
"Mas?" panggil Fathian dalam pelukan suaminya.
"Hhmm."
"Nggak masalahkan kalau aku belum bisa cerita sama kamu?"
Aka tersenyum palsu, jujur ada rasa kecewa di hati kecilnya. Tapi mungkin saja sang istri sedang butuh waktu atau ingin menenangkan dulu perasaannya saat ini. "Iya, nggak apa. Asalkan nanti kamu mau cerita sama aku soal apa yang sudah terjadi."
Fathia mendongakkan wajahnya. Menatap mata Aka dan mengelus rahang kasar nan ditumbuhi oleh bulu-bulu halus. "Pasti nanti aku cerita!"
Aka juga ikut membalas tatap sang istri. Lalu ibu jarinya mengusap sudut bibir Fathia yang tampak sedikit lebam. "Masih sakit? Aku obatin, ya!"
Fathia menggelengkan kepala, mengencangkan pelukannya di pinggang Aka menahan agar pria itu untuk tetep di sisi dan tak pergi meninggalkan. "Besok aja! Aku capek mau tidur, kamu jangan kemana-mana."
Aka mengalah, suasana hati sang istri yang kurang baik membuatnya tak mau berdebat.
"Ayok, kita tidur!" ajak Aka mengubah posisi mereka dari duduk bersandar menjadi berbaring. Merentangkan satu tangan kanannya untuk dijadikan bantal oleh sang istri. Mereka tidur menyamping dan saling menghadap satu sama lain.
Menghirup aroma tubuh suaminya dan berada dalam dekapan badan hangat itu sedikit mampu membuat Fathia merasa nyaman dan tenang. Untuk sesat ia bisa melupakan hari berat yang sudah di lalui nya tadi. Bagaimana esok? Entahlah, sekarang ia hanya ingin memejamkan mata barang sejenak melepas lelah serta gundah gulana yang menerpa.
"Tidur, istirahat. Jangan banyak pikiran. Semua masalah pasti bisa dilalui," kata Aka mengusap-usap kepala istrinya. Kepala Fathia mengangguk di dadanya.
Pelan tapi pasti Fathia merasa matanya yang perih sudah mulai terasa berat. Pandangannya mulai kabur tak jelas lagi dada bidang sang suami. Sampai mata sembab itu tertutup sempurna dan Fathia sudah tak sadarkan diri lagi karena terlelap.
ππππ
"Aku berangkat kerja dulu, ya," pamit Aka mencium kening istrinya diambang pintu depan rumah mereka.
"Hati-hati, Mas. Nanti makan siang aku antar ke kantor."
"Nggak usah! Biar aku yang pulang aja nanti, ya," balas Aka mengelus kepala Fathia lalu menuju mobilnya meninggalkan halaman rumah.
Setelah melepas kepergian Aka, Fathia kembali masuk kedalam rumah menuju kamar. Ia mengecek ponselnya, ternyata ada satu pesan chat di WA dari Mita. Mengatakan kalau sehabis kuliah nanti ia akan mampir. Sembari menunggu Fathia memutuskan untuk mandi supaya badan dan pikirannya terasa lebih segar.
Berlama-lama di kamar mandi, berendam di dalam bathtub dan menghirup lilin aroma terapi dapat membuat Fathia merasa lebih tenang. Untuk sementara waktu ia ingin melupakan semua masalah yang sedang dihadapi. Ingin menikmati waktu bersama Aka sebaik mungkin sebelum waktu perpisahan mereka tiba.
Dua bulan adalah waktu yang singkat bagi Fathia. Maka dari itu ia tak mau terpuruk akan keadaan, sebisa mungkin ia melupakan masalah ini dalam jangka waktu itu. Tetap di rumah melayani sang suami dan menunggu kepulangannya dari kantor. Menciptakan kenangan indah bersama Aka sambil memikirkan keputusan apa yang akan diambilnya.
Fathia tak peduli lagi dengan jadwal syuting yang sudah di atur Rike. Tak peduli dengan kontrak nan sudah terjalin. Tak peduli jika nanti Rike akan mengalami kerugian besar. Biarkan saja, anggap saja ini pembelajaran buat wanita jahat itu.
Saat ia keluar dari kamar mandi Fathia melihat ponselnya di meja rias menggelepar seakan meminta untuk segera diangkat. Tampak di layar puluhan panggilan tak terjawab dari Rike.
Harusnya satu setengah jam yang lalu ia sudah berangkat menuju sebuah studio untuk melakukan pemotretan dengan brand terkenal.
__ADS_1
Masa bodoh pikir Fathia. Ia malah memblokir nomor Rike. Lalu membuka aplikasi musik di ponselnya memutar sebuah lagu yang mewakilkan perasaannya saat ini. Dengan santai Fathia duduk di meja rias mengeringkan rambut dan memoleskan sedikit make up di wajah. Sesekali ia juga ikut menyanyikan lirik-lirik lagu seolah mengutarakan isi hatinya.
πππ
"Gimana Ciara?" tanya Fathia sambil memotong kentang dan sayuran bahan masak makan siang.
"Dia benci banget sama, Mbak!" kata Mita juga Ikut membantu.
Pas Mita sampai di rumahnya, Fathia menjelaskan semuanya pada Mita. Tak ada yg di tutupinya. Bahkan kejadian kemarin saat di kantor Rike pun juga ia ceritakan. Ia hanya ingin berbagi sedikit beban dengan Mita. Mengurangi rasa berat di dada untuk bisa bernafas sedikit lega.
Tak ada tanggapan dari Fathia. Malah wajahnya terlihat datar dan biasa saja.
"Mbak, nggak mau minta maaf lagi sama dia?"
Senyum pahit terlukis di bibir Fathia. "Sekarang bukan waktu yang tepat. Aku mau kasih waktu untuk Ciara dulu."
"Hhmm terus apa pilihan, Mbak?"
Fathia mengangkat bahu. "Untuk saat ini aku belum punya pilihan apa-apa. Masih bimbang antara jujur sama Mas Aka atau mengikuti kemauan Galen. Intinya dua pilihan itu sama! Aku akan sama-sama kehilangan Mas Aka."
"Tapi kan, Mbak bisa aja Mbak milih jujur sama dokter dan dia bisa terima."
"Aku ragu itu, Mit!" jawabnya mulai menumis bahan. di kuali.
"Makasih, ya. Yuk di buru masaknya, ntar Mas Aka pulang lagi. Ngobrolnya kita lanjutin nanti, takut bi Runi dengar," bisiknya.
πΏπΏπΏπΏ
Hampir satu bulan belakangan Fathia mengurung diri. Ia lebih suka menghabiskan waktu berdua dengan Aka di rumah. Kalaupun keluar hanya sesekali ketika diajak suaminya jalan-jalan berdua. Semua jalur komunikasi dengan teman-teman diputus Fathia. Baginya tak ada guna lagi, toh setelah ia pergi posisinya kini akan dijalani oleh Alodie asli.
Hanya dengan Aka dan Mita lah ia banyak berbagi cerita juga kadang berkunjung ke rumah mertuanya. Fathia juga sudah menceritakan pada Aka kenapa malam itu ia pulang dalam keadaan kacau, sebab ada masalah dengan Ciara yang membuat mereka berantem hebat. Alasannya, Fathia tak menjelaskan secara lengkap dan Aka memaklumi. Ini urusan para wanita tak pantas rasanya kalau ia ikut campur, pikir Aka.
Habis solat magrib Aka baru saja sampai di rumah. Buru-buru mandi dan melakukan kewajibannya sebagai muslim. Setelah itu menyusul sang istri yang sedang memanaskan makan malam untuk mereka berdua. Sedangkan Bi Runi sore tadi sudah berangkat menuju rumah orang tua Aka. Membantu Mama Alia karena acara pengajian komplek kali ini di adakan di sana.
Aka melingkarkan tangannya di pinggang ramping sang istri nan tengah menunggu sup sayurnya hangat. "Mas, kamu tuh suka bikin aku kaget tau," kesalnya mencubit lengan Aka.
"Kanapa kaget sih? orang cuma kita berdua di rumah," jawabnya membenamkan wajah di ceruk leher Fathia dan menciumnya.
"Ya kagetlah, nggak ada suaranya datang tiba-tiba."
"Iya, maaf. Udah panas belum masakannya? aku udah nggak sabar nih!"
"Nggak sabar apa?" tanya Fathia mematikan kompor lalu berbalik menghadap suaminya.
__ADS_1
"Mau makan kamu! Mumpung ini masa subur kamu."
Fathia menipiskan bibir mendorong Aka lalu mengambil mangkok dan mengisinya dengan sup tadi.
"Ih kok tampangnya kesal gitu?" colek Aka di dagu Fathia.
"Mau di lakukan pas masa subur juga akunya nggak hamil-hamil. Jadi ya udah lah!"
"Jangan gitu, usaha aja terus sekalian doa," kata Aka duduk di kursi meja makan.
"Makan dulu yuk, nanti kita bahas lagi!"
Selepas makan malam, Aka menuju ruang kerja. Sedangkan Fathia membersihkan meja makan dan dapur sekalian mencuci piring kotor. Baru setelah itu ia menyusul Aka. "Masih banyak kerjaannya?"
"Nggak, cuma ngirim E-Mail ini aja, habis itu selesai," jawab Aka merangkul pinggang istrinya dengan satu tangan satunya lagi sibuk mengerakkan mouse komputer.
"Aku duluan ke kamar, ya!"
"Dandan yang cantik!"
"Buat apa?" tanya Fathia berbalik.
"Udah sana, pakai baju **** biar lebih menarik," usir Aka mengibaskan tangan tapi matanya tetap di layar komputer.
Entah kenapa Fathia malah mengikuti permintaan Aka. Biasanya ia tak pernah mau,bahkan kadang sampai berdebat dengan Aka. Tapi kali kini ia malah begitu semangat untuk menyuguhkan diri dengan tampilan paling menarik. Di kamar ia memilih lingerie yang paling **** dalam lemari. Lalu membersihkan diri di kamar mandi, memakai sabun dengan aroma bunga kesukaannya. Setelah itu menata rambut panjangnya membuatnya sedikit bergelombang dengan alat curly. Terakhir memakai make up natural dan mengoles sedikit lip tin pink di bibir mungil itu.
"Cantik," pujinya pada orang yang ada di pantulan cermin. Sudah pasti pujian itu ia tujukan untuk Alodie bukan untuk dirinya.
Ceklek...
Connecting door antara kamar dan ruang kerja Aka terbuka lalu ditutup kembali. Aka menghampiri istrinya yang tengah berdiri di depan meja rias. Berdiri di belakang sang istri dan berbisik
"Cantik, **** dan manis," puji Aka tepat di telinga Fathia.
Fathia tersenyum merona.
Dalam balutan Lingerie merah Alodie tampak begitu menggoda membuat seluruh bulu Aka meremang seketika. Ia menyibakkan rambut hitam gelombang tadi mendaratkan satu kecupan di punggung polos Fathia dan itu mampu membangkitkan geloranya.
"Aku suka wanginya," bisik Aka
Satu kali tarik, simpul tali di punggung Fathia terlepas. Lingerie itu lolos begitu saja. Dengan sekali angkat Aka membawa istrinya menuju ranjang. Mematikan lampu utama kamar dan menggantinya dengan satu lampu kecil di atas nakas.
Aka tak mau buru-buru, ia ingin bermain dan menikmati pemandangan bagus ini lebih lama lagi. Seakan ini adalah terakhir kalinya bagi mereka berdua untuk bercumbu dan menyatu. Menciptakan kenangan yang tak mudah dilupakan.
__ADS_1
Semua benda yang ada di kamar mereka menjadi pendengar setia akan *******, erangan dan rintihan kenikmatan dari dua insan Tuhan yang sedang mereguk nikmatnya surga duniawi dan indahnya penyatuan cinta. Detik berlalu menjadi menit, menit pun berlalu menjadi jam melewati malam berbintang yang begitu indah di malam ini.