu mbak." jawab perempuan itu.

__ADS_1


Anita mendesah, dia tak putus asa. Dia mencari orang lagi dan menanyakan hal yang sama, tapi banyak yang tidak tahu golongan darah mereka. Sudah sembilan orang Anita menanyakan golongan darah setiap yang dia temui.


"Dek, kamu golongan darahnya apa?"


"O, bu."


"Wah, akhirnya ada yang berdarah O. Adek mau mendonorkan darahnya untuk anak ibu?"


"Saya tidak mau bu, saya takut di suntik." ucap remaja laki-laki itu dan menjauh dari Anita.


Anita hampir putus asa, sekarang waktunya sudah pukul setengah tujuh. Dia belum mendapatkan sukarelawan pendonor darah. Tapi dia belum putus asa, Anita terus mencarinya.


Dia menghampiri seorang ibu bertubuh gemuk yang sedang duduk di bawah pohon.


"Ibu bisa tolong saya?"


"Tolong apa?"


"Ibu golongan darahnya apa?"


"Saya tidak tahu bu, saya tidak pernah periksa golongan darah saya."


Anita mendesah, dia pamit pada ibu itu untuk mencari orang lagi bergolongan darah O. Dia kembali melirik jam di tangannya, meski perutnya keroncongan sejak tadi siang dia belum makan apa-apa. Tapi dia tidak bisa bersantai untuk makan. Dia akan mencari orang bergolongan darah O di pasar itu.


Anita menghampiri seorang laki-laki dengan menenteng tas, sepertinya dia bingung. Tapi entah apa yang dia pikirkan. Anita mendekat, dia berdoa semoga ini yang terakhir dan berdarah O.


"Permisi pak, bisa bantu saya?" tanya Anita.


Laki-laki itu menoleh.


"Ada apa bu?"


"Bapak bergolongan darah apa?"


Laki-laki itu mengerutkan dahinya, heran dengan pertanyaan Anita.


"Kenapa memangnya bu?"


"Anak saya sedang sakit di rumah sakit dan membutuhkan darah. Dia membutuhkan golongan darah O, apakah bapak bergolongan darah O?" tanya Anita.


Laki-laki itu diam, dia meneliti Anita dan berpikir.


"Iya saya bergolongan darah O."


"Akhirnya, saya bisa menemukannya juga. Apa bapak bisa menolong saya?" tanya Anita lagi.


"Begini bu, saya mau pulang ke kampung saya. Saya kekurangan uang untuk pulang. Bagaimana kalau saya akan mendonor darah saya, dan ibu memberikan uang untuk saya pulang ke kampung?"


"Bisa pak, saya akan berikan uang untuk bapak pulang ke kampung. Tapi sebelumnya tolong anak saya di rumah sakit." ucap Anita senang.


"Baik bu, saya bersedia jadi pendonor darah anak ibu." kata laki-laki itu.


"Ayo ke rumah sakit pak, saya akan memberikan uang pada bapak setelah selesai memberikan donor darah pada anak saya." kata Anita lagi dengan senang.


Lalu Anita mencegah ojek yang lewat, dia ingin cepat sampai di rumah sakit. Dia juga memesan ojek lagi untuk membawa laki-laki tadi.


Kemudian ojek yang membawa mereka ke rumah sakit melaju dengan cepat karena waktunya tidak banyak lagi.


_


_


_

__ADS_1


❤❤❤❤❤


__ADS_2