
Chiko duduk di kursi taman sedang bermain mobil-mobilan yang pernah Rendi belikan padanya. Kedua kakinya di goyangkan ke depan dan ke belakang, dia duduk di taman menunggu papanya datang.
Dia mendapat cerita dari Anita kalau Rendi akan datang di taman menemuinya. Chiko senang, dia juga menunggu Chila yang sedang membelikan es krim untuknya di warung dekat taman.
"Kak Chila lama banget sih beli es krimnya." ucap Chiko sambil memainkan mobilnya di kursi, dengan menirukan suara mobil maju mundur.
"Breem, breeem, breeeem."
Suara Chiko menirukan suara mobil. Chila mendekat, menyodorkan es krim yang tadi di mintanya.
"Papa belum kesini dek?" tanya Chila pada Chiko.
"Belum kak, kata mama papa suka telat karena macet di jalan mobilnya." kata Chiko.
Mereka kini sedang makan es krim dengan nikmat, saat Rendi datang menghampiri mereka di taman.
"Halo kakak, sama adek. Lagi apa?" tanya Rendi.
Dia tersenyum pada kedua anaknya dengan wajah cerianya. Chila dan Chiko hanya menatap heran pada Rendi, kenapa papanya agak berbeda?
"Kakak Chila, adek Iko. Ada apa melihat papa seperti itu?" tanya Rendi pada kedua bocah itu.
"Papa kenapa pakai baju putih semua?" tanya Chiko heran.
Rendi tersenyum, dia lalu duduk di antara keduanya. Merangkul pundak keduanya, mencium kepala mereka secara bergantian.
"Papa senang pakai baju putih ini. Terlihat ganteng kan?" tanya Rendi sambil tertawa.
Chila tersenyum dan Chiko nampak memperhatikan Rendi, memang papanya terlihat ganteng di mata Chiko.
"Iya, papa ganteng pakai baju putih." kata Chiko senyum-senyum sendiri.
"Katanya papa mau ajak jalan-jalan kita, pa?" tanya Chila.
"Iya, tapi di taman ini aja ya. Di sini juga bagus dan indah. Papa mau bicara sama kakak Chila dan adek Iko." kata Rendi, membelai kepala keduanya.
Chila menatap papanya dan matanya berkeliling melihat taman yang memang sangat indah. Chiko mengikuti kemana arah mata Chila menetap.
Di sebiah gazebo besar, mereka ingin duduk di sana dengan Rendi.
"Pa, ayo kita duduk di sana pa." kata Chiko.
"Papa di sini saja. Papa suka duduk di kursi taman ini." kata Rendi.
Chila menatap Rendi dengan seksama, ada raut wajah damai di senyumannya.
"Kakak, adek papa minta kalian jangan suka membantah mama kalian ya. Jangan buat mama kerepotan seperti papa." kata Rendi.
"Iya pa."
"Nanti papa tidak akan datang lagi menjenguk kalian." kata Rendi lagi dengan nada berat.
"Memangnya papa mau kemana?" tanya Chiko.
"Pergi jauh dek."
"Pergi kemana pa?"
__ADS_1
"Pokoknya pergi jauh, biar mama kalian bahagia."
"Papa jangan bicara seperti itu. Mama senag kok papa datang, tapi papa jangan suka pukul mama." ucap Chiko.
"Papa minta maaf sayang. Hik hik hik.."
"Pa, kakak sebenarnya sayang sama papa. Hik hik hik."
Rendi merangkul pundak Chila yang menangis. Rasa kerinduan yang Chila rasakan hanya di dalam hati karena kecewa Rendi sering sekali ingkar janji. Tapi di dalam lubuk hatinya paling dalam, dia sangat merindukan Rendi dan menyayanginya.
"Terima kasih, kak. Papa senang kakak jujur. Papa juga sayang sama kakak Chila dan adek Iko." kata Rendi terbata, dia menangis pelan.
"Tapi kenapa papa mau pergi?" tanya Chiko ikut menangis.
Rendi menghapus air matanya dan merangkul Chiko juga.
"Karena papa harus pergi." kata Rendi lagi.
"Iko ikut pa, kita nanti main sama-sama." kata Chiko.
"Ngga bisa sayang, papa harus pergi sendirian." kata Rendi.
"Papa jahat!"
"Tapi nanti kakak sama adek boleh kok menjenguk papa nanti di sana."
"Ngga mau!"
"Adek, jangan begitu. Dengarkan papa, adek sama kakak harus jaga mama agar tidak sedih lagi. Mama pasti sedih kalau kalian nakal dan ngga nurut." kata Rendi.
Kini Chiko berhenti menangis, dia memeluk Rendi dengan erat. Chila pun sama, ketiganya saling berangkulan kembali.
Dan Rendi berhenti, menatap keduanya dengan sedih harus berpisah dengan mereka.
Kini Rendi pergi selagi Chila dan Chiko sedang asyik berkejaran kesana kemari. Mengejar kupu-kupu yang terbang kian kemari.
Sekali lagi, Rendi tersenyum pada kedua bocah yang masih tidak sadar Rendi semakin menjauh dari kedua anaknya.
Dia melambai tangan, meski keduanya tidak sadar Rendi menjauh. Baru setelah mereka seperti tidak menemukan papanya, mereka berhenti berlari.
"Kak, papa mana?" tanya Chiko.
Mata Chila berkeliling, dia mencari papanya. Dan di ujung jalan Rendi pergi menjauh tanpa menengok pada Chila dan Chiko.
Chila berlari di ikuti Chiko yang menangis Rendi semakin menjauh.
"Papa, papa.....!" teriak Chiko
Dia terus memanggil Rendi, namun Rendi tidak menengok ke belalang juga.
"Papa.!!"
Suara teriakan Chiko terdengar dari dalam kamar Anita. Anita yang sejak tadi terduduk karena terbangun dari mimpi anehnya tadi, kini dia bergegas keluar kamarnya dan masuk ke dalam kamar Chila dan Chiko.
Dia tergopoh, mendorong pintu kamar yang tidak pernah di kunci itu. Dia melihat Chiko sedang meraih sesuatu ke atas sambil menangis.
Sedangkan Chila meringkuk sambil menangis juga. Anita menatap keduanya dengan heran, ada apa dengan mereka?
__ADS_1
"Kakak, adek kenapa kalian menangis?" tanya Anita mendekat pada kedua anak itu yang menangis sesunggukkan.
"Ma, papa pergi ma." kata Chiko masih menangis sedih.
Anita heran, ada apa dengan kedua anaknya itu. Apa mereka bermimpi buruk? pikir Anita.
Dia kemudian mendekat dan memeluk keduanya, mencoba memberikan ketengangan dan menceritakan mimpi apa mereka berdua.
Setelah tenang, keduanya menghapus air matanya dan duduk dengan sempurna. Bersila menghadap Anita.
"Coba adek ceritakan, adek mimpi apa tadi?" tanya Anita.
Lalu Chiko mencetitakan dia dan Chila bertemy Rendi di taman, mengajaknya bermain dan tertawa. Sampai pada keduanya asyik bermain lari-lari, Rendi malah pergi menjauh. Chila dan Chiko memanggil papanya, tapi Rendi tidak menengok apa lagi kembalu.
"Papa pergi ma, Iko ngga mau papa pergi." kata Chiko.
Dia memeluk Anita erat sekali. Anita kaget dan heran, apakah itu firasat buruk?
Mimpinya dan mimpi kedua anaknya itu hampir saka, namun dia tidak tahu siapa laki-laki yang ada di mimpinya. Apakah memang Rendi?
Tiba-tiba saja hati Anita gelisah, dia tidak tahu kenapa hatinya gelisah. Tapi dia mencoba menenangkan sendiri hatinya yang gelisah itu.
Kedua anaknya dia suruh tidur kembali karena malam masih larut, masih pukul dua dini hari.
"Kakak sama adek tidur lagi ya, ini masih malam. Paginya masih lama." kata Anita.
"Tapi kakak ngga bisa tidur ma." kata Chila.
"Di coba kak, kakak nanti di sekolahnya ngantuk lho kalau ngga tidur lagi." kata Anita.
Chila diam, dia lalu mengangguk pelan, di susul Chiko kembali ke kasurnya lagi.
"Tapi mama jangan dulu keluar ya, kakak takut." pinta Chila lagi.
"Iya kak, mama tunggu kalian tidur lagi." jawab Anita.
Mereka akhirnya kembali ke kasurnya, kembali mencoba memejamkan mata. Satu menit masih belum bisa, lima menit mata Chila dan Chiko masih berkedip-kedip.
Dan di menit ke sepuluh, mereka akhirnya tidur kembali. Anita memandang keduanya bergantian, lalu menghela nafas panjang.
Dia sebenarnya tidak bisa tidur, memikirkan mimoinya dan mimpi Chiko dan Chila. Kenapa bisa berbarengan seperti itu.
Apakah Rendi sedang butuh pertolongan?
Anita kembali ke kamarnya dengan hati-hati. Sekali lagi menatap keduanya bergantian dari pintu kamar, lalu dia keluar dan menutup pintu pelan. Dia menuju meja makan, mengambil air minum tenggorokannya terasa kering.
Dia menuangkan air dari kendi, terasa sejuk sekali satu gelas habis lewat di tenggorokan dan sampai ke lambungnya. Dia letakkan kembali gelas yang sudah kosong isinya.
Kembali Anita merenung tentang mimpinya, apakah dia harus benar-benar memaafkan Rendi? Setidaknya di dalam mimpi itu, laki-laki yang di jumpainya itu memanggilnya dan meminta maaf padanya.
Anita sendiri heran, siapa laki-laki itu awalnya. Namun jika di sambungkan dengan mimpi Chila dan Chiko sangat terhubung oleh keduanya.
Dia menghela nafas panjang, mulutnya menguap. Lalu tanpa menunggu lagi dia menuju kamarnya untuk meneruskan tidurnya yang tadi terganggu oleh mimpi anehnya dan mimpi kedua anak kembarnya.
_
_
__ADS_1
_
❤❤❤❤❤❤❤