
Fathia pun turun dari sofa dan memeluk suaminya. "Suami ku ini benar-benar pengertian dan sayang keluarga," pujinya.
"Iyalah! Kalian adalah prioritas utama buat aku," jelas Aka memeluk sang istri dan juga Kafha.
"Assalamualaikum." Tiba-tiba Mita datang.
"Waalaikumsalam," jawab Fathia dan Aka.
"Hai, ponakan Aunty, sini-sini." Mita merentangkan tangannya pada Kafha, dan batita itu pun berlari menghampiri.
"Tumben udah malam ke sini?" tanya Fathia.
"Pulang kerja, Mbak. Males di apartemen sendirian mending aku ke sini, mumpung besok libur," jelas Mita mengayunkan Kafha.
"Nginap sini?" tanya Aka.
"Iya, boleh kan?"
"Ya, boleh. Emang kapan kita pernah larang," jawab Aka.
"Ciara belum pulang dari Filipin?" Fathia.
"Belum. Katanya pulang pas, Mbak udah lahiran aja."
"Mandi dulu, habis itu makan malam," titah Aka.
"Bentar dulu, dokter. Aku mau main dulu sama si gembul. Nanti kita bobok bareng, ya," ajaknya pada Kafha.
Batita itu pun mengangguk sebab di beri hadiah mainan oleh Mita.
"Jangan sering-sering kasih Kafha mainan, nanti malah kebiasaan." Fathia mengingatkan.
"Nggak pa-pa, ya kan sayang. Aunty juga senang kasih kamu hadiah tiap datang ke sini," jawab Mita.
"Ngeyel kalau di bilangin," kesal Aka.
"Hehehe ... aku itu suka nggak tahan lihat toko mainan, berasa mau borong aja buat ponakan," jelas Mita.
Aka dan Fathia hanya mencibir.
"Main sama, Papa lagi ya. Aunty mau mamam dulu, lapar," kata Mita sambil mengusap-usap perutnya.
Kafha pun kembali menarik sang Papa untuk bermain bersamanya.
"Aku ke meja makan dulu, ya," izinnya pada Fathia dan Aka.
"Iyah," jawab pasutri itu kompak.
πΏπΏπΏπΏ
"Kapan lahirannya, Mbak?" tanya Mita saat membantu Fathia menyiapkan sarapan pagi.
"Kalau tanggal perkiraannya 6 hari lagi, tapi nggak tau deh si dedek maunya kapan," jelas Fathia mengusap perut buncitnya.
"Aku di sini aja ya, sampai Mbak lahiran. Sekalian aku bisa jagain Kafha."
__ADS_1
Fathia tersenyum. "Benar, ya?"
"Iya, kasihan si gembul kalau di tinggal sama baby siternya aja nanti. Dokter Aka pasti sibuk di RS nemanin Mbak sama si dedek bayi."
Fathia pun menghela nafas berat. "Nah itu dia, aku emang kasihan sama Kafha. Belum juga dua tahun udah mau punya adek aja."
"Makanya, di stop dulu."
"Bukan aku yang mau, tuh Mas mu yang pengen banyak anak. Katanya habis ini mau nambah lagi."
"Hah ... ini aja belum brojol udah mau nambah lagi?"
"Katanya biar rumah rame."
"Rame sih rame, tapi nggak buru-buru juga kali. Santai aja. Mbak nya juga, saking enaknya lupa pakai KB."
"Nggak di bolehin, Mit. Trus aku harus gimana?"
"Yaa tapi kan, Mbak hamilnya enak kan! Di manjain loh, jadi ya nikmatin aja," kekeh Mita.
"Ini di nikmatin, meski capek tapi syukur Alhamdulillah!"
"Pagi-pagi udah pada ngerumpi," timpal Aka.
"Biasa, obrolan wanita," kata Fathia.
"Yuk sarapan sama, Aunty," ajak Mita mengambil Kafha dari gendongan Aka.
π₯π₯π₯π₯
"Masuk aja, Pak Jio. Dokter Aka ada di dalam kok," kata Mita yang sedang main dengan Kafha.
"Heh, oh iya. Hhmm jangan panggil pak, saya belum bapak-bapak," jelasnya.
Jio memang tipe orang yang pendiam. Namun baru kali ini ia mau membuka suara dengan Mita. Mereka sering ketemu di rumah Aka, tapi Jio jarang sekali terlibat obrolan lain selain pekerjaan.
"Baru kali ini saya dengar kamu ngomong panjang," goda Fathia yang juga ikut duduk di teras bersama Mita juga Kafha.
"Hehe, masak sih, Mbak?"
"Iya! Biasanya cuma ngomong sepatah atau dua patah kata."
"Masuk, Jio! Jangan di godain anak orang," timpal Aka.
"Lah, siapa yang godain sih, Mas. Kan aku ngomongnya benar," jelas Fathia.
Aka pun berlalu bersama Jio menuju ruang kerjanya.
"Jio ganteng, ya, Mit?" tanya Fathia.
Mita mengangguk. "Sayang, orangnya kaku."
"Kalau nggak kaku, kamu mau?"
"Wah, kayaknya, Mbak sengaja mancing aku, ya?!"
__ADS_1
"Hahaha ... ya siapa tau kan. Jomblo sama jomblo nggak ada masalah."
"Aku nggak mau pacar-pacaran. Udah capek di gombalin trus di sakitin. Maunya sama yang serius aja, langsung lamar," jelas Mita.
"Uuh, kasian korban ghosting."
"Sombong, mentang-mentang dapat laki setia dan penyayang," cibir Mita.
"Nanti aku tanya sama, Jio. Dia mau nggak lamar kamu."
"Eh, Mbak apa-apaan sih. Jangan lah!"
"Kenapa?"
"Yaa, jangan aja. Ntar di kiranya aku lagi yang suka sama dia."
"Loh, zaman sekarang cewek suka duluan sama cowok nggak masalah kali."
"Tetap aja gengsi. Udah jangan macam-macam!"
Fathia hanya tersenyum.
π±π±π±π±
Makan malam kali ini lumayan rame karena kedatangan Alia dan Faris, serta ada Mita juga Jio yang sengaja di tahan Fathia agar tak pulang dulu.
"Jio, kamu sudah punya pacar?" tanya Fathia.
Laki-laki itu sedikit kaget, ia sampai tersedak makanan.
"Minum dulu," kata Aka menyerahkan segelas air minum.
"Kenapa kamu tanya begitu sama, Jio, Ti?" tanya Alia.
"Kalau jomblo rencananya mau aku jodohin sama, Mita."
Giliran Mita yang tersedak.
"Wah, kayaknya emang jodoh nih," goda Aka.
"Eeehhemm ... kalau, Mbak Mita mau, saya juga mau," ucap Jio.
Semua yang ada di meja makan pun kaget. Apa lagi Fathia yang niat awal cuma bercanda tapi malah di tanggapi serius oleh Jio. Sedangkan Mita tertunduk malu.
"Kalau Mita maunya langsung di lamar, dia nggak mau pacaran," jelas Fathia.
Karena tanggapan Jio positif Fathia kembali memancing pria tersebut.
"Boleh kapan, Mbak Mita nya mau? Akan saya persiapkan," jawa Jio mantap.
Fathia dan Aka pun saling pandang. Sepertinya laki-laki ini benar-benar serius akan ucapannya. Mereka pun menatap Mita. Seakan meminta jawaban.
"Hhmm a-aku ... " Mita merasa gugup. Tak tau apakah ia harus menanggapi dengan serius ucapan pria di depannya ini.
"Sebaiknya besok kita bicarakan lagi. Sekarang nikmati dulu makan malamnya," sela Aka.
__ADS_1