
Like ππππ Komen ππππ Favorit β€β€β€
...****************...
"Kalian nggak ada rencana buat bulan madu gitu?" tanya Alia.
Obrolan masih berlanjut di meja makan.Sengaja membangun suasana santai agar hubungan yang dulu renggang bisa rapat dan juga akrab.
Saat bersama Alodie dulu hubungan Aka dan kedua orang tuanya menjadi kurang baik sebab Aka tak mau di beri nasehat, begitu pula dengan orang tua Aka yang tak suka dengan sifat dan tingkah laku Alodie. Jadilah mereka cek-cok jika sudah membahas Alodie. Sejak itu Aka maupun orang tuanya jarang bertemu karena malas jika harus berdebat tentang Alodie.
"Kayaknya untuk sekarang belum bisa deh Mah, soalnya aku sibuk di kantor kan tiga bulan belakangan aku fokus ngurus dan merawat Alodie di rumah sakit. Jadi banyak produk baru yang harus segera launching," jelas Aka. "Kamu nggak masalahkan sayang kita belum bisa pergi honey moon?" tanya Aka pada istrinya.
Fathia menggeleng sambil mengunyah makanan di mulutnya, setelah habis baru ia buka suara. "Nggak masalah Mas, toh mau bulan madu di mana, tetap aja sama."
"Di rumah juga bisa ya Al," sambung Alia.
Fathia mengangguk setuju dan kembali menyendok makanan.
"Malam ini kalian nginap kan?" tanya Faris.
"Ia Pa, mumpung besok aku masih libur," jawab Aka.
__ADS_1
"Sekalian Papa mau bahas RS, minta masukan kamu," tambah Faris.
RS sakit masih menjadi tangung jawab papanya. Kebetulan RS itu masih milik keluarga Faris jadinya jika nanti mau di wariskan maka harus ada pembagian sebab Faris punya dua saudara yang salah satunya mama Beno.
"Boleh, nanti kita ngobrol di ruang kerja Papa aja!".
Makan malam habis para lelaki berpindah ke ruang kerja untuk membahas bisnis sedangkan para wanita membereskan meja makan. Fathia juga mencuci piring kotor.
" Biar bibi aja Al," ujar Alia.
"Nggak apa Mah, sekalian beraktivitas habis makan biar nasinya cepat turun," jelas Fathia.
"Yang istri dokter paham betul," goda Alia.
" Tanya apa Al?"
"Selain dokter, mas Aka kerja apa sih ma? aku bingung kok mas Aka juga punya kantor?" tanya Fathia karena ia belum tau betul siapa Aka.
"Aka itu punya perusahaan di bidang obat-obatan.Ya bisa di bilang pengusaha. Nah kalau dokter lebih ke profesi sih soalnya papa minta Aka untuk jadi dokter.Makanya dia nggak begitu aktif di rumah sakit," jelas Alia.
"Oh, mas Aka dokter spesialis?"
__ADS_1
"Ia, spesialis penyakit dalam. Itu pun juga permintaan papa. Tapi kalau pengusaha baru cita-citanya suami kamu. Makanya papa mau kasih dia modal awal asal mau jadi dokter."
Fathia mengangguk paham.Ternyata suaminya bukan orang sembarangan.Tapi kenapa ya Aka bisa memaksa Alodie menikah dengannya? Bukankah dia bisa dapat wanita yang jauh lebih baik dari Alodie? Fathia mulai bertanya-tanya dalam hatinya.
Sudahlah itu tak penting juga.Yang lebih penting sekarang itu ia harus terbiasa dengan namanya yang sudah berganti menjadi Alodie. Jangan sampai ia hampir keceplosan seperti tadi. Sudah sering ia seperti itu. Membuat jantungnya deg-degan saking cemasnya karena takut orang-orang pada bertanya siapa Fathia. Tapi untung saja orang tak menyadarinya.
"Mama tinggal ke kemar nggak apa kan Al?"
"Duluan aja Mah, ini dikit lagi juga beres."
Tinggallah Fathia sendiri di dapur karena masih mengurus piring kotor. ART pun juga sudah beristirahat di kamarnya sebab Fathia yang meminta tadi untuk tak perlu membantunya.
Tiba-tiba tangan kekar melingkar di pinggang ramping Fathia.
"Ya ampun Mas, kamu bikin kaget deh," ujar Fathia terkejut.
"Lagian kamu ngapain masih cuci piring malam begini, kan ada bibi."
"Selagi masih bisa di kerjakan sendiri kenapa nggak Mas, bibi itu tugasnya meringankan dan membantu pekerjaan kita. Bukan buruh yang di suruh untuk melakukan semua pekerjaan di rumah ini," jelas Fathia membilas tangannya menandakan pekerjaannya beres.
...****************...
__ADS_1
Like ππππ Komen ππππ Favorit β€β€β€