ISTRI PALSU

ISTRI PALSU
Sembilan Puluh.


__ADS_3

"Besok acaranya sampai jam berapa Mas Ben?" tanya Fathia.


"Agak sore kali ya Al, sebab kita langsung pilih beberapa advertising yang akan mengiklankan produk baru ini."


"Emang mereka udah kirim proposal nya?" tanya Aka.


"Udah, jadi nanti kita meeting kira-kira satu jam, habis itu baru di umumkan hasilnya."


Aka mengangguk paham dan setuju.


"Lo tenang aja,semua proposal sudah gue pelajari. Di list gue ada kandidat yang bagus dan ok."


"Sekali lagi thank's ya, nggak tau gue kalau nggak ada lo Ben."


"Santai bro.Makan malamnya enak, terus kuenya juga udah habis jadi gue pulang ya mau langsung istirahat harus bangun pagi besok," pamit Beno.


"Hati-hati di jalan Mas Ben, titip salam buat mama papanya," ujar Fathia.


"Sip Al πŸ‘. Bro gue pulang."


πŸ§€πŸ§€πŸ§€πŸ§€


Paginya orang butik kiriman Beno sudah sampai di rumah Aka dan Alodie palsu. Pasangan suami istri itu mulai mencoba beberapa pakaian. Sampai menemukan pilihan yang pas,cocok juga serasi mereka mulai bersiap-siap. Sedangkan Fathia sedang di rias oleh make up artis yang baru saja tiba.


Dres simpel sampai lutut warna nude dan bercorak bunga warna merah maron menjadi pilihan Fathia. Sedangkan Aka memilih stelan jas warna merah maron dan kemeja putih agar serasi dengan sang istri.


Jam 9 tepat mereka sudah siap dan tampil cantik juga ganteng. Aka mengandeng tangan istrinya menuju mobil mereka. Hanya butuh waktu 20 menit pasangan serasi itu sudah sampai di halaman gedung Akafarma. Tampak di sana awak media juga wartawan sudah menyambut kedatangan mereka.


Mereka terus berjalan masuk ke dalam gedung, bukan tak mau menangapi para wartawan dan awak media hanya saja nanti pasti ada waktu untuk mereka mengajukan pertanyaan di sesi konferensi pers.


Tepat jam sepuluh acara pun di mulai. Aka sebagai CEO di Akafarma memberikan kata sambutan di dampingi Beno. Sedangkan Fathia duduk di bangku khusus untuk keluarga bareng mertuanya juga para saudara Aka lain nya. Dan acara puncak di mulai Beno dan tim lainnya memperkenalkan lima produk baru mereka.

__ADS_1


Para klien yang sudah bekerja sama dengan Aka merasa sangat puas. Tinggal menunggu produk tersebut di iklankan lalu di pasarkan.Acara di lanjutkan dengan makan siang setelah itu Aka dan juga beno serta klien mengadakan meeting singkat pemilihan advertising yang kompeten untuk mengiklankan produk barunya supaya bisa di lihat dan dikenal konsumen agar penjualan dapatmeningkat. Mendapatkan keputusan final, Aka di dampingi Beno mengumumkan dua advertising yang terpilih untuk bekerja sama dengan Akafarma. Penandatanganan kontrak dilakukan di hadapan para tamu undangan.


Terakhir sesi konferensi pers di hadiri oleh Aka, Beno dan perwakilan dari dewan direksi. Pertanyaan dari para wartawan dan awak media di batasi hanya seputar produk baru yang di luncurkan Akafarma. Mulai dari maksud dan tujuan Aka meluncurkan setiap produk, lalu harapan kedepannya dari produk baru yang mereka luncurkan setelah itu terobosan baru apa lagi yang akan Akafarma luncurkan.


Semua pertanyaan di jawab oleh Aka dan Beno. Sekitar dua puluh menit sesi wawancara pun berakhir. Dan acara launching produk baru dari Akafarma di tutup dengan doa bersama yang di pimpin oleh seorang ustad. Semua tamu menyalami Aka juga Beno dan keluarga memberikan selamat sebelum mereka meninggalkan loby kantor Akafarma.


"Capek ya?" tanya Fathia saat Aka memeluk dirinya.


Aka mengangguk di punggung istrinya.


"Mau pulang sekarang?"


"Tungguin yang lainnya pada pulang dulu deh, nggak enak kalau tuan rumah pulang duluan," kata Aka mengajak sang istri duduk di meja yang kosong.


"Mas mau makan atau minum sesuatu? aku ambilin!"


Aka menggeleng. "Nanti aja Han, dari sini kita mampir di restoran aja sekalian makan malam."


"Langsung pulang dokter Bi?" tanya Fathia.


"Nggak tau Al, aku ikut Mas Beno aja," jawab Biya.


"Sudah mau magrib kita solat dulu di mushola kantor habis itu kita makan malam. Mau nggak?" ajak Aka.


"Boleh deh, kasian dari tadi anak orang gue bawa tapi belum di kasih makan," ujar Beno.


Mereka berempat menunaikan solat magrib berjamaah di mushola kantor. Lanjut menuju sebuah restoran mewah untuk makan malam.


Di sana mereka menikmati hidangan sambil bercerita untuk mengenal satu sama lain, terutama Fathia yang belum begitu tau tentang hubungan Beno dan Biya.


"Jadi karena sering ke rumah sakit Mas Ben ketemu sama dokter Biya dan jatuh cinta pada pandangan pertama gitu?" tanya Fathia.

__ADS_1


"Awal ketemu emang terpesona gitu, tapi ya setelah itu biasa aja. Nah sempat waktu itu kita ngobrol singkat di ruangannya Aka, sejak itu saya dekatin dokter Biya."


"Kok dokter Bi mau sama Mas Ben?"


"Awalnya nggak mau Al. Tapi pas lihat dia berani datang kerumah mau izin ajak ta'aruf akhirnya aku mau."


"Aku pikir kalian pacaran."


"Biya itu anak solehah Han, orang tuanya taat agama jadi nggak boleh pacaran. Kalau ada pria yang mau sama dia langsung datang kerumah ngajak ta'aruf," jelas Aka yang sudah kenal lama dengan keluarga Biya.


Fathia mengangguk-anggukan kepalanya tanda paham. "Jadi kapan nikahnya?"


"Belum tau Al, aku minta waktu sama kedua orang tuaku satu tahun untuk bisa kenal Mas Ben," kata Biya.


"Aku doa in deh semoga kalian berjodoh."


"AMIN" ujar Beno dan Biya bersama.


Malam semakin larut Beno dan Biya memutuskan untuk pulang duluan sebab Beno merasa tak enak pada orang tua Biya nanti jika anak gadisnya masih belum pulang padahal sudah pergi dari tadi pagi.


Fathia dan Aka masih betah di sana menikmati pemandangan malam ibu kota yang di suguhkan di restoran tersebut sebab mereka berada di lantai dua yang di tutupi kaca transparan. Sampai merasa bosan Aka mengajak istrinya untuk pulang kerumah.


Di rumah Fathia membatu suaminya melepaskan jas dan bajunya lalu menyiapkan air panas di bet hup untuk Aka mandi berendam agar lelah di tubuh suaminya dapat berkurang. Setelah itu ia juga ikut membersihkan diri sebelum merebahkan diri di atas kasur bersama suami tercinta.


"Kok belum tidur Mas?" tanya Alodie palsu keluar dari kamar mandi.


"Nungguin istri aku dong, nggak bisa tidur soalnya kalau nggak peluk."


"Bentar ya, aku keringin rambut dulu," kata Fathia duduk di meja rias.


Setelah itu ia mematikan lampu utama kamar.

__ADS_1


"Muach" mengecup seluruh wajah Aka. "Good nite Masaka," katanya membawa suaminya tidur di dalam dekapan.


__ADS_2