
"Ayo, buk sedikit lagi dorong," kata dokter.
Peluh bercucuran membasahi tubuh Fathia. Ditariknya nafas lalu dihembuskan lagi sesuai ajaran suster dan dokter yang mendampingi.
"Huuf, huuf, huuf, mmmm.... " Fathia lagi-lagi mengejan.
"Sedikit lagi, buk ayok!"
"Hhhmmmmmkkkk..... "
"Owek, owek, owek."
Akafha Bara Yudha bayi berjenis kelamin laki-laki itu akhirnya terlahir ke dunia tepat jam sebelas siang. Perjuangan yang melelahkan bagi Fathia dan menyakitkan bagi Aka karena menerima cakaran dan gigitan dari sang istri saat berusaha mengeluarkan anak mereka.
Air mata haru dan bahagia dari dua orang tua baru itu saat tangis bayi mereka mewarnai ruang persalinan. Aka berkali-kali mengucapkan syukur dan rasa terimakasih nan teramat dalam pada sang istri. Ia mendaratkan ciuman di seluruh wajah istrinya, meski rambut, tangan dan lengannya menjadi pelampiasan oleh Fathia tak mengapa baginya.Semua terbayar sudah kala melihat sang putra.
"Hah, hah, anak kita, Mas," ucap Fathia lemah.
"Iya, sayang. Kamu berhasil kamu ibu yang hebat," puji Aka memeluk istrinya. " Terimakasih!"
Ibu dan anak itu di pindahkan ke ruang rawat. Aka juga sudah mengadzani sang putra nan kini sedang terlelap dalam gendongan sang oma.
"Sus, saya boleh tidur?" Fathia merasakan seluruh tenaganya susah habis, hingga membuka mata pun tak sanggup rasanya.
"Kita coba dedek bayi nyusu langsung ya, Buk." Suster pun mengambil alih baby Kafha dari sang nenek dan membantu Fathia untuk mulai menyusui sang bayi.
"ASI nya belum keluar, Sus," kata Fathia.
"Nggak pa-pa, Buk. Tetap susui dedek bayi, ya sampai ASI nya keluar, sekalian dia latihan menghisap dulu," jelas suster.
Hanya sepuluh menit baby Kafha pun kembali tertidur pulas dalam gendongan sang, Mama. Suster meletakkannya dalam box bayi nan berada di samping ranjang Fathia.
"Ibuk nya boleh istirahat," ujar suster.
"Terimakasih, Sus," kata Aka.
Para suster yang membantu meninggalkan ruang rawat Fathia.
"Aku tidur, ya Mas," kata Fathia.
Aka mengangguk menaikan selimut sebatas dada sang istri lalu mengecup lama kening Fathia.
"Tidur, ya mumpung anak kita tidur."
Hanya sekejap Fathia sudah memasuki alam mimpi. Aka pun menuju sofa untuk rehat sejenak karena ia juga merasa sedikit kelelahan.
"Kamu makan dulu habis itu tidur juga, Ka. Biar, Mama yang jaga siang ini sampai sore. Nanti malam siapa tau kalian begadang," ucap Alia sang Mama.
"Kalau, Mama mau pulang nggak pa-pa. Aku kuat," jawab Aka.
"Mama bisa istirahat di rumah nanti. Yuk makan dulu, habis itu istirahat."
π¦π¦π¦π¦
Satu hari di rawat, Fathia dan baby Kafha pun diperbolehkan pulang. Sampai di rumah, seluruh keluarga besar sudah menyambut kedatangan mereka. Kebahagiaan menyelimuti seluruh hati orang-orang yang ada di sana.
__ADS_1
Mereka pada memperebutkan baby tampan itu untuk di gendong. Sampai-sampai tidur baby itu terusik lalu menangis kencang.
"Sini gue bawa Kafha nya ke kamar, mau mimik sama, Mama nya." Aka mengambil alih sang bayi dari tangan Beno.
"Ganteng bangat, ya anaknya Aka," ujar Mama Beno.
"Bapaknya ganteng gitu, ya anaknya pasti ganteng lah," seru Beno.
"Tapi nggak mirip Aka loh, benar kan, Mbak?" tanya Risma pada Alia.
Alia mengangguk. "Mungkin mirip, Mamanya."
"Hidungnya aja yang kayak aku, selebihnya kayak, Mama nya," timpal Aka yang baru saja kembali.
"Emang kamu udah pernah lihat wajah aslinya, Fathia?" tanya Kila.
"Belum sih, Mbak. Tapi kalau bukan mirip aku, mirip siapa lagi coba?!"
"Iya juga sih," jawab Kila.
"Matanya bagus, kayak mata Fathia," tambah Biya.
"Itu gue setuju!" sahut Aka.
"Jadi nggak sabar anak gue lahir." Beno mengelus perut istrinya.
"Mau secar apa normal, Bi?" tanya Killa.
"Maunya normal, Mbak."
"Bagus itu, biar si Beno juga ikut rasain sakitnya kayak gue." Aka menunjukkan tangan dan lengannya yang penuh dengan bekas cakaran sang istri.
"Orang mau normal!"
"Tapi aku jangan di bikin kayak, Aka!"
"Jangan mau enaknya aja," kesal Aka melempar saudaranya dengan kotak tisu.
Beno hanya cengengesan.
π§π§π§π§
"Mas, kamu tidur aja duluan! Biar aku yang urus Kafha." Fathia sedang memberi ASI bayinya duduk bersandar di kepala ranjang.
Sedangkan Aka masih setia menemani. "Kita tidurnya barengan aja!"
"Tapi kamu udah begadang semalam, Mas."
"Nggak pa-pa! Aku senang kok."
"Kurang istirahat nanti kamu sakit loh, Mas."
"Hhheehh iya deh, aku istirahat duluan." Aka mulai berbaring di atas kasur.
Telapak tangan Fathia yang ada di bokong bayinya mulai terasa hangat. "Anak, Mama pipis ya?! Kita ganti popok dulu kalau gitu."
__ADS_1
"Biar aku aja, kamu tunggu di sini." Aka kembali bangkit dari ranjang.
"Loh, nggak jadi tidur kamu, Mas?"
"Kafha pipis, kamu masih belum kuat jalan kan?!"
Fathia tampak berfikir, "Ia sih, jahitannya masih ngilu!"
"Ya udah, biar aku ambil perlengkapannya dulu."
Menunggu Aka mengambil perlengkapan bayi mereka di keranjang, Fathia meletakkan bayinya di atas kasur dan membuka bedong baby Kafha. "Mas, dia pup, sekalian bawa bajunya," sorak Fathia.
Aka datang lalu mengambil alih Kafha dari tangan sang istri.
"Kamu bisa, Mas?"
"Bisa! Aku kemaren belajar sama suster," jawab Aka.
"Hehehe jadi malu! Aku aja ibunya belum bisa."
"Nanti belajar kalau kamu udah sembuh, sekarang biar aku yang kerjain." Aka fokus membersihkan bayinya dan menganti pakaian nan terkena kotoran.
"Tapi kan ini tugas aku, Mas!"
"Ngurus anak itu tugas kedua orang tua. Aku nggak mau memberatkan kamu dalam mengurus anak. Sebagai suami aku adalah contoh bagi kamu, jadi aku harus bisa memberikan contoh yang baik buat kamu. Salah satunya ngurus anak kita."
"Beruntungnya aku punya suami kayak kamu." Fathia mencubit pipi suaminya.
"Aku juga beruntung punya istri kayak kamu," balas Aka tersenyum.
Beres menganti popo dan baju baby Kafha, Aka mengendong anaknya lalu mengayun sebentar agar ia tertidur.
"Bobok dia, Mas?"
"Iyah, aku timang-timang bentar langsung tepar," jawab Aka meletakkan anaknya di box bayi.
"Kita tidur yuk," aja Fathia.
Mereka pun berbaring lalu Aka menarik selimut sebatas dada. Ia membawa sang istri kedalam pelukannya. Melabuhkan beberapa kecupan di puncak kepala sang istri. "Makasih ya, atas perjuangan kamu buat melahirkan anak kita."
"Sama-sama, kamu juga udah nemanin aku dari awal sampai proses kelahiran selesai. Maaf kalau tadi aku cakar dan tangannya, soalnya sakit banget, Mas," ucap Fathia di dada Aka.
"Nggak pa-pa, rasa sakit yang aku rasain nggak sebanding dengan sakit yang kamu tanggung. Dari pagi sampai siang, aku aja belum tentu mampu loh."
"Hhhmm tinggal aku operasi plastik lagi ya, Mas. Semua kebahagiaan akan terasa semakin lengkap nantinya."
"Sabar! Aku tau kamu pasti masih merasa berat dengan wajah kamu yang sekarang. Jangan stres, ya nanti berpengaruh sama ASI kamu."
Fathia mengangguk di dada suaminya.
"Apa pun rupa wajah kamu, kamu tetap istri yang aku cintai dan Mama dari anak-anak aku!" Aka mengelus rambut hitam sang istri. "Jangan sedih, tiga bulan lagi kamu bisa operasi."
"Aku nggak sedih, cuma takut aja nanti anak kita nggak kenal aku!"
Aka mengangkat dagu sang istri, "Hey, bayi itu belum lihat apa-apa. Sekarang dia merasakan kita lewat detak jantung. Dia akan tau mana ibu dan ayahnya lewat detak jantung kita yang di dengar. Jadi kamu pasti akan di kenalinya sebab selama sembilan bulan detak jantung kamu lah yang selalu di dengarnya!"
__ADS_1
Fathia tersenyum senang dan mengangguk. Rasa khawatir yang selama ini ia pendam hilang sudah saat mendengarkan penjelasan dari sang suami.
"Sekarang kita tidur. Nanti bentar lagi pasti bangun karena Kafha mau mimik," ajak Aka.