
Melihat hasil dari photoshoot Aka dan Alodie palsu pun merasa puas dengan hasilnya. Namun mereka harus menunggu jika ingin melihat hasil jadi syuting iklan tadi.
"Mas, kamu mau langsung pulang atau mampir ke kantor dulu? tanya Alodie palsu.
Aka melihat jam di pergelangan tangannya. "Masih ada waktu, aku ke kantor sebentar kayaknya."
"Aku izin boleh nggak?"
"Kemana?
"Mau pergi sebentar sama teman aku. Dia lagi otw ke sini nanti aku kenalin."
Aka mengangguk setuju.
Tak berapa lama Ciara sampai di lokasi yang di kirim Alodie palsu lewat aplikasi chating.
"Udah beres syutingnya?" tanya Ciara menghampiri Alodie palsu.
"Udah, oh ya sebentar aku kenalin dulu sama mas Aka," kata Alodie palsu mencari suaminya.
Ciara sebenarnya agak malu untuk bertemu Aka. Sebab dulu mereka pernah bertemu dan Ciara lah yang menawarkan Fathia pada Aka jadi agak nggak enak gitu rasanya.
"Ci, kenalin ini Mas Aka," seru Alodie palsu.
Fathia sendiri lupa kalau Ciara dan Aka pernah bertemu di club Joe.
"Hai, Ciara," katanya tersenyum canggung.
"Aka," balasnya biasa saja. Mungkin Aka sudah melupakan kejadian dulu.
"Aku sama Ciara pergi dulu ya, cuma sebentar.Nanti aku langsung pulang kerumah," izin Alodie palsu.
"Hati-hati," ujar Aka mencium kening istrinya.
🥒🥒🥒🥒
"Kenapa canggung gitu ketemu Mas Aka?" tanya Alodie palsu ketika sedang di perjalanan ke makam bu Julanar.
"Nggak kenapa-kenapa!"
__ADS_1
"Pernah ketemu sama Mas Aka?"
"Hhmm pernah."
"Di mana?"
"Di salah satu club, tapi udah lama, mungkin laki lo juga lupa kali pernah ketemu gue."
Fathia hanya mengangguk ia masih lupa kalau Ciara lah dulu yang membuat ia dan Aka bertemu di suatu hotel.
"Sampai, turun yuk," ajak Ciara.
Hati Fathia tiba-tiba saja kembali galau. Perasaan bersalahnya kembali muncul sejak ibunya di makamkan di sini baru kali ini ia datang kembali. Bukan tak ada niat untuk datang ziarah tapi Fathia masih butuh waktu untuk menata hatinya.
"Ayo, kok bengong!?" ajak Ciara yang menyadari Alodie palsu masih tertinggal di belakang.
"Ah, ia," susul Alodie palsu.
Sampai di makam ibunya Fathia sudah tak sanggup lagi rasanya menahan tangis.Tapi sekuat tenaga ia berusaha tegar dan kuat agar Ciara tak curiga padanya kalau tiba-tiba saja ia menangis di atas makam bu Julanar.
"Assalamualaikum" bu Ciara datang lagi, maaf ya akhir ini Ciara jarang datang soalnya lagi sibuk syuting," ujar Ciara membersihkan makam ibu angkatnya. "Oh ya Ciara kesini bawa teman namanya Alodie."
"Ibu tau nggak, Alodie itu kayak Fathia deh buk, meski wajahnya beda tapi sikapnya, tutur katanya, perhatiannya, masakannya semua seperti Fathia. dan satu lagi buk matanya juga seperti mata Fathia loh."
Fathia hanya memaksakan senyumnya saat Ciara bercerita pada sang ibu yang sudah terkubur di dalam tanah.
"Buk, sampai sekarang aku masih cari Fathia kok. Aku masih yakin kalau Fathia itu masih hidup tapi mungkin ada sesuatu yang sedang terjadi padanya membuat ia nggak bisa pulang. Semoga suatu saat nanti Fathia bisa kembali ya buk," kata Ciara meneteskan air mata.
Fathia juga ikut menangis. Entah kenapa ia semakin merasa sulit untuk bercerita pada Ciara tentang apa yang sebenarnya terjadi. Fathia tak mampu untuk jujur ia takut akan melukai perasaan Ciara kalau seandainya ia muncul dengan wajah orang lain.
"Buk, aku minta maaf ya, aku nggak bisa cerita dan nggak siap untuk jujur pada Ciara. Aku takut kalau Ciara akan semakin kecewa karena terlalu banyak kebohongan yang sudah aku lakukan. A**ku hanya butuh waktu untuk menyelesaikan kesalahpahaman ini dan kembali ke hadapan Ciara dengan wajah ku yang asli."
"Buk, sekarang ada aku yang bakalan jagain Ciara. Ibuk tenang di sana ya," ucap Alodie palsu menahan tangisnya agar tak tumpah.
Mereka berdua mengirim doa untuk sang ibunda yang mereka yakini sudah berada di surga. Sebelum pergi Alodie palsu dan Ciara menaburkan bunga.
"Buk Fathia pergi dulu ya, lain kali Fathia akan sering datang buat ziarah ke makam ibu," kata Fathia dalam hati.
"Ciara pergi dulu ya buk, sudah sore."
__ADS_1
Selama perjalanan pulang Alodie palsu lebih banyak diam. Pandangannya mengarah keluar jendela mobil.Berbagai hal yang sedang di pikirkan nya saat ini.Satu sisi ia ingin sekali jujur pada Ciara dan juga Aka sang suami. Tapi di sisi lain ia takut Ciara akan marah besar padanya dan Aka pasti akan membencinya. Fathia tak sanggup kalau Ciara marah padanya karena tidak menjelaskan kesalahpahaman ini dari awal begitu pula dengan Aka, meski semua ini terjadi karena Aka yang tak mau mendengarkan penjelasan Fathia tapi ia tetap bersalah karena tak berusaha lebih keras untuk meyakinkan Aka agar percaya padanya saat itu kalau ia bukan Alodie.
"Kenapa Al? kok melamun?" tanya Ciara.
Fathia hanya menggelengkan kepala dan memaksakan senyum di bibirnya. "Aku cuma lagi mikirin kamu."
"Santai aja, gue nggak perlu di kasihani kok!"
"Bukan gitu maksud aku, aku cuma salut sama kamu karena bisa kuat jalani ini semua sendirian."
Ciara menarik sudut bibirnya. "Kalau gue sedih terus juga nggak ada gunanya kan?"
"Ia, maksud aku apa kamu nggak ada niat gitu untuk cari pasangan hidup?setidaknya kamu nggak sendirian loh!"
"Kan ada lo, sejak lo jadi teman gue ya gue nggak merasa kesepian lagi."
"Sahabat sama pasangan hidup itu beda Ci, coba deh buka hati kamu buat seseorang gitu!"
"Susah Al, gue udah coba! jujur gue butuh bahu tempat bersandar. Kadang di apartment pulang kerja gue suka nangis sendiri ibu nggak ada, Fathia nggak ada dan orang yang gue cintai juga pergi dari hidup gue. Makanya sekarang gue suka ambil job banyak biar gue nggak terlalu merasa kesepian."
"Ya terus kenapa nggak kamu coba hubungin dia?"
"Gue nggak tau nomornya, sosial medianya pokoknya sejak gue mutusin untuk berpisah jalur komunikasi putus dan hilang, gue menyesal dan gue pengen minta maaf sama dia. Yaa walaupun gue nggak tau perasaan dia ke gue tapi cara gue minta dia pergi itu terlalu menyakitkan."
"Sabar ya Ci, kalau jodoh kalian pasti bertemu dan bersama. Aku masih di sini kok nggak akan ninggalin kamu."
"Eh tapi gue mau bilang makasih banyak sama lo, karena lo mau dengar cerita gue, keluh kesah gue kadang gue suka ganggu lo malam-malam karena cuma pengen ngobrol. Gue jadi nggak enak sama laki lo ganggu waktu istirahat kalian berdua."
"Santai aja, mas Aka juga nggak marah asal tau waktu aja katanya."
"Eh udah sampai rumah lo aja nih, nggak kerasa saking asiknya ngobrol."
"Nggak mampir dulu?"
"Nggak deh, ini hari sabtu gue mau siaran radio."
"Oh, ntar aku request lagu boleh?"
"Boleh ntar gue puterin," jawab Ciara mengacungkan jempol.
__ADS_1
"Da Ciara" lambai Fathia mengiringi kepergian mobil Ciara dan di balas Ciara dengan klakson mobilnya.