IKHLAS MELEPASMU

IKHLAS MELEPASMU
134. Bonus


__ADS_3

Sudah dua hari Anita menunggu Mourin datang lagi menemuinya, namun sampai satu minggu belum juga datang ke rumahnya. Hingga sudah sepulub hari beristirahat di rumah, tidak juga datang.


Jadi Anita memutuskan untuk bekerja lagi, namun hanya sampai jam tiga sore dia pulang dari pabrik. Dan itu pun hari Jum'at Sabtu tidak ke pabrik.


Di meja makan, pagi hari semua siap untuk sarapan pagi. Karena Anita tidak memberitahu anak-anaknya dia bekerja lagi, jadi ketika Anita turun dan berpakaian rapi.


Semua mata menuju pada Anita yang berjalan menghampiri mereka. Ada rasa kecewa pada empat pasang mata dari anak-anak Anita.


Anita tidak menyadarinya, dia terus melangkah menghampiri suaminya dan menyapa anak-anaknya.


"Selamat pagi semua." sapa Anita.


"Pagi, ma." jawab Kevin.


Arga melihat satu persatu anak-anaknya yang tidak menyahuti sapaan Anita.


"Kenapa kalian diam saja di sapa mama?" tanya Arga.


Anita menoleh, dia melayani suaminya yang sedang menyuapi Kevin.


"Eh, kok pada diam?" tanya Anita pada anak-anaknya.


"Mama kerja lagi?" tanya Chila.


"Iya sayang, kenapa memangnya?" tanya Anita.


"Kakak kira mama ngga kerja lagi." ucap Chila.


Anita menghela nafas panjang, dia menatap satu persatu anak-anaknya yang terlihat masam dengan Anita.


Dia tahu semua anaknya keberatan jika dia bekerja lagi.


"Mama bekerja sampai hari Jum'at aja sayang. Terus setiap hari juga pulangnya cepat. Jadi sore mama bisa main sama kalian." ucap Anita


Chila menatap Anita tidak percaya, lalu melihat pada ketiga adiknya yang masih diam.


"Benar ma, sore mama ada di rumah?"


"Iya sayang, jam tiga mama pulang dari pabrik. Sore bisa kok kakak sama abang main sama mama." kata Anita.


"Asyiiiik"


Arga tersenyum, dia melirik istrinya yang tersenyum juga.


_


Anita mengantar anak-anaknya pergi ke sekolah, selama di dalam mobil keceriaan tampak jelas dari kelima anaknya.


Pembantu Anita juga ikut mengantar ke sekolah Angga.


Sebenarnya pembantunya itu inginnya Anita tidak ikut mengantar, tapi Angga masih kecil jadi dia harus di tunggui.

__ADS_1


"Nyonya, apakah saya setiap hari harus ikut mengantar den Angga?" tanya bibi.


"Iya, bi. Nanti setelah Angga kelas B bisa di tinggal aja ngga apa-apa, biar pak Diman yang jemput dan langsung pulang." kata Anita.


Pak Diman yang sudah merasa baik setelah istirahat lebih dari satu bulan. Dia merasa tidak enak, libur kerja lama sekali.


Namun Anita dan Arga memberinya waktu libur untuk menyembuhkan luka akibat kecelakaan bersama Anita.


Sampai juga di depan sekolah TK Angga, Angga dan Kevin turun dengan pembantunya. Sebelum pergi kedua anaknya di cium terlebih dulu.


Setelah selesai, baru mobil Anita melaju menuju pabrik.


Waktu berjalan dengan cepat, Anita sudah berada di pabrik. Dia bekerja dengan santai, karena memang semua sudah di tangani oleh managernya untuk sementara.


Tangannya yang retak belum sembuh benar, dia hanya memeriksa dan mengawasi setiap prodiksi barang.


"Bu Anita, bagian distributor belum ada saat ini. Kemarin yang baru sementara belum maksimal lerjanya." kata Sarah pada Anita.


"Begitu ya, lalu bagaimana? Apakah cari orang yang benar-benar tahu di lapangan?" tanya Anita.


Ya, ngga juga sih bu. Tapi yang baru itu apa di pindahkan saja di bagian gudang, dan pak Salman yang mendistribusikan produk ke agen-agen."


"Bisa juga, tapi pak Salman juga harus memberi pengarahan pada karyawan baru itu."


"Iya bu."


Sarah pun pergi dari ruangan Anita, Anita sendiri sedang melihat laptopnya. Melihat perkembangan pabrik selama dia memimpin di bulan ke lima ini.


Keuntungan yang di hasilkan lumayan naik lima persen selama empat bulan itu.


Anita puas dan bangga, berarti dia bisa memimpin pabrik. Senyumnya mengembang, dia berpikir apakah akhir bulan ini di beri bonus sekedarnya pada semua karyawannya karena kerja keras mereka.


Dan sekarang sudah memasuki tanggal dua puluh tujuh, jadi tanggal satu mereka mendapat gajian.


Kemudian Anita menghubungi Dian, dia ingin memberitahu tentang bonus bagi karyawan sesuai masa kerjanya.


"Halo bu Anita, ada yang bisa saa bantu?" tanya Dian.


"Ya, coba kamu ke ruanganku sekarang." jawab Anita.


"Baik bu Anita."


Klik


Telepon di putus, Anita menggoyang-goyangkan kursinya ke kanan dan ke kiri.


Tak lama pintu di ketuk.


Tok tok tok


"Masuk."

__ADS_1


Dia mendorong daun pintu dan lebih masuk ke dalam, Anita mempersilakan Dian duduk.


"Begini Dian, tadi saya lihat laporan darimu di laptop. Ternyata ada kenaikan keuntungan selama empat bulan. Saya berencana mau memberi bonus pada setiap karyawan di pabrik." kata Anita panjang lebar.


Wajah Dian berbinar, matanya melebar dan senyumnya tercipta di sana.


"Waah, benarkah bu?" tanya Dian tidak percaya.


Biasanya bonus itu di berikan pada hari jadi pabrik, namun kini Anita memberinya bonus. Dalam rangka apa? Pikir Dian.


"Emm, bu maaf kalau saya bertanya. Dalam rangka apa yang ibu memberikan bonus kali ini pada karyawan pabrik?" jawab Anita.


"Oh, ya saya ingin memberikan penghargaan pada mereka yang masih mau bekerja di pabrik." kata Anita


"Ooh, jadi semua karyawan atau yang sudah lama bekerja bu?" tanya Dian masih bingung.


"Kalau yang pegawai baru bulan lalu, kasih bonus sekedarnya saja. Hanya untuk makan sianglah ukurannya." jawab Anita.


"Apa nanti di kasih sama rata atau sesuai lamanya mereka bekerja?" tanya Dian, karena dia berpikir jika bonus di sama ratakan.


Bakal ada yang hengkang karena karyawannya minta bonus. Yang menghadapi anak


"Sesuai lamanya mereka bekerja, kamu pasti tahu siapa saja yang sudah lama bekerja di pabrik sesuai uang gaji yang mereka terima."


"Berapa persen bonus itu di berikan bu?"


"Emm, dua puluh persen dari total gaji yang di terima. Nah, sekarang kamu harus menghitung dari sekarang ya. Agar nanti pas gajian turun tidak repot kamunya."


"Baik bu. Ada lagi yang harus di bicarakan bu?"


"Kamu terburu-buru sekali."


"Heheh, maaf bu. Saya harus mengerjakan tugas dari ibu secepatnya." kata Dian.


"Ya sudah, tolong kamu panggil bu Imah ya. Saya mau memesan padanya saja."


"Baik bu, kalau begitu saya permisi." kata Dian.


Anita mengangguk, dia kemudian menatap laptopnya lagi. Memainkan kursornya kesana kemari.


Agak boring dia di saat ini, dia melirik jam yang melingkar di tangannya. Masih jam sebelas siang, ingin dia pulang segera.


Entah kenapa hari ini mood Anita sedang menurun dengan pekerjaannya. Kemarin-kemarin dia sangat antusias, bahkan setelah pencopotan gips di tangannya.


_


_


_


❤❤❤❤❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2