
"Hari ini kita akan lepas perban kamu untuk selamanya," kata Aka pada Fathia.
Fathia hanya mengangguk setuju.
"Sudah siap?" tanya Labib dokter bedah plastik yang merekonstruksi wajah Fathia.
"Kamu siap sayang?" tanya Aka memastikan sang istri.
Fathia mengangguk pasrah. Siap tidak siap ia harus bisa menerima kalau nanti wajahnya akan berubah menyerupai wajah orang lain.
Dokter Labib mulai membuka perban yang membalut wajah Fathia.Aka tampak tegang menunggu hasil operasi dari tangan teman seperjuangannya itu.
"Silahkan Alodie," kata Labib memberikan cermin pada Fathia.
Pelan-pelan Fathia mengangkat cermin untuk melihat rupa barunya.Diam, ya hanya diam tanpa ekspresi Fathia melihat pantulan dirinya kini.Tak tau harus sedih kah atau harus senang.Bigung ia pun meletakkan kembali cermin itu di atas kasur brankar.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Aka.
Fathia hanya diam. Mencoba untuk bicara tapi rahangnya terasa kaku.Sedikit sulit dan sakit saat ia mencoba memaksakan untuk membuka mulut.
Tanggisnya pun pecah seketika, frustasi tak sanggup rasanya menerima kenyataan kalau kini hidup menjadi orang lain dan bahkan untuk berterus terang saja ia tak bisa bicara sama sekali.
Aka memeluk Fathia mengusap punggung istri palsunya. "Sabar sayang, aku tau mungkin kamu masih bingung karena nggak bisa mengigat siapa diri kamu sendiri," kata Aka menarik kesimpulan saat melihat reaksi istrinya.
Tanggisnya pun mulai reda.Fathia kembali ingat kalau ia harus ikhlas menerima ini semua. Lalu dokter mulai memeriksa kondisinya.
"Hal yang wajar jika rahangnya kaku dan sakit saat mencoba bicara pertama kalinya setelah 3 bulan. Tapi tidak akan berlangsung lama, sering di bawa makan dan mulai belajar kembali bicara 2 minggu sudah normal kembali," jelas Labib.
"Hanya butuh waktu sampai semuanya tampak normal kembali dan Alodie sudah bisa beraktifitas, tapi sebisa mungkin hindari sinar matahari dan penggunaan kosmetik. Setiap bulannya datang untuk kontrol melakukan cek up rutin dan juga pastinya Alodie masih harus mengkonsumsi beberapa obat untuk mengurangi rasa nyeri yang masih ada," tambah Labib.
"Jadi kapan istri saya bisa pulang?"
__ADS_1
"Terserah dokter Aka, kan anda sendiri juga dokter jadi anda pasti tau kondisi istri anda kapan siap untuk pulang kerumah," jawab Labib santai.
"Cih, saya bertanya pada anda sebagai dokternya," kesal Aka.
"Kalau mau hari ini juga boleh, tapi sebaiknya kita lakukan beberapa terapi untuk menghilangkan saraf-saraf yang kaku di beberapa tubuh Alodie jadi nanti jika sudah di rumah ia bisa beraktifitas normal tanpa harus memaki kursi roda," saran Labib.
"Saya setuju," angguk Aka.
"Baik, nanti saya akan minta dokter saraf memeriksa Alodie agar ia bisa bicarakan pada anda terapi apa yang akan di jalani oleh istri anda," putus Labib.
"Terimakasih," pinta Aka menjabat tangan dokter Labib.
"Sama-sama, saya senang bisa membantu," balas Labib.
Melihat istri palsunya yang hanya termenung di atas brankar Aka kembali mencoba menghibur.Ia mencium kening Fathia cukup lama.Fathia memejamkan matanya mencoba meresapi ciuman dari suami tidak sah itu. Hatinya menghangat kekuatannya kembali keyakinan pun mulai muncul bahwa semua akan baik-baik saja. Mungkin wajahnya saja yang menyerupai Alodie tapi hati dan dirinya tetaplah Fathia.
__ADS_1
"Sudah baikan?" tanya Aka memegang pundak Fathia.
Untuk pertama kalinya dengan wajah Alodie Fathia tersenyum menandakan bahwa dirinya mulai membaik mencoba menerima keadaan ini.