ISTRI PALSU

ISTRI PALSU
S2 bab 44


__ADS_3

"Jadi, semua yang kamu lakukan selama ini adalah kebohongan?"


Air mata Fathia kembali luruh. Yang di takutkan akhirnya terjadi. "Bukan begitu, Mas!"


Penuh emosi Aka meninggalkan Fathia begitu saja. Dengan langkah tegas ia masuki ruang kerja dan membanting pintu. Butuh waktu untuk bisa menerima kenyataan ini.


Badan Fathia tersentak kaget mendengar suara pintu yang tertutup dengan begitu keras. Berkali-kali ia mengatur napas agar merasa lebih baik, untuk kembali menjelaskan semuanya pada sang suami. Jika Aka emosi, maka ia harus bisa menerangkan dengan suasana hati yang tenang. Agak susah rasanya apa lagi harus menahan bendungan air mata di pelupuk agar tak tumpah ruah tapi ia akan mencoba.


Fathia mengusap pipinya yang basah lalu melipat mukenah dan meletakkannya di rak tempat sajadah. Dengan langkah pasti ia menyusul Aka. Membuka pelan pintu ruang kerja suaminya dan berusaha mendekat. Tampak pria itu sedang berdiri menghadap kaca besar yang mengarah ke taman di depan ruang kerja itu.


"Aku minta maaf kalau selama ini udah bohongin kamu, Mas. Tapi yang harus kamu tau semua perhatian aku buat kamu itu benar adanya. Bukan sebuah kebohongan!" jelasnya berdiri di belakang Aka.


"Saya nggak percaya! Bisa saja kamu masih berbohong. Toh selama ini kamu pintar bersandiwara di depan saya, orang tua saya bahkan seluruh keluarga besar saya berhasil kamu tipu!" bantah Aka dengan emosi.


"Mas," panggil Fathia menarik bahu suaminya agar mereka saling berhadapan. "Selama kita bersama apa pernah aku bohong sama kamu? Cuma masalah ini aja, Mas. Karena aku takut kamu akan mengusir aku pergi," ucap Fathia menangkup pipi Aka. Dengan setetes air mata ia berusaha untuk meyakinkan suaminya.


Aka mengibaskan tangan lembut nan putih itu darinya seolah tak mau disentuh lagi. "Lalu untuk apa kamu melakukan semua ini? Kamu pikir hidup ini drama atau sinetron? Dengan mudahnya kamu berperan menjadi Alodie seolah-olah saya ini orang yang bodoh! Dan bodohnya lagi saya percaya akan semuanya," ucap Aka geram. ia pun sampai nggeleng-geleng kepala lalu tersenyum mengejek dirinya sendiri.


"Karena aku cinta sama kamu, Mas!" pekik Fathia.


"Cinta? Omong kosong!" tampik Aka.


"Sekarang apa mau kamu?" tanyanya dengan rahang yang keras.


"Aku mau kita tetap bersama,Mas. Aku yakin kamu pasti bisa maafin aku dan kita tetap bersama dengan identitas ku yang asli. Kamu cintakan sama aku?" tanya Fathia dengan mata penuh yang harap dan hati yang penuh damba.


Aka menggeleng dan mundur beberapa langkah. Ia masih belum bisa terima dibodohi dan ditipu begitu saja. Lalu sekarang wanita asing ini malah memintanya untuk tetap bersama. "Maaf, yang saya tau saya hanya mencintai istri saya, Alodie!"


"Apa?" lirih Fathia lemas memegangi dadanya yang terasa begitu sesak. Bagaikan dihantam batu besar hati rapuh itu hancur berkeping-keping, meninggalkan rasa sakit yang begitu luar biasa hebatnya. Kakinya seakan tak berpijak lagi di lantai. Tulangnya serasa tak sanggup lagi menopang seluruh tubuh untuk berdiri.


"Tega kamu sama aku,Mas. Ini nggak adil buat aku! Bagaimana pun kamu juga ikut andil dalam perubahan wajah ku ini. Padahal di awal aku sempat menjelaskan sama kamu, tapi kamu malah nggak mau mendengarkan Aku.Lalu kenapa sekarang kamu pura-pura nggak ingat soal itu dan malah menyalahkan aku sepenuhnya, Mas?" Berurai air mata Fathia berusaha menyadarkan suaminya.


"Aku memang salah sudah menipu kamu selama ini tapi aku juga butuh kesempatan kedua. Kamu juga harus sadar, Mas walau aku ini berpura-pura menjadi Alodie tapi aku istri yang begitu menghormati kamu sebagai suami dan melayani kamu dengan sepenuh hati. Apa nggak ada sedikitpun ruang di hati kamu buat aku,Mas?"


"Yang saya tau selama ini kamu adalah Alodie, istri saya. Jadi saya hanya mencintai istri saya. Apa lagi sekarang saya tau kenyataannya kalau kamu hanya istri palsu, sudah pasti tak ada cinta," kata Aka pasti .


Sekali lagi Fathia berusaha meyakinkan hati suaminya. Sungguh ia dapat merasakan kalau selama ini Aka sudah mencintai dirinya. Tapi kenapa begitu sulit untuk bisa di pahami oleh laki-laki ini. "Tatap mata aku, Mas dan coba kamu rasakan! Perhatian, kasih sayang dan cinta yang aku berikan selama ini tulus buat kamu, Mas!" ibanya menangkup pipi Aka.


Tetap Aka teguh akan pendirian.Tak sedikit pun kata-kata sang istri palsu mampu membuat hatinya tersentuh atau bahkan merasakan secuil cinta terhadap wanita yang begitu rela mengemis rasa itu dihadapannya. Bahkan rasa iba pun juga tak di dapat Fathia saat ia memohon dengan segala kerendahan hatinya. Aka masih terus menghindar dan tak mau memandangnya lagi. Sekali lagi ia menggelengkan kepala dan mengatakan ia tak yakin akan hatinya untuk sang istri palsu. "Bisa kamu pergi dan tinggalkan saya sendiri?"


Seketika semua luka dan rasa sakit dirasakannya bersatu di dalam dada. Memporak-porandakan kepingan hatinya dan di campakkan oleh kenyataan yang ada. Musnah sudah semua harapan hanya menyisakan rasa kecewa yang begitu dalam. Membuat Fathia tak mampu lagi untuk bertahan.


Bukan hanya hati yang remuk redam tapi seluruh badan ikut merasakan sakit yang sudah menjalar.


Takut semakin lama ia di sini akan semkin menelan kepahitan lebih baik ia pergi. Fathia sudah mempersiapkan diri dan memantapkan hatinya untuk menghadapi kemungkinan ini. Dalam kamar ia mengambil koper yang tadi siang sudah di isi dengan beberapa baju. Berdiri sejenak menatap kamar itu. Kamar yang menjadi saksi bisu atas semua yang sudah mereka lewati bersama. Senang, susah, sedih, bahagia bahkan di kamar ini pun mereka saling menumpahkan seluruh cinta dan menjadikannya satu.


Masih terisak Fathia kembali menemui Aka di ruang kerja. "Besok, Alodie istri kamu yang asli akan datang. Aku doakan semoga kamu bahagia bersamanya, Mas. Maaf kalau aku bikin kamu terluka, kecewa dan marah," kata Fathia menatap punggung Aka. "Sampaikan juga maaf aku pada mama dan papa. Mereka adalah mertua yang baik dan aku sudah menyayangi mereka seperti orang tua ku sendiri."

__ADS_1


Aka tak bergeming sedikitpun. Ia masih betah memandangi hujan yang turun membasahi daun dan bunga-bunga di taman. Hatinya seolah membeku karena dinginnya cuaca. Tak tau haruskan ia bersedih atau marah? Bingung pada hatinya sendiri. Mungkin karena emosi masih menguasai.


Fathia meletakkan ponselnya di atas meja kerja Aka memutar sebuah lagu yang begitu mewakilkan perasaannya kini.


...🎢🎼🎹...


...Telah ku coba terus bertahan...


...Tentang cinta yang ku rasa...


...Ku mencinta kau tak cinta...


...Tak sanggup ku terus bertahan...


"Untuk terakhir kalinya boleh aku peluk kamu, Mas?" tanya Fathia berusaha menyusut air mata.


...🎢🎼🎹...


...Sadarku tak berhak untuk terus memaksamu...


...Memaksamu mencintaiku sepenuh hati...


...Aku kan berusaha untuk melupakanmu...


...Tapi terimalah permintaan terakhirku...


Lama menanti tak ada jawaban yang keluar dari mulut suaminya. Akhirnya Fathia memberanikan diri melangkah mendekat. Ragu-ragu ia menjulurkan tangan melingkarkan di pinggang Aka dan akhirnya melabuhkan diri mendekap erat punggung lebar nan hangat itu.


...🎢🎼🎹...


...Genggam tanganku sayang...


...Dekat denganku peluk diriku...


...Cium keningku tuk yang terakhir...


"Aku pergi, Mas!" isak Fathia.


...🎢🎼🎹...


...Ku kan menghilang jauh darimu...


...Tak terlihat sehelai rambut pun...


...Tapi dimana nanti kau terluka...


...Cari aku, ku ada untukmu...

__ADS_1


Melepaskan kembali rangkulannya dan merenggangkan pelukan itu untuk pergi jauh. "I love you," ucapnya tanpa suara.


...🎢🎼🎹...


...Ku tak membencimu...


...Ku harap kau pun begitu...


...Tak ingin kau jauh...


...Tapi takdir menginginkan kita tuk berpisah...


Dengan langkah berat tapi berusaha kuat Fathia menggeret koper berwarna hitam tadi pergi meninggalkan Aka dan seluruh kenangan indah mereka. Hujan deras menyambut langkah Fathia meninggalkan rumah yang sudah memberikannya sebuah kebahagiaan berumah tangga bersama Aka.


Selamat tinggal cinta, selamat tinggal sayang dan selamat tinggal kenangan. Ingatlah kenangan kita dan semoga itu akan menyadarkan mu akan hadirnya cintaku. Jika saat itu tiba maka merindulah dan sampaikan pada langit malam nan berbintang. Mintalah padanya untuk memberi kabar padaku bahwa kau juga mencintaiku.


...🎢🎹🎼...


...Genggam tanganku sayang...


...Dekat denganku peluk diriku...


...Cium keningku tuk yang terakhir...


...Ku kan menghilang jauh darimu...


...Tak terlihat sehelai rambut pun...


...Tapi dimana nanti kau terluka...


...Cari aku, ku ada untukmu...


...Genggam tanganku sayang...


...Dekat denganku peluk diriku...


...Cium keningku tuk yang terakhir...


...Ku kan menghilang jauh darimu...


...Tak terlihat sehelai rambut pun...


...Tapi dimana nanti kau terluka...


...Cari aku, ku ada untukmu...


...Tapi dimana nanti kau terluka...

__ADS_1


...Cari aku, ku ada untukmu...


...πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€ Lyodra - Pesan terakhir πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€...


__ADS_2