ISTRI PALSU

ISTRI PALSU
Season 3 bab 16


__ADS_3

Siang hari ini Aka mengajak Fathia menuju satu restoran. Meski sang istri bertanya-tanya tapi ia tak mau menjelaskannya terlebih dahulu. Mita sampai pusing mendengarkan perdebatan pasutri yang ada di depannya ini. Selama di perjalanan Fathia selalu mendesak sang suami mengatakan hendak kemana tujuan mereka.


"Mas, malu aku restorannya rame," kata Fathia ketika mau turun dari mobil.


"Nggak usah malu! Aku akan menjelaskan ke semua orang tentang kamu yang sebenarnya," ujar Aka.


"Maksud kamu apa sih, Mas? Aku nggak ngerti! Mau jelasin gimana, orang pasti nanti akan mengira aku ini Mbak Alodie."


"Makanya turun dulu, Mbak!" sosor Mita.


Akhirnya Fathia menuruti permintaan Aka untuk ikut masuk kedalam. Namun saat mereka sampai di dalam para wartawan dan awak media tampak sudah berkumpul di sana, membuat Fathia kaget dan sedikit khawatir.


"Mas, kita bicara berdua dulu" ajaknya menarik tangan Aka.


Aka pun membawa sang istri memasuki satu ruangan khusus privasi di rsetoran itu.


"Itu wartawan sama media buat apa mereka di sini?" tanya Fathia.


"Aku mau konfrensi pers soal kamu."


"Maksudnya?"


"Aku akan menjelasakan kesalahpahaman orang-orang selama ini."


"Kamu mau bilang kalau aku ini Alodie palsu?"


Aka megangguk.


"Mas, aku rasa nggak perlu deh. Udah lah biarin aja. Yang penting bagi aku kamu cinta sama aku dan kita sudah bersama itu udah cukup." Fathia memang tak mengiginkan hal ini. Bukan karena malu hanya saja baginya orang banyak tak perlu tahu akan masalah mereka.


"Aku cuma mau orang-orang tau, kalau Alodie yang selama tampil di layar kaca dengan kemampuan aktingnya nan hebat itu adalah kamu, penghargaan yang di terima Alodie saat itu adalah hak dan milik kamu," jelas Aka mengengam tangan istrinya.


"Tapi, Mas ak-"


"Ngak ada tapi-tapian. Ini demi kenyamanan kamu, agar setelah orang-orang tau kamu bisa jalan-jalan keluar rumah tanpa rasa malu sama sekali. Lagian ini demi anak kita sayang, coba kamu pikir suatu saat nanti anak ini akan dikira orang-orang adalah anak aku sama Alodie. Status aku sebagai pengusaha terkenal pastinya akan jadi sorotan media. Mereka akan bigung nantinya saat kamu muncul dengan wajah asli kamu."


Fathia mencoba mencerna ucapan Aka, ada benarnya juga. Yang orang tau saat ini Alodie lah yang tengah hamil bukan dia. Tak terima jika nanti anak kandungnya di bilang anak Aka dengan mantan istri pertamanya. Juga pasti nanti orang-orang akan berpikiran kalau ia adalah pelakor dalam rumah tangga Aka dan Alodie.


"Gimana? Kamu setuju untuk kita keluar dan menjelaskan semuanya?" tanya Aka penuh harap.


Fathia menghembuskan nafas, "Ok aku setuju!"


Bibir Aka tersenyum mekar ia memeluk sang istri lalu mereka berjalan bergandengan keluar dari ruangan itu menuju meja nan sudah di siapkan. Jio pun meminta para wartawan dan media mempersiapkan diri karena Aka dan pengacaranya akan membeberkan kesalahan nan sudah di lakukan Galen dan Alodie.


Semua dijelaskan Aka mulai dari kecelakaan yang dulu di alami Fathia bersama Alodie lalu masalah sang istri yang sengaja berpura-pura amnesia demi menjadi Alodie palsu sampai istrinya di jebloskan ke dalam penjara oleh Alodie dan Galen.


Semua tak ada yang terlewatkan, Aka juga menjelaskan kalau sekarang istrinya tengah hamil anak mereka dan setelah melahirkan nanti Fathia akan melakukan operasi plastik untuk mengembalikan wajahnya yang asli. Bahkan mereka akan melangsungkan pernikahan nantinya setelah sang istri menjalani masa pemulihan.


"Sudahkah Alodie dan Galen di jatuhi hukuman?" tanya seorang wartawan.


"Belum! Persidangan masih berlanjut." Aka


"Jadi benar berita soal Anda dan Alodie akan bercerai?" tanya media lain.


"Benar! Pengadilan pun sudah mengesahkan perceraian kami." Aka


"Kapan pernikahan kalian Akan di laksanakan?" wartawan lainnya.


"Tunggu saja kabarnya. Saat ini kami ingin fokus dulu pada kelahiran anak kami." Aka.


"Apakah nanti istri Anda akan kembali ke dunia entertainment dengan wajah barunya?"


"Untuk itu biar istri saya yang menjawab." Aka memandangi Fathia.

__ADS_1


"Untuk saat ini saya belum kepikiran sampai sana. Ada kemungkinan asalkan suami saya memberikan izin," jawab Fathia mendapat anggukan dari suaminya.


"Baik, sesi pertanyaan cukup sampai di sini. Jika ada hal lain yang ingin kalian ketahui soal proses hukum Alodie silahkan ajukan pertanyaan pada pengacara saya," kata Aka. Lalu ia membawa sang istri keluar dari sana.


Kini Aka bisa bernafas lega, keadilan dan pengakuan semua orang sudah ia dapatkan untuk sang istri tercinta. Fathia bisa menikmati hidupnya tanpa harus merasa malu jika masih menyerupai Alodie.


Aka pun sudah meminta waktu pada pengadilan sebelum merubah kembali rupa istrinya karena ia tak mau nanti Galen malah menuntut persoalan ini.


Pengadilan pun hanya memberikan waktu sekitar 6 bulan dari sekarang.


🌱🌱🌱🌱


"Honey," panggil Aka mencari istrinya di kamar.


"Apa, Mas?"


"Hehehe aku pikir kamu udah ketiduran." Ia pun ikut duduk di samping Fathia nan sedang bersantai di sofa.


"Besok kita belanja perlengkapan baby ya!"


Fathia tersenyum senang. "Serius?"


"Ia lah, kita belum beli apa-apa loh. Harus di persiapkan mulai sekarang," jawab Aka menyelipkan anak rambut istrinya di balik telinga.


"Kita perginya bareng Mama ya. Aku nggak tau mau beli apa nanti."


"Iya, ajak Mita juga. Sekalian kita jalan-jalan di mall. Kamu bisa belanja sepuasnya."


"Benar ya, aku emang mau beli baju sama sendal. Semua baju aku udah kekecilan," kata Fathia sedikit cemberut.


"Borong satu mall juga boleh!"


"Boros kamu mah."


"Buat istri nggak pa-pa kali. Lagian aku kerja buat siapa? Buat kamu sama anak kita lah," kata Aka mencubit gemas pipi istrinya.


"Kamu makin bulat, makin gemas!"


"Berarti, Mbak Alodie yang gemas."


"Kok gitu?"


"Kan aku masih kayak, Mbak Alodie!"


"Muach," Aka mengecup sekilas bibir istrinya. "Ngomong gitu lagi aku habisin kamu!"


"Jangan!"


"Kenapa jangan?"


"Capek, pijitin dulu," rengek Fathia manja.


"Pindah kasur yuk." Aka mengendong istrinya ala bridal menuju kasur dan membaringkannya di sana.


"Mas, katanya mau pijit." Fathia menahan dada Aka. Pria itu sudah berada di atasnya.


"Nanti aja habis aku buka puasa," bisik Aka mengigit daun telinga Fathia.


Mungkin karena pengaruh hormon ibu hamil Fathia mengeluarkan suara merdunya membuat Aka tak tahan lagi untuk segera membuka pembungkus nan di kenakan sang istri.


Keduanya menikmati hidangkan pembuka. Saling membelit dan membalas permainan bibir yang membuat keduanya mulai dirasuki gelora cinta nan membara.


Tangan Aka sudah menjalar memainkan sumber kehidupan anaknya kelak yang kini sudah sangat membesar dari terakhir kali ia pegang. Matanya sudah berkabut gairah, tapi Aka berusaha bermain pelan agar sang istri dapat menikmati.

__ADS_1


Tak ada yang tak di sentuh Aka, tubuh yang selama ini ia inginkan kini tampak begitu lebih menggoda dari sebelumnya. Ia mengelus dan mencium perut buncit istrinya, ada rasa bangga di dada kalau sebentar lagi mereka akan segera di karunia seorang buah hati nan selama ini di nanti.


"Hhhmm, Mas," ujar Fathia meremas rambut hitam Aka saat memasuki hidangan utama.


"Are you ok?" tanya Aka mengusap peluh di dahi istrinya.


Fathia mengangguk pasrah meyakinkan sang suami untuk melanjutkan permainan malam ini. Berdua mereka saling mencurahkan gelora cinta menuju puncak nikmatnya surga dunia.


🌿🌿🌿🌿


Sudah jam sepuluh pagi, Fathia masih juga tertidur lelap merangkul pinggang suaminya. Membuat Aka tak bisa bergerak sama sekali. Melihat wajah lelah sang istri Aka pun tak tega untuk mengusik tidurnya. Sambil menunggu wanita itu bangun ia memeriksa beberapa E-Mail yang masuk lewat ponselnya.


Satu tangannya mengelus rambut hitam sang istri. sesekali ia labuhkan sebuah kecupan di kening dan bibir Fathia.


Tok tok tok


"Masih tidur, ya, Ka? Ini udah siang loh kasihan Fathia belum sarapan," ujar sang Mama di balik pintu.


"Iya, Mah. Kita udah bangun, bentar lagi keluar," sahut Aka. Benar juga, kenapa ia bisa sampai lupa kalau istri dan anaknya harus sarapan pagi dan minum susu.


"Jangan lama-lama, ya nanti sarapannya dingin," kata Alia lagi.


"Ok, Mah. Makasih."


Aka mulai menjahili istrinya agar segera bangun. Fathia pun merasa terusik kala hidungnya terasa geli.


"Iiiihh, Mas aku masih ngantuk," rengek nya menarik selimut.


"Bangun, sayang ini udah siang loh. Kasihan baby kita udah lapar, tuh gerak-gerak dia," ujar Aka mengelus perut buncit Fathia.


Fathia berusaha membuka matanya lebar-lebar. Ternyata ia juga sudah sangat lapar tapi rasa kantuk membuat ia melupakannya.


"Aku semalam capek, minta pijit malah kamu bikin makin capek," sungutnya.


"Hahahahaha iya, maaf ya. Kita mandi dulu habis itu sarapan. Baru nanti aku pijitin," ajak Aka menuntun istrinya turun dari ranjang.


Apa-apa Fathia kini memang membutuhkan bantuan Aka. Karena geraknya sudah terbatas karena terhalang oleh perut nan sudah makin membesar. Bahkan ia sering merasakan nyeri punggung jika sudah membungkuk. Kakinya juga membengkak membuat Fathia kadang merasakan sakit jika berjalan.


"Pelan-pelan aja, nggak usah buru-buru," kata Aka.


"Aku lapar, pengen makan."


"Iyah habis mandi nanti aku suapin."


Selesai mandi dan berpakaian keduanya menuju meja makan. Tapi Fathia malah meminta sarapan di ruang tengah sambil menonton TV.


Tak sengaja berita soal Alodie dan Galen di tahan kini menghiasi layar kaca.


"Mas, aku kasihan sama mereka deh," ucap Fathia.


"Nggak perlu! Mereka pantas mendapatkannya," jawab Aka sambil menyuapi istrinya.


"Tapi kan, Mas. Buat aku dengan kita ungkapkan kebenaran pada media sudah cukup. Jadi sebaiknya kamu cabut aja tuntutan mereka."


Aka menghembuskan nafas kesal. "Kamu itu jangan mudah berbelas kasihan pada orang. Di lihat dulu orang yang pantas dikasihani, kalau mereka nggak pantas sama sekali," ujarnya menunjuk-nunjuk layar televisi.


"Mas, biarlah nanti Tuhan aja yang menghukum mereka. Sekarang itu yang penting kebahagiaan kita. Aku ngerasa nggak enak, Mas bahagia di atas penderitaan orang lain. Bagaimanapun kisah ini sudah takdir."


Aka tetap tak setuju, ia menggelengkan kepalanya.


"Mas, kalau bukan karena kejadian ini. Aku nggak akan mungkin bisa di sini dan hamil anak kamu. Jadi ya sudahlah, bebaskan mereka. Setelah itu kita mulai hidup baru." Fathia memohon.


"Ok nanti aku akan cabut tuntutannya setelah mereka meminta maaf secara langsung dan mengakui kesalahannya."

__ADS_1


"Mas."


"Satu lagi, sebelum kamu melahirkan dan operasi plastik, biarkan mereka merasakan apa yang kamu rasakan dulu di balik jeruji besi." Aka berkata dengan tegas supaya istrinya tak membantah lagi.


__ADS_2