ISTRI PALSU

ISTRI PALSU
Season 3 bab 23


__ADS_3

Aka tersenyum sambil mengedipkan mata pada istrinya yang kesal. Fathia masih saja tetap cemberut karena harus melayani sang suami di siang hari. Pria itu bukannya merasa lelah setelah acara pernikahan mereka kemaren malah begitu semangatnya menggempur sang istri untuk segera hamil lagi.


"Nanti malam aku pijitin," ucap Aka mencolek dagu Fathia.


"Nggak usah!"


"Hahaha kenapa nggak mau?"


"Yang ada nanti kamu malah bikin aku makin capek, Mas."


"Hehehe aku ini bayar libur selama beberapa bulan belakangan, Honey."


"Bayar libur tapi malah bikin aku capek," ketus Fathia.


Aka memeluk sang istri lalu mengecup puncak kepalanya. "Kita turun, bentar lagi hadiah ke dua mau datang. Kita tunggu di depan," ajak Aka.


"Hadiah?"


"Iya, buat kamu sama Kafha."


Meski masih kesal Fathia mengikuti langkah kaki suaminya. Sampai di halaman sebuah mobil tampak memasuki rumah mereka.


"Mobil baru?" tanya Fathia tak percaya.


Aka mengangguk.


"Kamu serius? Tadi rumah ini- dan sekarang mobil?"


"Iya, sayang. Ini mobil buat kamu sama Kafha kalau mau jalan-jalan," yakin Aka merangkul sang istri.


Setelah mobil di turunkan dari truk pengangkut. Fathia mendekati mini cooper berwarna merah hitam itu. Aka pun menandatangani surat tanda terima dari pihak dealer mobil.


"Terimakasih banyak dan ini surat-suratnya. Kalau begitu kami permisi," izin mereka.


"Suka?" tanya Aka mendekati.


"Suka banget, Mas. Tapi ini pasti mahal ia kan?!"


"Sini." Aka menarik sang istri agar lebih dekat dengannya. "Apa pun buat kamu dan Kafha aku nggak peduli sama harganya, karena kebahagian kalian berdua itu jauh lebih berharga buat aku."


"Tapi udah, ya, Mas. Jangan ada hadiah-hadiah mahal lainnya. Sayang duit, mendingan di simpan buat masa depan Kafha," ucap Fathia memeluk sang suami.


"Tenang sayang! Semua sudah aku persiapkan, kamu nggak perlu khawatir. Kita ke rumah Mama pakai mobil baru?"


Fathia mengangguk senang.


🌿🌿🌿🌿


"Kita sekalian mau pamit ke sini. Terimakasih sudah di izinkan tinggal di sini dan sekarang aku mau bawa anak sama istriku tinggal di rumah kami," jelas Aka pada Alia dan Faris.


"Kalian mau tinggal di sini selamanya juga nggak masalah. Papa sama Mama senang ada kalian, rumah jadi rame apa lagi sejak ada Kafha, Papa jadi semangat lagi buat hadapi hari-hari tua," tutur Faris.


"Kita pasti sering-sering main ke sini kok, Opa," kata Fathia yang memeluk sang putra.

__ADS_1


"Mama juga ngerti, kalian pasti ingin hidup mandiri. Jadi Mama nggak mau paksa kalian untuk tetap di sini, Mama ikhlas kalau kalian pindah," terang Alia.


"Syukur kalau begitu. Aku juga takut, Mama sama Papa bakalan sedih," ujar Aka.


"Nggak kok, kita santai aja, Ka," balas Faris.


Usai makan malam, Aka membawa anak dan istrinya untuk segera kembali ke rumah baru mereka.


"Hati-hati di jalan," pesan kedua orang tua itu.


Sebelum mobil mereka melaju, Aka dan Fathia melambaikan tangan dari dalam mobil pada Alia dan Faris.


"Bobok dia sayang?" tanya Aka mencolek pipi putranya yang berada di pangkuan sang istri.


"Iya, Mas. Kecapekan kayaknya main sama Opanya."


Aka mengemudikan mobil dengan kecepatan yang sedang agar sang putra merasa lebih nyaman selama perjalanan.


"Besok pagi aku mau ke kantor polisi," ucap Aka.


"Ngapain, Mas?"


"Mau membebaskan Alodie dan Galen dari penjara."


"Iya, Mas. Menurut aku itu lebih baik. Kita sekarang sudah bahagia, biarkan mereka bebas. Kalau soal hukuman, biarlah Tuhan yang memberikannya nanti," kata Fathia menghembuskan nafas.


"Aku dapat kabar dari pengacara mereka kalau Alodie sedang sakit dalam tahanan."


"Kanker rahim."


Fathia menutup mulutnya karena terkejut akan berita itu. "Lalu gimana kondisi, Mbak Alodie sekarang?"


"Aku juga belum tau. Besok mungkin sekalian aku jenguk."


"Sebaiknya kamu juga bantu dia, Mas. Setidaknya gratiskan biaya perawatan di Rumah Sakit. Dia sekarang sudah nggak punya penghasilan."


"Iyah, besok aku selesaikan dulu masalah di kantor polisi. Baru setelah itu bicara dengannya."


"Semoga Mbak Alodie bisa sembuh dan bahagia juga, ya, Mas dengan laki-laki yang mencintainya."


"Aamiin."


πŸŽ„πŸŽ„πŸŽ„πŸŽ„


"Selamat atas pernikahan kamu, Mas." Alodie berkata dengan suara lemah ketika Aka datang menjenguknya di Rumah Sakit tahanan.


"Terimakasih. Saya datang kesini ingin mengatakan kalau kamu dan Galen sudah saya bebaskan dari tuntutan, artinya kalian bebas," jelas Aka.


"Kamu serius, Mas?" tanya Alodie tak yakin.


Aka mengangguk. "Dari sini kamu nanti akan di antar ke Rumah Sakit saya. Di sana akan di lakukan pemeriksaan tentang penyakit kamu lalu baru di lakukan tindakan.


"Sebelumnya aku ucapkan terimakasih banyak karena kamu sudah membebaskan Aku dan Galen. Tapi kalau untuk masalah penyakit ku ini, biarlah aku tanggung sendiri, Mas." Alodie merasa tak enak hati.

__ADS_1


"Jangan menolak, ini permintaan istri saya. Dia ingin kamu sembuh dan bahagia dengan Galen."


Alodie merasa tersentuh dan rasa bersalahnya semakin dalam pada Fathia. Air matanya pun turun membasahi pipi.


"Dia nitip salam juga mengirim masakan buat kamu. Dia nggak bisa datang, karena anak kami sedang rewel," jelas Aka meletakkan rantang makanan di samping Alodie.


"Sampaikan terimakasih ku pada Fathia, juga aku ingin bertemu dengannya mau meminta maaf secara langsung," pinta Alodie mengusap pipinya yang basah.


"Pasti akan saya sampaikan. Kalau begitu saya pamit pulang," izin Aka meninggalkan ruang rawat Alodie.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Dua bulan ini kehidupan Aka dan Fathia berjalan sempurna. Mereka sedang menikmati kebahagiaan berumah tangga dengan satu putra. Kemaren mereka juga baru saja menjenguk Ciara yang habis melahirkan. Aka semakin tak sabar ingin memiliki bayi lagi meski putranya baru berusia 9 bulan.


"Kamu kenapa sih, Nak? Dari kemaren rewel terus, kangen Papa, ya?" Fathia mengayun sang putra yang sedang menangis.


Ia mengambil ponselnya lalu menghubungi Aka lewat VC.


πŸ“±Kenapa sayang?


πŸ“±Kamu kapan pulang, Mas? Kafha dari kemaren kamu pergi rewel mulu. Kayaknya dia nggak bisa di tinggal kamu deh.


πŸ“±Hari ini aku usahakan semua kerjaan beres dan sorenya langsung pulang.


πŸ“±Benar, ya?!


πŸ“±Iyah. Anak Papa sabar, ya. Bentar lagi Papa pulang.


🎍🎍🎍🎍


Tepat jam 8 malam Aka pun sampai di rumahnya. Rasa lelah dan capek nya langsung berkurang ketika melihat anak dan istrinya sudah menunggu di depan pintu rumah.


"Assalamualaikum," kata Aka menghampiri dua orang tersebut.


"Waalaikumsalam, jawab Fathia.


Aka mengecup kening sang istri lalu mengambil alih sang putra. "Badan kamu kok panas sih sayang?" tanya Aka pada istrinya.


"Masak sih?"


"Iya loh," kata Aka menempelkan telapak tangannya di kening dan leher istrinya. "Masuk dulu yuk!"


"Anak Papa rewel kenapa?" tanya Aka pada sang putra saat mereka sampai di kamar.


"Nggak tau, Mas. Kafha nggak mau lagi mimik sama aku, susu di botol juga nggak di minum. Dikit-dikit nangis," jelas Fathia membereskan koper suaminya. Aka baru saja kembali dari Surabaya.


"Sekarang masih nggak mau?"


"Coba kamu pegangin botol susunya, Mas."


Kafha menolak dan terus menangis.


"Uluh, uluh anak Papa nggak mau lagi mimik nya Mama? Mau di ganti aja sama susu sapi, iya nak?"

__ADS_1


__ADS_2