ISTRI PALSU

ISTRI PALSU
S2 bab 14


__ADS_3

"Alhamdulillah akhirnya sampai rumah," ujar Fathia merasa senang, karena sudah bosan di RS.


"Mau langsung ke kamar atau di sini dulu?" tanya Aka saat mereka semua di ruang tamu.


"Disini dulu deh Mas!"


Aka membantu sang istri pindah duduk ke sofa supaya lebih nyaman dan rileks.


"Gimana Al keadaan kamu?" tanya Ciara.


"Baik kok Ci, cuma perut aku masih nyeri sedikit."


"Nggak sedih lagi kan?"


"Insyaallah aku sama Mas Aka belajar ikhlas."


"Bagus kalau gitu, fokus untuk hari depan. Oh ya, aku bawain kue kesukaan kamu, pisang molen. Aku pikir kamu belum boleh pulang, makanya kita ke RS tadi."


"Untung ketemu di parkiran," tambah Joe.


"Gimana persiapan pernikahannya? tanya Aka.


"Sejauh ini sih lancar, cuma kita lagi bingung masalah keluarga pendamping CPW," jawab Joe." Ditambah calon wali nikah Ciara juga belum dapat."


"Emang nak Ciara nggak ada keluarga jauh?" tanya mama Aka.


Ciara menggeleng "Nggak ada Tante, kebetulan papa aku anak tunggal, kalau pun punya saudara cuma saudara angkat."


"Ooh, kalau gitu gimana Tante dan keluarga aja yang mendampingi kamu? sekalian nanti Tante minta papanya Aka jadi wali hakim. (orang yang ditunjuk apa bila tidak ada wali nasab)


"Serius Tante?" tanya Ciara tak yakin.


"Ia, Tante serius ini! Kalian kan temannya Alodie sama Aka, anggap aja kita keluarga."


"Terimakasih banyak loh Tante, aku senang banget akhirnya masalah ini ada solusinya. Nanti aku datang ke rumah Tante deh, sekalian ketemu om Faris, minta secara langsung untuk jadi wali nikah aku," senang Ciara menyalami Alia.


"Silahkan, Tante tunggu loh!"


"Jadi fix ya, Aka dan keluarga mendampingi CPW?" tanya Joe.


Aka mengangguk. "Cuma ini yang bisa gue dan keluarga bantu."


"Terus keluarganya Mas Joe?" tanya Fathia.

__ADS_1


"Keluarga dari mama aku ada kok, kemarin sudah di hubungin dan mereka siap untuk mendampingi."


"Ngobrolnya seru amat, minum dulu," kata Mita datang mengantar minuman.


"Kamu dari tadi di sini Mit?" tanya Ciara.


"Ia, lagi banyak kerjaan," jawabnya sambil menata gelas di meja.


"Nginap sini kan Mit?" tanya mama Alia.


"Hhmm... nggak tau sih Tante, tapi kalau di minta aku siap kok. Emang kenapa?"


"Nginap sini aja ya, kamu bantu Aka sama Alodie. Tante nggak bisa nginap sini, soalnya besok pagi mau ke Surabaya, cek beberapa apotik di sana. Siapa tau Aka butuh bantuan, kalau bi Runi kan sibuk ngurus rumah sama dapur," jelas Alia.


"Ok deh Tante, aku nginap sini!"


"Biarin Mita pulang Mah, dia kan capek butuh istirahat juga," ujar Aka.


"Mama tuh nggak tenang kalau kalian cuma berdua aja di sini. Meski ada bi Runi, tetap aja mama was-was. Kalau ada Mita setidaknya dia bisa di andelin soalnya nih anak cepat tanggap kalau lagi di butuhin," kekeh Alia.


"Benar kata Mama Mas, kita emang butuh bantuan Mita," tambah Fathia.


"Ia dokter, saya juga nggak masalah kok nginap sini," sambung Mita.


Sedangkan Mita hanya mendengus kesal pada Ciara dan melempar wajahnya kesamping.


"Kalian lanjut ngobrolnya ya, Tante ke dapur dulu mau bantu bi Runi masak makan malam," izin Alia menuju dapur.


πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„


Ciara dan Joe pamit pulang setelah makan malam. Mereka memberikan waktu pada Alodie palsu untuk segera istirahat. Begitu pula mamanya Aka, beliau juga pamit bersama sang suami yang datang pas mereka semua sedang menikmati hidangan.


"Mit, bantu saya bawa kursi rodanya Alodie," pinta Aka saat mengendong istrinya menuju kamar mereka di lantai atas.


"Ok."


"Mas, kenapa kita nggak tidur di kamar bawah aja? kan kamu jadi capek gendong aku naik turun tangga gini." Fathia.


"Di bawah itu kamarnya kecil sayang, lagian aku nggak merasa capek kok,anggap aja ganti olah raga," jawab Aka sambil menaiki tangga.


"Kursi rodanya aku tarok di kamar, nanti kalau butuh apa-apa tinggal panggil yang keras aja, aku pasti dengar kok," kata Mita turun kebawah.


"Makasih ya Mit," Fathia.

__ADS_1


"Jangan nonton sampai malam, lampu tengah jangan lupa di matiin," tambah Aka.


"Ia dokter Aka," sahut Mita.


Sampai di depan kamar mereka, Fathia membantu Aka membuka pintu. Matanya menangkap sesuatu yang baru di dalam sana. Seperti ia memasuki kamar yang lain. "Mas, ini kok kamar kita beda gini?" tanya Fathia heran.


"Sengaja, biar ganti suasana, aku nggak mau nanti kamu jadi terbayang-bayang malam itu," jelas Aka mendudukkan istrinya di atas kasur bersandarkan bantal.


Bibir Fathia melengkungkan senyuman. "Makasih ya Mas, sebenarnya nggak perlu sih tapi aku suka kok bikin semangat dan happy lagi dapat kamar baru." Senyumnya.


"Alhamdulillah kalau kamu senang." Aka duduk di samping istrinya menggenggam kedua tangan Alodie. "Sekali lagi aku minta maaf ya, jujur aku masih merasa menyesal."


"Menyesal apa lagi sih Mas? kan kita udah janji mau belajar ikhlas!"


"Aku tuh nyesal, kenapa malam itu langsung minta jatah sama istri. Padahal kan aku seharusnya ngajak kamu ngobrol dulu, cerita dulu, tanya keadaan kamu, gimana kerjanya? atau gimana selama nggak ada aku? kok tumben bilang kangen terus? nggak seperti biasa kalau aku tinggal," jelas Aka penuh rasa sesal.


"Mas, jujur aku juga nyesal juga! dari awal pas aku ngerasain sakitnya aku nggak bilang sama kamu. Masih aku tahan karena aku nggak mau hasrat kamu nggak tuntas. Tapi mungkin ini emang udah jalannya jadi sebaiknya kita belajar ikhlas dan jadikan ini sebagai pembelajaran untuk kedepannya. "


"Lagi, lagi aku cuma bisa minta maaf sama kamu honey. Ternyata aku suami yang egois!" tunduk Aka.


"Nggak kok Mas, hal wajar bagi seorang suami meminta haknya pada sang istri. Apa lagi kamu laki- laki, pastinya nggak bisa menahan hasrat."


"Tapi kamu nggak bohong sama aku kan?"


"Bohong soal apa Mas?"


"Kamu nggak pura-pura baik dan tegar depan aku kan? aku nggak mau ya kamu nangis dan sedih di belakang aku! kamu tutupin kesedihan kamu dari aku supaya aku nggak semakin merasa bersalah."


Fathia menghela nafas. "Ia aku sedih, aku sakit, aku hancur, aku menyesal. Tapi aku nggak mau terus-terusan sedih kayak kemaren. Aku sadar kalau disini bukan aku aja yang merasa bersalah dan kehilangan, tapi kamu.! Pastinya kamu jauh lebih sedih, jauh lebih sakit, jauh lebih hancur dari pada aku, tapi kamu tetap berusaha kuat dan tegar depan aku. Berusaha menghibur aku, sedangkan kamu sendiri masih berusaha menata hati."


Aka membawa tubuh wanitanya kedalam dekapan. "Aku beruntung banget punya istri seperti kamu, maaf kalau aku kadang masih suka egois."


Fathia menggosok punggung Aka. "Udah ya, jangan merasa menyesal lagi! mulai sekarang kita harus ikhlas," kata Fathia.


Dalam hatinya, Fathia masih berkata kalau ini adalah akibat dari doa-doanya yang ia panjatkan selama ini. Lalu apakah setelah ini Tuhan akan mengampuninya? jujur ada hal lain yang ia khawatirkan. Fathia takut kalau seandainya Tuhan mengabulkan doa-doanya yang selama ini. Ia takut jika tak bisa hamil lagi. Sekarang semuanya membalik, kemaren ia sangat takut jika hamil dalam waktu dekat dan sekarang ia takut kalau tak bisa hamil dalam waktu dekat. Sungguh kejadian ini membuat Fathia merubah pendiriannya yang dari awal belum siap hamil sekarang malah ingin segera hamil lagi.


...----------------...


😭😭😭 huhuhuhu...


author sedih nih... kenapa dapat like πŸ‘ cuma 2 tiap up date...? emang yang baca cuma 2 orang aja?


please dukungan kalian... beri like πŸ‘ dan komen πŸ–Š tiap bab kalau habis baca, ya πŸ™πŸ™πŸ™πŸ₯ΊπŸ₯ΊπŸ₯Ί

__ADS_1


__ADS_2