
Kandungan Fathia sudah memasuki bulan ke-9. Meski terasa semakin berat saat beraktifitas, ia tak melupakan tugasnya sebagai seorang ibu juga istri. Kadang Aka sudah melarangnya untuk terjun ke dapur, memasak makan siang atau makan malam.
Tapi tetap saja, ia tak bisa berdiam diri. Dia hanya hamil bukan sakit jadi, masih bisa beraktifitas toh kalau capek ia pasti akan istirahat.
"Abang, jalan aja, Nak. Kalau lari-lari nanti jatuh," kata Fathia pada sang putra yang sudah berumur 17 bulan.
Kafha memang sedang aktif-aktifnya. Setiap sore sambil menunggu sang Papa pulang kerja, ia akan bermain di halaman rumah.
"Sus, bantu jagain, Kafha. Saya udah nggak kuat," kata Fathia pada Suci.
"Ibuk, baik-baik saja kan?"
"Aman, Sus. Cuma udah sesak nafas ngikutin, Kafha," jelasnya duduk di bangku taman.
Tak lama pintu gerbang rumah mereka di buka oleh satpam itu tandanya Aka pulang dari kantor.
"Papa, ulang," seru Kafha turun dari sepedanya dan segera berlari menghampiri mobil Papanya.
"Tunggu di sini aja, Abang," sorak Fathia takut anaknya kena mobil sang suami nanti.
Setelah memarkirkan mobil di garasi Aka segera mengejar sang putra. "Abang, lain kali mobil Papa jangan di kejar, ya, Nak. Nanti, Abang bisa ketabrak," jelas Aka mengendong anaknya.
Meski belum mengerti tapi Aka berusaha menjelaskan pada Kafha. Itulah caranya dalam mendidik sang putra agar bisa cepat memahami situasi dan keadaan.
"Kenapa, Honey? Capek?" tanya Aka menghampiri istrinya.
"Anak kamu, Mas aktif benar aku nggak kuat nemanin dia main," jelas Fathia.
"Anak aku, anak kita! Masuk yuk, udah sore," ajaknya membimbing sang istri di sisi kiri dan Kafha dalam gendongan sisi kanan.
ππππ
Setelah makan malam, Aka pasti akan menemani sang putra bermain di ruang tengah sedangkan Fathia menikmati saluran TV sambil selonjoran di atas sofa.
"Abang, kita pijitin kaki, Mama yuk," ajak Aka.
Kafha pun mengangguk dan memijit kaki Fathia seperti yang di lakukan sang Papa.
"Abang, sayang dedek nggak?" tanya Fathia.
"Ayang," jawabnya lalu mencium perut buncit sang Mama.
"Uuhh pinternya anak, Mama."
"Kalau main jangan lari-lari lagi, ya Nak. Kasian Mama sama dedek capek," ujar Aka.
"Iyah," jawab Kafha menganggukkan kepala. Entah benar di mengerti atau tidak yang penting sebagai orang tua mereka sudah memberikan pengertian.
Jam sembilan malam mereka mengantar Kafha untuk tidur di kamarnya bersama suster. Lalu Aka mengendong sang istri saat menaiki tangga.
"Mas, aku berat mendingan kamu turunin aja deh," rengek Fathia.
"Aku masih kuat kok, Honey."
"Kuat tapi ngos-ngosan."
__ADS_1
"Ngos-ngosan bukan berarti nggak kuat! Udah tenang aja, bentar lagi juga sampai," jelas Aka.
Sampai di kamar Aka membaringkan sang istri di atas kasur.
"Makasi, Mas."
"Iya, sayang."
"Bentar lagi si dedek udah mau lahir aja," ucap Fathia mengelus perutnya.
"Iyah, cepat banget rasanya."
"Kamu udah siapin nama belum, Mas?"
Kali ini mereka sudah mengetahui jenis kelamin anak mereka.
"Udah, ada dua. Kamu suka yang mana?" tanya Aka menyodorkan ponselnya pada sang istri menunjukkan dua nama anak perempuan mereka.
"Yang pertama."
"Ok, aku juga suka yang pertama.
π½π½π½π½
Sebelum berangkat ke kantor, Aka menemani sang istri untuk cek kandungan di Rumah Sakit. Selama Fathia hamil ia tak pernah absen menemani sang istri untuk cek up. Karena ia sadar itu juga merupakan tanggung jawab sebagai seorang suami dan Ayah.
" Kira-kira satu minggu lagi baby-nya akan lahir," jelas dokter Biya.
"Bisa lahiran normal kan dokter Bi?" tanya Fathia.
"Alhamdulillah."
"Baby sama ibunya sehat, jadi kita tinggal nunggu hari H aja."
"Kapan kontrol lagi?" giliran Aka yang bertanya.
"Nggak perlu, tunggu brojol aja," ucap dokter Biya.
Selesai melakukan pemeriksaan, Aka memutuskan untuk tak jadi berangkat ke kantor. Ia memilih bekerja dari rumah sampai anak mereka lahir.
"Sebaiknya aku di rumah aja, Honey. Bisa sekalian nemanin Kafha. Aku takut nanti kamu malah lahiran sebelum waktunya gara-gara jagain dia," jelas Aka di balik kemudi.
"Aku sih terserah kamu aja, Mas. Toh di rumah juga ada suci yang bantu jagain Kafha."
"Makanya aku juga siap siaga di rumah. Takutnya nanti nggak ada yang jagain kamu, tiba-tiba udah sakit aja perutnya. Aku bisa keteteran kalau dari kantor harus buru-buru pulang."
Fathia tersenyum senang, suaminya memang sangat pengertian akan keadaannya sekarang. "Makasih, ya, Mas."
"Buat apa?"
"Buat kamu yang selalu ada di samping aku menjalani kehamilan ini."
"Hanya ini yang bisa aku lakukan. Perjuangan kamu nanti saat melahirkannya lebih berat dan aku nggak bisa apa-apa selain berdoa pada Tuhan untuk keselamatan kalian berdua," kata Aka mengusap perut istrinya.
Fathia tertawa.
__ADS_1
"Artinya kamu senang kan kalau hamil?"
"Hhmm senang lah pastinya, cuma ya itu. Capek kalau udah harus jagain Kafha main."
"Berarti nanti hamil lagi, ya?"
"Astaga, Mas. Ini belum lahir kamu udah mau nambah anak lagi," kesal Fathia mencubit lengan Aka.
"Hehehe ... satu lagi, cowok. Please," mohon Aka.
Fathia hanya menggelengkan kepala. Tak habis pikir dengan jalan pikiran suaminya.
"Ok, ya sayang? Habis itu kamu bebas. Mau tampil cantik lagi, mau syuting lagi juga boleh."
"Benar?"
"Iya, benar. Aku di izinin suting?"
Aka menganggukkan kepalanya.
"Aku pikir-pikir dulu."
ππππ
Sebelum makan malam Aka masih saja sibuk di ruang kerjanya bersama Jio yang datang tadi sore.
Fathia sedikit kesal sebab sang putra sudah menangis ingin bermain dengan Papanya.
"Mas, udah mau makan malam kamu masih kerja. Kafha dari tadi udah nungguin," kesalnya masuk ruang kerja suaminya tanpa permisi.
"Oh, iya. Heheh, maaf, sayang. Jio, kita makan malam dulu," ajaknya bangkit dari duduk.
"Percuma di rumah, tapi sibuk terus. Mendingan kamu ke kantor deh, seenggaknya sore kamu udah main sama Kafha kayak biasanya," gerutu Fathia.
"Maaf," bujuk Aka menuntun istrinya menuju meja makan.
Di sana Kafha sedang di suapi oleh susternya. Lalu mereka pun segera menyantap hidangan makan malam yang sudah di sajikan Bi Runi.
Usai mengisi perut, Jio pun pamit pulang. Sekalian membawa berkas-berkas yang tadi sudah di tandatangani oleh bosnya.
"Ayo kita main!" seru Aka mengendong Kafha menuju ruang tengah.
Batita itu tertawa riang kala diangkat oleh sang Papa, lalu seolah-olah ia melayang di udara.
"Ini kopinya, Mas," kata Fathia menyusul anak dan suaminya di ruang tengah.
"Makasih, Honey."
"Ada apa? Kenapa Jio lama tadi?" tanyanya duduk di sofa.
"Itu, ada produk baru yang mau launching. Tapi aku minta diundur sampai bulan depan," jelas Aka sambil menyusun puzzle dengan anaknya.
"Kenapa di undur?"
"Bentar lagi kamu mau lahiran, aku nggak mau nanti malah fokusnya ke kerjaan dan kalian terabaikan. Jadi,sebaiknya tunggu sampai kamu lahiran dan sembuh."
__ADS_1