ISTRI PALSU

ISTRI PALSU
108


__ADS_3

"Muach, nanti aku kabarin kalau sudah sampai RS," kata aka mencium kening istrinya sebelum berangkat ke RS.


"Hati-hati ya Mas, bekalnya di habisin ya."


"Pasti! aku berangkat ya. Mita jagain istri saya," pamit Aka.


"Siap pak dokter," jawab Mita mantap.


Kepergian mobil suaminya Fathia dan Mita pun masuk kedalam rumah.


"Kamu sudah makan malam Mit?" tanya Fathia sebab Mita baru saja sampai.


"Udah Mbak."


"Oh, tapi kalau lapar makanan ada di dapur, ambil sendiri aja nggak usah sungkan."


"Siap Mbak!"


"Kamu tidur di kamar tamu ya," ajak Fathia mengantar Mita untuk berganti pakaian.


"Wwwwaaahhh kamarnya bagus banget Mbak," kagum Mita."Kalah sama kontrakan saya."


"Oh iya Mit, kamu kerja sama saya sudah 4 bulan tapi kita belum saling kenal.Ngobrol cuma sebatas kerjaan aja," tutur Fathia duduk di kasur.


"Hehehe... kerja sama Mbak aja saya udah senang banget kok. Saya mah sadar diri orang sesibuk Mbak mana mau ngobrol sama saya, orang nggak penting ini," kata Mita merasa rendah.


"Jangan ngomong gitu! saya bukan nggak mau ngobrol sama kamu, cuma mungkin karena waktunya aja yang belum pas. Lagian saya cuma fokus sama kerjaan terus ngurus mas Aka deh."


Mita hanya tersenyum sungkan.


"Ok deh sekarang kamu cerita sama saya, kenapa bisa ketemu Mbak Rike dan kerja sama dia?"


Mita pun duduk di kasur dan mulai bercerita. "Tetangga saya di kampung ada yang punya restoran di sini. Nah pas dia pulkam saya minta di ajak kesini mau cari kerja. Akhirnya dia bawa saya ke Jakarta, pas dia ketemu sama langganannya, mbak Rike. Dia minta tolong cariin loker buat saya, jadi deh mbak Rike ajak saya jadi asistennya Mbak waktu itu."


"Oh jadi kamu dari kampung. Tinggal di sini sama siapa?"


"Sendiri Mbak, ngontrak."


"Terus motor yang suka kamu pake motor siapa?"


"Motor tetangga saya itu Mbak, katanya di pinjamin dulu buat saya berangkat kerja waktu itu sebelum terima honor. Tapi sekarang motornya saya beli."

__ADS_1


"Di kampung punya saudara? mama papanya?"


"Kalau mama sudah meninggal waktu pas lahirin saya. Papa kerjanya cuma tambal ban, nah kalau saudara saya nggak punya. Tapi kata papa saya, saya punya saudara seibu di kota ini, tapi saya nggak tau rupanya kayak apa." Cerita Mita.


"Hah, kok bisa gitu? sama sekali nggak pernah lihat wajahnya?"


Mita mengangguk. "Waktu itu sempat kita telponan pas saya masih SD, tapi cuma beberapa kali sejak itu nggak pernah lagi karena kita ngerasa kayak ngobrol sama orang asing gitu."


"Eh, cerita kamu hampir sama kayak Ciara tau nggak!"


"Maksud Mbak?"


"Kamu tau Ciara kan?"


Mita mengangguk cepat dan raut wajahnya mulai penasaran.


"Ciara juga cerita kalau dia punya adik di kampung ibunya, tapi mereka nggak pernah ketemu sama sekali. Dia juga bilang dulu pernah komunikasi tapi akhirnya nggak pernah lagi soalnya mereka nggak akrab, jadinya komunikasi putus gitu aja.Tapi Ciara sering kok kirim uang buat adiknya itu."


"Apa mungkin ya Mbak? ah tapi nggak deh, dia kan artis mana mungkin saya ini adiknya," sanggah Mita.


"Apa kamu juga suka di kirim uang sama saudara kamu itu?"


"Eh, kamu itu cantik tau! cuma kurang dandan. Ntar kapan-kapan kita ke salon bareng," ajak Fathia. "Mmm kamu punya nggak rekening bank saudara kamu itu?"


Mita menggeleng "Uangnya di kirim lewat rekening tetangga Mbak."


"Ya udah telpon tetangga kamu itu! minta bukti siapa yang sering transfer uang buat kamu."


"Hehehe... maaf Mbak saya nggak punya nomor tetangga itu, kan baru punya ponsel sekarang," jawab Mita menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Fathia menghela nafas. "Terus kamu telpon bapak kamu di kampung gimana?"


"Lewat tetangga yang bawa saya ke sini. Sebulan sekali di pasti pulang kampung, jadi saya sebulan sekali hubungin bapak."


"Mita, Mita. Kamu itu polos apa bodoh sih Mit ? uang yang dikasih suami saya buat gaji kamu itu kenapa nggak kamu beliin ponsel satu buat bapak kamu?" tanya Fahtia kesal.


"Hehehe... ia ya Mbak saya kok nggak kepikiran! eh tapi nanti bapak belum tentu bisa pakenya Mbak!?"


"Mita, kalau kamu kasih ponsel kayak punya kamu ini ya mungkin bapak kamu akan bingung pakenya! cukup kamu beli ponsel biasa yang bisa telponan sama terima pesan, nah kamu kirim sama tetangga kamu itu sekalian minta dia ngajarin bapak kamu buat pakenya," jelas Fathia dengan sabar.


"Oh, ok siap Mbak. Besok saya langsung beli ponselnya terus kirim sama tetangga saya itu, soalnya 2 hari lagi dia pulkam." Semangat Mita.

__ADS_1


"Nah, gitu! jadi kamu bisa kapan aja hubungin bapak kamu."


"Hehe ia Mbak, maaf ternyata pemikiran saya masih kampungan," ujar Mita meras malu.


"Nggak apa! asal kamu mau di bilangin dan mau belajar. Masalah simpel begitu seharusnya kamu bisa atasi!" Nasehat Fathia.


"Ia Mbak, Terimakasih!"


"Satu lagi, besok saya akan coba pastikan sama Ciara tentang Almarhum mamanya. Punya saudara kok nggak saling cari, aneh kalian tau nggak."


"Ia Mbak, maaf . Sekali lagi Terimakasih," ujar Mita tertunduk. Baru kali ini ia melihat Alodie palsu marah plus kesal. Meski suaranya lembut tetap saja Mita merasa takut.


🍏🍏🍏🍏


Jam 2 pagi Fathia terbangun dari tidur gelisah nya. Entah ada apa gerangan, sejak matanya terpejam ia tak dapat tidur nyenyak. Bukan karena tak ada Aka di sampingnya tapi ini sesuatu yang lain, sesuatu tak tak dapat di jelaskan oleh Fathia, perasaannya gelisah tak menentu. Ia pun memutuskan untuk solat malam lalu berdoa dan membaca kitab suci.


Dilihatnya jam dinding sudah pukul 3 dini hari, Fathia mencoba menghubungi Aka. Siapa tau mendengar suara suaminya ia dapat merasa lebih baik. Tapi raut wajah Fathia berubah cemas ketika nomor yang di tujunya tidak aktif.Hatinya semakin resah. Ada dorongan kuat di dada untuk menyusul Aka ke RS.


"Mit, Mita," panggil Fathia di depan kamar tamu.


"Hhmm, ia bentar Mbak," jawab Mita dari dalam."Ada apa Mbak? pagi-pagi gini kok udah bangun?" tanya Mita di ambang pintu.


"Mit, temanin saya ke RS tempat mas Aka dinas yuk," ajak Fathia resah.


"Ngapain Mbak?"


"Udah ikut saya yuk! perasaan saya nggak enak nih, nomornya mas Aka nggak aktif."


"Telpon RS nya aja, tanya dulu sama resepsionisnya," usul Mita.


"Udah Mit, nggak ada jawaban," kekeh Fathia.


"Ok deh, saya ambil jaket dulu."


...****************...


Mohon dukungannya ya dan jejak kalian di tinggal dong jika sudah membaca novel aku ini πŸ₯Ί


Beri like πŸ‘ tinggalkan komentar πŸ–Š jadikan Favorit πŸ’œ dan beri hadiah 🎁


Terimakasih.

__ADS_1


__ADS_2