IKHLAS MELEPASMU

IKHLAS MELEPASMU
75.Marisa Sakit


__ADS_3

Setiap hari Marisa berharap Arga mengajaknya bicara dengan Celine tentang dirinya, dia sudah tidak sabar, sudah sebulan lebih Marisa di kampung itu.


Marisa tidak tahu kalau Arga sedang sibuk mempersiapkan kejutan untuk Anita, sehingga dia melupakan apa yang pernah di ucapkannya pada Marisa.


Hingga Marisa berinisiatif untuk meminta bantuan pada Anita. Tetapi sebelumnya dia harus menceritakan siapa sebenarnya mantan suaminya.


Karena sering memikirkan anaknya, Marisa sampai sakit dan tiga hari tidak keluar dari rumah kontrakannya.


Dering telepon berbunyi, dengan malas Marisa mengangkat telepon itu yang ternyata dari ibunya.


"Halo ma, ada apa?" tanya Marisa dengan suara lemahnya.


"Kamu lama sekali di kampungnya Marisa. Sedang apa kamu di sana?" tanya ibunya Marisa.


"Aku menunggu keputusan dari mas Arga, ma. Aku harus mendapat pengakuan dari Celine?" jawab Marisa.


"Marisa, sudahlah nak. Kamu sendiri yang salah meninggalkan dia di saat anakmu butuh asi kamu demi hidup dengan laki-laki brengsek itu." ucap ibunya Marisa.


"Tapi keinginanku cuma satu ma, hanya di akui oleh Celine kalau aku mamanya. Syukur-syukur mas Arga mau kembali padaku." ucap Marisa semakin melantur.


"Jangan mimpi Marisa, mama akan memperkenalkan kamu sama anak teman mama, dalam dua minggu kamu harus pulang nak." ucap ibunya Marisa di seberang sana.


"Ck, apa mama tidak merindukan cucu mama?" tanya Marisa kesal dengan mamanya.


Ibunya Marisa menghela nafas panjang, dia paham betul sifat anaknya. Jadi dia harus sabar terlebih dahulu.


"Baiklah, mama tunggu kamu tiga minggu. Jika masih belum pulang juga, mama akan menyusulmu."


Klik.


Sambungan telepon terputus. Marisa berdecak kesal, dia melempar ponselnya di kasur sebelahnya dia tidur.


Kepalanya sakit, seperti berputar. Apakah aku kurang darah lagi? pikir Marisa.


Dia akhirnya tertidur lagi setelah merasakan kepalanya berputar-putar.


_


Sudah empat hari Anita tidak melihat Marisa berkunjung ke rumahnya. Biasanya jika pulang dari mantan suaminya dia akan mampir ke rumah Anita, tapi sudah empat hari tidak datang. Ada apa ya?


Dan akhirnya Anita menghubungi Marisa, dia ingin tahu apakah Marisa baik-baik saja atau sudah pulang.


Tuuut


Belum terjawab telepon Anita, tapi tersambung. Sekali lagi Anita menghubungi, lama terhubung namun akhirnya di angkat juga.


"Halo, mbak Anita?" ucap Marisa sauranya terdengar lemah.


"Mbak Marisa baik-baik saja?" tanya Anita khawatir.


"Aku tidak baik-baik saja, mbak. Aku sakit." ucap Marisa.


Anita diam, jadi tidak datang ke rumahnya karena sakit? Apa sakitnya karena memikirkan anaknya dan mantan suaminya?


"Apa aku boleh berkunjung ke kontrakan mbak Marisa?" tanya Anita.


"Iya mbak, boleh."

__ADS_1


"Kirim alamatnya ya mbak."


"Iya."


Telepon terputus, Anita menunggu pesan singkat yang di kirim Marisa. Tak berapa lama, notif pesan masuk di ponsel Anita. Dengan segera Anita membuka pesan yang berisi alamat kontrakan Marisa.


Setelah di baca, Anita siap-siap pergi ke kontrakan Marisa berada. Dia juga membawa bekal untuk Marisa, siapa tahu dia belum memasak dan tidak bisa memasak. Jadi Anita bawakan bekal nasi dan lauk pauknya juga buah-buahan. Setelah semua siap, baru dia masukkan ke dalam jinjingan dan di letakkan di tengah motornya.


"Bu, aku mau menengok mbak Marisa dulu. Dia sedang sakit." kata Anita.


"Ya, hati-hati di jalan."


"Ya bu."


Anita melajukan motornya setelah menstarter mesin motornya. Dia agak cemas pada Marisa, dari suaranya di telepon terdengar sangat lemah. Dia harus cepat sampai, takut terjadi apa-apa dengan Marisa.


Setengah jam perjalanan, Anita sampai juga di depan kontrakan Marisa yang terlihat kecil rumahnya. Karena memang hanya sebentar dan cukup untuk sendiri saja.


Anita turun dari motornya dan mengambil bekal yang dia bawa untuk Marisa. Menuju pintu yang tertutup dan mengetuk pintunya.


Tok tok tok


"Mbak Marisa, apa masih di dalam?" tanya Anita.


Pintu terbuka, dia melihat Marisa dengan penampilan wajah kusam dan mata sayu serta rambut yang berantakan. Apa sebegitu kacaunya dia dengan penolakan mantan suaminya sampai dia seperti itu? pikir Anita.


"Masuk mbak, maaf berantakan tempatnya." kata Marisa, dia memegangi kepalanya yang masih terasa sakit.


"Terima kasih."


Anita masuk ke dalam, memang keadaannya sangat berantakan. Mungkin tidak di bersihkan beberapa hari, karena debu yang menempel di meja terlihat tebal sekali.


"Ini ada sedikit makanan mbak, barangkali mbak Marisa belum makan. Jadi saya bawakan makanan." ucap Anita.


Marisa tersenyum, dia menerima bekal itu dari tangan Anita. Tanpa sengaja matanya melihat cincin di jari manis Anita, senyumnya menghilang. Apakah mas Arga sudah bertunangan dengan Anita?


Marisa meletakkan bekal itu di sampingnya duduk. Dia masih memikirkan cincin yang melingkar di jari manis Anita, meliriknya tangan Anita.


"Mbak Marisa sakit apa?" tanya Anita.


Marisa menatap Anita datar, lalu menunduk. Meski kepalanya sudah agak mendingan, dia masih lemah.


"Sakit kepala mbak, mungkin terlalu sering memikirkan anakku dan mantan suamiku." jawab Marisa.


Anita diam, dia merasa kasihan pada Marisa.


"Sudah ke dokter mbak?" tanya Anita.


"Tidak usah, sebentar lagi juga sembuh." jawab Marisa.


"Emm, mbak Marisa sebenarnya mantan suami mbak tuh seperti apa? Apakah dia egois atau..." tanya Anita ragu.


Marisa menatap Anita, apa sebaiknya dia ceritakan saja?


"Tidak mbak, dia sangat baik. Kan saya sudah katakan kalau dia itu sangat baik. Mungkin karena saya yang salah jadi dia membenciku. Sampai saya tidak boleh mengakui anakku." ucap Marisa.


Anita diam, dia menunduk. Ingat akan Rendi yang egois dan memaksakan kehendak. Jika mantan suami Marisa seperti itu, dia kasihan juga.

__ADS_1


"Apa sebaiknya mbak Marisa kasih tahu keadaan mbak Marisa sekarang ini? Agar dia mau menjenguk mbak Marisa yang sedang sakit." usul Anita.


"Tidak mbak, dia tidak akan peduli denganku." tolak Marisa.


"Tapi kan mbak Marisa perlu pertolongan, setidaknya membawa mbak Marisa ke dokter dan menjaganya sampai sembuh. Saya yakin dia punya hati nurani." kata Anita lagi.


Kembali Marisa diam, dia menghela nafas panjang. Bukan karena tidak mau merepotkan, tapi dia ragu akan hal itu. Lalu Marisa menggelengkan kepalanya. Anita diam, dia ingin menolong Marisa.


"Mm, mantan suami mbak Marisa itu siapa? Barangkali saya bisa menghubunginya dan memberitahu padanya tentang mbak Marisa sedang sakit." ucap Anita.


Kali ini Marisa mendapatkan ide, dia menatap Anita lekat. Apakah dia akan memberitahu siapa mantan suaminya? Diam senejak.


"Dia seorang pengacara mbak, bekerja di bidang hukum dan sering membantu orang dalam perceraian dan membantu hukum tentang KDRT perempuan." ucap Marisa, dia menatap Anita yang terdiam kaku.


Deg


Apakah dia....?


"Namanya siapa mbak?" tanya Anita penasaran.


"Mas Arga." jawab Marisa.


Anita diam kaku, jadi Marisa adalah mantan Arga? Anita menunduk, dia seperti kehilangan kata-kata. Entah apa yang mau di katakannya lagi.


"Mbak Anita, saya sudah katakan pada mbak Anita kalau saya minta bantuan pada mbak Anita." kata Marisa memelas.


"Bantuan apa mbak?" tanya Anita, dia berharap Marisa tidak meminta yang tidak bisa dia lakukan pada Arga.


"Dekatkan aku dengan mantan suamiku itu, aku ingin dekat dengan mas Arga lagi dan anakku." kata Marisa kembali memelas.


Anita diam, dia tidak tahu harus bagaimana. Tapi dia heran, kenapa Marisa memintanya mendekatkannya pada Arga? Apa jangan-jangan Marisa tahu kalau dia dekat dengan Arga?


"Mbak Anita, aku mohon sama mbak. Aku ingin berubah, aku masih..." ucap Marisa.


Anita bingung, berarti waktu dia pergi jalan-jalan dengan Arga Marisa tahu. Dia ingat ibunya pernah bilang Marisa ke rumahnya dan pulang ketika dia baru sampai di rumah. Berarti Marisa tahu kalau dia dan Arga ada hubungan.


"Mbak Anita sudah janji dengan saya." ucap Marisa lagi.


"Iya mbak, saya coba bantu mbak Marisa dekat dengan Arga." kata Anita, dia sendiri bingung dengan Marisa.


"Terima kasih mbak." ucap Marisa.


"Mm, mbak Marisa memangnya mbak Marisa tahu Arga itu dekat dengan saya?"


"Saya tidak sengaja mbak Anita bicara dengan mas Arga, dia mantan suamiku mbak. Jadi saya pikir mbak Anita tahu mas Arga." ucap Marisa lagi.


Dia kini memegang kepalanya yang terasa pusing, dia pejamkan matanya membuat Anita panik. Dan perlahan, perlahan kepala Marisa melorot dan tertunduk ke samping.


"Mbak Marisa kenapa?" tanya Anita cemas.


Marisa diam, Anita menggoyangkan pundak Marisa tapi tidak di respon. Akhirnya Anita keluar dari rumah meminta bantuan tetangga untuk membawa Marisa ke klinik di dekat pasar.


Tanpa membuang waktu, Anita dan dua orang membawa Marisa ke klinik. Dia memesan becak yang mangkal di pasar untuk segera ke klinik, memeriksakan keadaan Marisa.


_


_

__ADS_1


_


❤❤❤❤❤❤


__ADS_2