
Aka bingung melihat reaksi istrinya. Tak ada respon apa pun dari Alodie palsu. Istrinya hanya diam seribu bahasa dengan raut wajah yang tak dapat di baca Aka. Sebenarnya apa yang sedang di pikirkan Alodie saat ini pikir Aka.
Lama Fathia terdiam, hati dan pikirannya berdebat mengatakan kalau ini adalah salahnya. Ini hukuman dari Tuhan untuknya yang menolak hamil secepatnya sedangkan di luar sana banyak wanita yang berjuang untuk bisa mendapatkan keturunan. Belum sempat ia merasakan janin itu tumbuh dalam badannya ia sudah pergi, belum sempat ia memberikan kasih sayang dan perhatiannya anak itu sudah di ambil oleh sang pencipta. Menyesal rasanya ia pernah mengucapkan doa bahwa ia tak mau hamil sekarang, menyesal ia pernah mengucapkan doa agar program hamilnya nanti tak membuahkan hasil.
Setetes bulir air mata jatuh membasahi pipi Fathia. Mulai lah ia menangis terisak menyadari penyesalannya sudah datang terlambat dan kini calon anaknya sudah pergi dari dalam dirinya, sesuai harapan dan doa-doanya selama ini yang ia panjatkan pada Tuhan.
Aka memeluk dan menggosok punggung istrinya. "Ini salah aku yang terlalu mengikuti nafsu," jelas Aka sesal.
Keduanya larut dalam tangis dan rasa penyesalan masing-masing. Tak ada kata yang mampu di ucapkan Fathia, hanya air mata yang bisa ia tumpahkan untuk meluapkan kesedihan hatinya. Sakit, sangat sakit di rasakan Fathia, belum sempat mereka menerima kabar bahagia itu tapi sudah langsung berganti dengan kabar duka. Semua begitu cepat baginya.
Lelah hati, lelah pikiran dan juga lelah badan membuat Fathia terlelap di pangkuan Aka. Aka memperbaiki posisi tidur istrinya agar lebih nyaman. Diciumnya wajah sang istri berharap wanitanya bisa tegar kembali untuk menghadapi hari esok.
π₯π₯π₯π₯
"Bagaimana Alodie Ka?" tanya mama Alia datang pagi ini menjenguk menantunya saat di kabari oleh Aka.
"Alodie sepertinya shock Mah, aku takut nanti kalau dia sampai stress," jelas Aka duduk di sofa yang ada di kamar rawat istrinya.
"Benaran kamu nggak tau kalau istri kamu lagi hamil?"
Aka menggeleng. "Aku kan lagi di Singapur Mah! Alodie juga nggak cerita apa-apa. Ya mungkin emang nggak ada perubahan yang di alaminya, apa lagi tanggal menstruasinya suka nggak tepat, makanya dia juga nggak sadar," jelas Aka.
"Nggak mungkin orang hamil nggak ada tanda-tanda Aka," kesal Alia.
"Entah lah Mah. Belakangan aku cuma ngerasa nafsu makan aku aja yang meningkat. Tapi pas aku di Singapur Alodie lebih sering bilang kangen. Aku nggak kepikiran sampai sana Mah, aku kira dia kangen karena kita jauhan," tambah Aka menyesali dirinya yang begitu kurang peka.
__ADS_1
"Sudah lah Mah, jangan di tekan terus anaknya! Nanti Aka semakin merasa bersalah loh. Sekarang kita doakan saja Alodie cepat sembuh dan ia bisa menerima keadaan ini.Mungkin juga belum rezeki kita punya cucu Mah." ujar Faris.
Alia menghela nafas. Benar juga yang di bilang sang suami, semua sudah di atur oleh Allah kita sebagai manusia hanya menjalani baik dan buruknya hidup ini dengan ikhlas dan percaya kalau Tuhan akan memberikan yang lebih baik.
"Kamu makan dulu, mumpung istrimu masih tidur. Inggat Aka! disini bukan hanya kamu yang merasa sedih dan kehilangan tapi juga istrimu. Sebagai seorang laki-laki dan suami kamu harus lebih kuat dari Alodie, karena perempuan hatinya jauh lebih rapuh. Dia membutuhkan kamu untuk menguatkan hatinya, jadi sebelum itu kamu harus lebih kuat dan menerima kesedihan ini dengan ikhlas," nasehat papa Faris untuk anak semata wayangnya.
Aka mengangguk. "Baik Pa, akan Aka inggat pesan papa."
"Mama sama Papa mu pulang dulu, ada tamu yang mau datang. Nanti sore kami kesini lagi," pamit Alia
π₯¬π₯¬π₯¬π₯¬
"Jangan sedih lagi ya Al! kamu harus ikhlas. Mungkin belum waktu yang tepat aja. Makanya kamu harus cepat sembuh, semangat lagi, ceria lagi biar bisa hamil lagi," bujuk Ciara menghibur sahabatnya sore ini.
Sejak bagun dari tidurnya, Fathia tak mengucapkan sepatah kata pun. Bibirnya dikatup rapat, setiap di ajak bicara ia hanya menangis. Aka pun semakin terpukul melihat sikap istrinya. Ia bingung, takut, cemas, khawatir dengan sang istri tapi Alodie sendiri tak mau bicara padanya atau pada keluarga yang lain nan datang menjenguk. Bahkan kehadiran Kinan tak mampu menerbitkan senyum di wajah Alodie.
"Senyum dong Mbak, jangan nangis lagi. Yang berlalu nggak usah di pikirin lagi. Mbak harus kembali semangat buat hari esok, karena esok masih panjang," tutur Mita.
Fathia mengangguk tapi masih berlinang air mata. Ia sengaja menyimpan sendiri kesedihan dan penyesalannya. Cukuplah air mata saja yang orang-orang lihat untuk soal hati biarlah ia sendiri yang menanggung hancurnya, sakitnya dan deritanya.
Dokter Biya datang untuk memeriksa Alodie sebelum pulang. Sambil tersenyum berusaha menghibur Alodie "Jangan nangis lagi, harus semangat biar cepat sembuh. Artinya rahim kamu subur karena hamil secepat itu. Jadi kalau mau hamil lagi harus sembuh dulu," ujarnya agar dapat mengobati sedikit hati Alodie yang terluka.
"Benaran?" tanya Fathia membuka suaranya sejak dari tadi ia membisu.
Biya tersenyum ramah dan mengangguk duduk di tepi ranjang Alodie. "Tapi kita butuh waktu ya sampai kamu sembuh dan rahim nya siap kembali di buahi."
__ADS_1
Fathia mengangguk.
"Ya sudah kalau gitu makan yang banyak, minum obatnya juga vitamin. Aku mau pulang dulu, besok pagi kita cek lagi kondisi kamu kalau bagus bisa pulang kerumah," tambah Biya meraih jemari Alodie untuk di genggamnya.
Dokter Biya juga pamit pada Ciara dan juga Mita. Terakhir ia berpamitan pada Aka. "Pokoknya ajak ngobrol terus dan hibur dia, jangan sampai Alodie stres berat." pesannya pada Aka lalu meninggalkan ruang rawat itu.
Tak lama Mita dan Ciara juga ikut pamit pulang bersama Joe. Semuanya memberikan dukungan dan semangat tentunya untuk Aka yang harus lebih tegar dari sang istri.
"Besok pagi aku kesini lagi kok dokter," ujar Mita.
"Nggak usah Mit, kamu kerumah aja! saya mau besok pagi kamu cari disain interior buat ganti semua interior kamar saya."
"Buat apa?"
"Ganti suasana Mit!"
"Bagus itu Ka, biar istri lo dapat suasana baru dan nggak merasa stres atau trauma nantinya," kata Joe.
"Itu yang gue pikir Joe, makanya sebelum dia pulang kamar harus baru semuanya," tambah Aka.
"Siap dokter! jawab Mita memberi hormat.
"Kami pulang ya Ka," izin Joe.
"Hati-hati.Maaf gue sama Alodie nggak bisa bantu persiapan pernikahan kalian," sungkan Aka.
__ADS_1
"Santai aja, Mas Aka. Kita ngerti kok kondisi kalian sekarang," paham Ciara.