ISTRI PALSU

ISTRI PALSU
S2 bab 43


__ADS_3

Tangan Fathia meraba-raba kasur di sampingnya. Tak mendapati orang yang dicari, ia membuka mata. Aka mungkin sudah berangkat ke kantor. Lalu ia meraih ponsel di atas nakas, melihat jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi.


"Hhhaahhh bangun kesiangan," umpatnya seraya menghempaskan ponsel di atas kasur. Kembali ia raih ponsel itu dan menarikan jempolnya di sana lalu menempelkan di telinga.


Tut... tut... tut...


📱Hallo sayang, baru bangun, ya


Jawab Aka dari seberang sana.


📱Kamu udah di kantor, Mas? Kok nggak bangunin aku sih?


📱Kamu tidurnya nyenyak banget, jadi aku nggak tega bangunin.


📱Terus kamu sarapannya gimana tadi?


Tanya Fathia masih dalam posisi berbaring di atas kasur.


📱Aku pesan makanan di kantin kantor aja tadi.


📱Hhmm, terus nanti makan siang mau di antar atau kamu pulang ke rumah?"


📱Siang nanti aku mau meeting sama klien sekalian makan siang. Kamu makan sendirian di rumah nggak apa kan?


📱Oohh iya nggak apa. Udah dulu ya, Mas aku mau mandi.


📱Iya, mandi gih sana. Bau iler


📱Iler kamu kan!


📱Hahahaha benar juga sih. Ok da-da, Honey.


Muach.


📱Love you Mas.


Fathia meletakkan kembali ponselnya di atas nakas. Tapi belum sempat ia turun dari atas kasur. Ponselnya berdering. Di layar tampak sederet nomor asing yang tak dikenalinya memanggil. Fathia pun bersikap acuh tak acuh. Ia malah pergi berlalu memasuki kamar mandi.


Kembalinya Fathia dari membersihkan diri ponsel itu masih terdengar berdering. Seolah berteriak untuk segera diangkat oleh si pemilik tapi tetap tak dihiraukan. Hening beberapa saat lalu kembali bersuara bahkan getarannya mampu membuat ponsel itu jatuh dari tempatnya berada.


"Siapa sih? Dari tadi berisik terus," kesal Fathia mengambil ponselnya di lantai.


Tiga belas panggilan tak terjawab dari nomor yang sama. Tak ada rasa penasaran sedikitpun. Fathia hanya mengangkat bahu cuek lalu kembali meletakkan ponselnya di atas nakas. Kakinya hendak melangkah menuju lemari tapi terhenti oleh bunyi notifikasi pesan masuk.


Fathia membalik badan mengambil ponsel dan mengetikkan sandi di layar untuk membuka kunci. Ternyata pesan dari nomor asing yang sedari tadi terus mengusiknya. Kali ini ia penasaran akan isi pesan tersebut. Jempolnya mengetuk lambang amplop untuk membuka pesan yang baru saja diterimanya.


📩 0822 84xx xxxx


Lo harus siap-siap! Alodie sudah dinyatakan sembuh dan ia akan kembali ke Indonesia satu minggu lagi.


Tunggu kabar dari gue, kapan waktunya lo pergi dari rumah dan meninggalkan Aka. Jangan pernah kabur sebelum Alodie mendarat di Indonesia.


Galen


Fathia menghempaskan dirinya di atas kasur. Satu minggu lagi?


Bukannya masih ada satu bulan lagi?


Kenapa secepat ini?

__ADS_1


Ia mencoba menghubungi nomor asing itu. Kali ini malah panggilannya yang di abaikan. Berkali-kali Fathia mencoba tetap saja tak diangkat. Bahkan kini nomor asing itu sudah tak aktif lagi.


Fathia meremas rambutnya, frustasi akan keadaan yang semuanya serba tiba-tiba. Tapi kali ini ia tak punya banyak waktu untuk kembali menangisi semua situasi yang tercipta. Secepatnya ia harus bisa mengambil keputusan serta tindakan. Menentukan langkah selanjutnya agar tak menyesal dikemudian hari.


Mungkin jika ia meminta petunjuk pada yang maha kuasa semua akan terasa lebih mudah. Bukankah Tuhan yang sudah menakdirkannya menjalani ini semua. Maka dengan doa ia ingin meminta agar Tuhan bisa menuliskan kembali takdir baru untuknya supaya bisa melewati ini semua dan kembali bersama Aka.


🥀🥀🥀🥀


"Mit, tolong kamu pegang ATM Mbak ini," kata Fathia menyerahkan sebuah kartu pipih ke tangan Mita.


Siang tadi Mita di minta datang oleh Fathia untuk menemuinya di rumah. Dan sekarang mereka tengah mengobrol di atas kasur kamar Fathia.


"Buat apa, Mbak?"


"Simpan aja dulu! Uang yang ada di sana mau aku pakai buat biaya operasi plastik nanti," jelas Fathia.


"Terus ini," menyerahkan sepucuk surat yang sudah dibungkus rapi dengan amplop berwarna biru muda. "Permintaan maaf dari aku buat Ciara. Maaf aku nggak bisa datang langsung, karena aku takut Ciara bakalan usir aku lagi."


"Dia emang masi marah sama, Mbak. Tapi aku tau kok di hatinya paling dalam pasti mau memaafkan, Mbak."


Fathia memaksakan senyum di bibirnya.


"Ini ada alamat rumah yang sempat aku beli. Aku akan tinggal di sana nanti setelah operasi. Kamu bisa berkunjung ke sana." Memberikan secarik kertas bertuliskan alamat.


"Terus sekarang apa yang akan Mbak lakukan?"


"Apa pun itu cukup aku yang tau. Sekarang kamu pulang gih, udah sore."


"Tapi nanti Mbak pasti bakalan hubungin aku kan?"


"Pasti lah! Emang aku punya siapa lagi, Mit? Cuma kamu yang masih setia menemani aku di saat-saat susah begini. Pastinya aku bakalan ngerepotin kamu nanti," ujar Fathia menggenggam erat tangan Mita.


"Dengan senang hati aku mau direpotin sama, Mbak. Kalau gitu aku pulang ya, udah sore kayaknya juga mau hujan langit mendung soalnya."


Semua masakan sudah ditata Fathia di atas meja makan. Hujan deras mulai turun, tampak kaca rumahnya sudah basah oleh percikan air. Ia pun memutuskan menunggu sang suami di ruang tamu menyiapkan payung di sisi pintu. Tak lama dari sana Fathia dapat melihat mobil Aka memasuki halaman rumah. Ia bergegas keluar untuk menjemput suaminya di mobil tapi sebelum itu ia tak lupa membuka payung.


"Kok telat, Mas? Bisanya jam 5 udah sampai rumah," kata Fathia sedikit berteriak. Takut ucapannya tak terdengar Aka sebab suara hujan yang turun begitu keras.


"Macet di jalan, ada banjir tadi," jawab Aka juga dengan nada tinggi.


Aka mendekap istrinya untuk merapat supaya tak basah saat berjalan di bawah payung ketika kembali masuk rumah.


"Mau mandi dulu atau makan?" tanya Fathia mengandeng suaminya.


"Makan dulu deh. Aku laper banget soalnya."


"Solat Magrib udah?"


"Udah tadi di jalan, aku berhenti di Mesjid."


Fathia mengambilkan piring dan mengisinya dengan nasi, lauk serta sayur lalu disuguhkan pada suami tercinta.


"Makasi sayang!"


Fathia tersenyum hangat. Ia pun ikut duduk di depan Aka. Tak ikut makan tapi malah memandang dan memperhatikan suaminya. Dengan posisi bertopang dagu matanya merekam semua ukiran wajah tampan itu seolah sedang membuat vidio tentang sosok Aka. Semuanya tak di lewatkan Fathia, bahkan gerak gerik dan cara makan suaminya di rekam dan di tanamkan dalam memori.


Jika nanti ia begitu merindukan sosok laki-laki yang ada dihadapannya ini, maka ia hanya perlu memutar kembali ingatannya tentang semua hal dari Aka yang sudah ia lukis dengan jelas dalam ingatan.


"Nggak ikut makan?" tanya Aka.

__ADS_1


"Udah tadi, soalnya aku laper banget. Makanya makan duluan. Maaf ya, Mas!"


Aka hanya mengangguk-anggukan kepala sembari menghabiskan makanan.


"Kamu duluan aja ke kamar, aku mau beresin ini dulu," ujar Fathia membersihkan meja makan.


Hanya sebentar. Kemudian ia menyusul Aka. Sembari menunggu suaminya selesai mandi ia tampak sibuk dengan ponselnya dan duduk di pinggir kasur.


"Udah masuk solat isya, ya?" tanya Aka keluar dari kamar mandi.


Fathia mengangkat kepala. "Udah! Kita solat berjamaah,ya. Aku mau wudhu dulu."


Di mushola kecil dalam rumah, mereka melakukan kewajiban sebagai muslim. Lantunan ayat suci yang keluar dari mulut Aka membuat Fathia tak kuasa menahan kristal bening di matanya untuk jatuh dan mendarat di sajadah.


Sekuat tenaga ia menahan agar tak sampai semuanya tumpah ruah sebelum solat mereka usai di lakukan. Hingga rakaat terakhir dan selesai mengucapkan salam Fathia melepaskan semuanya.


"Kok nangis, kenapa?" tanya Aka bergeser ke samping Fathia.


Fathia berusaha menyusut air matanya. Bahkan mukenah berwarna pink yang masih ia kenakan sudah basah.


"Kenapa?" tanya Aka bingung mengangkat dagu istrinya.


"Ada hal yang mau aku bicarakan," ucapnya sedikit terisak.


"Iya, tapi kamu tenang dulu! Kita ke kamar yuk!" ajak Aka membawa Alodie palsu untuk berdiri.


Tapi tangannya di tahan oleh Fathia. "Di sini aja!"


Aka kembali duduk bersimpuh di depan sang istri. Mengusap pipi putih nan basah itu dengan ibu jari.


"Mau bicara apa? hhmm"


"Aku mau jujur sama kamu, Mas!"


"Jujur soal apa?"


"Kalau aku bukan istri kamu!"


Dahi Aka berkerut lalu ia pun tersenyum. "Maksud kamu apa sih, Honey? Mau bercanda tapi nggak lucu."


"Aku nggak bercanda, Mas. Aku serius!"


"Kalau kamu bukan istri aku, terus kamu siapa?"


"Aku orang lain yang sudah kamu rubah wajahnya menyerupai istri kamu, Alodie!"


Wajah Aka berubah mulai tegang. "Jangan bilang ini akal-akalan kamu buat balikan sama Galen?"


Fathia mengusap wajahnya. "Mas, yang aku katakan ini kenyataan kalau orang yang kamu temukan saat kecelakaan dan wajahnya penuh luka bakar itu bukan Alodie istri kamu, tapi orang lain yaitu aku," jelas Fathia meyakinkan Aka.


"Nggak mungkin! Kamu pasti bohong!"


"Selama ini ia, aku bohongin kamu. Aku pura-pura amnesia. Tapi, kali ini aku bicara jujur!"


Aka bangkit dari lantai. Wajahnya yang tadi tegang kini tampak lebih menyeramkan bagi Fathia. "Kenapa kamu nggak ngomong dari awal soal ini?" tanya Aka dengan muka merah padam.


Fathia juga ikut berdiri. "Aku sempat bilang sama kamu. Tapi kamu nggak percaya, sampai aku pun merasa nyaman di samping kamu, Mas. Makanya aku memilih untuk tetap menjadi istri palsu kamu."


"Jadi, semua yang kamu lakukan selama ini adalah kebohongan?"

__ADS_1


Air matanya kembali luruh. Yang di takutkan akhirnya terjadi. "Bukan begitu, Mas!"


Aka meninggalkan Fathia begitu saja. Masuk kedalam ruang kerja dengan membanting pintu. Mungkin ia sedang butuh waktu untuk mencerna ini semua dan menerima kenyataan.


__ADS_2