ISTRI PALSU

ISTRI PALSU
Season 3 bab 6


__ADS_3

Ponsel itu berdenting tak henti-hentinya menerima begitu banyak notifikasi. Namun ada satu yang menarik perhatian Aka. Nomor asing yang mengirim begitu banyak pesan serta puluhan panggilan tak terjawab. Rasa penasaran membuat ia membuka satu persatu pesan tersebut dan membacanya.


๐Ÿ“ฉJangan blokir lagi nomor saya! Haruskah saya selalu pakai nomor lain untuk menghubungi kamu?


๐Ÿ“ฉDi mana kamu? Kenapa telpon saya nggak diangkat?


๐Ÿ“ฉTolong balas pesan saya!


Nomornya berbeda-beda tapi, hampir semua isinya meminta Alodie palsu untuk membalas atau mengangkat telpon. Ia lalu memeriksa daftar nomor yang diblokir dalam ponsel itu. Ada sekitar tiga nomor asing dan yang satunya lagi adalah nomor Galen. Melihat itu alisnya bertaut, merasa heran lalu dibukanya semua nomor yang terblokir dan sedetik kemudian ponsel itu kembai menerima banyak notifikasi.


Aka memeriksa beberapa pesan dan semua isinya hampir sama. Terakhir ia membaca pesan masuk dari Galen. Raut wajahnya berubah serius dan tegang saat membaca semua pesan yang dikirim pria itu pada istri palsunya. Dari Fathia pergi meninggalkan rumah sampai saat Galen mengatakan kalau Alodie akan kembali ke Indonesia sudah dibaca Aka.


Ia melempar ponsel tersebut keatas meja. Menghempaskan punggungnya kesandaran kursi. "Argh!" Aka meraung sambil meremas rambutnya.


Lagi-lagi ia tertipu. Ternyata Galen sudah tau semua kenyataan ini.


Tapi kenapa dia malah mengancam Alodie palsu?


Untuk apa dia meminta Alodie palsu tak boleh berkata jujur padanya?


Aka butuh penjelasan tentang ini semua. Hanya Alodie yang bisa memberikan jawaban. Ada yang janggal, fakta baru dan kenyataan yang ia ketahui sangat berbeda.


Akhirnya orang yang di harapkan pun muncul, Alodie tiba-tiba masuk setelah mendengar teriakannya. "Mas, kamu kenapa?"


"Kesini kamu!" pinta Aka.


"Apa?"


"Jelaskan ini semua!" menyerahkan ponsel tadi pada Alodie.


Wanita itu menyambut benda tersebut. Ia merasa sedikit bingung tetapi, karena tak mau memancing keributan ia lalu membaca beberapa pesan Galen.


Mata Alodie terbelalak kaget, ia tak menyangka Aka akan menemukan dan membaca ini semua.


"I-ini ponsel siapa, Mas?" tanya Alodie gugup.


"Alodie palsu! Sekarang aku mau tanya dan kamu harus jawab jujur!"


Ia hanya bisa menganggukkan kepala tanpa sepatah kata pun terucap dari mulutnya. Alodie sudah ketakutan saat ini ketika suaminya menghunus dengan tatapan tajam.


"Kenapa Galen mengancam Alodie palsu untuk nggak boleh bicara jujur padaku?" tanya Aka secara baik-baik. Sambil menunggu jawaban dari mulut istrinya, ia duduk berpangku tangan di tepi meja.


"Jawab!"


Badan Alodie tersentak akibat bentakan Aka. "Karena Galen nggak mau kamu tau, kalau selama ini Alodie palsu yang ada disamping kamu."


"Jadi maksudnya kalian akan bertukar tempat tanpa aku harus tau kenyataan ini?!"


"Iya," angguk Alodie tertunduk.


"Galen tau, kalau selama ini wanita itu adalah kamu yang palsu?"


"I-iya," gugupnya.


"Satu lagi! Setelah kecelakaan kamu benaran koma atau mengalami kelumpuhan?" tanya Aka mengintimidasi.


Alodie menelan ludah tapi rasanya tercekat di tenggorokan. "A-aku ha-hanya mengalami kelumpuhan, Mas." Akhirnya Alodie mengungkapkan kenyataan akan ceritanya.


Saat ia kembali kerumah Aka dan mengetahui kalau Fathia sudah jujur pada suaminya. Alodie mengarang cerita kalau saat kecelakaan ia mengalami koma selama dua tahun. Lalu satu tahun terakhir ia harus menjalani terapi untuk menormalkan kembali saraf, sendi serta ototnya yang sudah kaku. Barulah ia kembali untuk menemui Aka.

__ADS_1


"Kenapa kamu bohong?" hardik Aka merasa tak terima.


"Karena aku takut kamu marah, Mas. Saat itu aku nggak mau ketemu kamu, sebab aku malu dengan kondisiku yang cacat dan lumpuh," jelasnya mengiba.


Aka tertawa keras tapi, tawa itu terdengar menyeramkan di telinga Alodie. "Hebat! Kalian semua benar-benar hebat! Artis dan aktor terhebat, bisa menjadikan hidup di dunia nyata layaknya drama.


"Ternyata gue laki-laki bodoh yang mudahnya ditipu dan dibohongi berkali-kali oleh kalian." Aka menertawakan dirinya sendiri.


"Maaf, Mas. Bukan maksud aku mau bohongin kamu, cuma aku takut saat itu kamu malah nggak mau lagi sama aku." Alodie berkilah sebagai pembelaan.


"Alasan! Ternyata kamu juga memanfaatkan keadaan ini? Kamu sengaja kan, membiarkan wanita itu menjalani posisimu hingga kamu sembuh. Setelah itu kamu kembali dan mendepaknya untuk mengambil tempatmu lagi? Hahh ... hebat sekali rencanamu, selamat ... kamu sukses besar!" Aka berapi-api ketika mengungkapkan isi hatinya. Sekarang ia mengerti Alodie dan Galen berperan penting dalam mempermainkan hidupnya.


Ia masih tak percaya dengan semua ini, mereka berhasil mengatur jalan cerita sendiri. Seolah-olah mereka adalah dalang dalam penggung kehidupan. Jika Fathia tak mengungkapkan ini semua, mungkin seumur hidupnya kebohongan yang diciptakan istrinya ini akan terus berlanjut.


Aka murka, hatinya bergejolak emosi. Hidupnya selalu di permainkan oleh Alodie, dulu hingga sekarang. Kenapa ia malah terjebak bersama wanita seperti ini? Wanita yang menganggap enteng perasaan dan hati seseorang. Melakukan semua keinginannnya bahkan sampai harus mengorbankan orang lain demi kebahagiaannya


"Mas, kamu mau kemana, Mas? Alodie menahan Aka yang sedang mengemasi baju-baju kedalam koper.


"Aku mau pergi!" sentak Aka melepaskan tangan istrinya.


"Jangan, Mas! Aku mohon kasih aku kesempatan," pintanya mulai menangis.


"Sudah banyak dan sering aku memberikan kamu kesempatan. Lalu apa? Kamu seolah-olah mengabaikannya bahkan mempermainkan rumah tangga kita." Aka geram dan terus menghindar dari wanita itu.


Alodie memangku kaki suaminya. "Mas, maafin aku. Jangan pergi, aku cinta sama kamu."


"Lepas!" hardik Aka merasa langkahnya tertahan.


"Aku nggak akan biarkan kamu pergi," isak tangis Alodie.


Aka sudah bosan dengan drama yang dimainkan istrinya. Tak mau emosi semakin menguasai lebih baik secepatnya ia meninggalkan rumah tangga yang sudah tak ada layak di pertahankan ini. Kejujuran sudah sering di hancurkan maka tak akan ada lagi yang namanya rasa percaya.


"Lepas, Al." Aka mendorong istrinya hingga terjatuh di lantai.


Pergi dengan rasa marah, membawa hatinya yang penuh luka kecewa serta penyesalan terdalam, Aka pergi dari rumah yang penuh akan kenangan. Semua berawal dari sini dan juga berakhir di rumah ini. Meninggalkan kebohongan untuk menyongsong kenyataan yang sebenarnya.


๐Ÿง„๐Ÿง„๐Ÿง„๐Ÿง„


"Loh, ada apa ini, Ka? Kenapa kamu bawa-bawa koper segala?" Alia heran ketika tengah malam sang putra datang sendirian tanpa membawa istrinya.


"Besok aja aku cerita, Mah. Sekarang aku capek, mau istirahat," jawab Aka.


Alia mengangguk, tak mau melayangkan pertanyaan lagi meski rasa ingin taunya sangat besar. "Ya, sudah sana masuk kamar, nanti papa kamu bangun malah bikin dia khawatir."


"Makasih, Mah sudah ngerti aku." Memeluk sang Mama mencari sebuah ketenangan.


Di kamarnya Aka melepaskan tangis yang sudah di pelupuk mata sejak tadi. Rasa sesal menggerogoti hatinya.


Kenapa ia dengan mudahnya percaya akan kata-kata Alodie?


Kenapa ia dengan mudahnya membenci Alodie palsu tanpa mendengarkan penjelasan?


Kenapa?


Kenapa?


Kenapa?


Aaarrrggghhh Aka memukul-mukul dinding kamar membuat buku-buku tangannya mengeluarkan darah segar. Rasa sakit yang di dapat tak sebanding dengan sakitnya hati yang kini malah kecewa dan menyesal.

__ADS_1


Dalam masalah ini baik ia, Alodie maupun Alodie palsu punya kesalahan tersendiri. Akan tetapi Alodie palsu sudah mengakui semua kesalahan yang sudah ia lakukan. Hanya tinggal ia yang tak menyadari kalau tindakannya juga salah.


Sekarang apa? Sesalnya tak berguna.


Silahkan meratapi kesedihan itu sendirian.


Jangan harap yang sudah pergi akan kembali hanya karena hati kecil menjerit memintanya pulang.


Cari, kalau bisa arungi dunia ini untuk menemukan cinta yang selama ini kamu tampik bahkan berusaha kamu benci.


๐ŸŽ๐ŸŽ๐ŸŽ๐ŸŽ


Sesuai permintaan Aka pada sang mama. Siang ini seluruh keluarga besarnya berkumpul di rumah. Termasuk Ciara dan Joe yang juga di undang Aka.


Keputusannya sudah bulat untuk menceritakan keadaan yang sudah terjadi. Siap tidak siap harus ia lakukan. Karena Aka tak sanggup menanggung beban sendirian.


"Buat apa kamu kumpulin kita, Ka?" tanya Faris sang papa.


"Ada yang mau aku bicarakan." Aka mempersiapkan hatinya.


"Silahkan!" Faris memberi waktu.


Aka menghela nafas. Bingung harus mulai dari mana.


"Lo mau ngomong apa sih, Ka? Kok rasanya tegang gini?" sela Beno.


"Ok. Jadi gini, Alodie yang selama tiga tahun bersama aku bukan Alodie yang asli," kata Aka berhasil mengungkapkan.


Semuanya terdiam. Mencerna setiap kata yang terlontar dari bibir Aka. Tapi sepertinya mereka masih belum paham.


"Maksudnya apa sih?" Bingung Kila.


"Saat kecelakaan dulu yang ditemukan polisi bukanlah Alodie, tapi orang lain. Karena bukti-bukti mengarah padanya, saat itu aku yakin kalau korban adalah istriku. Singkat cerita, aku melakukan tindakan operasi plastik pada wajahnya yang penuh luka bakar, mengembalikan seperti asli."


"Lalu?" tanya Alia.


"Setelah tindakan operasi dia pernah bilang sama aku kalau dia bukan istriku. Tapi aku malah nggak percaya dan meminta dokter meriksa keadaannya, hingga dokter pun menarik kesimpulan kalau dia amnesia."


Keluarga Aka mulai paham akan inti dari kisah yang di ceritakan Aka. Mereka semua menampakkan wajah kecewa dan sedih.


"Maaf, kalau aku baru bisa cerita sekarang. Sebab aku juga baru tau kenyataan ini 4 bulan yang lalu." Sesal Aka tertunduk.


"Alodie yang sekarang itu? Alia merasa bingung.


"Alodie asli, Mah. Dia datang setelah 3 tahun lumpuh dan menjalani terapi di Singapura. Dia bahkan memanfaatkan keadaan ini untuk membohongi aku selamanya."


"Maksud kamu apa?" Ciara mulai penasaran.


"Alodie akan mengambil tempatnya kembali tanpa aku harus tau kenyataan ini. Dia mengancam Alodie palsu agar tak jujur padaku."


Tangis Ciara langsung tumpah. Ia semakin merasa bersalah pada Fathia karena sudah membencinya terlalu dalam. "Ya Allah, Mas aku salah besar sama Fathia. Ternyata dia di manfaatkan orang dan aku malah memakinya," sesal Ciara di dada Joe.


"Lalu di mana istri kamu Aka?" histeris Alia.


"Maaf, Aka nggak tau, Mah."


"Cobaan apa lagi ini, Ya Allah." Alia menangis menerima fakta. Aka pun meraih sang mama yang terduduk di lantai dan memeluknya.


"Aka bodoh, Mah. Aka salah," gumamnya ikut berderai air mata.

__ADS_1


__ADS_2