
Selesai solat subuh Aka dan Fathia membaca kitab suci Al Quran secara bergantian. Hal ini adalah momen yang di rindukan sejak mereka berpisah. Rasa syukur tak lupa mereka panjatkan pada Allah SWT kerena kini mereka sudah bersama kembali dan akan segera di karuniai seorang anak. Usai mecari pahala bersama keduanya kini tengah bersiap hendak pergi menuju kantor polisi sebab Fathia dikenakan wajib lapor.
"Mas, kamu nggak ke kantor? Sudah lima hari kamu libur," tanya Fathia.
"Aku kerja bisa dari rumah, Honey. Aku nggak mau ninggalin kamu sendirian."
"Kan ada, Mama, Mas di rumah!"
"Tapi aku pengen sama kamu terus, gimana dong?!"
"Hahaha ada-ada aja kamu, Mas. Pulang kantor kan kita bisa ketemu lagi."
"Aku mau manjain istriku dulu. Udah siap? Berangkat sekarang?"
Fathia mengangguk lalu mereka bergandengan tangan keluar dari kamar. Namun pas Aka membuka pintu Mita sudah berdiri di sana.
"Ngapain kamu di sini?" tanya Aka.
"Itu di depan ada Galen sama Alodie juga pengacara mereka," bisik Mita di telinga Aka takut Fathia akan mendengarkan.
"Honey, tunggu di kamar sama Mita dulu. Aku ada tamu di depan." Aka menuntun kembali istrinya menuju kasur.
"Jangan lama-lama, ya, Mas!"
Aka memberikan senyum terbaiknya dan mengangguk meninggalkan sang istri dengan Mita
"Kamu kenal tamunya, Mit?"
"Hhhmm kayaknya pengacara deh, Mbak," jawab Mita bohong.
π₯π₯π₯π₯
Faris dan Alia sudah duduk di ruang tamu bersama Alodie dan Galen juga pengacara mereka. Aka pun datang menyusul, tampangnya sangat tidak ramah menyambut kedatangan tamunya itu.
"Ada perlu apa kalian pagi-pagi ke rumah saya?" tanya Aka dingin.
"Mas, aku datang ke sini sama Galen ingin minta maaf sama kamu dan keluarga kamu, termasuk ... Fathia." Alodie menundukkan kepalanya karena tak berani melihat Aka yang menatapnya dengan tajam.
Aka menghembuskan nafas kesal. "Sebaiknya kita bicarakan masalah ini di kantor pengacara saya!"
"Tapi, Mas aku datang kesini dengan maksud baik. Aku akan mencabut tuntutan ku pada Fathia. Pengacara ku sudah mempersiapkan surat-suratnya, kamu bisa baca dulu."
Pengacara Alodie memberikan sebuah dokumen pada Aka. Laki-laki itu membacanya dengan teliti lalu tak lama ia pun menyeringai kesal. "Maaf tapi saya akan tetap ajukan banding," kata Aka melempar dokumen tadi ke atas meja.
"Loh, kenapa?" Galen seakan tak terima. Ia sudah berbesar hati menemani Alodie kemari tapi malah hasilnya tak sesuai dengan yang di harapkan.
"Kalian sudah melakukan kesalahan besar, jadi kalian harus di hukum. Gue nggak rela istri dan calon anak gue menderita di penjara dan kalian bisa bebas seenaknya, padahal kalian juga ikut berbohong dan melakukan penipuan dalam kasus ini," jelas Aka dengan santai tapi mengancam.
"Apa? Calon anak?" Alodie seakan tak yakin akan ucapan yang keluar dari mulut mantan suaminya.
__ADS_1
"Fathia sedang hamil enam bulan dan karena kalian berdua mereka harus menderita di dalam penjara. Oleh sebab itu gue akan tetap melayangkan tuntutan meski kalian membuat surat permohonan maaf." Aka tak main-main dengan keputusannya.
Wajah Galen sudah merah padam menahan emosi, sedangkan tangannya tampak mengepal kuat menonjolkan buku-buku jari. Kalau bukan karena Alodie yang meminta dan memohon padanya ia tak kan datang kemari. Sama saja ia memberikan harga dirinya pada Aka untuk di injak-injak.
"Kita pulang!" Galen menarik tangan Alodie namun wanita itu tak berdiri dari duduknya. Ia malah menangis dan memohon pada Alia dan Faris.
"Mah, Pah, aku tau aku salah tapi tolong bantu aku supaya, Mas Aka mau mencabut tuntutannya dan memaafkan aku," ibanya menangis.
Untuk hal ini Alia dan Faris merasa bingung, satu sisi ada rasa kasihan pada mantan menantunya ini tapi di sisi lain Fathia juga berhak mendapatkan keadilan.
"Maaf, Al untuk masalah ini, Papa dan Mama tidak bisa ikut campur. Hanya Aka yang berhak atas masalah ini karena menyangkut anak dan istrinya," jawab Faris.
Galen sudah gerah dengan Alodie yang masih saja berharap belas kasihan pada keluarga Aka. Ia tak bisa melupakan emosinya di sini karena tak mau tindakannya nanti malah akan merugikan mereka. "Kita pulang!" Ia menarik Alodie keluar dari rumah itu. Meski wanitanya berteriak meminta untuk di lepaskan, Galen tak peduli.
"Silahkan hubungi pengacara saya lain kali jika ada hal yang ingin di bahas, karena saya nggak mau istri saya terganggu dengan kehadiran mereka," kata Aka pada pengacara Alodie.
"Baik, Pak. Kalau begitu saya minta maaf dan kami permisi," jawabnya melenggang keluar dari rumah Aka.
"Siapa itu, Mas yang teriak-teriak? Fathia tiba-tiba muncul di sana sampai membuat Aka kaget. Untung saja Alodie dan Galen sudah pergi kalau tidak ia khawatir istrinya akan ketakutan nanti jika bertemu dengan mereka.
"Orang gila!"
"Kok bisa sampai rumah ini?"
"Nyasar dia, yuk berangkat, ajak Aka mengandeng istrinya keluar rumah.
"Selamat kenapa?" tanya Alia.
"Mbak Fathia nggak ketemu sama dua orang tadi, Tante!"
"Emang kenapa kalau Fathia ketemu mereka?"
"Mbak Fathia takut banget sama mereka, apa lagi sejak ia hamil. Mbak Fathia selalu mengindari mereka saat itu, takut anaknya akan terancam."
"Tapi kan sekarang ada Aka ada kita juga. Fathia sudah bebas," ujar Faris.
"Om nggak ngerti, sepertinya Mbak Fathia punya trauma sama mereka berdua. Soalnya dulu Galen itu yang membawa paksa dia ke penjara."
Faris dan Alia pun mengangguk paham.
Saat Fathia berusaha menuju Korea Selatan hendak melakukan operasi plastik wajahnya, Glen berhasil menangkap dan menjebloskannya ke dalam penjara. Galen sampai mengancam Fathia agar tak melakukan pembelaan sedikitpun untuk dirinya. Kalau sampai itu terjadi pria itu akan semakin menuntutnya dengan pasal-pasal lain membuat dirinya mendapatkan hukuman mati. Itulah alasan kenapa Fathia tak mau memakai pengacara saat persidangannya bahkan ia mau saja mengakui semua kesalahan nan dituduhkan demi melindungi anak dalam kandungannya.
π±π±π±π±
Satu bulan berlalu tuntutan Aka sudah memasuki sidang pertama. Alodie dan Galen pun di tetapkan sebagai tersangka. Meski keduanya sudah menulis surat permohonan maaf tetap Aka tak mau menerimanya, bahkan ia malah meminta kedua orang itu mengakui kesalahan mereka di depan media. Hal itu sangat membuat Galen naik pitam, ia tak terima jika nama baik mereka tercemar gara-gara masalah ini.
"Gue nggak peduli dengan karir atau nama baik kalian," jawab Aka ketika menemui mereka sebelum persidangan.
"Kenapa masalah ini lo besar-besarkan?" tanya Galen dengan urat leher.
__ADS_1
"Gue hanya ingin orang-orang tau kalau karir Alodie bisa sampai puncak adalah berkat istri gue dan penghargaan yang di dapatnya adalah milik istri gue!" Aka tetap berkata santi meski musuh di depan seperi hendak memakannya.
"Mas, aku mohon berikan kami keringanan sedikit saja," pinta Alodie.
"Memangnya kamu memberikan keringanan pada istri saya pada waktu itu? Kenapa tidak membiarkan dia pergi? Toh dia sudah berjanji akan pergi."
Alodie dan Galen tak bisa lagi berkata-kata.
"Ok gue dan Alodie akan meminta maaf di depan media. Kami akan mengakui semua kesalahpahaman ini menjelaskan semuanya tapi-"
"Tapi apa?" Tanya Aka memotong ucapan Galen.
"Gue mohon cabut tuntutan lo biarkan gue sama Alodie bebas."
Aka malah tertawa terbahak-bahak. Ia bahkan sampai memegangi perutnya yang terasa sakit karena tawanya. "Sekalipun kalian nggak mau ngaku di depan media, gue akan tetap melakukan konferensi pers membeberkan bukti dan kejahatan kalian. Sekalian gue akan memperkenalkan istri gue yang selama ini menjadi Alodie palsu. Jadi kalian tidak bisa melakukan penawaran sama gue." Aka mengejek dua orang yang ada di hadapannya.
"BRENGSEK!" Galen hendak menyerang Aka namun ia ditahan oleh polisi yang berada di sana. Berharap tawarannya dapat di pertimbangkan tapi malah ia semakin di rendahkan. Tak ada lagi jalan keluar untuk ia dan Alodie, memilih pun mereka tak bisa. Kini ia tau apa yang dirasakan Fathia dulu saat mereka menyudutkannya dan tak memberikan wanita itu pilihan.
π°π°π°π°
"Gimana, Bi? Sehatkan babynya?" tanya Aka.
Hari ini dokter Biya datang ke rumah Alia untuk memeriksa kandungan Fathia.
"Sehat dan berat badannya naik drastis. Ibunya juga sehat," jelas dokter Biya.
Aka dan Fathia menghembuskan nafas lega. Mereka tersenyum bahagia karena tinggal beberapa bulan lagi mereka akan segera bertemu dengan sang buah hati.
"Tapi tetap ya vitamin sama susu hamilnya di minum makan juga di jaga. Kalau Fathia mau olahraga boleh, misalnya jalan, berenang atau senam ibu hamil," tambah Biya.
"Di rumah aja bisa nggak dokter Bi?" tanya Fathia.
"Boleh kok, nanti kamu bisa panggil instrukturnya. Nah Aka bisa sekalian ikut."
"Boleh di jenguk nggak?" tanya Aka yang langsung mendapatkan pukulan dari istrinya.
"Hahaha boleh kok, tapi pelan-pelan cari posisi yang nyaman buat Fathia."
"Akhirnya, gue buka puasa juga," gumam Aka senang.
"Apaan sih, Mas. Bikin malu," kesal Fathia.
"Nggak usah malu, Ti! Mas Beno juga gitu kok jadi biasa aja lah."
"Kapan kontrol lagi dokter Bi?" tanya Fathia lagi.
"Bulan depan ya, sekalian kita pastikan kamu bisa lahiran normal atau cesar."
Pasutri itu mengangguk paham dan kini mereka harus segera mempersiapkan segala kebutuhan bayi, mulai dari perlengkapan sampai pakaian.
__ADS_1