
Kebahagiaan kini tengah meliputi keluarga Aka, sebab sebentar lagi anak mereka akan segera lahir. Rasa gugup pasti ada namun tak sabar untuk segera bertemu dan menimang baby mereka lebih besar. Persiapan kelahiran sudah di lakukan dari jauh hari, Fathia pun dinyatakan bisa melahirkan secara normal yang artinya tiga bulan setelah itu ia bisa melakukan tindakan operasi plastik wajahnya.
Meski hamil tua sangat melelahkan tapi Fathia senang karena sang suami selalu mendampingi dan membantunya dalam beraktifitas juga menyiapkan segala keperluan. Sibuk mengurus istri dan bekerja di kator tak membuat Aka merasa capek, malah semangatnya semakin bertambah seiring waktu apa lagi sebentar lagi malaikat kecil akan lahir ke dunia dan menjadikannya seorang laki-laki sempurna.
Mita pun kini tinggal bersama kakaknya Ciara yang juga tengah hamil muda. Hubungan mereka sudah membaik dan tak ada lagi perdebatan yang berujung pertengkaran. Joe sendiri sibuk mengurusi perusahaan warisan almarhum sang papa juga bisnisnya di luar negri. Ciara pun memutuskan untuk berhenti dari dunia entertainment sejak di nyatakan hamil dan atas permintaan suaminya.
Persidangan sudah memutuskan kalau Alodie dan Galen bersalah. Alodie sendiri dijatuhi hukuman sepuluh tahun penjara serta denda. Atas pasal penipuan publik dan perencanaan pembunuhan. Sedangkan Galen mendekam 8 tahun penjara karena tuntutan penipuan publik serta pelaku pengancaman. Terakhir keduanya diminta untuk meminta maaf di depan publik dan mengakui semua kesalahannya.
Fathia sudah bertemu dengan mereka berdua dan Alodie pun meminta maaf atas kesalahannya. Ia bersungguh-sungguh namun tidak dengan Galen yang masih tampak menyimpan dendam pada Aka. Ia masih tak terima laki-laki itu dulu merebut wanita nan di cintainya lalu kini di campakkan begitu saja.
"Sudah lah, Gal, kalau pun aku menikah dengan, Mas Aka dulu tapi kamu yang sudah mengambil haknya terlebih dahulu. Lebih baik sekarang kita lupakan masa lalu dan kita jalani hukuman ini bersama." Alodie sudah sangat lelah jika terus menaruh rasa marah, kecewa, dan dendam di hatinya. Untuk itu ia mencoba ikhlas. Toh ini semua adalah hasil dari perbuatannya sendiri yang dulu sudah mengecewakan Aka sebagai suami lalu berbohong dan menjadi egois.
Galen pun berharap jika mereka nanti sudah bebas dari balik jeruji besi ia dan Alodie bisa memulai lagi sebuah hubungan kalau bisa wanita itu kembali mencintainya dan mereka hidup bersama dalam ikatan pernikahan membangun sebuah rumah tangga.
π²π²π²π²
Malam hari seperti biasanya Aka tak lupa membaca Al Quran sambil mengelus perut besar istrinya.
"Pas lahir nanti jangan bikin, Mama kesakitan ya, Nak," bisik Aka di perut Fathia.
"Kamu ada-ada aja deh, Mas. Yang namanya lahiran pasti sakit lah!"
"Maksudnya itu, jangan lama-lama, sayang."
"Ooohh."
"Bobok sekarang kita?"
"Nanti lah, aku mau nonton dulu," kata Fathia merangkak menaiki kasur.
Aka menghidupkan televisi dan memberikan remote pada sang istri, agar bisa memilih chanel kesukaannya.
"Kamu tidur duluan aja kalau ngantuk! Kan capek seharian di kantor."
"Nggak pa-pa, aku mau nemanin kamu dulu," jawab Aka ikut duduk di samping istrinya lalu menarik selimut sebatas pinggang. Ia menempelkan telapak tangannya di perut sang istri merasakan gerakan bayi mereka di dalam sana. "Papa nggak sabar pengen ketemu kamu! Mirip siapa ya kira-kira? Papa atau Mama?"
"Lihat wajah aku yang asli aja kamu belum, gimana mau mastikan nanti anak kita mirip siapa," cibir Fathia.
"Kalau nggak mirip aku, udah pasti mirip kamu!"
"Iya juga sih! Eh namanya udah ada belum?"
"Tenang aja, aku udah siapin. Kamu benaran nggak mau ikut nyumbang satu nama gitu?"
Fathia tersenyum lalu mengecup pipi suaminya, "Aku percaya kamu pasti akan memberikan nama yang bagus buat anak kita. Karena nama adalah doa dan harapan kita buat dia," jawabnya sambil mengelus perut. Keduanya pun berpelukan dan Aka menghujani pucak kepala istrinya dengan ciuman kasih sayang yang teramat dalam.
π΅π΅π΅π΅
__ADS_1
Sekitar jam tiga pagi Fathia terbangun dari tidurnya, ia merasa perutnya sudah semakin mulas. Tapi hanya sesekali lalu ia memutuskan untuk solat malam. Berdoa dan memohon pada yang maha kuasa untuk melancarkan jalannya persalinan. Tak lupa membaca Al Quran agar dirinya merasa tenang dan tak takut saat menghadapi perjuangannya nanti. Ia masih kuat menahan hingga saat azan subuh berkumandang Fathia membangunkan Aka untuk melaksanakan solat subuh berjamaah.
"Assalammualaikum warahmatullahi wabarokatuh." Tepat di salam terakhir Fathia merasakan sakit yang luar biasa.
"Ma-as." Fathia meringis sambil memanggil suaminya yang tengah berdoa.
"Kenapa?" Raut wajah Aka berubah tegang melihat wajah sang istri sudah dibasahi peluh.
Fathia masih berusaha tetap tenang. Ia tarik nafas dalam lalu di hembuskan nya. "Kita ke Rumah Sakit, aku sudah nggak tahan."
"Ka-kamu mau melahirkan?"
Fathia mengangguk memejamkan mata dan meremas kuat mukenah nya.
"O-ok. Aku panggil Mama dulu." Aka memperbesar langkahnya menuju kamar sang Mama.
Tok tok tok
"Mah, Mama," panggil Aka di depan pintu.
"Ada apa, Ka? Subuh begini kamu panggil, Mama? tanya Faris di ambang pintu.
"Fathia, dia mau melahirkan!"
"Hah?"
"Mama habis solat." Alia muncul dari belakang suaminya. "Jangan panik kamu, ayo kita balik ke kamar! Pah tolong siapkan mobil."
Sampai di kamar Aka, Alia membantu menantunya kembali menuju kasur. "Sudah dari tadi sakitnya, Ti?"
"Dari jam semalam, tapi jam tiga pagi makin jadi, Mah!"
"Kok gak bangunin aku?" Khawatir Aka.
"Takut aku bikin kamu khawatir, sekarang aja kamu cemaskan.Padahal aku nggak pa-pa," jawab Fathia masih berusaha tenang.
"Ka, kamu ambil tas perlengkapan Fathia sama tas perlengkapan baby," titah Alia.
"Yang mana?"
"Yang kemaren, Mama siapin itu loh, di samping lemari," jelas Alia. Ia geleng-geleng kepala melihat anaknya yang sudah tampak kebingungan.
"Masih kuat atau kita ke Rumah Sakit sekarang?" tanya Alia pada Fathia.
"Ke Rumah Sakit sekarang, Mah. Aku udah nggak kuat," jawab Fathia.
"Ka, gendong istri kamu masuk mobil, biar Mama yang bawa tasnya." Mereka keluar kamar menuju halaman depan.
__ADS_1
"Berangkat sekarang? tanya Faris.
"Iya, Papa yang nyetir," kata Alia.
"Kenapa nggak Aka aja?"
"Pah, anak kamu itu lagi bingung, cemas, khawatir dan panik jadi dia nggak bisa bawa mobil dalam keadaan seperti itu, yang ada malah bahaya! Papa, nyetir aja tetap seperti biasa. Fathia masih mulas kok, ketubannya juga belum pecah jadi nggak ada yang perlu di khawatirkan," terang Alia.
Faris mengangguk setuju. Mobil Alphard warna hitam itu melaju menuju Rumah Sakit. Fathia bersama suaminya duduk di bangku belakang. Mereka terus berzikir dan bersolawat. Lantunan ayat pendek juga mengiringi rasa sakit nan di rasakan Fathia. Aka memberikan tangannya sebagai pegangan buat sang istri saat rasa sakit itu terus menyerang dan mendesak di bagian bawah sana.
"Hhhhuuuuff, iiiiiiiissssshhhh ssaakkiit, Mmmaass," ujar Fathia.
"Sabar sayang ya, bentar lagi kita ketemu baby. Jadi kamu harus kuat," kata Aka mengelap peluh istrinya nan bercucuran.
Sampai di pintu utama Rumah sakit ibu dan anak. Suster pun dengan sigap memberikan kursi roda untuk Fathia menuju ruang rawatnya nan sudah di pesan sebelumnya oleh Aka. Serangkaian pemerikasaan pun mulai di lakukan.
"Baru pembukaan lima dokter Aka," jelas dokter kandungan yang kini menangani Fathia dan itu atas rekomendasi dari Biya.
"Lama lagi, ya, dok?"
"Tergantung, tapi kita doakan semoga bayinya cepat menemukan jalan keluar. Tetap temani dan dampingi istri anda. Ajak juga istri Anda makan dan minum agar tidak lemas saat melahirkan nanti. Kalau ada yang di butuhkan suster siap membantu." Dokter Puspa pun pergi dari ruang rawat Fathia.
"Gimana, Mas?" tanya istrinya.
"Masih pembukaan lima, Honey!" Kamu kuatkan?"
Fathia mengangguk dan tersenyum bahagia. "Kuat kok. Kamu tenang ya jangan panik lagi."
"Siapa yang nggak panik coba, tiba-tiba kamu udah mau melahirkan gini."
"Kan emang ini udah waktunya, Mas." Fathia mengelus pipi suaminya.
"Tapikan, kasih tanda-tanda dikit dulu gitu, nggak langsung sakit gini." Aka memeluk perut besar istrinya dan menciumi berkali-kali.
"Anak kita udah kasih tanda dari semalaman, Mas. Cuma aku sengaja nggak bilang ke kamu takut kamunya panik."
"Anak, Papa cepat keluar ya, jangan bikin Mama ngerasain sakit lama-lama," bisik Aka di perut sang istri. "Kamu makan dulu ya, biar ada tenaga," ajak Aka.
Meski selera makannya tak ada, Fathia tetap memaksakan diri untuk mengunyah nasih dan lauk nan di suapi suaminya. Bahkan Alia sampai memesan makanan kesukaannya. Habis itu Fathia di temani Aka dan Mama mertuanya jalan-jalan sekeliling rumah sakit untuk mempercepat pembukaan. Cuaca pagi hari juga sangat sejuk pemandangan matahari terbit pun di dapat Fathia ketika sedang duduk di taman untuk melepas penat.
"Bagus ya, Mas!"
"Apanya yang bagus?"
"Matahari pagi ini."
Aka mengangkat kepalanya melihat hal nan dilihat sang istri.
__ADS_1
"Iya, cantik!"