IKHLAS MELEPASMU

IKHLAS MELEPASMU
42. Bujukan Rendi


__ADS_3

Sejak tadi malam, Anita tidak menanggapi telepon Arga dan juga tidak mau bicara pada Rendi. Sebelum dia memutuskan harus bersikap bagaimana pada keduanya.


Ibu Yuni sendiri merasa Anita sekarang lebih tegas pada kedua laki-laki itu. Bagaimana pun, dia juga bingung. Namun jika jadi Anita, pikir ibu Yuni, dia akan memilih Arga dan meninggalkan Rendi yang sudah menghianati dan menyakitinya.


Tapi balik lagi, memang ada anak-anak yang harus jadi pertimbangan. Di manapun dan siapapun tidak ada anak yang mau kedua orang tuanya berpisah.


Tapi bukankah ada pengganti yang siap membahagiakan anak-anaknya dan dirinya? Kenapa tidak di coba dulu?


"Bu, sebuah pernikahan itu bukan untuk coba-coba. Aku mencari pasangan untuk seumur hidup, bukan untuk coba-coba dan kalau tidak cocok di tengah jalan akan bercerai lagi. Lalu apa gunanya menikah dan hidup bersama?"


Begitu kata Anita ketika ibu Yuni memberi pendapat di coba dulu dengan Arga. Dia sendiri masih ragu dengan Arga, meski dia juga menyukai Arga. Tapi dia ingin tahu ketulusan Arga untuk menerimanya dan anak-anaknya.


"Mau lihat yang bagaimana lagi, Arga sudah membuktikan kalau dia tulus pada kamu, Anita." kata ibu Yuni.


Anita diam, untuk meyakinkan ibu Yuni memang mudah, tapi meyakinkan kedua anaknya. Ah tidak, Chiko itu perlu waktu panjang. Apa lagi Rendi seakan memanfaatkan Chiko untuk memuluskan niatnya untuk kembali padanya.


Anita tidak ingin kecewa dua kali, baik dari Arga ataupun dari Rendi yang pernah mengecewakannya dan menyakitinya.


Mudah bagi orang untuk mengatakan cinta, tapi bisakah dia menerima semua kekuarangannya dan kedua anaknya.


Anita juga perlu tahu kalau mantan istrinya Arga tidak kembali lagi pada Arga, seperti dirinya. Rendi tiba-tiba datang ketika dia ingin memutuskan akan memilih Arga suatu saat nanti.


_


Rendi kembali datang, namun dia datang waktu siang hari. Karena besok pagi dia akan pulang ke kota. Dia masih berharap Anita mau ikut dengannya. Atau kalau tidak dia menyusul ke kota.


"Apa aku tidak bisa mendapatkan kesempatan?" tanya Rendi ketika dia di beri waktu Anita untuk bicara padanya.


"Tidak mas, kamu boleh datang menjenguk anak-anak kok suatu saat nanti kapanpun." kata Anita.


Dia luluh, namum hatinya tetap tidak bisa menerima Rendi.


"Aku ingin bicara sama Chiko." kata Rendi.


Anita pikir Rendi hanya untuk berpamitan pada Chiko, namun dia salah. Justru Rendi ingin membujuk Anita melalui Chiko.


Rendi mendekat pada Chiko dan bicara dengan suara pelan. Karena di toko ada pelanggan, jadi Anita meninggalkan Rendi dan Chiko bicara.


Tak lama, Chiko mendekat pada Anita. Dia menempel terus dan menarik baju daster Anita. Anita yang sedang repot jadi terganggu dengan tingkah Chiko.


"Adek sebentar ya, mama ada pembeli." kata Anita.


Dia melayani pembeli menjadi lebih lama karena Chiko terus saja menarik bajunya.


"Maaa." teriak Chiko.


Tangan Chiko di tepis pelan agar jangan menarik bajunya lagi. Tapi Chiko malah menarik kasar bajunya hingga badan Anita sedikit oleng dan dia terkejut dengan sikap Chiko seperti itu.

__ADS_1


"Iko!" teriak Anita kesal.


Chiko menangis dan pergi dari hadapan Anita. Anita menyelesaikan melayani pelanggan dengan segera. Lalu dia mengejar Chiko yang menangis, bersembunyi di pangkuan Rendi.


Rendi menatap Anita tajam, dia tidak terima anaknya di bentak oleh Anita, sekali pun itu ibunya. Entahlah, jiwa kebapakannya keluar dalam keadaan seperti itu.


"Kenapa kamu membentak Chiko?" tanya Rendi.


Anita mendengus kesal, sejak bertemu dengan Rendi jiwa pembangkang Chiko muncul seiring Rendi sering datang ke rumahnya.


Anita lalu mendekat pada Chiko dan ingin mengambil Chiko yang masih berada di pangkuan Rendi.


"Adek, mama minta maaf ya tadi bentak adek." kata Anita dengan lembut.


"Ngga mau, mama bentak Iko tadi, hik hik hik." tolak Chiko dengan tangisannya.


Kembali Anita menghela nafas panjang, dia harus sabar menghadapi anak laki-lakinya itu. Apa lagi sekarang ada yang mendukungnya. Dia harus ekstra sabar.


"Ya kan tadi Iko ganggu mama sedang melayani pembeli, sayang. Jadi mama kaget tadi baju mama di tarik kencang sama Iko." kata Anita menjelaskan kesalahannya.


Chiko diam, dia merasa bersalah. Anita melirik Rendi dengan kesal, namun demikian dia tidak mau berdebat lagi dengan mantan suaminya itu.


"Adek Iko mau apa sampai tarik-tarik baju mama?" tanya Anita akhirnya.


"Iko mau ikut papa ke kota ma." jawab Chiko.


Sudah Anita duga, ini pasti akal-akalan Rendi. Dia diam sejenak lalu menarik anaknya itu dari pangkuan Rendi. Dia dudukkan di kursi sejajar dengan Chiko.


"Iya ma, sama mama juga saka kak Chila." ucap Chiko.


Anita menatap Rendi yang diam dengan tenang.


"Adek sama kaka bulan depan kan masuk sekolah. Nanti baju polisinya siapa yang pakai? Dodo?"


"Ih, jangan. Nanti di bawa aja ma baju polisinya. Jangan di kasih ke Dodo ma." rengek Chiko lagi.


" Ya udah, adek ikut aja sama papa ke kota. Kalau kak Chila mau juga boleh ikut." kata Anita menawarkan.


" iya ma?"


" Iya, tapi mama ngga bisa ikut." kata Anita.


"Kan Iko maunya sama mama juga."


"Mama ngga bisa sayang. Kalau Iko mau ikut papa ya, ikut aja." kata Anita pelan.


" Pokoknya mama harus ikut!"

__ADS_1


"Iko!"


Kali ini Anita tidak bisa lagi menahan kesalnya yang sejak tadi menggunung di benaknya karena tingkah Chiko berubah seperti itu.


"Hik hik hik!"


"Kamu apa salahnya sih mengalah sama anak sendiri. Jangan mementingkan egomu sendiri Anita." teriak Rendi, dia tidak terima Anita kembali membantak Chiko.


Rendi membentak Anita di depan Chiko, Anita kaget. Dia menatap Rendi dengan mata yang membesar karena marah padanya..


Anita melengos membuang muka, rasa kesal pada Rendi semakin menjadi. Namun dia masih bisa menahannya karena ada Chiko di depan mereka.


Kemudian Anita masuk ke dalam tokonya lagi. Dia tidak ambil pusing dengan rengekan Chiko tadi. Rendi mendekati Anita dan duduk di depan Aita, hanya meja panjang yang menghalangi keduanya.


Anita tidak menghiraukan Rendi yang duduk di depannya. Kembali dia menghitung pendapatan toko dari pagi hingga siang ini.


"Anita, apa kamu tidak kasihan sama anak kamu? Cobalah untuk memahami Chiko yang lama tidak pernah melihat kedua orang tuanya bersama. Hanya untuk kali ini saja." kata Rendi.


Anita menatap Rendi, dia tersenyum tipis padanya. Dan tawanya mengembang, dia merasa sangat lucu dengan ucapan Rendi tadi. Tak ada kata dari mulut Anita, namun tawa itu sudah menunjukkan kalau Rendi itu salah bicara padanya.


Dia malas menanggapi Rendi, lalu dia meneruskan menghitung laba toko yang tadi terganggu oleh ucapan Rendi.


"Anita, aku mohon cobalah ikut denganku demi anak-anak." kata Rendi.


"Apa mas? Demi anak-anak atau demi kamu?" Anita balik bertanya.


"Ya, demi anak-anak Anita." ucap Rendi agak gugup.


"Mas, tolong ya kalau kemauan kamu jangan mengatas namakan anak-anak. Aku sudah bilang berkali-kali sama kamu mas, aku ngga mau." kata Anita lagi.


Rendi diam, lalu dia pergi dari hadapan Anita dengan raut kecewa di wajahnya.


Anita menghela nafas panjang, sampai kapanpun Anita tetap pada pendirinanya.


Rendi pun berpamitan pada Chiko kalau dia akan pulang ke motel. Besok pagi sebelum pulang ke kota, dia kembali lagi untuk berpamitan pada Chiko dan Chila untuk waktu yang lama.


Anita tidak mau menemui Rendi, dia juga besok kesini lagi Pikir Anita.


"Papaaa!!"


Teriakan Chiko membuat Anita kaget, dia langsung menghampiri Chiko yang sedang memeluk Rendi dengan erat, tidak merelakan papanya pergi.


Ck, drama sinetron berlangsung. Anita melengos kesal, dia masuk lagi ke dalam tokonya. Tak peduli Chiko berteriak lagi dan menangis mengiba Rendi jangan pergi.


_


_

__ADS_1


_


❤❤❤❤❤❤❤


__ADS_2