
Arga memberi tahu Anita untuk segera ke rumah sakit, Anita sendiri merasa cemas. Pikirannya kalut dengan telepon dari Arga agar dirinya segera ke rumah sakit. Meski tidak di beritahu tentang keadaan ibunya, namun Anita mempunyai firasat tidak baik dengan kabar ibunya.
"Bi, tolong jaga anak-anak ya. Aku harus segera ke rumah sakit. Arga tadi menelepon aku harus segera ke rumah sakit." ucap Anita pada pembantunya itu.
"Iya nyonya, saya akan menjaga anak-anak di rumah." kata bibi.
"Oh ya, jika anak-anak sekolah Tolong antarkan ya, naik taksi aja, aku tidak bisa mengantar anak-anak Apa lagi suamiku. Aku cemas dengan ibu di rumah sakit." ucap Anita lagi.
"Nyonya jangan khawatir, nanti anak-anak bibi yang antar ke sekolah." kata pembantunya itu.
Lalu Anita segera ke rumah sakit dengan naik taksi. Bibi pembantu itu merasa kasihan dengan majikan perempuannya itu, sejak dia bekerja di rumah Anita. Anita yang paling sibuk dan repot dengan keadaan di rumah. Juga ketika mertuanya meninggal Anita juga yang lebih repot karena ibunya dan suaminya sedih yang berkepanjangan karena meninggalnya ibu Ema.
Dan sekarang, dia harus repot lagi dengan ibu Yuni yang di rawat di rumah sakit tanpa ada perkembangan yang bagus. Kini Anita mendapat telepon untuk segera ke rumah sakit, apakah ada kabar sedih lagi? pikirnya.
"Hwuaaa, mama..!" teriak Kevin sambil menangis.
Dia keluar dari kamarnya. Bibi segera naik ke atas untuk menenangkan anak bungsu Anita dan Arga.
"Eh, den Kevin kenapa menangis?" tanyanya sambil menarik dan menggendong Kevin.
"Mama, bi. Mama mana?" tanya Kevin masih menangis.
"Mama ke rumah sakit, den. Ayo kita mandi saja ya, sebelum abang Angga bangun. Den Kevin udah mandi." ucap bibi.
Kevin mengangguk, lalu dia mengikuti bibi untuk pergi ke kamar mandi.
_
Anita masih di dalam mobil taksi rasa gelisah di hatinya belum juga hilang. Semalam dia bermimpi dengan ibunya, ibu Yuni tersenyum dalam mimpinya tanpa mengucapkan sepatah kata apapun.
"Mas, stop ya." ucap Anita tidak sabar.
"Sebentar lagi bu, tidak apa-apa?" tanya supirnya merasa tidak enak.
"Ngga apa-apa di sini aja. Aku ngga sabar sampai di rumah sakit." ucap Anita.
Dia menyerahkan selembar uang lima puluh ribu untuk pembayaran taksinya.
Lalu dia bergegas melangkah menuju gerbang rumah sakit yang berjarak lima puluh meter saja dari dia berhenti mobil taksinya.
Anita masuk dan mengatakan pada satpam yang berjaga di pintu gerbang bahwa dia adalah pengunjung yang menjenguk pasien di rumah sakit.
Dia berlari masuk ke lorong-loronv rumah sakit, hatinya tambah gelisah ketika Arga kembali meneleponnya. Air matanya mengalir deras, isakan tangisnya semakin terdengar. Orang-orang yang melihatnya aneh dia abaikan.
Semakin dekat di kamar ibu Yuni, Anita semakin kencang isakannya. Arga sendiri sudah berdiri di depan pintu menyambut istrinya yang berlari kecil ke arahnya.
__ADS_1
"Sayang, kamu sudah datang?" tanya Arga menyongsong istrinya yang menangis sejak di masuk lorong rawat inap.
"Ga, ibu kenapa?" tanya Anita, dia panik dan cemas.
"Ayo masuk dulu, kamu lihat sendiri keadaan ibu." ucap Arga membimbing istrinya.
Anita segera masuk dan melepaskan tangan Arga dari pinggangnya. Dia mendekat di bangsal ibu Yuni yang masih memejamkan matanya.
"Ibuuu!" teriak Anita menempelkan kepalanya di dada ibu Yuni.
Dia memegang tangan ibunya, terasa dingin dan terlihat wajahnya memucat. Anita kembali terisak, dia menatap wajah ibunya. Ada wajah tenang di sana, Anita melihat wajah ibunya seperti tersenyum padanya sekilas lalu diam lagi.
Dan hembusan nafas terakhir Anita rasakan di tangannya ketika memegang wajah ibunya. Dia diam, lalu tiba-tiba Anita kembali terisak dan berteriak memanggil ibunya.
"Ibuuu!"
Arga mendekat, dia memeluk istrinya yang menangis dan menjerit memanggil ibunya.
"Sayang, jangan begini. Ibu akan sedih jika kamu menangis terus." ucap Arga menenangkan istrinya.
"Ibu Ga, ibu kenapa begini?" tanya Anita pada suaminya itu.
"Ibu sedang tidur sayang, jangan khawatirkan ibu." kata Arga lagi, dia mengelus pundak istrinya.
Kini dia menunduk, kembali memeluk ibunya. Arga tahu ibu mertuanya sudah tidak bernyawa, dia juga sedih. Namun untuk menenangkan istrinya dia berkata seperti itu.
"Ibu sudah pergi, Ga. Kamu jangan bohonh padaku, hik hik hik." ucap Anita.
Dalam pelukannya pada ibunya, air mata mengalir dan isakan tangis tanpa suara. Anita menangsi dengan tenang. Dia kini bisa menerima ibunya sudah tiada.
Lalu Anita melepas pelukannya pada tubuh ibu Yuni. Kini dua perawat mendekat untuk mengambil semua alat medis yang menempel di tubuh ibu Yuni.
Anita dan Arga keluar dari kamar, dia juga menunggu petugas untuk merapikan ibu Yuni. Persiapan untuk di bawa ke rumah duka.
"Sayang, apa ibu harus di bawa ke rumah dulu?" tanya Arga pada istrinya yang diam.
"Langsung saja di bawa ke pemakaman, Ga." ucap Anita.
"Nanti saudara ibu ingin melihat ibu yang terakhir kali bagaimana?" tanya Arga.
Anita diam, dia sebenarnya ingin menunggu di rumah. Namun dia pernah bercerita dengan ibunya dulu, jika ibunya lebih dulu meninggal maka langsung saja di kebumikan.
"Anak-anak juga ingin melihat eyangnya yang terakhir kalinya, sayang. Apa kamu keberatan itu?" tanya Arga yang sepertinya tidak setuju dengan keputusan Anita.
Anita diam, dia berpikir memang seharusnya begitu. Tapi apakah dia juga harus mengabaikan pesan terakhir ibunya?
__ADS_1
"Ibu pernah bilang jika meninggal harus langsung di kebumikan saja. Aku tidak tahu harus bagaimana, Ga. Tapi apakah mengabaikan permintaan orang meninggal seperti itu bagus?" tanya Anita.
"Tapi anak-anak juga ingin melihat wajah eyangnya yang terakhir. Mereka terakhir bertemu sebelum liburan ke vila, mereka pasti menanyakan eyangnya kenapa tidak melihat untuk yang terakhir kalinya, sayang." ucap Arga lagi, berusaha memberi pendapat agar Anita mau membawa jenazah ibunya ke rumah dulu.
Anita bingung, dia juga ingin seperti itu. Tapi apakah itu tidak mau menuruti kemauan ibunya?
"Pak, jenazah sudah rapi. Bagaimana? Apakah harus di bawa langsung ke peristirahatan terakhir atau ke rumah duka dulu?" tanya petugas.
"Saya sedang diskusi dulu dengan istri saya, pak. Setengah jam lagi saya bicarakan lagi." kata Arga.
"Ya sudah, ke rumah saja Ga. Tapi jangan terlalu lama. Saudara ibu juga segera di hubungi, jika ingin melihat ibu harus secepatnya." kata Anita.
"Ya sayang, kita hubungi keluarga ibu di sana." ucap Arga.
Lalu Arga memberitahu seluruh keluarga dan kerabat serta rekan kerjanya, mengabarkan kalau ibu mertuanya telah berpulang dan akan di kebumikan secepatnya setelah di semayamkan di rumah duka sebentar.
Setelah menghubungi semua saudara dan rekan kerja, Arga memberi tahu petugas untuk di bawa ke rumah duka saja. Dan dua juga memberi tahu pada petugas penjaga pemakaman yang dulu pernah menangani pemakaman ibunya.
"Sayang, kamu mau ikut ke mobil ambulans atau denganku?" tanya Arga.
"Aku ikut mobil ambulans, Ga. Kasihan ibu sendiri di sana. Aku ingin pusa melihat ibu sebelum di kebumikan." ucap Anita.
Arga menatap istrinya lembut, dia melihat Anita begitu tegar. Mungkin dia sering melihat di hadapannya orang-orang yang dia sayang meninggal.
Lalu Arga memeluk istrinya sebelum mereka berpisah dengan mobil berbeda.
"Aku benar-benar salut sama kamu, sayang. Begitu kuat dan tabah menghadapi semua cobaan hidup ini. Aku sayang sama kamu, tetaplah tegar ya." ucap Arga pada Anita dalam pelukannya.
Anita mengeratkan pelukannya pada suaminya, air matanya mengalir. Menetes di baju suaminya, Arga merasakan tetesan hangat air mata Anita.
"Aku kuat karena kamu, Ga. Semuanya entah akan seperti apa jika tidak ada kamu, hik hik hik." ucap Anita dalam tangisannya.
"Iya sayang, aku akan selalu menguatkanmu dan menjadi tempat keluh kesahmu. Kamu yang sabar ya memghadapiku." ucap Arga.
Entah kenapa mereka jadi saling mencurahkan isi hati masing-masing.
Lama mereka berpelukan sebelum Anita ikut ke dalam mobil jenazah yang akan membawa ibunya ke rumahnya. Dia juga memberi tahu pembantunya untuk meminta izin pada gurunya dan pulang ke rumah segera.
_
_
_
❤❤❤❤❤❤❤
__ADS_1