
Pukul sepuluh tiga puluh, sekolah Angga sudah bubar. Anita segera menyongsong anaknya yang sudah berhambur keluar pagar sekolah. Angga tertawa senang, dia memeluk Anita dan bercerita banyak tentang pelajaran di kelasnya.
Ada cerita lucu di kelas Angga yang dia ceritakan dengan antusias pada Anita. Anita menanggapi dengan senyum dan sesekali menimpali apanyang di katakan Angga.
"Tadi ibu guru bilang, abang harus belajar mewarnai gambar ma." ucap Angga pada Anita.
"Oh ya? Kakak mewarnainya masih suka asal ya?" tanya Anita.
"Hehe, iya ma." jawab Angga sambil tertawa malu.
"Ma, adek pin mo blajal." ucap Kevin.
"Iya sayang, nanti malam belajar sama mama sama abang Angga juga ya." ucap Anita.
"Iya."
Lalu Anita menunggu taksi lewat. Dan tak berapa lama, mobil taksi lewat, Anita menyetopnya. Mobil berhenti, tapi supir taksi tidak seperti biasanya. Tapi Anita tetap nail juga, meski dia sedikit takut.
"Mau kemana bu?" tanya supir itu.
"Ke Sekolah SD dekat kecamatan ya, nanti nunggu sebentar dan lanjut ke daerah Lebak." ucap Anita.
"Iya."
Mobil melaju dengan cepat, Anita masih tenang. Dia menatap jalan raya dengan seksama. Setengah jam mobil berhenti di depan sekolah dasar yang di maksud. Di sana Ketiga anaknya sudah menunggu Anita.
Anita melambaikan tangannya pada ketiga anak-anaknya, dan mereka pun berlari menuju mobil yang di tumpangi Anita.
Pintu belakang terbuka dan masuklah ketiganya, Anita pindah duduknya di samping supir. Supir itu menatap Anita dengan tatapan tidak enak di lihat Anita. Dia menyesal telah pindah duduk.
"Ayo jalan bang." ucap Anita.
Supir pun menjalankan mobilnya, mulanya dia menjalankan mobilnya dengan kecepatann sedang. Namun sekarang malah lebih lambat. Ada jalan untuk menyalip, si supir tidak menyalipnya. Anita gelisah, sedangkan di belakang masih terdengar celoteh anak-anaknya.
"Bang, bisa cepat ngga jalannya?" tanya Anita.
"Di depan padat bu mobilnya, jadi harus merayap jalannya." ucap supirnya.
Anita melihat argo berjalan cepat meski jalan mobilnya lambat. Dia takut uang yang ada di dalam tasnya tidak cukup. Anita melihat tasnya, hanya ada seratus lima puluh ribu.
"Bang, bisa mampir ke ATM ngga?" tanya Anita lagi.
"Tidak bisa bu, ini kan di tengah jalan."
"Tapi saya harus ambil uang dulu di ATM untuk membayar argonya."
"Tenang saja bu, jangan khawatir." ucap supir itu lagi.
Kini sang supir melajukan mobilnya dengan cepat, Anita semakin takut dia mengambil ponselnya dan hendak menghubungi suaminya. Tapi mobil sengaja di belokkan ke kanan agar Anita tidak bisa menelepon.
"Bang, yang pelan jalannya." pinta Anita kesal.
"Mama, aku takut." ucap Celine.
Anita menengok ke belakang, di melihat ke empat anaknya ketakutan karena mobil melaju dengan kencang.
__ADS_1
"Stop bang, saya sampai di sini saja naik mobilnya." ucap Anita tegas.
"Lho, katanya sampai di Lebak bu?" kata si sopir.
Anita melihat argo, tertera sekitar seratus empat puluh lima.
"Sudah, sampai di sini saja."
"Di sini sepi bu, nanti ada begal lho." ucap supir menakuti Anita.
Tapi Anita tidak peduli, yang penting dia cepat turun dari mobil taksi itu. Dia berpikir nanti naik taksi lagi jika lewat.
Setelah turun semua, Anita membayar taksi sesuai argo tadi. Beruntung sekali dia bisa turun. Tapi dia tidak sadar kalau dia berhenti di tempat yang sepi dan jarang mobil lewar, apa lagi rumah penduduk sudah sangat jarang.
"Ma, kapan sampai rumah?" tanya Chiko.
"Sebentar ya sayang, mama telepon papa dulu." jawab Anita.
Tuuut
Tersambung, namun belum di jawab Anita. Sekali lagi Anita memanggil ke ponsel Arga, tetap tidak di angkat.
"Ma, lapar." kali ini Angga merengek.
Anita memutuskan sambungan teleponnya, dia hanya menulis pesan pada Arga. Memberi tahu posisinya sekarang di mana.
"Ayo kita beli cemilan dulu ya." ajak Anita.
Mereka pun berjalan di sisi jalan yang sepi itu. Kevin di gendong oleh Anita, yang lain berjalan di samping dan depan Anita. Rasa lelah dan haus di rasakan Anita juga. Sudah setengah jam mereka berjalan, tapi belum ada penjual ataupun rumah penduduk.
Satu jam berjalan, Angga sejak tadi merengek kehausan dan kelaparan. Celine dan kedua kakaknya juga sudah merasa lelah dan haus. Beruntung setelah satu jam berjalan, mereka menemukan warung kecil di pinggir jalan.
Anita dan anak-anaknya mampir di warung itu, mereka langsung meminta beli air mineral atau membeli cemilan. Anita melihat lagi tasnya, ternyata hanya ada sepuluh ribu.
Menatap Chila dan Chiko, dia lupa mengambil uang tunai di ATM.
"Kak, uang jajan kakak masih ada ngga?" tanya Anita pada Chila.
"Masih ma, sepuluh ribu." jawab Chila dan mengeluarkan uang di saku bajunya.
"Abang uang jajannya masih?" tanya Anita pada Chiko.
"Masih lima ribu ma." jawab Chiko.
"Kakak Celine masih berapa?" tanya Anita pada Celine.
"Sama kayak kakak Chila, sepuluh ribu ma. Buat apa ma?" tanya Celine.
"Mama pinjam ya, nanti di rumah di ganti. Uangnya buat bayar beli es dan cemilan. Katanya kalian lapar, beli cemilan aja ya." ucap Anita.
Mereka bertiga mengangguk, lalu menyerahkan uang di saku bajunya. Lumayanlah ada tiga puluh lima ribu untuk membeli air mineral dan cemilan biskuit atau roti untuk mengganjal perut anak-anaknya.
Semua tampak senang karena perutnya sudah terisi cemilan dan air mineral. Anita pun hanya mencicipi sedikit roti, sebagian dia berikan pada Kevin yang juga kelaparan.
Anita melihat jam di warung, menunjukkan pukul dua tiga puluh. Dia mendesah, kembali dia mengambil ponselnya dan kembali menghubungi Arga.
__ADS_1
Tapi Arga tidak juga menjawab, Anita mencoba lagi Tapi lagi-lagi tidak di angkat. Anita kesal, dia mendengus kasar.
Tak lama, ponsel Anita berdering dari ibunya. Lama Anita menjawabnya, bingung jika menjawab jujur pasti ibunya kepikiran. Dan itu membuat pikiran ibunya bekerja lebih keras dan akhirnya tensinya naik kembali.
"Halo bu, ada apa?" tanya Anita.
"Kamu kok belum pulang?" tanya ibu Yuni.
"Ini lagi di jalan bu, sebentar lagi sampai kok." ucap Anita.
"Ibu cemas kamu belum pulang, ibu di rumah sendirian saja dengan pembantu." ucap ibu Yuni lagi.
"Iya bu, saya sedang di mobil."
Lalu sambungan telepon terputus karena ponsep Anita lowbet. Anita menggeerutu, dia benar- benar sial hari ini. Bagaimana bisa menghubungi suaminya lagi.
"Bu, apa butuh bantuan?" tanya yang punya warung.
"Ah, iya pak. Saya mau menghubungi suamiku tapi tidal bisa karena mati ponselnya." jawab Anita.
"Ibu bisa pakai ponsel saya. Sebentar saya ambil dulu."
Lalu bapak tukang warung itu masuk ke dalam mengambil ponselnya. Kemudian tak lama, bapak itu keluar membawa ponselnya yang sudah jadul. Tapi tidak masalah, yang penting dia bisa menghubungi suaminya.
Dan panggilan tersambung, tapi tetap saja tidak di angkat. Anita mengembalikan ponsel bapak penjaga warung, percuma menghubungi dengan nomor tidak di kenal, karena di pastikan Arga tidak akan menjawabnya.
Kini Anita pasrah, entah akan datang bantuan dari mana lagi. Yang jelas setelah beriatirahat dia akan berjalan lagi mencari ATM untuk mengambil uang. Jika ada uang pasti bisa pulang dengan cepat.
"Anak-anak kalau sudah selesai, kita teruskan lagi jalannya ya. Mama harus ke ATM dulu ambil uang untuk bayar ongkos mobil." ucap Anita.
Semua tampak mengangguk, meski kelihatan sekali rasa lelah dan capek dari wajah ke empat anaknya.
Setelah membayar minuman dan cemilan, Anita mengajak anaknya kembali untuk jalan kaki sampai di pasar yang entah ada di mana.
Sekarang sudah pukul tiga sore, masih berjalan. Meski lelah, namun Anita memberi semangat agar mereka tidak mengeluh terus karena capek berjalan sejak tadi.
Dan akhirnya Anita menemukan sebuah ATM milik pemerintah, Anita lega. Dan juga melihat banyak sekali angkot yang sedang mengetem.
"Ayo ke ATM, kakak Chila ajak adik-adiknya cepat ya. Mama ambil uang dan kita langsung naik angkot saja." ucap Anita.
"Iya ma." jawab Chila.
Lalu Chila menarik Angga yang sudah ogah-ogahan untuk jalan lagi, tapi tetap di paksa jalan karena di depan ATM ada kursi untuk duduk.
Anita masuk ke bilik ATM, dia mengambil satu juta terlebih dahulu untuk pegangan. Setelah selesai dia keluar lagi dan mengajak anak-anaknya menuju angkot yang sedang mengetem.
Akhirnya mereka bisa pulang ke rumah juga, meski sempat kesasar oleh ulah supir taksi yang tidak bertanggung jawab.
Anita menyewa satu angkot untuk membawanya dan anak-anaknya pulang, tidak masalah habis beberapa ratus ribu. Yang terpenting mereka bisa cepat pulang.
_
_
_
__ADS_1
❤❤❤❤❤❤❤❤