
"Gimana kondisi bayi kami, Bi?" tanya Aka.
"Kondisinya sehat dan semua normal kecuali berat badannya, jauh dari berat badan normal usianya. Kandungan Fathia memasuki 23 minggu. Mulai sekarang kamu harus banyak makan makanan yang bergizi dan minum susu ibu hamil. Vitamin jangan lupa serta sayur dan buah," jelas dokter Biya.
"Terus mual sama pusingnya gimana, dokter Bi?" tanya Fathia.
"Nanti aku resepin obat anti mual. Kamu harus banyak istirahat, ya aku sedikit khawatir sama kondisi kamu yang lemah. Kalau bisa babynya jangan di jengukin dulu, ya, Ka. Takutnya nanti pendarahan."
"Perlu di rawat di Rumah Sakit nggak, Bi?" giliran Alia yang merasa khawatir.
"Nggak perlu kok, Tante. Cukup istirahat di rumah aja."
"Tapi bayinya benaran sehatkan dokter? Soalnya kemaren, Mbak Fathia habis dikeroyok tahanan. Aku masih khawatir sampai sekarang," sela Mita.
"Sehat kok, Mit. Aku yakin mereka kuat kok. Iya kan, Ti?" Biya berusaha meyakinkan seluruh anggota keluarga Aka.
Fathia mengangguk dan tersenyum hangat pada semuanya. Seolah membenarkan ucapan dokter Biya bahwa ia dan bayinya sangat kuat menghadapi kejamnya kehidupan dunia.
Semua orang dapat bernafas lega. Tinggal PR mereka sekarang adalah membuat berat badan Fathia dan bayi dalam kandungannya naik drastis agar saat melahirkan nanti bayi itu lahir dalam kondisi sehat.
Mita pun membantu Fathia kembali ke kamarnya untuk istirahat. Ia masih tak bisa dekat dengan sang suami meski ingin rasanya, karena rindu mereka belum terlepaskan.
"Makasih, ya, Mit!"
"Iya, Mbak istirahat, ya! Aku mau ke apotik tebus obat sama vitamin yang diresepkan dokter Biya tadi. Nggak pa-pa kan aku tinggal?" tanya Mita sebelum pergi.
"Nggak apa. Nanti aku kalau butuh apa-apa bisa minta sama, Mas Aka."
"Nanti mual lagi loh, Mbak udah muntah-muntah tiga kali hari ini," khawatir Mita.
Fathia tersenyum. "Aku bujuk anaknya, biar nggak mual lagi kalau dekat sama bapaknya."
"Ya udah, aku pergi, ya. Nanti aku panggilin dokter Aka biar ke sini."
Fathia mengangguk menatap punggung Mita yang menjauh dan hilang di balik pintu. Ia menghembuskan nafas lega. Menyandarkan tubuhnya pada bantal nan di tumpuk Mita tadi agar ia merasa nyaman saat istirahat.
"Kamu marah sama, Papa ya, Nak?" Fathia mengusap perutnya dan mengajak bayi yang masih dalam kandungan itu berbicara. "Kenapa sekarang bikin, Mama mual? Padahal kemaren kamu baik-baik aja, nggak bikin, Mama susah. Jangan gitu lagi, ya! Mama kangen, Papa loh masak nggak boleh dekat-dekat Papa."
"Papa juga kangen, Mama sama dedek bayi," timpal Aka yang baru saja masuk kamar. "Boleh aku ke sana?"
Fathia mengangguk. "Sini, Mas!"
Aka mendekat dan duduk di pinggir kasur samping sang istri, tangannya mulai menyentuh perut Fathia. Wajah Aka berseri penuh bahagia. Ini kali pertama ia merasakan gerakan anak mereka. "Dia gerak loh sayang!"
"Mungkin dia udah nggak marah lagi sama kamu."
Aka menyibakkan sedikit baju sang istri dan menciumi perut buncit Fathia. "Maafin, Papa, ya, Nak sudah bikin kamu dan Mama kesusahan dan menderita. Papa janji akan bikin kamu sama Mama bahagia."
Fathia ikut tersenyum bahagia, ia membelai rambut hitam sang suami yang tengah asik berbicara dengan anak mereka.
"Sehat-sehat di dalam perut, Mama. Kamu mau apa nanti pasti, Papa penuhi," ujarnya mengelus perut itu yang terus bergerak tak henti-hentinya seolah sang bayi merespon suara sang Papa.
"Aaww, aadduuhh sakit, Nak kamu geraknya kekencangan," ringis Fathia memegang perutnya.
"Kamu happy ya? tanya Aka di perut istrinya.
"Iiiissshh udah, Mas kayaknya dia senang bangat dengar suara kamu. Aku sampai sakit gini di tendang dari dalam."
Aka merapikan kembali baju sang istri dan memeluknya. Lalu ia labuhkan sebuah kecupan di kening Fathia. "I love you!"
__ADS_1
"Love you to, Mas," balas Fathia menatap dalam bola mata suaminya. Cukup mata yang berbicara seberapa besar mereka saling mencintai, karena tak ada kata-kata nan mampu untuk mengungkapkannya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Saat akan makan malam Aka menuntun istrinya menuju meja makan. Sejak siang tadi Fathia sudah tak mual lagi di dekatnya. Mereka pun bisa saling melepas rindu, banyak hal yang mereka ceritakan sampai keduanya tertidur sambil berpelukan. Sungguh membuat Fathia merasa hidupnya mulai kembali cerah.
"Udah nggak mual lagi, dekat sama Aka, Ti?" tanya Alia.
"Udah enggak kok, Mah!"
"Dibujuk tadi anaknya, bilang kalau Mamanya kangen sama Papa. Papa, juga kangen sama, Mama. Iya kan, Nak?" Aka merunduk bertanya pada bayinya di perut sang istri.
"Syukur kalau gitu, Yuk duduk, kita makan," ajak Faris.
"Jadi nggak perlu minum obat mual tadi dong?" tanya Mita.
"Nggak usah! Cukup minum vitamin aja," kata Aka.
Di sela-sela menikmati makan malam mereka iringi dengan obrolan ringan.
"Kamu nggak kuliah lagi, Mit?" tanya Aka.
Mita hanya menggeleng. "Aku udah di drop out dari kampus karena nggak bayar uang kuliah."
"Loh kok bisa? Bukannya waktu itu, Mbak udah bayar uang kuliah kamu sampai lunas?" protes Fathia.
"Katanya uang kuliah naik, jadi aku harus bayar sisanya."
"Kamu kuliah di Universitas mana?" tanya Faris.
"DI Universitas Gerak Maju, Om. Fakultas hukum."
"Besok biar, Om urus. Om kenal sama rektornya. Bisa-bisanya uang kuliah sudah di bayar lunas masih minta bayaran lagi," geram Faris.
"Kamu nggak perlu makasih segala, Mit. Kita ini sekarang keluarga, kamu sudah seperti anak bagi Tante dan, Om termasuk kakak kamu," terang Alia.
"Besok kamu ikut, Papa ya, Mit dan bawa bukti pembayarannya," tambah Aka.
ππππ
"Masih sakit punggungnya? tanya Aka pada sang istri saat mereka sedang bersantai menonton TV di kamar.
"Sedikit," jawab Fathia yang menyandar di dada bidang suaminya. "Mas?!"
"Iya, Honey ada apa?"
"Kamu cinta sama aku buka karena wajah aku masih kayak, Mbak Alodie kan?"
"Yaa nggak lah! Aku cinta kamu ya karena diri kamu!"
"Tapi kamu belum lihat wajah asli aku loh?!"
"Nggak peduli aku! Mau kamu jelek sekalipun nanti aku tetap cinta dan sayang," jawab Aka mengeratkan pelukan.
"Kamu nggak penasaran gitu sama wajah aku yang asli?"
Aka tampak sedang berfikir. "Iya juga sih, kok aku baru sadar sekarang. Kamu punya foto nggak?"
"Hhmm kalau pun ada aku nggak mau kasih lihat sekarang!"
__ADS_1
"Kenapa?"
"Nanti kamu malah nggak cinta lagi sama aku, gara-gara wajah aku jelek!'
"Nggak lah sayangku. Apa pun rupa kamu nanti, cinta aku akan tetap sama!"
"Benar ya?"
"Iya," gemas Aka mencubit hidung istrinya.
"Nanti aja kamu lihatnya saat aku berhasil operasi plastik lagi."
"Itu masih lama, Honey! Kamu harus lahiran dulu."
Fathia tertawa lalu mengecup sekilas bibir Aka. "Sabar, ya. Biar kejutan!"
Aka kembali mendaratkan bibirnya di bibir sang istri. Menikmati rasa yang sudah lama tak ia kecap. Semakin dalam dan menuntut membuat keduanya mulai terbakar panasnya gelora. Aka melepaskan tautan bibir mereka. Tampak dada keduanya naik turun akibat nafas nan memburu.
"Aku kangen kamu, tapi sekarang kita tunda dulu ya, sampai si baby bisa untuk di jenguk," ucap Aka menempelkan kening mereka.
Fathia mengangguk setuju, lalu memeluk erat suaminya. "Maaf, ya, Mas kamu harus nahan diri dulu."
"Aku sabar kok nunggunya!"
Tiba-tiba Fathia melepaskan pelukan mereka dan turun dari pangkuan Aka. Wajahnya merubah kesal.
"Kenapa?" Bingung Aka.
"Kamu pasti udah tidur sama, Mbak Alodie ya?" tuduh Fathia.
Aka pun tertawa, ternyata istrinya cemburu. Berpikir kalau ia sudah melakukan hubungan intim bersama Alodie. "Nggak pernah, sayang!"
"Bohong!" kata Fathia air mata sudah menggenang di pelupuk matanya.
"Jujur aku emang pernah hampir tidur sama dia tapi nggak jadi karena aku langsung ingat sama kamu."
"HHHHAAAA tuh kan! Kamu udah pegang-pegang, Mbak Alodie," tangis ibu hamil itu pun pecah.
"Sssuutt jangan nangis dong. Kan cuma pegang sama cium aja, nggak sampai masuk loh."
"AAAAA kamu jahat!" Fathia memukul-mukul suaminya.
Aka hanya bisa pasrah, hormon kehamilan membuat mood sang istri berubah-ubah. Tetapi ia senang ketika melihat Fathia sedang cemburu seperti sekarang. Sebab baru kali ini wanita itu menunjukan rasa cemburunya sejak mereka bersama.
Ia pun mendekat dan memeluk Fathia. "Aku cuma sampai melepas baju atasnya, setelah itu aku tinggal pergi karena bayangan kamu selalu datang menganggu aku." Bisiknya.
Fathia mulai menyusut ar mata. "Benar?"
Aka mengangguk. "Nggak dapat apa-apa juga, cuma sekedar ciuman."
"Aku percaya," katanya tersedu-sedu.
"Kamu wanita satu-satunya yang bikin aku bisa menolak sentuhan wanita lain."
Bibir Fathia mengembangkan senyuman, pipinya pun merah merona. Ia tak menyangka kalau Tuhan mengabulkan semua doa-doanya selama ini. Tetap menyatukan mereka dalam rumah tangga dan saling mencintai.
"Besok kita konsultasi sama dokter Labib, ya. Kapan bisa dilakukan operasi plastik untuk mengembalikan wajah asli kamu," kata Aka.
"Tapi di rumahkan, Mas?" Fathia sendiri sepertinya memiliki rasa takut berlebih jika hendak keluar dari persembunyiannya.
__ADS_1
"Iya, di rumah kok. Kamu nggak perlu khawatir, dokter Labib sudah tau ceritanya dan dia akan membantu."
Fathia mengangguk ragu. Tapi ia bisa percaya pada sang suami. Hal ini memang perlu dibicarakan segera demi kebaikannya, termasuk anak mereka nanti.