
Anita dan pak Sugara masih bercengkrama di ruang tamu ibu Rima. Kedua anak dan ayah itu masih kaku untuk saling melepas rindu yang sudah bertahun-tahun tidak bertemu.
"Bagaimana kesehatan ayah?" tanya Anita membuka pembicaraan dengan ayahnya.
"Ayah sudah lebih baik, berkat istri ayah." ucap pak Sugara menengok ke arah ibu Rika.
Anita melihat ke arah ibu Rika dan tersenyum kecil. Dia kembali menatap ayahnya, di pegang lutut pak Sugara.
"Apa ini sakit ayah?" tanya Anita.
"Tidak, ayah baik-baik saja. Kemarin di terapi dan sudah lebih baik. Kan tadi ayah bisa sedikit berjalan, tadinya hanya di kursi roda saja." ucap pak Sugara.
Dia menatap anaknya itu, rasa rindu yang terpendam sejak dulu kini perlahan luruh. Dia memegang tangan Anita dan mengelusnya.
"Anita, maafkan ayah. Ayah tidak pernah menemuimu waktu itu." ucap pak Sugara dengan lirih.
"Tidak apa-apa, ayah. Aku mengerti ayah tidak bisa menemuiku, karena ayah di larang oleh ibu kan?" tanya Anita.
Pak Sugara terdiam, dia kembali mengusap matanya yang hampir basah. Lalu menatap Anita dengan haru, Anita tersenyum.
"Apa kamu tidak membenci ayah?" tanya pak Sugara.
"Tidak ayah, aku ikhlas semua masa lalu pahit datang padaku. Aku tahu ayah juga sebenarnya sangat ingin menemuiku, tapi karena janji pada ibu dan ayah menuruti kemauan ibu." kata Anita lagi.
Pak Sugara menghela nafas lega, sejujurmya dia sangat ingin menemui anak satu-satunya itu, waktu pemakaman ibu Yuni istrinya juga dia ingin menghampiri Anita. Namun dia tidak berani, apa jadinya jika saat itu dia datang pada anaknya dan akan di tolak mentah-mentah bahkan di adili saat itu juga.
Prasangka demi prasangka dia pikirkan waktu itu. Ternyata Anita berbeda dengan istrinya dulu. Ternyata Anita lebih bijaksana menanggapi semua masa lalunya dengan istrinya.
"Apa kamu juga tidak membenci ibumu setelah tahu cerita dari budemu?" tanya pak Sugara lagi.
"Tidak ayah, aku tidak membenci ayah dan ibu. Kalian adalah orang yang berharga dalam hidupku. Aku lelah jika harus menuruti kata hati untuk membenci ibu atau pun ayah. Aku hanya ingin hidup tenang dan berdamai dengan masa laluku dan masa lalu ayah serta ibu. Kelak aku dan suamiku tidak akan melakukan seperti ayah dan ibu lakukan. Bagiku sangat menyakitkan, namun aku juga menerima apa yang aku alami ayah. Aku pernah di kecewakan dan di ceraikan oleh mantan suamiku dulu. Aku tidak mau itu terjadi pada anakku, aku tidak mau anakku memgalami apa yang aku alami. Hik hik hik." Anita berhenti sejenak.
Pak Sugara memegang tangan anaknya itu, sangat bohong sekali jika Anita tidak merasakan sakit luar biasa, namun pada akhirnya dia memilih menerima dengan lapang dada dan menyingkirkan egonya. Cukup sudah rasa sakit hatinya, dia ingin hidup damai tanpa ada bayang-bayang masa lalu yang pahit.
"Anakku, maafkan ayah. Ayah tidak bisa mendampingimu sejak dulu. Tidak bisa memdampingimu menikah kedua kali dan juga tidak bisa mengucapkan apapun tentang kebahagiaanmu. Hik hik hik." ucapan pak Sugara terjeda.
Anita dan pak Sugara saling mengungkapkan isi hati masing-masing sejak dulu. Mereka bercerita tentang pahitnya tidak bisa bersama dengan orang yang sangat di sayangi.
Ibu Rima dan ibu Rika pun ikut menangis, pertemuan anak dan ayah tersebut benar-benar menguras emosi dan air mata.
Hingga satu telepon berdering dari ponsel Anita. Dia memgambil ponselnya dari dalam tas dan melihat siapa yang menelepon.
"Halo, bi. Ada apa?" tanya Anita sambil menyeka air matanya.
"Maaf nyonya, apa anda masih lama di rumah ibu Rima?" tanya pembantu Anita di telepon.
"Kenapa? Apa anak-anak menanyakanku?" tanya Anita.
"Iya nyonya, dan lagi ada perempuan yang datang ke rumah untuk bertemu nyonya." katanya lagi.
"Apa perempuan yang waktu itu?" tanya Anita.
"Bukan nyonya, perempuan itu masih muda dan kelihatannya dari kota. Dia cantik nyonya." jawab pembantunya lagi.
Anita diam, dia mengerutkan dahinya, siapa ya?
"Katakan padanya, besok suruh datang lagi. Aku belum bisa pulang cepat." kata Anita.
__ADS_1
"Baik nyonya."
Sambungan telepon terputus, Anita memasukkan lagi ponselnya ke dalam tas. Dia lalu beralih pada Kevin yang sekarang sedang tidur di pangkuannya.
"Apa ini anakmu?" tanya pak Sugara.
"Iya ayah, anak ke empatku. Ada lima anak, yang satu anak suamiku dengan mantan istrinya." jawab Anita.
Pak Sugara tersenyum, jadi dia punya cucu lima. Dia senang, lalu tangannya mengelus rambut Kevin dengan pelan.
"Ayah senang sekali, ayah rindu suara anak-anak tertawa dan menangis. Dulu ayah sangat senang jika kamu tertawa sambil berlari. Rasanya lelah yang ayah rasakan saat pulang dari Kalimantan sirna. Tapi ayah jadi sedih ketika ibumu membawamu pergi dan hanya meninggalkan secarik kertas." ucap pak Sugara dengan lirih.
Raut wajahnya kembali sedih, ada banyak kenangan yang dia tidak rasakan bersama anak satu-satunya itu.
"Aku akan sering mampir ke rumah ayah nanti bersama anak-anakku. Sekalian nanti ayah berkenalan dengan suamiku. Dia sangat baik, ayah." kata Anita.
"Baguslah, ayah berharap kamu mendapatkan laki-laki baik yang selalu menjaga dan membahagiakanmu. Ayah doakan semoga kamu selalu bahagia, nak." ucap pak Sugara dengan tulus.
"Amiin."
Kini saatnya makan siang, ibu Rima dan ibu Rika sudah menyiapkan makanan di meja makan, ibu Rika menghampiri suaminya dan anak sambungnya itu.
"Mas, ayo kita makan dulu. Anita, ayo bawa anakmu makan juga." kata ibu Rika.
"Oh ya nak. Mungkin budemu sudah memberi tahu kalau dia adalah istri ayah yang sekarang. Tapi ayah perlu memperkenalkan kamu dengan ibu sambungmu juga. Rika, dia anakku dan Anita itu ibumu. Terserah kamu mau memanggilnya apa, tapi hormati istri ayah yang telah merawat ayah selama sakit." kata pak Sugara memperkenalkan keduanya.
"Iya ayah, jangan khawatir. Aku tetap memanggilnya ibu juga." kata Anita.
"Terima kasih, nak." ucap ibu Rika dengan senyum mengembang.
ibu Rika menggandeng tangan anak sambungnya itu, dia senang karena Anita tidak mempermasalahkan pernikahannya dengan ayahnya karena permintaan sahabatnya ibu Yuni.
"Namanya siapa nih cucu kakek?" tanya pak Sugara pada cucunya.
Kevin menatap Anita yang sama menatap anaknya, Anita tersenyum dan menganggukkan kepala.
"Kevin jawab dong kalau di tanya kakek." kata Anita pada anaknya.
Kevin menatap kakeknya bingung, namun dia menjawab juga.
"Kevin, kakek." jawab Kevin malu-malu.
Pak Sugara tersenyum, dia memeluk Kevin dengan erat.
Tanya jawab masih berlanjut antara kakek dan cucu. Mulanya Kevin masih malu-malu, namun dia sekarang lebih berani memegang wajah pak Sugara yang mempunyai jenggot tebal dan sedikit berkumis. Persis karakter seorang kakek-lakek tua.
"Ayah kenapa tidak mencukur jenggot dan kumis ayah?" tanya Anita setelah mereka makan dan kembali duduk bersama.
"Ayahmu tidak mau, Anita. Dia bilang lebih mencirikan seorang kakek tua, suka katanya." ucap ibu Rika.
Anita tersenyum dan memandang ayahnya. Dia bahkan melihat pak Sugara lebih berwibawa dengan jenggot putihnya itu.
"Iya sih, lebih berwibawa dengan jenggot lebat dan sudah berwarna putih itu." kata Anita.
"Ayah sebenarnya ganteng, tapi sengaja jenggot di panjangkan agar tidak ada lagi yang naksir ayah." ucap pak Sugara.
Anita mencibir, dia menggelengkan kepala dengan kalimat-kalimat narsis ayahnya itu.
__ADS_1
Tidak terasa waktu berjalan dengan cepat. Anita dan pak Sugara harus berpisah lagi karena Anita juga harus pulang dan pak Sugara juga sore harus terapi lagi.
"Aku akan menemui ayah lagi nanti dengan suami dan anak-anakku, yah. Berikan alamat ayah di mana tinggalnya." kata Anita pada pak Sugara.
"Ayah kirim lewat pesan saja di ponselmu ya, tulis saja di ponsel ayah nomor kamu." kata pak Sugara menyerahkan ponsel keluaran lama itu, namun masih berfungsi baik.
Anita pun memgambil ponsel ayahnya dan mengetikkan nomor ponselnya, kemudian mendialing ke nomornya.
"Sudah aku simpan nomorku di ponsep ayah, dan juga nomor ayah juga sudah aku simpan." kata Anita.
"Terima kasih, nak. Maaf ayah tidak bisa lama-lama bertemu denganmu, karena ayah harus terapi." kata pak Sugara dengan sedihnya.
Dia masih ingin mengobrol dengan anaknya itu, namun ternyata jadwal terapinya di majukan.
"Ngga apa-apa yah, aku juga sudah senang bertemu ayah. Nanti aku datang ke rumah ayah, menjenguk ayah sekalian berkenalan dengan anak-anakku yang lain dan suamiku." kata Anita.
"Emm, suamimu bagaimana dengan ayah nak?" tanya pak Sugara ragu.
Dia takut suami anaknya tidak menerimanya dengan baik.
"Arga orangnya baik ayah, dia sudah pasti menerima ayah kok nantinya. Aku sudah menceritakan padanya." kata Anita menenangkan ayahnya.
"Ah, ayah hanya takut suamimu membenci ayah." kata pak Sugara.
"Tidak yah, dia terserah aku dan selalu mendukung apa yang aku lakukan."
Dan kini akhirnya mereka berpisah, Anita sengaja menunggu ayahnya pergi terlebih dahulu sebelum dia menunggu ojek lewat.
"Bude, terima kasih ya mau di tempati pertemuanku dengan ayah." kata Anita pada ibu Rima.
"Iya, Anita. Bude juga senang, bude yang meminta pertemuannya di rumah bude sama ayahmu. Bude takut nanti kalau kamu marah dan menolak ayahmu, kamu pergi dan tidak tahu jalan pulang karena keadaan marah sama ayahmu." ucap ibu Rima memberi alasan.
"Bude ini, aku kan sudah bilang akan menerima ayah dengan senang hati. Meski pun kesalahan ayah itu tidak bisa di maafkan oleh ibu sampai beliau meninggalnya. Cukup ibu yang membenci ayah karena kesalahannya menikah lagi tanpa sepengetahuan ibu. Ayah sudah di hukum sendiri oleh rasa bersalahnya, yang penting ayah tidak mengulanginya lagi dengan tante Rika." kata Anita dengan bijak.
"Kamu tidak mau memanggilnya ibu?"
"Tidak, aku tadi juga memanggilnya ibu kok bude."
Ibu Rima tersenyum, tentu saja dia tahu tadi waktu makan bersama Anita memanggilnya ibu. Tapi mungkin karena dia bingung harus memanggil apa jika tidak ada ibu Rika, karena jika memanggil ibu pasti pada ibu Yuni.
"Bude, aku pulang dulu ya. Sekali lagi aku menguacapkan terima kasih di rumah bude bertemu dengan ayah." kata Anita lagi.
"Iya, bude juga senang kok."
"Aku pulang dulu bude."
"Ya, hati-hati di jalan."
Anita pun menaiki ojek yang tadi lewat di depan rumah ibu Rima. Anita melambaikan tangannya, ibu Rima membalasnya.
Motor ojek pun melaju meninggalkan rumah ibu Rima. Ibu Rima tersenyum senang, dengan pertemuan tadi antara anak dan ayah menjadi hal yang mengharukan bagi semuanya. Baik Anita, pak Sugara, ibu Rika dan ibu Rima.
_
_
_
__ADS_1
❤❤❤❤❤❤