ISTRI PALSU

ISTRI PALSU
Season3 bab 3


__ADS_3

"Sini, Mas aku bantu," ajak Alodie untuk memakaikan dasi di leher Aka.


Memang kini Alodie susah mulai terbiasa bangun setiap pagi untuk mengurus Aka. Membuatkan sarapan dan menyiapkan pakaian formal untuk di pakai suaminya. Tapi entah kenapa pilihannya selalu salah di mata Aka.


"Kalau kemeja ini dasinya yang polos aja," ucap Aka.


Ia hanya mengangguk paham. Sebenarnya tak ada yang salah pada pilihan Alodie. Kemeja, jas dan dasi yang ia pilihkan senada dan cocok untuk di padu padankan. Tapi Aka tetap ngotot untuk menggantinya.


"Udah biar aku aja," sela Aka mengambil alih dasi dari tangan Alodie.


"Aku tunggu di meja makan ya, Mas," ucap Alodie meninggalkan Aka.


Ia menata sarapan pagi hasil olahannya bersama bi Runi tadi di atas meja makan. Membuatkan secangkir kopi pesanan Aka. Tak lama suaminya pun muncul. "Ini sarapannya, Mas," seraya memberikan piring berisi omelette.


"Makasih, Al."


Seperti biasa Aka hanya mencicipi sedikit makanan itu lalu meneguk setengah kopi yang di sajikan sang istri. Tak perlu berlama-lama di meja makan ia langsung berangkat ke kantor. Setiap di tanya oleh Alodie kenapa sarapannya tak di habiskan Aka hanya beralasan tak mau mengisi perutnya sampai terlalu kenyang.


Bukan karena masakan Alodie tak enak. Masakannya bisa di bilang lumayan tapi entah kenapa bukan ini yang di inginkan Aka. Ia sendiri juga bingung menuntut Alodie bisa masak tapi malah ia tak suka akan masakan sang istri.


Menuntut Alodie membantunya menyiapkan pakaian ke kantor tapi ia malah selalu menganggap semua pilihannya salah dan tak sesuai seperti biasa. Sebenarnya mau Aka ini apa sih?


🍈🍈🍈🍈


"Bingung aku sama Mas Aka. Maunya sudah aku turuti tapi masih aja ada yang salah," curhat Alodie pada Galen ketika mereka sedang menikmati makan siang di sebuah restoran.


"Yaa ini kan pilihan kamu jadi kamu harus terima. Dari awal sebelum kamu kembali menemui Aka aku kan sudah peringatkan, ya kamu nya aja tetap ngotot pengen balikan sama Aka."


"Iya, aku tau. Tapi setidaknya di hargai dong usaha aku. Capek tau bagun pagi masak terus siapin bajunya buat ke kantor, eh malah nggak di pakai. Dia pilih yang lain lagi. Makan cuma di cicip sedikit, habis itu udah langsung pergi tanpa pamit baik-baik. Cium aku kek, ini enggak melenggang gitu aja masuk mobil. Balas lambaian aku juga enggak," tambahnya.


"Udahlah, pisah aja kalian. Mendingan kamu sama aku! Nggak perlu masak, bagun pagi atau saipin keperluan aku," usul Galen.


Alodie menggeleng. "Sekarang rasa aku buat kamu cuma sebatas teman. Nggak lebih!"


Galen tersenyum palsu. Kata-kata Alodie bagaikan pil pahit. "Aku tau, cuma becanda," ujarnya pura-pura biasa saja. Hatinya masih berdenyut ngilu meski sudah sering di tolak berkali-kali oleh Alodie.


Ternyata tak ada sedikitpun rasa yang dulu tersisa untuknya di hati Alodie. Galen menghembuskan nafas pasrah. Apakah masih pantas ia mengharapkan wanita yang ada di depannya ini?


Sedangkan wanita itu sedang berjuang memperbaiki rumah tangganya.


"Kamu udah izin sama Aka kalau kita mau makan siang bareng?" tanya Galen mengalihkan topik pembicaraan.


Alodie menggeleng. "Nggak perlu, cuma makan siang doang," jawabnya santai.


Galen pun tak mau ambil pusing. Benar juga apa yang dibilang Alodie. Masak cuma makan siang sama teman aja harus lapor segala. Mereka melanjutkan makan siang dengan nikmat, tanpa ada lagi obrolan lain. Rencananya Galen ingin mengajak Alodie jalan-jalan sebentar. Mungkin belanja di mall, setidaknya hanya itu yang bisa ia lakukan untuk menghibur mantannya ini.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


Sampai di rumah Aka di sambut oleh Alodie di ambang pintu. Lalu menyerahkan tangannya untuk disambut dan dicium oleh sang istri tapi Alodie malah menarik tangannya untuk masuk ke dalam rumah.


"Salim dulu," ucap Aka menahan langkah.


"Eh, maaf, Mas. Aku pikir kamu minta gandeng," jawab Alodie menyalami tangan suaminya.

__ADS_1


"Udah siap makan malamnya?"


"Hhhmm maaf ya Mas, tadi aku nggak masak soalnya ketiduran," bohong Alodie memberi alasan.


"Tapi bi Runi udah siapin kok."


"Aku mau mandi dulu, kamu bantu bi Runi gih."


"Nggak mau aku temanin mandinya? Mandi bareng yuk sekali-kali!"


"Nggak usah," tolak Aka cepat.


"Kamu kenapa sih, Mas? Selalu aja menghindar dari aku kalau di ajak berduaan. Aku kan juga pengen, Mas," kesal Alode.


"Kapan-kapan aja deh. Aku mau mandi dulu," kilah Aka buru-buru meninggalkan Alodie di ruang tengah.


🌳🌳🌳🌳


"Solat, Al jangan sibuk main HP aja," ajak Aka dari arah ruang kerjanya.


"Duluan aja, Mas. Aku masih mau balas pesan dari teman-teman nih," jawabnya santai dengan posisi duduk selonjoran di atas kasur.


"Wudhu gih, aku tungguin," titah Aka.


"Iiihh, iya, iya," kesal Alodie menuju kamar mandi.


Mereka melakukan solat isya berjemaah di mushola kecil dalam rumah. Usai salam di akhir solat, Alodie langsung bangkit dari tempatnya dan bergegas.kembali masuk kamar meninggalkan Aka yang masih khusyuk dalam zikir dan doa.


Aka baru saja sadar bahwa sang istri sudah tak ada di belakangnya saat ia berbalik dan hendak mengulurkan tangan. "Astaga," gumamnya geleng kepala.


"Selesai solat, emang kenapa?"


"Selesai solat?"


"Iya, habis salam," jawab Alodie dengan wajah biasa.


"Bisa nggak, Al habis salam itu kamu tetap di atas sajadah? Zikir dan salawat dulu habis itu doa sama Allah."


"Iya, iya besok aku zikir, salawat sama doa," jawabnya dengan enteng.


"Habis itu ngaji. Kita baca Al Quran bareng," tambah Aka menuju lemari hendak menganti baju.


"Ho-oh." Sedikit pun Alodie tak mengalihkan pandangannya dari layar ponsel. Seperti ada hal yang lebih menarik di sana dari pada nasehat sang suami.


"Kamu habis belanja?" tanya Aka menghampiri Alodie dekat ranjang. Ia menemukan kantong belanjaan Alodie tadi di dalam lemari.


Hanya anggukkan kepala yang di dapat Aka.


"Berarti tadi siang kamu keluar! Kok nggak izin sama aku?"


"Apa sih, Mas? Masak mau jalan keluar sebentar harus izin segala," jawab Alodie dengan nada kesal.


"Loh, aku ini suami kamu dan kamu istri aku. Sudah seharusnya kamu sebagai istri itu izin dulu sama suami kalau mau melakukan sesuatu atau mau pergi keluar rumah," jelas Aka dengan sedikit nada tinggi.

__ADS_1


"Ribet tau kamu, Mas. Apa-apa izin nanti juga kamu nggak kasih izin," protes istrinya beranjak dari kasur.


"Kapan aku nggak kasih izin?"


"Buktinya aku di larang syuting!"


"Karena kamu nggak bisa atur waktu! Aku udah kasih izin tapi masih tetap pulang malam."


Alodie memalingkan wajahnya dan terdiam. Untuk hal itu Aka memang benar.


"Lalu kemana lagi tadi?" tanya Aka lagi.


"Makan siang sama galen," jawabnya ketus.


"Yang belanjain kamu Galen juga?"


"Iya!"


"Besok kamu nggak perlu lagi ketemu sama dia!" tekan Aka.


"Loh kok gitu sih, Mas? Galen itu teman aku loh. Nggak pantas rasanya kalau aku jauhin dia." Kembali Alodie melayangkan protesnya.


"Tapi dia juga mantan kamu kan! Nggak pantas, Al kamu jalan sama mantan. Apa kata orang nanti, harga diri aku mau di tarok mana?" seru Aka.


"Udah ah, aku capek mau tidur," potong Alodie menghempaskan tubuhnya ke atas kasur dan membungkus seluruh badan dengan selimut.


"Aku lebih capek," teriak Aka keluar dari kamar dengan membanting pintu.


Ia kembali memilih untuk tidur di kamar lantai dua. Ingin melepas lelah dan penat serta mengendorkan urat serta saraf yang sudah terasa tegang. Aka mencari obat penenangnya. Dress yang masih menyimpan aroma tubuh wanita yang dapat memberikannya sebuah kenyamanan.


Untuk kali ini Aka membuang rasa gengsinya.


Ia butuh dress itu agar dapat istirahat dengan damai dan tenang. Masalah di kantor sudah cukup menyita pikirannya ditambah dengan sikap Alodie yang kurang menghargainya sebagai suami. Membuat Aka merasa rumah tangganya kembali ke titik nol seperti dimana ia baru pertama kali menikahi Alodie.


πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹


"Al, Mama mau makan masakan kamu. Boleh ya di masakin, apa aja yang penting kamu yang masak," pinta Alia pada menantunya.


"Hah, ee ia kapan-kapan ya, Ma," jawab Alodie berusaha mengelak.


"Loh, kok kapan-kapan. Sekarang aja, nih Mama udah bawa bahan-bahannya."


Alodie tampak bingung ia menggaruk belakang telinganya yang tak gatal. "Di masakin bi Runi aja dulu ya, Ma. Aku lagi nggak enak badan," alasannya.


"Kamu badannya nggak panas kok," kata Alia seraya menempelkan telapak tangannya di kening Alodie.


"Tapi badan ku sakit-sakit semua. Maaf ya, Ma aku ke kamar dulu," pamit Alodie pergi dari ruang tamu.


Alia merasa heran. Belakangan sifat Alodie begitu berbeda. Meski tak terlalu jelas tapi firasatnya mengatakan ada yang berubah dari menantunya kini. Ia memilih untuk mengirim pesan pada Aka.


πŸ‘€ Aka.


Nanti pulang dari kantor mampir dulu ke rumah Mama ya. Ada yang mau Mama bicarakan.

__ADS_1


πŸ“¨


Setelah itu Alia pergi meninggalkan rumah Aka tanpa pamit pada menantunya. Hanya bi Runi yang mengantar sampai halaman.


__ADS_2