
Setelah melihat-lihat beberapa unit apartment di tempat yang berbeda Mita memilih menyewa apartment yang pertama kali mereka lihat. Tempatnya yang begitu dekat dengan kampus dan disain apartment nya yang nyaman serta harga sewa lebih murah membuat Mita tak ragu lagi untuk segera pindah.
"Saya bayar untuk dua tahun kedepan," kata Fathia pada pemilik apartment saat mereka akan menandatangani surat perjanjian sewa-menyewa.
"Loh, Mbak nggak usah biar aku aja yang bayar aku udah siapin uangnya kok," kata Mita.
"Kamu simpan aja uangnya! Lagian kan kamu sekarang nggak kerja lagi. Anggap aja ini bonus dari Mbak."
"Jadi atas nama siapa Mbak?" tanya si pemilik apartment.
"Atas nama Mita aja, tapi yang bayar saya," jelas Fathia.
Mita memberikan KTP nya untuk mengisi identitas di surat perjanjian itu. Urusan mereka selesai dan kunci apartment sudah di tangan Mita keduanya memutuskan untuk jalan sore dan membeli beberapa jajanan pinggir jalan.
"Kapan kamu pindah?" tanya Fathia saat mereka sedang menunggu sate pesanan mereka datang.
"Hari libur aja kali ya Mbak."
"Mau di bantuin?"
"Nggak usah! barang-barang aku cuma dikit kok. Hhmm sekali lagi makasih ya Mbak sudah bayarin sewa apartment aku."
Alodie palsu memberikan senyuman tulusnya. "Santai aja Mit, kamu itu kan adik bagi saya jadi ya wajarlah kalau seorang kakak membiayai adiknya sendiri."
"Hehehe... aku jadi nggak enak, takut nanti dokter Aka marah sama Mbak."
Fathia menggeleng. "Malahan mas Aka yang kasih aku uang tambahan buat bayar uang sewa apartment kamu."
"Oh ya? besok aku kerumah deh mau bilang makasih sama dokter."
"Kenapa nggak malam ini nginap di rumah aja?"
Mita menggoyangkan kelima jarinya di hadapan Fathia. "Habis dari sini aku mau nginap di rumah teman, mau kerjain tugas kelompok."
"Ooh."
Pesanan mereka datang keduanya mulai menyantap sate padang yang menggugah selera itu sambil bercerita. Mita pun bertemu dengan beberapa teman kampusnya di sana sekalian saja Alodie palsu mengajak mereka makan bersama.
"Makasih traktirannya ya Mbak," pinta Mita saat mereka akan berpisah.
"Aku pulang ya, kamu dari sini langsung belajar kelompok kan? nggak nongkrong dulu?"
"Ia aku langsung pulang kok sama mereka, kita naik taxi online."
__ADS_1
"Yaudah, semuanya aku permisi ya," kata Fathia pamit pada teman-teman Mita.
"Ya Mbak, makasih makanannya. Hati-hati di jalan," balas mereka mengantar Alodie palsu ke parkiran mobil.
🥚🥚🥚🥚
Sampai di rumah Fathia langsung mandi dan melaksanakan solat magrib. Setelah itu ia membantu bi Runi memasak makan malam. Sambil memasak Fathia mencoba menghubungi Aka tapi tak di angkat oleh suaminya. Mungkin saja Aka sedang sibuk pikirnya dan ia kembali mengaduk masakan di wajan.
Tak lama ponsel Fathia berdering menandakan pesan masuk yang ternyata dari Aka mengatakan kalau ia akan pulang jam 9 malam.
"Tarok dalam lemari aja dulu bik masakannya. Kalau bibi mau makan duluan aja, aku mau nungguin mas Aka," kata Fathia pada bi Runi.
"Bibi makan dulu ya Mbak," izin bi Runi.
"Ia bi, habis itu kalau bibi mau istirahat nggak apa langsung ke kamar aja. Biar aku yang nungguin mas Aka pulang."
"Ia Mbak."
Fathia solat isya terlebih dahulu setelah itu ia berjalan menuju ruang tengah menonton TV sambil menunggu kepulangan suami tercinta. Jam 9 malam belum ada tanda-tanda kepulangan Aka. Fathia masih menunggu sampai ia pun tertidur di sofa.
"Hey, honey bagun sayang," kata Aka menepuk pipi istrinya.
"Hhmm... " bangun Fathia mengerjapkan mata.
"Kenapa tidur disini?"
"Jam 11, maaf ya aku pulangnya telat. Lagian kan tadi aku bilang nggak usah di tungguin!"
"Nggak apa Mas, aku cuma takut kamu belum makan, makanya di tungguin."
"Ya udah kita makan yuk," ajak Aka membantu istrinya berdiri dari sofa menuju meja makan.
"Makanannya nggak usah di panasin," kata Aka duduk di kursi meja makan menunggu istrinya menghidangkan makanan di atas meja.
"Kenapa malam banget pulangnya Mas?"
"Banyak yang perlu di bahas honey sama bagian pabrik sebelum kita bikin produk baru."
"Hhmm.. yuk makan biar kamu bisa istirahat cepat, capek banget kayaknya." Fathia memberikan piring yang sudah di isinya pada Aka.
"Makasih Al!"
Usai makan malam keduanya melangkah menuju kamar mereka. Aka segera membersihkan diri dan Fathia menyiapkan baju ganti untuk suaminya. Tak lama Aka pun keluar dari kamar mandi bertelanjang dada hanya memakai boxer hitam yang membungkus benda pusakanya.
__ADS_1
"Nggak pakai baju Mas?"
"Nggak ah, ntar tidur juga di lepas. Pijitin pala dong honey," pinta Aka merebahkan kepalanya di paha sang istri yang duduk di atas kasur.
"Sakit kepala?"
"Ia, mau pecah rasanya."
"Aku ambilin obat ya," kata Fathia hendak bangkit.
"Nggak usah! Aka menahan istrinya. " Dipijit kamu nanti pasti hilang.
"Hhhmm... manja banget sih Mas."
"Bukan manja sayang, tapi benar loh kalau aku lagi pusing mikirin kerjaan di pijit kamu tuh enak rasanya capek aku hilang sakit kepala juga hilang," jelas Aka menikmati pijitan istrinya di kepala.
"Masak sih?"
"Serius ini benaran! Kayaknya aku nggak bisa jauh-jauh dari kamu deh, soalnya kamu itu obat mujarab kalau aku lagi sakit."
"Hahaha... bisa aja kamu Mas," tawa Fathia mencolek hidung Aka.
"Yyaa...terserah kalau kamu nggak percaya."
"Hahaha... ia deh aku percaya. Gimana udah enakan?"
"Lumayan, dikit lagi nih bagian belakang," kata Aka
"Menurut aku kamu nggak perlu kerja dari rumah Mas, pas aku program hamil. Tetap kerja seperti biasa aja lah, kasian kamu kalau harus lembur kayak gini," saran Fathia.
"Tapi aku pengen dampingi kamu honey. Kita harus berjuang bersama dong."
"Gini aja, kamu tetap kerja di kantor seperti biasa tapi kapan pun aku butuh bantuan kamu, kamu harus siap. Gimana?"
"Ok deh aku setuju. Jujur sih aku pusing kalau kerjaan di buru-buru gini."
"Nah makanya, jangan sampai nanti kamu sakit karena capek kerja. Ntar kalau kamu sakit siapa yang mau bantuin aku program hamilnya."
"Besok aku bilang Jio buat batalin jadwal cutinya aku. Palingan minta atur aja jadwal kerjanya lebih santai."
"Itu lebih bagus! udah pijitnya?"
"Udah, tidur yuk aku capek banget," ajak Aka memeluk istrinya.
__ADS_1
"Malam Masaka, muach." Fathia mengecup sekilas bibir Aka.
"Malam juga honey, muach." Balas Aka.