
"MITA!" panggil Aka berteriak dari lantai atas.
Mita yang menghuni kamar tamu langsung terbangun mendengar suara Aka yang menggelegar di seluruh rumah.
"Ada apa dokter?" tanyanya mengucek mata mendongak kelantai atas.
"Siapkan mobil, kita kerumah sakit sekarang! Alodie pendarahan," jelas Aka bergegas turun sambil mengendong istrinya yang merintih kesakitan.
Antara sadar dan tidak Mita berlari menuju bagasi mengeluarkan mobil dari sana.Sampai di pintu depan rumah ia membantu Aka membukakan pintu mobil untuk Alodie.
"Sakit Mas," rintih Fathia tak tertahankan.
"Aku tau honey,sabar ya dan tahan sebentar kita ke RS sekarang," jawab Aka cemas berlari ke arah kemudi setelah meletakkan istrinya di bangku belakang di temani Mita.
"Telpon dokter Biya, Mit," titah Aka sambil mengemudi.
Mita buru-buru mencari nomor dokter Biya di ponselnya. "Nggak di angkat dok," cemas Mita.
"Telpon Beno!"
Menyambung
Tut... tut... tut... (loud speaker)
📱hallo...
📱Ben, lo bawa Biya ke RS sekarang!
Perintah Aka.
📱Ngapain, masih pagi buta ini...
📱Bini gue pendarahan dan harus segera di tangani. Gue lagi di jalan, kita ketemu di RS.
📱Oh, ia, ia ok gue sama Biya segera berangkat.
Jawab Beno bergegas memutus sambungan.
Di bangku belakang Fathia masih merintih kesakitan. Peluh membasahi seluruh wajahnya yang pucat. "Sakit Mas,aku nggak kuat," rintih Fathia dalam pelukan Mita.
"Sabar mbak, bentar lagi kita sampai RS," ujar Mita mengusap peluh Fathia.
Aka melirik lewat kaca spion melihat kondisi istrinya. Jantungnya berdegup kencang, otaknya panik, dirinya khawatir akan nyawa sang istri.Aka memacu mobilnya dengan kecepatan penuh. Tak peduli lagi dengan keselamatan orang lain atau dirinya. Dalam benak Aka ia harus segera menyelamatkan sang istri.
Di depan RS dokter Biya sudah menunggu kedatangan Aka bersama suster yang membawa brankar.
"Alodie kenapa?" tanya Biya saat mereka membawa Alodie menuju ruang UGD.
__ADS_1
"Yang gue tau dia pendarahan," jawab Aka cemas.
Aka ikut masuk bersama dokter Biya ke dalam UGD. Ingin memastikan keadaan istrinya. Ada rasa takut yang begitu besar bersarang di dada Aka. Sebelum ia tau kondisi sang istri ia tak dapat merasa tenang.
Biya menghela nafas berat. "Maaf Aka, Alodie keguguran."
Kata-kata Biya mengejutkan Aka. "Apa?" Bagaimana bisa ia mengetahui dua kabar sekaligus yaitu kabar bahagia tentang istrinya yang hamil tapi malah langsung di sambut oleh kabar duka bahwa mereka telah kehilangan calon buah hati mereka.
"Kondisi kandungannya masih muda, dan tidak dapat di pertahankan," jelas Biya.
Aka hanya diam mematung, semua terjadi begitu cepat, ia masih tak percaya.
"Kamu nggak tau Alodie hamil?" tanya dokter Biya setelah menyuntikkan obat dan memasang infus pada Alodie.
Aka menggeleng mengelus kepala istrinya yang tak sadarkan diri akibat obat bius. Setetes air jatuh dari pelupuk matanya.
"Apa yang terjadi, sampai Alodie pendarahan seperti ini?"
Aka menggosok wajahnya frustasi, rasa penyesalan pun muncul. "Kami berhubungan."
"Berapa kali? kalau hanya sekali saya rasa itu masih aman tapi kalau lebih, rangsangan dan cairan ****** akan bahaya bagi janin," jelas Biya.
"Ia, ia gue tau itu! tapi gue sama sekali nggak tau kalau Alodie hamil," jawab Aka tertunduk meremas rambutnya.
"Alodie sendiri juga nggak tau kalau dia lagi hamil?"
Sekali lagi dokter Biya hanya bisa menghela nafas berat. "Mungkin belum rezeki kalian," katanya menenangkan Aka. "Sebaiknya kamu pindahkan Alodie ke ruang rawat, aku mau temui mas Beno dulu agar dia bisa pulang," tambah Biya keluar dari sana.
Beno pun di beritahu oleh sang istri tentang kondisi Alodie. Ia pun memutuskan tetap di rumah sakit untuk membantu Aka.
"Biar gue yang urus ruang rawat buat Alodie, lo disni aja temanin istri lo!" kata Beno memeluk Aka.
"Makasih Ben," pinta Aka menahan sedihnya.
Beberapa saat kemudian suster pun datang untuk memindahkan Alodie ke ruang rawat yang sudah di pesan oleh Beno tadi. Aka dengan setia berada di samping Alodie palsu, menunggu istrinya sadar. Bahkan di ruang rawat pun Aka tak henti-hentinya mengucapkan kata maaf sambil menggenggam tangan Alodie. Ia juga bingung bagaimana nanti menjelaskan pada istrinya.
"Maafin aku honey, maaf! kamu jangan marah sama aku ya," pinta Aka menangis.
Fathia mulai sadar dengan perlahan matanya terbuka dan menjelajahi seluruh ruangan tempat ia berada. Ternyata sudah di RS sakit pikir Fathia. "Mas," panggilnya lirih pada Aka yang tertunduk menangis di sampingnya.
"Honey! apa yang kamu rasakan?" tanya Aka memeriksa istrinya.
"Ha-us,"
Dengan cepat Aka membantu istrinya meminum segelas air putih.
"Apa masih ada yang sakit?" tanya Aka.
__ADS_1
"Perut aku masih sedikit nyeri," jelasnya dengan suara lemah.
"Tinggu di sini ya, aku panggil dokter Biya," jelas Aka mencari keberadaan Biya. Sebab hari menunjukkan pukul setengah tujuh dan ini belum masuk jadwal kerjanya dokter Biya.
"Aka," panggil Beno yang melihatnya di lorong rumah sakit.
"Hhaahh... Bi, Alodie sudah sadar dia bilang perutnya masih nyeri," jelas Aka tampak cemas dan khawatir.
Mereka kembali masuk kedalam ruang rawat untuk memeriksa keadaan Alodie palsu.
"Apa kamu pusing?" tanya Biya.
Fathia hanya mengangguk.
"Kamu harus bed rest selama dua minggu kedepan. Jangan stres dan banyak makanan bergizi serta buah dan sayur penambah darah di iringi vitamin."
"Aku kenapa? tanya Fathia masih bingung dengan kondisinya kini.
"Biar suami kamu yang menjelaskan ya," kata Biya merasa pasutri itu butuh ruang untuk bicara.
"Aka, aku sama Mas Beno pulang dulu ya, siap-siap mau dinas dan Mas Beno mau kekantor juga," izin Biya.
"Ok.Ben gue titip kantor dulu," kata Aka pada Beno.
"Tanpa lo minta pun gue paham kok Ka, santai aja. Pokoknya fokus dulu sama kesehatan Alodie. Kami pergi dulu ya, Al," pamit Beno dan Biya.
Selepas kepergian Beno dan Biya Aka memeluk erat istrinya. "Sebelumnya aku mau minta maaf sama kamu, karena aku nggak bisa jagain kamu," pinta Aka menyesal.
"Ia tapi aku kenapa Mas?" bingung Fathia mendongakkan wajahnya untuk menatap Aka.
"Semalam itu kamu mengalami kram perut dan terjadi pendarahan," jelas Aka pelan.
"Pendarahan?" tanya Fathia menautkan kedua alisnya.
Aka menarik nafas dalam "Kamu hamil sayang, dan keguguran!"
Fathia tampak mencerna setiap kata-kata suaminya. Ia hamil?
Tapi sejak kapan?
Kenapa ia tak tau sama sekali.
Lalu apa, keguguran?
Belum sempat ia mengetahui ada bagian dirinya dan Aka tumbuh di rahimnya sudah pergi secepat ini.
Apa Allah sengaja menghukumnya karena menolak untuk bisa hamil secepatnya, karena ia memohon untuk tidak diberikan keturunan saat sekarang. Lalu Tuhan mengabulkan doa-doanya. Mengambil nyawa janin di rahimnya karena Tuhan tau ia tak menginginkan anak itu.
__ADS_1