
Sampai di rumahnya Fathia mengalami mual dan muntah hebat. Bi Runi sampai cemas dan khawatir dan hendak menghubungi Aka yang masih di kantor.
"Jangan Bi," larang Fathia.
"Kenapa Mbak? saya takut nanti mas Aka marah sama saya!"
Fathia menggeleng. "Jangan ngomong apa-apa sama mas Aka nanti. Aku takut bi, mas Aka hentikan proses program hamil aku, aku nggak mau!"
"Tapi Mbak."
"Tolong antar aku ke kamar, aku mau istirahat. Siapa tau nanti mualnya hilang."
"Mbak benaran ini?"
"Ia bi. Nanti tolong bikin minuman yang dapat bikin mual aku berkurang ya."
Bi Runi pun mengurungkan niatnya untuk menghubungi Aka. Jujur sih ia takut dengan kondisi Alodie palsu yang tampak lemas dan pucat setelah semua makanan dalam perutnya terkuras habis. Ah sebaiknya ia tak usah ikut campur, lebih baik membantu Alodie saja saat ini.
"Ini Mbak, minum dulu teh jahenya," ajak Bi Runi.
"Makasih ya Bi." Fathia meneguk sedikit demi sedikit teh jahe hangat yang di tawarkan bi Runi.
"Saya mau masak makan malam. Mbak mau di masakin apa?" tanya Bi Runi.
"Bubur ayan enak kali ya Bi," jawab Fathia lemas di atas kasur.
"Boleh.Saya permisi kedapur ya Mbak. Kalau butuh apa-apa panggil aja!"
Fathia mengangguk lesu.
๐๐๐๐
๐ฑMaaf ya sayang, aku pulangnya agak malam dan nggak bisa makan di rumah bareng kamu. Nggak enak tolak ajakan klien.
๐ฑNggak apa kok Mas, aku makan malam sama bi Runi aja.
๐ฑKamu kenapa? kok suaranya lemas gitu? sakit?
๐ฑCuma capek aja habis jalan-jalan sama Mita tadi.
Bohong Fathia.
๐ฑNanti habis makan langsung istirahat aja di kamar. Nggak usah nungguin aku pulang, ya!
๐ฑIa Mas,
๐ฑAku tutup telponnya ya, mau jalan soalnya ketemu klien. love you honey.
๐ฑlove you too Mas.
Fathia mendesah mengusap wajahnya. Berkali-kali ia menghela nafas agar perasaan dan pikirannya dapat merasa tenang. Tapi rasanya sangat sulit bahkan kepalanya tak berhenti berdenyut. Dengan posisi setengah berbaring di atas kasur ia masih memikirkan kemunculan Galen tadi di kafe. Tawaran dan ancaman dari Galen mampu mengusik ketenangannya, membuat rasa khawatir berlari dan menari di dadanya. Sungguh Fathia masih bingung dan dilema. Ia tak bisa mengambil sebuah keputusan, banyak hal yang ia pertimbangkan dari masalahnya ini. Sudah pasti akan ada sebab dan akibatnya, sudah pasti akan ada resiko terburuk bahkan ia sudah bisa membayangkannya dan siap tidak siap ia harus menghadapinya.
Fathia menjuntai kan kakinya. Mencoba untuk bisa bangkit dari atas ranjang menuju kamar mandi. Ia tak bisa terus seperti ini, bermenung dan terpaku dengan logikanya yang berusaha mencari jalan keluar akan masalah ini.
Merasa segar setelah air membasuh tubuhnya Fathia berjalan keluar dari kamar menuju meja makan.
"Gimana Mbak? apa masih mual?" tanya Bi Runi.
Fathia menggeleng dan duduk di kursi meja makan. "Bi buburnya udah masak?"
"Udah! Mbak mau makan sekarang?"
Ia mengangguk.
"Mas Aka belum pulang Mbak?" tanya Bi Runi meletakkan mangkok berisi bubur di atas meja.
"Mas Aka makan malam di luar sama klien Bi dan pulangnya malam."
__ADS_1
"Oh, kalau gitu di makan buburnya."
"Bibi nggak ikut makan?"
"Udah Mbak, barusan. Saya pikir Mbak mau nunggu Mas Aka pulang."
Satu suap, dua, tiga, empat hanya sampai lima suapan bubur yang mampu Fathia telan. Selera makannya hilang entah kemana. Sesekali ia memijit pelipis berharap sakit di kepala bisa berkurang. "Udah Bi, aku nggak mau," katanya mendorong mangkuk putih itu.
"Loh, kok cuma sedikit yang di makan? nggak enak ya Mbak?"
"Enak kok Bi, cuma selera makan saya hilang!"
"Terus Mbak mau makan apa? apa mbak nggak lapar tadi habis muntah?"
"Bikinin susu aja, tolong antar ke kamar ya Bi."
Kakinya melangkah menuju kamar. Kepala yang terasa berat membuat Fathia ingin segera merebahkan diri di pulau kapuk nan empuk.
"Ini susunya Mbak." Bi Runi meletakkan segelas susu di atas nakas samping tempat tidur.
"Makasih Bi. Bibi langsung istirahat aja, nggak usah nungguin Mas Aka. Saya belum tidur kok cuma guling-guling aja di sini sambil nonton TV," ujar Fathia.
"Bibi langsung ke kamar ya Mbak." Pamit Bi Runi keluar dari kamar Fathia.
Fathia masih mengkonsumsi obat hormon yang di resepkan oleh dokter Biya bahkan ia menyuntikkan sendiri obat injeksinya. Fathia tetap kuat tekatnya untuk melanjutkan proses inseminasi meski ia harus mengalami mual dan muntah setiap hari. Lama menunggu sang suami tercinta tak kunjung pulang. Fathia sudah berbaring di atas kasur tak tahan lagi dengan sakit di kepalanya yang semakin terasa membuatnya tak kuat lagi untuk duduk. Sampai matanya pun tak kuat lagi untuk ia kedip kan.
"Aaaakkkhh... kenapa kepala ku sakit sekali," ringis Fathia meremas rambutnya.
๐ฌ๐ฌ๐ฌ๐ฌ
Jam 11 malam Aka baru saja sampai di rumah. Ternyata kali ini sang istri mendengarkan ucapannya sebab tak ada yang membukakan pintu akhirnya Aka memakai kunci cadangan. Letih dan lelah membawa kakinya melangkah menuju kamar agar tubuhnya segera berbaring. Di lihatnya sang istri ternyata sudah tertidur lelap.
"Muach, aku pulang," bisik Aka di telinga Fathia.
Fathia masih nyenyak dalam tidurnya. "Pules banget ya kamu tidurnya, sampai suami pulang nggak dengar," goda Aka menyatukan hidung mereka dan menggoyangkan kiri dan kanan.
"Bangun dong! kangen nih."
"Bi, bibi," panggil Aka tergopoh-gopoh keluar dari kamar membawa sang istri dalam gendongan.
"Ada apa Mas?" tanya Bi Runi juga tergopoh-gopoh menyusul Aka . "Astaga, Mbak Alodie kenapa Mas?"
"Nggak tau, saya nemuin di kamar dia pingsan! Bantu saya buka pintu, kita kerumah sakit," ajak Aka cemas.
๐๐๐๐
"Istri anda kekurangan cairan, dan sepertinya ia belum makan seharian.Jadi lebih baik Alodie di rawat dulu agar besok pagi bisa sekalian kontrol sama dokter Biya," jelas dokter jaga yang memeriksa kondisi Fathia.
Aka mengangguk. "Terimakasih dok."
"Maaf Mas Aka." Tunduk bi Runi.
"Maaf kenapa Bi?"
"Tadi sore pas Mbak Alodie pulang, di mual dan muntah sampai lemas bahkan saya tuntun ke kamar."
"Kenapa Bibi nggak hubungin saya," marah Aka.
Bi Runi tertunduk takut sekalian merasa bersalah. "Nggak boleh sama Mbak Alodie. Katanya dia takut Mas Aka nyetop program hamilnya."
"Terus tadi Alodie udah makan?"
Bi Runi menggeleng. "Katanya nggak selera, udah saya masakin bubur cuma di makan 5 sendok. Tapi minta di bikinin susu sama saya."
Aka menghela nafas gusar. Ia ingat sekali kalau susu yang di bikin oleh bi Runi masih utuh di atas nakas. "Ya sudah, bibi pulang gih. Saya udah telpon supir mungkin udah nungguin di parkiran.
"Baik Mas, nanti saya kirim perlengkapan Mas sama Mbak Alodie sama supir."
__ADS_1
"Ia, makasih." Ketus Aka.
Ia marah kenapa Bi Runi bisa-bisa nya mendengarkan perkataan istrinya. Ia juga kesal dengan sikap Alodie palsu yang ternyata sudah berbohong padanya. Padahal selama ini sang istri tak pernah bohong sama sekali.
"Mas," lirih suara Fathia terdengar di telinga Aka.
"Ya sayang," sahut Aka mendekati hospital bed tempat istrinya berbaring.
"Aku di mana?"
"Kita di RS. Kamu pingsan honey."
"Kok bisa?"
Aka menghembuskan nafas. "Seharusnya aku yang tanya! kenapa kamu bisa sampai pingsan."
Fathia tak menjawab, ia hanya diam.
"Kamu bohongkan sama aku! tadi aku tanya apa lagi sakit, kamu bilang cuma capek habis jalan sama Mita. Ternyata kamu mual dan muntah-muntah. Kenapa sampai larang bibi buat nelpon aku?"
"Maaf!" tunduk nya merasa bersalah.
"Jawab!"
"Aku nggak mau program hamilnya di stop." Sendu
Aka cuma bisa menghembuskan nafas kasar. Mau marah-marah nggak mungkin istrinya lagi sakit begini. Hanya bisa sabar dan sabar.
"Maaf, jangan marah," sedih Fathia meneteskan air mata.
"Aku mau ke kantin cari makan. Kamu belum makan kan!? "
Fathia menggeleng. "Nggak selera."
"Ya terus kamu mau sakitnya makin parah. Harus makan pokoknya!"
Fathia mengangguk.
Tak lama Aka kembali dari kantin RS sakit membawakan makanan berupa nasi sup untuk sang istri.
"Ayok, makan dulu," ajak Aka. "Kenapa kamu bohong tadi? biasanya nggak."
"Aku nggak mau bikin kamu khawatir, soalnya kan mau meeting dan makan malam sama klien."
"Meeting sama klien bisa di wakilkan. Lain kali jangan gitu, aku nggak suka di bohongi! pantang buat aku. Cukup ini pertama dan terakhir kamu bohong sama aku, mau itu hal kecil atau besar pokoknya di bohongi aku nggak suka!"
Kata-kata Aka barusan sudah dapat menggambarkan bagaimana nantinya kemarahan Aka jika saja ia tau bahwa selama ini sang istri tercinta menyimpan sebuah rahasia besar darinya dan sudah membohongi Aka selama ini. Jujur Fathia semakin merasa takut dan resah. Awalnya ia ingin segera jujur pada Aka tentang situasi yamg di alami namun dengan secepat kilat ia melangkah mundur. Sudah pasti Aka akan membencinya bukan tak mungkin Aka akan mengusirnya pergi jauh, bayangan Fathia.
"Ayok makan lagi, jangan bengong!"
"Maaf Mas, jangan marah-marah terus dong."
"Aku kesal! dan sekarang lihat sendiri gimana kondisi kamu. Untung ya kamu pingsannya di atas kasur, coba kalau di kamar mandi terus kepalanya kejedot tembok, bahayakan!"
"Ia, ia maaf."
"Aku juga minta maaf sudah marah-marah," balas Aka memeluk sang istri.
"Tidur yuk, kamu pasti capek kan habis pulang kerja," ajak Fathia mendongakkan kepala.
"Terus makannya gimana? belum di habisin."
"Udah Mas, aku nggak selera. Nanti kalau di paksa muntah lagi gimana?"
"Ok deh. Minum dulu nih," menyerahkan botol mineral.
"Udah.Makasi ya Mas." Memeluk Aka.
__ADS_1
"Ingat ya, lain kali jangan bikin aku marah!"
Fathia hanya mengangguk di dada bidang itu. "Maaf Mas, mungkin memang kalau aku pergi adalah satu-satunya cara agar kamu nggak kecewa."