
Bu Julanar sudah di izinkan pulang oleh dokter hari ini, hanya saja Fathia harus menyelesaikan beberapa masalahnya di sini sebelum membawa sang ibunda ke Jakarta akhirnya ia dan Ciara memutuskan besok pagi saja keluar dari rumah sakit.
"Ci, gue mau kerumah bi Inas dulu mau beres-beres pakaian ibu sekalian di sortir mana yang ke pakai di bawa da yang nggak di kasih ke tetangga aja," kata Fathia setelah mereka menikmati makan siang yang di beli Ciara di depan rumah sakit.
Ciara hanya mengangguk.
"Ibu setuju kan kalau pakaiannya aku kasih tetangga sebagian?" tanya Fathia menghampiri Julanar.
"Terserah kamu saja. Apa sebaiknya Ibu ikut kamu bantu beres-beres barang?"
"Nggak usah Bu, pokoknya Ibu istirahat saja di sini aku sudah bayar biaya tambahannya."
"Ya sudah jangan lama-lama."
__ADS_1
Fathia berjalan di lorong rumah sakit di antar Ciara. "Mungkin gue agak lama Ci, setelah beresin barang ibu baru gue kerumahnya juragan Afkar di temani bi Inas soalnya gue nggak tau rumah rentenir itu."
"Ok deh, tapi usahain cepat ya Ti. Kalau bisa kita balik nanti malam aja," ajak Ciara.
"Gue usahain. Gue pergi dulu." Mereka berpisah di pintu utama rumah sakit. Ciara masih setia menatap punggung sahabatnya yang semakin lama semakin jauh dari pandangannya. Ada rasa lega di hatinya bahwa masalah yang sempat mencekik Fathia kini sudah terlepas meski harus dilewati dengan cara yang salah. Mungkin ini juga sudah takdir dari Tuhan.
ππππ
"Kamu yakin kita pisah?" tanya Galen memastikan sekali lagi pada kekasihnya Alodie.
"Aku hanya merasa bersalah, bagaimana pun Aka suami yang baik tidak ada alasan aku untuk minta cerai dari dia dan juga sebaiknya hubungan kita ini di akhiri," jawab Alodie bangkit dari atas ranjang dan memakai piyamanya.
Alasan Alodie pergi syuting pada Aka memang benar tapi hanya tiga hari setelah itu ia menghabiskan waktu bersama Galen di vila. Tujuannya ia ingin menghabiskan waktu bersama Galen sebelum mereka berpisah dan bahkan siang ini mereka baru saja selesai bercinta untuk yang terakhir kalinya sebelum Alodie pulang kembali pada sang suami.
__ADS_1
Galen mengambil ponselnya di atas naskah dekat ranjang. Ia mencari-cari sesuatu di sana lalu menyerahkannya pada Alodie.
"Dia selingkuh dari kamu," kata Galen memberikan Foto Aka yang masuk dan keluar hotel.
"Lalu?"
"Artinya dia tidak mencintai kamu!"
"Aku tau Aka sangat mencintai aku. Itu hanya karena aku yang tak pernah memberinya nafkah batin jadi wajar kalau dia membayar seorang wanita," jelas Alodie membela suaminya.
"Lalu, bagaiman dengan aku?" tanya Galen memegang pundak Alodie.
"Cobalah untuk melupakan aku! kalau pun kamu masih ingin hartanya Aka aku rasa semua sudah cukup. Rumah, mobil, apartment juga tabungan semua sudah kamu miliki dan sekarang jaga itu baik-baik lalu kembalilah bekerja dengan benar agar harta yang aku berikan tidak habis percuma," pesan Alodie mengelus rahang pria yang ia cintai.
__ADS_1
Galen menghela nafas menatap kepergian Alodie menuju kamar mandi. Bagaimana pun ia tidak rela jika Alodie meninggalkannya bukan hanya karena cinta tapi uang dan tubuh Alodie sudah menjadi kebutuhan untuknya. Bisa saja ia membayar wanita lain di luar sana, tapi Alodie adalah wanita pertama untuknya begitu pula sebaliknya. Ada niat di hati Galen untuk memisahkan Alodie dari suaminya.