
Aku udah up date ber bab-bab tapi nggak dapat like π juga komen π. π«π©π sedih aku tuh...
Mohon dukungannya ya... ππ
Like dan komen kalian sangat berarti buat aku... π
πππππππππβ€β€β€β€
Di salah satu restoran di kota Jakarta Aka dan Fathia sedang menikmati makan siang. Dan ternyata Galen sang mantan tunangan Alodie kebetulan juga sedang makan di sana. Ia sempat tak percaya kalau Alodie muncul di muka umum setelah 3 bulan lebih Aka menyembunyikan dirinya di rumah sakit.
"Hay," sapa Galen datang menghampiri.
Aka dan Fathia yang tadinya sedang tertawa mendadak diam. Fathia tak kenal dengan Galen sedangkan Aka mulai kesal.
"Ngapain lo kesini?" kesal Aka bertanya.
"Cuma mau say hello aja. Juga pengen tau kondisi Alodie," jawabnya santai.
"Istri gue sehat. Sekarang mendingan lo pergi karena Alodie nggak ingat siapa lo!" usir Aka.
"Maksudnya?" tanya Galen tak paham.
"Alodie mengalami amnesia post - trauma."
Galen hanya mengangguk. "Lo makan pasta kacang?" tanya Galen melihat isi piring Fathia.
"Ia"
"Bukannya lo alergi kacang?" tanya Galen.
"Sejak kapan Alodie alergi kacang?" bantah Aka.
"Oh, sorry mungkin gue salah.Ya sudah silahkan lanjutkan makan siangnya, gue cabut," kata Galen meninggalkan meja Aka dan Fathia.
__ADS_1
"Siapa?" tanya Fathia pada Aka.
"Galen, mantan tunangan kamu!"
"Oh."
Galen pergi dengan kecurigaannya yang semakin mendalam.Ia masih butuh bukti lain untuk meyakinkan keraguannya.
ππππ
"Kita kerumah mama ya, beliau ajak makan malam," kata Aka saat sore hari setelah menghabiskan waktu bersama Fathia di sebuah pantai.
"Tapi baju aku basah Mas,nggak pulang dulu buat ganti gitu?"
"Ganti di rumah mama aja, di sana ada pakaian kita kok tadi aku minta bi Runi kirim ke sana.
" Oh, ya udah ayok jalan!"
"Aku ngerokok ya sayang, cuma satu batang," izinnya pada sang istri.
"Dokter kok ngerokok?"
"Dingin sayang, cuma buat panasin badan aja," jelas Aka mulai menyulut rokoknya dan melajukan mobil.
"Dokter itu harusnya hidup sehat. Nggak ngerokok, nggak minum-minuman beralkohol, nggak-"
"Tau dari mana kamu aku suka minum beralkohol?" potong Aka.
Fathia menyadari kebodohannya yang keceplosan. Otaknya harus berpikir cepat untuk menemukan alasan yang tepat agar Aka tak curiga.
"Bibi, ia bibi cerita sama aku," jawabnya cepat sambil bersyukur di dalam dada.
"Oh, aku pikir kamu sudah mulai ingat."
__ADS_1
Fathia menggeleng cepat dan wajahnya masih cemas. "Aku sempat tanya bibi soal makanan dan minuman kesukaan kamu, makanya bibi juga bilang kalau kamu suka minum."
"Aku minum dan rokok cuma buat hilangin stres aja sayang, dokter juga manusia," kata Aka meniup asap rokoknya ke arah jendela mobil.
Fathia hanya mengerucutkan bibirnya tak suka dengan alasan yang diberikan Aka.
"Jangan gitu bibirnya, ntar aku stop di jalan loh." Aka menggoda istrinya.
"Kenapa?"
"Nggak tahan lihatnya, sekalian di hangatkan," tambah Aka lagi tertawa jail.
Fathia memukul lengan berotot suaminya. "Tambah lagi, dokter mesum," cibirnya.
"Hahahah... kan aku bilang tadi kalau dokter juga manusia!"
"Ih, Mas," rengek Fathia mencubit pinggang Aka.
"Aduh, sakit sayang," keluhnya.
"Makanya, fokus nyetir!"
"Ia tapi nanti di rumah mama aku di angetin dulu ya," godanya lagi mengedipkan sebelah mata.
"Mas, ih kamu malah makin jadi ya," kesal Fathia malu-malu tapi mau.
"Cie, ada yang merona pipinya," Aka semakin saja menggoda Fathia.
Kali ini Fathia memilih diam.
"Nanti kita coba gaya baru," ajak Aka tak tau malu.
Fathia hanya geleng-geleng kepala heran tak mau melayani suaminya yang sudah mulai mesum.
__ADS_1