
"Mas harus cepat-cepat pindah kesini deh," pinta Aka pada Adnan saudara sepupunya kala datang menjenguk.
Awalnya Adnan dan yang lainnya mampir dulu ke RS melihat kondisi gedung yang terbakar lalu menjenguk pasien yang di evakuasi meski tak ada yang menjadi korban atau mengalami luka ringan. Tapi pastinya mereka mengalami ketakutan dan shock saat kejadian dan Adnan datang untuk memastikan apakah mereka sudah baik-baik saja dan merasa aman. Sedangkan tim medis yang menjadi korban sudah di pulangkan ke rumah masing-masih untuk istirahat dan semua biaya pengobatan di tanggung pihak RS.
"Ia Nan, Om pikir juga gitu biar RS ada yang urus juga. Kalau Om sudah tua, kadang ada yang luput dari perhatian Om atau ada yang terlupakan," tambah Faris.
"Ia Om, aku pikirnya juga gitu.Masak gedung RS baru kita bisa kebakar sampai hangus gitu? pasti materialnya murahan nggak tahan api akhirnya api cepat merambat," sambung Adnan.
"Tapi syukur ya pasiennya bisa di selamatkan semua," timpal Kila.
"Ia Mbak, untung pasien di sana baru sedikit nggak sampai 20 orang. Coba bayangin kalau gedung baru itu sudah di pakai semuanya, bakalan banyak korban jiwa," jelas Aka geleng-geleng kepala membayangkannya.
"Gedung barunya udah di pakai Mas?" tanya Alodie palsu.
"Ia sayang, baru kita gunakan 1 hari yang lalu sebelum di resmikan 4 hari lagi, makanya pasien masih sedikit," tutur Aka.
Alodie palsu mengangguk paham.
"Kondisi kamu gimana Ka?" tanya papa Adnan.
"Kondisi sih baik-baik aja Om, cuma nggak bisa jalan. Telapak kaki aku luka bakar, ke injak material yang kebakar pas nyelamatin pasien."
"Emangnya nggak pakai sendal kamu?"
"Nggak Om, aku tuh habis solat di ruangan. Eh tiba-tiba asap udah ngepul, langsung aku hubungin Beno dan lari selamatin pasien."
"Makan siang dulu yuk," ajak Risma dan Alia dari arah dapur.
Semua anggota keluarga berpindah menuju meja makan di rumah Aka. Fathia dengan setia mendampingi Aka dan membantu suaminya untuk berjalan. Aka tak mau mengunakan kursi roda karena menurutnya ia masih bisa berjalan meski harus tertatih.
"Maaf ya sayang, kali ini Amy nggak bisa ajak kamu main soalnya Amy harus urus Aby Aka dulu," kata Fathia saat baby Kinan merengek untuk di gendongnya.
"Nggak apa sayang, kalau makan aku bisa sendiri. Gih kamu ajak Kinan main dulu, kayaknya dia kangen sama kamu kasian dari tadi nangis terus pengen di gendong sama Amy nya," ujar Aka yang sudah duduk di meja makan.
"Ia Al, nanti Aka biar Mama yang bantu," timpal Alia.
"Ok deh, sini sama Amy nak," ajak Fathia membawa Kinan dalam gendongannya.
"Kamu nggak makan dulu Al?" tanya Kila.
"Nggak Mbak! tadi aku udah makan duluan sama Mbak Rike dari management aku. Dia datang jenguk Mas Aka."
"Oh, Mbak titip Kinan ya."
"Ssiiipp.Kami main ke taman ya."
__ADS_1
Fathia membawa bayi gembul itu menuju taman. Kinan pun tertawa renyah saat Fathia mengajaknya berkeliling taman melihat kupu-kupu yang hinggap di bunga lalu memetik beberapa buah dan duduk di gazebo.
"Enak ya nak, buat nya?" tanya Fathia pada Kinan yang asik mengemut buah jeruk yang di suapi Fathia.
"Hah, ha..," celoteh Kinan meminta lagi buahnya.
"Mau lagi?"
"Hhaa, aaa.." Kinan membuka mulutnya.
"Pintarnya anak Amy!" Fathia memberikan lagi jeruk pada Kinan sambil di pegangannya.
"Habis ya sayang! jeruknya cuma satu yang matang." Kata Fathia mengendong Kinan kembali kedalam rumah. Terlihat semua keluarga baru saja usai menyantap makan siang.
"Anak Mama habis mamam apa? kok mulutnya belepotan?" tanya Kila pada Kinan.
"Mamam jeluk Mamah, di suapin Amy," jawab Fathia menirukan suara anak kecil.
"Enak jeruknya?"
"Enak mama, Kinan mau nambah tapi jeluknya habis."
"Ya udah nanti kita minta beli jeruk sama papa ya." Kila mengambil Kinan dari Alodie palsu untuk segera di susuinya. "***** dulu yuk sama Mama, biar Amy nya bantu Aby Aka dulu."
Fathia mendekat.
"Aku mau pipis," bisik Aka.
"Oh, ayok!" Fathia merangkul kan tangan Aka di pundaknya.
"Kemana? biar Mama bantu," potong Alia.
"Mau ke kamar mandi Mah! yakin mau bantu," ujar Aka.
"Hehehe... nggak deh sama istri kamu aja sana," tolak Alia malu.
Aka mencibir mamanya. Sedangkan Fathia hanya tertawa kecil melihat mama mertuanya.Sampai di depan kamar mandi di bawah tangga Fathia melepaskan rangkulan suaminya. "Pipis sana, aku tunggu di luar."
"Loh, bantu aku di dalam dong honey," rengek Aka.
"Mas, cuma pipis doang masak di bantuin segala? lagian malu tau banyak tamu ini!"
"Ya nanti kalau aku berdirinya nggak seimbang gimana?"
"Ya ampun Mas!" Fathia menepuk jidatnya. "Kamu nyender aja di tembok ya! udah sana masuk." Fathia mengantar Aka kedalam toilet lalu keluar dan menutup pintu.
__ADS_1
Kadang ia suka geleng-geleng kepala dengan sikap manjanya Aka. Apa karena Aka baru kali ini merasakan perhatian dari seorang istri?! Terselip rasa sedih di hati Fathia membayangkan jika suatu saat Aka mengetahui identitas aslinya apakah Aka akan bersikap seperti ini padanya atau akan membencinya.
"Honey," panggil Aka dari ambang pintu toilet mengagetkan istrinya.
"Ih, bikin kaget tau," kesal Fathia.
"Lagian kamunya ngelamun. Mikirin apa?"
"Nggak ada! cuma lagi mikir apa sebaiknya kita tidur di kamar bawah aja biar kamu nggak susah naik turun tangga ke kamar kita." Alasan yang di berikan Fathia selalu tepat.
"Nggak ah, aku maunya tidur di kamar kita aja!"
"Kenapa?"
"Lebih nyaman di sana. Lagian aku nggak suka di kamar bawah, kecil."
Ok lah Fathia setuju saja, lalu ia memapah Aka kembali ke ruang tamu.
Mereka semua kembali berkumpul di ruang tamu. Membahas kepindahan Adnan lalu membahas hal lainnya. Saat azan ashar berkumandang semuanya mulai mengambil wudhu dan bersiap untuk solat berjamaah.
Selesai solat Adnan dan Kila mulai berberes untuk segera kembali ke Bandung. Sesuai rencana mereka tadi, dalam minggu ini Adnan dan keluarga kecilnya akan segera pindah ke Jakarta sebab ia harus mengurus kembali pembangunan gedung baru RS yang hangus terbakar.
"Hati-hati di jalan, kalau sudah sampai di kabari," ujar Alia mengantar tamu ke halaman.
"Pasti tante!" jawab Adnan.
"Da-da anak Amy, besok pas pindahan kamu main sama Amy ya," kata Fathia menciumi pipi baby Kinan.
"Pak, kalau lelah atau ngantuk bilang sama Adnan ya biar nyetirnya gantian," ingat Faris pada supir pribadi Adnan.
"Pasti Pak!" Menundukkan sedikit kepala.
"Kami pulang dulu, Terimakasih sambutannya," pamit Ardi papa Adnan pada semua keluarga.
Semuanya melambaikan tangan mengiringi kepergian mobil keluarga Adnan.
...----------------...
Jejak nya mana nih?
Dukungan nya juga, mana?
Kasih like π komen π jangan lupa di favorit π juga tambah hadiahnya π
Terimakasih π
__ADS_1